Jodoh Salah Sambung

Jodoh Salah Sambung
Pamitan


__ADS_3

Sesampainya di kamar bu Suyamti, Zio membuka pintu kamar mamanya, tampak olehnya, Mamanya masih tidur dengan tenang. Zio mengajak Mutiara ikut serta untuk masuk, Dan Ziopun mendekati mamanya.


"Ma, bangun ma. Ada yang mau ketemu mama." kata Zio pelan, ditelinga mamanya.


Perlahan, bu Suyamti terbangun dari tidurnya, dan samar-samar dia melihat seseorang tersenyum kepadanya.


"Assalamualaikum bu." sapa Mutiaraku lembut.


Bu Suyamti terbangun dari tidurnya, lalu duduk dengan bersandar kepala ranjangnya.


"Wa'alaikumsalam." jawab bu Suyamti.


"Nak Tiara?" tanya bu Suyamti


"Iya bu." jawab Mutiara.


Ziopun memberikan ruang untuk Mutiara, dengan menggeser kan dirinya, memberi isyarat kepada Mutiara untuk mendekati mamanya.


"Ibu apa kabar?" tanya Mutiara setelah wajahnya dekat dengan wajah bu Suyamti.


"Alhamdulillah, ibu sudah lebih baik Tiara. Ini jam berapa? Kamu kok sudah sampai sini? Ibu malah baru bangun." tanya bu Suyamti.


"Jam tujuh bu." jawab Mutiara sambil melihat jam tangannya.


"Jam tujuh?" tanya bu Suyamti tak percaya.


"Iya bu, Tiara sengaja datang pagi, karena Tiara ada perlu dengan pak Zio, dan sekalian jengukin ibu." kata Mutiara dengan tersenyum tulus.


"Alhamdulillah. Terimakasih Tiara." kata bu Suyamti.


"Ehem, mah, Zio mau siap-siap dulu ya, Mau Ke kantor." kata Zio.


"Oh, iya Zi. Hari ini kamu ga ke kampus?" tanya bi Suyamti.


"Ke kampus mah, tapi masih nanti, agak siangan." kata Zio.


"Tiara, kamu ga keburu kan? Temenin ibu ya selama Zio pergi." pinta bu Suyamti.


Zio yang sudah akan melangkah sampai ke pintu, kembali berbalik badan saat mendengar mamanya berkata seperti itu.


"Tiara cuma sebentar ma, karena dia mau pulang kampung hari ini." kata Zio.


"Pulang kampung? Memang aslimu mana Nak? Terus, lama ga nanti di sana?" tanya bu Suyamti dengan wajah sendu. Lalu Ziopun keluar dari kamar mamanya untuk bersiap diri untuk kegiatannya hari ini.


"Saya asli Solo bu. InshaaAllah hanya sebentar, sekitar satu pekan bu." kata Mutiara.


"Oh, ibu kira bakal lama di sana." kata bu Suyamti.


"Mumpung liburan semester bu, mau menjenguk ibu bapak di solo, kebetulan ini juga dapat kabar kalo paklik saya, adiknya ibu, kecelakaan. Jadi Tiara sengaja segera pulang." kata Mutiara.

__ADS_1


"Oh, yaa Allah. Lha terus, kamu pulang ke Solo nya naik apa? Sama Siapa?" tanya bu Suyamti.


"InshaaAllah saya naik mobil bu, bersama teman saya yang kebetulan dia ada jadwal bertemu dosennya di Solo." kata Mutiara menjelaskan agar bu Suyamti tidak khawatir.


"Oh, ya syukurlah. Kalau kamu sendiri atau naik kendaraan umum, mending ibu minta Zio untuk nganterin kamu." kata bu Suyamti.


Mutiara hanya menanggapi dengan senyuman.


"Yaa Allah, apa arti dari perkataan bu Suyamti ini? Apakah benar kata mbak Nilam dulu, apakah masih berlaku? Tapi pak Zio? Dia sama sekali tidak ada tanda-tanda care sama aku. Astaghfirullah. Sadar Tiara, sadar. Pak Zio dan kamu itu ga selevel. Kelas kalian berbeda, kasta kalian berbeda. Kamu hanya gadis kampung, sedangkan pak Zio anak pengusaha kaya. Dosen pula." batin Mutiara.


"Oya Tiara, sebelum kamu pulang kampung, ibu mau kamu ikut sarapan bareng kita dulu ya." kata bu Suyamti sambil membenarkan duduknya ke tepi ranjang.


"Ayo, kita sarapan dulu, pasti bi Saodah sudah menyiapkannya." ajak bu Suyamti.


Mutiarapun menyertai bu Suyamti dengan berjalan di sampingnya, sambil menuntun bu Suyamti yang jalannya masih perlahan-lahan. Sesampainya di ruang makan, makanan tampak belum siap semua, dan Zio juga belum siap.


"Bi, tolong siapkan semuanya dulu ya, sama buat Tiara juga." kata bu Suyamti.


"Baik nyonya." kata bi Saodah.


"Nak, kita ke situ dulu ya." kata bu Suyamti sambil menunjuk taman samping rumah yang ada kolam ikannya.


"Baik bu." jawab Mutiara menurut.


"Oya bu, mbak Nilam kemana ya bu? Seperti tidak terlihat." kata Mutiara menanyakan keberadaan Nilam.


Sesampainya di taman, bu Suyamti mengajak Mutiara duduk di kursi taman yang terbuat dari gelondong kayu.


"Tiara, boleh ibu bertanya sesuatu?" tanya bu Suyamti.


"Silakan bu." jawab Mutiara.


"Duh, bu Suyamti mau tanya apa ya? Apa mau ngomongin jodoh? Rasanya aku belum siap deh kalau harus menjawabnya." batin Mutiara.


"Ehm, Alhamdulillah, belum lama ini. Ibu dapat informasi dari tour and travel tempat ibu mendaftarkan diri untuk berhaji bersama bapak. Bahwa, ibu akan di berangkatkan ke tanah suci, tahun ini Tiara, sesuai perkiraan ibu." kata bu Suyamti berbinar.


"MaasyaaAllah, Alhamdulillah. Selamat ya bu." kata Mutiara bahagia.


"Alhamdulillah, bukan perihal jodoh. Tiara, Tiara, kamu tu terlalu kepedean, terlalu berharap. Astagfirullah." batin Mutiara.


"Dan kamu tau? Akhirnya ibu tetap yakin berangkat, karena ibu sudah punya pendamping, ibu ga bingung lagi, ga ragu lagi." kata bu Suyamti.


"Ehm. Alhamdulillah. Siapa bu?" tanya Mutiara.


"Zio." jawab bu Suyamti senang.


"Pak Zio berkenan bu?" tanya Mutiara tak percaya.


"Iya Tiara. Zio sendiri yang bilang, kalau dia akan mendampingi ibu di tanya suci. Dan ibu rasa, Zio berubah pikiran ini, salah satunya karena pengaruh darimu. Terimakasih ya nak." kata bu Suyamti memegang erat tangan Mutiara.

__ADS_1


"Bu, bukan Tiara yang mampu mempengaruhi, tetapi karena Allahlah yang maha membolak balikkan hati Hambanya. Tiara hanya perantara kok bu." kata Mutiara lembut.


Saat bu Suyamti akan berkata, bi Saodah datang dengan memberitahu bahwa sarapannya sudah siap. Bu Suyamti dan Mutiarapun masuk ke dalam rumah, dan siap duduk di ruang makan. Namun bu Suyamti belum memulai sarapannya.


"Kita tunggu Zio dulu ya nak." kata bu Suyamti.


"Baik bu." jawab Mutiara.


"Oya, nak Tiara ke sini tadi naik apa?" tanya bu Suyamti.


"Naik angkot bu." jawab Mutiara.


"Oh, berarti kamu tadi jalan, dari jalan raya masuk ke perumahan?" tanya bu Suyamti.


"Iya bu. Karena kebetulan motor saya dibawa sepupu saya pulang kampung duluan." kata Mutiara menjelaskan.


"Oh begitu?"


Tak lama kemudian, Zio tampak turun dari lantai dua, dengan pakaian jas hitam, dan celana senada, jam tangan kulit yang melingkar, dan tangan kanan yang membawa tas kerjanya, serta rambut yang tersisir rapi, tak luput pula wajahnya yang tampak segar dengan aroma maskulin pada tubuhnya, berhasil membuat Mutiara yang tadi sempat menoleh ke suara langkah kaki yang turun dari tangga, terpesona sepersekian detik.


"MaasyaaAllah, pak Zio ternyata ganteng juga, sama sekali tidak terlihat angkuh maupun dingin. Sangat berwibawa. Astagfirullahal'adzim." batin Mutiara seketika dia tundukkan panadangannya.


"Eh, Zi. Ayo sarapan bareng sini. Kamu ga keburu kan berangkatnya?" tanya bu Suyamti.


"Engga kok ma." jawab Zio yang kemudian duduk di kursi paling ujung, dengan tanpa menoleh ke arah Mutiara sama sekali.


"Ehm, Tiara mama ajak sarapan bareng Zi. Gapapa kan?" kata bu Suyamti.


"Hem. No problem." jawab Zio sibuk dengan hidangan di hadapannya.


"Oh ya Zi, nanti kalau mau ke kantor, kamu antarkan Tiara sekalian ya." pinta bu Suyamti.


Seketika Zio menghentikan pergerakannya.


"Bukannya Tiara bawa motor sendiri? Lagian, kosan Tiara sama kantor Zio, beda arah ma." kata Zio agak keberatan.


"Ehm, ga usah bu, nanti Tiara bisa naik angkot lagi kok, tadi juga Tiara lihat, dekat komplek perumahan, ada pangkalan ojek." kata Mutiara.


"Engga Zi, Tiara tadi tu ke sini nya naik angkot. Motornya lagi dipinjam sepupunya buat pulang kampung duluan." kata bu Suyamti menjelaskan.


"Nak Tiara, kamu biar diantar sama Zio. Tidak boleh protes." kata Bu Suyamti menunjuk Zio.


"Hem, okey." jawab Zio pasrah.


Merekapun sarapan bersama hingga selesai, lalu Mutiara pulang bersama Zio.


"Hati-hati ya nak, salam buat bapak ibu di Solo." kata bu Suyamti.


"Ya bu. InshaaAllah." jawab Mutiara.

__ADS_1


__ADS_2