
Setelah selesai menunaikan sholat subuh, Mutiara ke dapur untuk membantu ibunya memasak. Sedangkan Dzen baru pulang dari masjid bersama pak Bowo. Sesampainya di rumah, Dzen diajak pak Bowo duduk di teras, sambil melanjutkan obrolan mereka.
"Bapakmu sudah pulang nduk?" tanya bu Hindun.
"Sudah bu. Mereka duduk di teras." jawab Mutiara yang sedang menyapu ruang tengah.
"Sepertinya, bapakmu itu cocok sama Nak Dzen. Sedari kemarin ngobrol terus." kata bu Hindun. Mutiara hanya menanggapi dengan tersenyum.
"Tolong buatkan kopi dulu untuk mereka ya nduk, sama itu peyek dan tempe mendoannya kamu antar ke depan ya." titah bu Hindun yang masih sibuk meracik bumbu.
"Nggih bu." jawab Mutiara segera menjalankan tugas dari ibunya.
Setelah selesai membuat kopi, Mutiarapun segera membawa keluar, namun baru akan melewati pintu, Mutiara mendengar percakapan pak Bowo dan Dzen, yang membicarakan tentang keluarga Dzen.
"Ehm, maaf nak Ahmad, kalau boleh bapak tau, memang ibu nak Ahmad meninggalnya kenapa? Sakit?" tanya pak Bowo.
"Mama saya meninggal saat melahirkan adik saya pak. Mama mengalami pendarahan hebat kala itu, dan adik saya sudah terlanjur keracunan air ketuban, sehingga dihari itu kami kehilangan dua nyawa sekaligus." kata Dzen dengan sedih.
"Innalillahi wainnailaihi rojiun'un. Maaf ya nak." kata pak Bowo.
"Tidak apa-apa pak." jawab Dzen.
Mutiara pun melanjutkan langkahnya menuju teras untuk memberikan kopi dan camilan.
"Maaf pak, ini kopinya." Kata Mutiara meletakkan secangkir kopi di dekat pak Bowo dan meletakkan piring berisi mendoan dan toples beri peyek kacang tanah serta kopi satunya di dekat Dzen. Pak Bowo hanya mengangguk sebagai isyarat ucapan terimakasih.
"Maaf, mas Dzen suka minum kopi tidak? Kalau tidak terbiasa, bisa Tiara ganti dengan minuman yang lain." kata Mutiara.
"Biasa kok Ra, di rumah saya terbiasa bikin kopi kok." kata Dzen.
"Oh, ya sudah. Silakan diminum mas." kata Mutiara dengan ramah.
"Terimakasih Tiara." kata Dzen dengan tersenyum kepada Mutiara.
"Ya mas. Sama-sama." jawab Mutiara sambil membawa nampan di dadanya berjalan masuk rumah. Mutiara yang masih penasaran dengan percakapan bapaknya dengan Dzen, berjalan perlahan saat sampai di dalam rumah.
"Alhamdulillah, berasa udah punya bini aja gue... hehehe." batin Dzen terkekeh sendiri dengan imajinasinya.
"Diminum nak." kata pak Bowo.
__ADS_1
"Ya pak." jawab Dzen sambil mengincip kopi yang masih panas itu.
"Ehm, maaf. Nak Ahmad merokok tidak?" tanya pak Bowo.
"Alhamdulillah tidak pak." jawab Dzen.
"Dari dulu memang tidak, atau tidak hanya di sini?" goda pak Bowo yang mengira kalau Dzen sungkan.
"Sedari dulu, saya memang tidak merokok pak. Mama berulang kali berpesan, bahwa saya tidak boleh merokok, karena dapat merugikan diri sendiri dan orang lain. Mama trauma, karena kakek saya, ayahnya mama, meninggal karena kanker paru-paru yang disebabkan oleh rokok, sehingga mama benar-benar tidak mengijinkan saya merokok." kata Dzen. Sedangkan di balik dinding, ada seorang gadis yang senyum-senyum sendiri, mendengar jawaban dari Dzen, terkait rokok. Mutiara sedari kecil tidak mengenal rokok, karena memang pak Bowo tak pernah merokok semenjak berkeluarga. Setelah itu, Mutiarapun segera ke dapur, karena bu. Hindun sudah memanggilnya.
"Ehm, begitu? Maksud saya, kalau nak Ahmad merokok, biar dibelikan Mutiara. Karena di rumah juga tidak ada rokok." kata pak Bowo.
"Owh, begitu?" jawab Dzen mengerti maksud dari pertanyaan pak Bowo.
"Nak Ahmad." panggil pak Bowo sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.
"Ya pak?" jawab Dzen.
"Maaf sebelumnya, boleh bapak bertanya sesuatu pada nak Ahmad?" tanya pak Bowo.
"Boleh pak." jawab Dzen.
"Bapak minta, nak Ahmad jawab jujur dari hati nak Ahmad yang paling dalam." kata Pak Bowo.
"InshaaAllah pak." jawab Dzen yang mulai tegang, jantungnya dag dig dug.
"Pak Bowo mau tanya apa ya?" batin Dzen.
"Nak Ahmad, sudah punya pacar? Atau calon istri? Atau bahkan sudah beristri?" tanya pak Bowo.
"Oh, alhamdulillah, saya masih sendiri pak. Belum punya pacar, calon istri atau bahkan istri." jawab Dzen dengan tersenyum tegang.
"Alhamdulillah." kata pak Bowo lega.
Dzen mengernyit, ada maksud apa bapaknya Mutiara menanyakan hal itu?
"Nak Ahmad. Tolong jawab jujur. Apakah nak Ahmad mencintai putri bapak, Mutiara Hati?" tanya pak Bowo masuk dalam inti obrolan.
"Ehm..." Dzen menunduk, masih ragu untuk menjawabnya, dia merasa takut untuk menjawab, takut bapaknya Mutiara marah.
__ADS_1
"Tak usah takut nak. Bapak hanya ingin tau saja. Biar tidak ada prasangka." kata pak Bowo dengan tersenyum damai.
"Ehm..." Dzen tak mampu menjawab Dia hanya mampu mengangguk.
"Alhamdulillah." jawab pak Bowo yang seketika membuat kepala Dzen mendongak.
"Maksud bapak? Bapak tidak marah?" tanya Dzen heran.
Pak Bowo tersenyum, dan berkata,
"Saya lega, ada laki-laki baik yang mencintai putri bungsu saya, dan berani mengutarakan nya pada saya. Semoga, nak Ahmad bisa menjaga hati nak Ahmad untuk putri bapak." kata pak Bowo.
"Mutiara Hati adalah anak kebanggan saya. Seperti yang nak Ahmad lihat di ruang tengah kemarin, banyak prestasi yang diraih nya. Bahkan dia bertekad meraih cita-citanya dengan berkuliah di luar kota, jauh dari kedua orangtuanya. Sebenarnya berat bagi bapak melepas anak gadis bapak ke luar kota sendirian, makannya bapak meminta Kenzo untuk ikut kuliah di sana, agar dia bisa menjaga Mutiara. Namun, bapak juga masih belum tenang, karena Kenzo sikapnya masih belum matang, jika harus diamanahi menjaga mbak nya. Dengan datangnya nak Ahmad, bapak lega, ada orang yang bisa bapak titipi untuk menjaga Mutiara Hati." kata pak Bowo.
"Tapi...Apa saya pantas mengemban amanah ini dari bapak?" tanya Dzen ragu.
"Alhamdulillah, bapak yakin nak Ahmad orang yang amanah. Tolong, jaga putri saya." kata pak Bowo.
"InshaaAllah pak. Semampu saya. Tetapi..." kata Dzen terputus.
"Kenapa nak?" tanya Pak Bowo.
"Saya mohon, bapak tidak memberitahu kan pada Tiara atas apa yang saya rasakan ini pak." kata Dzen.
Dahi pak Bowo mengernyit, heran.
"Kenapa? Bukankah kalian saling suka?" tanya pak Bowo.
"Ehm, sejak awal bertemu, saya belum pernah menyatakan perasaan saya pada Mutiara pak. Dan Dia juga belum tau perasaan saya padanya. Jadi saya mohon, jangan beri tau Tiara dulu pak. Karena dia gadis baik, yang tidak ingin berpacaran sebelum halal. Sedangkan Tiara punya keinginan untuk sarjana terlebih dahulu, baru mau menikah. Itu berarti, saya harus menunggunya sekitar dua tahun. Jika dia mengetahui perasaan saya kepadanya, takutnya dia sungkan dengan saya pak, dan saya tidak bisa menjaga dia dengan baik. Namun, jika dia tidak mengetahui perasaan saya, saya menjaganya pun, seperti saya menjaga adik saya sendiri, dan dia menganggap saya kakaknya." kata Dzen memberi alasan.
"Hem, begitu? Tapi, kalau Tiara sudah terlanjur mencintai pria lain, bagaiaman?" tanya pak Bowo.
"Itu hak dia pak. Justru itu, biarkan dia bebas dimasa mudanya, bergaul dengan siapapun, dengan tanpa terbebani oleh sebuah perasaan dalam penantian." jawab Dzen.
"Oh begitu? Nak Ahmad tidak khawatir jika Tiara jatuh hati pada pria lain?" tanya pak Bowo.
"Ehm, InshaaAllah, jika memang Mutiara Hati adalah jodoh saya, InshaaAllah, Kami akan tetap bersatu pak. Namun, jika Allah mentakdirkan lain, InshaaAllah itu yang terbaik bagi kami." kata Dzen mantab.
"MaasyaaAllah. Terimakasih nak Ahmad. Bapak titip putri bapak ya." kata Pak Bowo.
__ADS_1
Merekapun menyudahi obrolan mereka, lalu Dzen bersiap mandi dan packing untuk kembali ke Semarang, serta menyiapkan diri untuk seminar kedokteran sebelum dia menuju Semarang.