
Saat sarapan bersama, Zio tampak lahap memakan sarapannya. Mutiara sadar, karena memang sedari sore mereka tidak makan.
"Ehm, Tiara." panggil Zio.
"Ya pak."
"Menurutmu, nikah yang tak direstui orang tua itu, gimana?" tanya Zio tiba-tiba.
"Ehm, ya... kalo menurut Tiara, Menikah itu ibadah terlama kita pak. Ridho Allah itu tergantung ridho Orang tua kita. Ridhollahi fi Ridho walidain." kata Mutiara.
"Jadi maksud kamu, kalau orang tua tidak ridho, Allah juga ga ridho, gitu?" tanya Zio.
"Ya, kurang lebih begitu." jawab Mutiara.
"Ehm, kalau orang tua jodohin, tapi ga sesuai sama keinginan kita? Gimana?" tanya Zio lagi.
"Cinta itu akan tumbuh seiring berjalannya waktu pak. Witing tresno jalaran soko kulino. Cinta itu akan tumbuh jika sering berinteraksi, sehingga banyak bukti, ketika belum menikah sama sekali belum kenal, karena dijodohkan, atas ridho orang tua, sebesar apapun ujiannya, biasanya keluarganya langgeng dan berakhir dengan sakinah mawaddah warohmah. Namun, ada juga yang orang tuanya menjodohkan hanya karena ambisi, tanpa perduli agama calon menantunya, bisa saja keluarga anaknya itu tidak akan lama, karena tidak ada keikhlasan dan keridhoan yang murni di sana, sehingga Allah juga menggantungkan kebahagiaan untuk keluarga kecil itu." kata Mutiara.
Zio tampak manggut-manggut.
"Trus, kalau menurutmu, orang hamil diluar nikah, terus dia nikah, gimana?" tanya Zio lagi.
"Ehm, ada banyak pendapat. Ada yang bilang, boleh, ada yang bilang, harus menunggu bayi itu lahir dulu baru dinikahi. Yang jelas, itu sudah menyalahi aturan, karena itu termasuk sudah zina." kata Mutiara.
"Ehm, gitu?" saat Zio sedang mencerna beberapa masukan dari mahasiswinya itu, tiba-tiba ada telpon dari Nilam.
📞Mbak Nilam
Halo, Zi. Ini mbak ke rumah sakit ya. Mama gimana keadaannya?
"Alhamdulillah, sudah lebih baik mbak. Segera nyusul aja, soalnya gue harus nganter Tiara pulang mbak." jawab Zio.
'Okey Zi.' jawab Nilam
"Udah Ra makannya? Kita balik ya." kata Zio yang melihat makanan Mutiara sudah habis
"Sudah pak." jawab Mutiara sambil mengelap mulutnya dengan tisu.
Ziopun membayar makanan mereka dan memesan satu bungkus bubur nasi beserta lauknya untuk mamanya di rumah sakit.
"Assalamualaikum." salam Mutiara saat memasuki ruangan bu Suyamti.
"Wa'alaikumsalam." jawab bu Suyamti dengan tersenyum cerah.
"Darimana kalian berdua? Sholat subuh kok sampai jam setengah enam begini?" tanya bu Suyamti menyelidik.
"Mengisi amunisi ma. Zio lapar." jawab Zio sambil meletakkan sterofom berisi bubur nasi yang dia beli tadi untuk mamanya.
"Oh, ya ampun. Kalian dari semalam belum makan ya." tanya bu Suyamti.
__ADS_1
"Ya begitulah. Mama udah sarapan belum? Ini Zio belikan bubur buat mama." kata Zio dengan akan menyuapi mamanya.
"Tadi sarapannya juga datang, tapi mama belum mau makan." kata Bu Suyamti.
"Zio suapin dulu ya. Setelah ini, Zio mau mengantar Tiara pulang dulu ma, karena Tiara ada acara kampus, dan bersifat penting." kata Zio.
"Tiara mau pulang?" tanya bu Suyamti menoleh ke arah Mutiara.
"Iya bu, mohon maaf. Hari ini ada acara kampus bu, dan kebetulan saya salah satu panitianya, jadi sebisa mungkin tidak ijin." kata Mutiara berusaha memberi pengertian.
"Oh, ya. Baiklah." jawab bu Suyamti.
"Mama ga usah khawatir, ini mbak Nilam sudah perjalanan ke sini, untuk menemani mama." kata Zio.
"Kenapa ga bi Saodah aja?" tawar bu Suyamti dengan air muka yang berbeda.
"Bi Saodah jagain rumah ma, bersih bersih juga." kata Zio memberi pengertian. Zio berusaha agar Mutiara tidak curiga dengan masalah yang sedang dihadapi keluarga Zio.
"Tapi..." belum selesai bu Suyamti berkata, pintu terketuk, lalu terbuka dari luar.
"Selamat pagi." sapa Nilam.
"Syukurlah, mama sudah lebih baik." lanjut Nilam mendekati bu Suyamti dan mencium punggung tangannya.
"Mbak, lo suapin mama ya, gue anterin Tiara dulu, nanti keburu kesiangan dia." kata Zio.
"Okey Zi." jawab Nilam.
"Hem." jawab bu Suyamti.
"Kalian hati-hati ya." kata bu Suyamti kepada Zio dan Mutiara.
"Ya bu. Maaf, Tiara pamit dulu ya bu. InshaaAllah nanti kalau urusan di kampus sudah selesai, saya akan mengunjungi ibu lagi." kata Mutiara sambil mencium punggung tangan bu Suyamti.
"Ya nak, sekali lagi, terimakasih banyak ya nak." kata bu Suyamti.
"Zio tinggal dulu ya ma. Mbak Nilam, gue tinggal dulu. Kalo ada apa-apa, segera hubungi gue." kata Zio.
"Okey Zi." jawab Nilam.
"Bawa mobilnya hati-hati Zi. Nanti segera kembali ke sini ya." kata bu Suyamti.
"Ya ma. Mama baik-baik ya." kata Zio berpesan.
Bu Suyamti hanya mengangguk menanggapi kata-kata Zio.
Zio dan Mutiara pun keluar ruang rawat bu Suyamti, dan berjalan menuju baseman untuk masuk kedalam mobil.
"Ehm, Tiara." panggil Zio.
__ADS_1
"Ya pak?"
"Kamu bilang tadi, mahrom itu orang yang ga boleh dinikahi. Dan kamu bilang, kita ini bukan Mahrom? Lalu apa bedanya sama Muhrim?" tanya Zio sambil menyetir mobil.
"Itulah pak, orang indonesia terkadang memang suka membolak balikkan kata. Yang benar itu Mahrom pak, kalo Muhrim itu artinya orang yang memakai pakaian ihrom. Jadi sebenarnya, kalo bilang ga boleh pelukan sebelum nikah, Atau ga mau salaman, itu berarti bukan Mahrom, bukannya bukan muhrim, pak." kata Mutiaramemberi penjelasan.
"Oh, gitu? Dan kamu juga melakukan hal sama, ketika diajak salaman laki-laki lain selain keluargamu?" tanya Zio.
Mutiara hanya mengangguk dengan tersenyum.
"Ehm, terus, kalo orang islam, harus sholat ya? Harus naik haji juga?" tanya Zio lagi.
"Ya harus pak. Karena itu termasuk rukun Islam. Hal yang wajib dilakukan orang Islam. Rukun islam itu ada Lima, pertama Membaca dua kali amat Syahadat, yang berbunyi Asyhaduala illa haillallah wa asyhaduanna muhammadarrosulullah. Kemudian yang kedua Sholat, yaitu sholat lima waktu, subuh, dzuhur, ashar, maghrib dan isya'. Yang ketiga puasa, yaitu berpuasa di bulan Ramadhan. Keempat Zakat, yaitu wajib bayar Zakat fitrah maupun zakat mal, dimana kita diharuskan menyisihkan sebagian harta kita untuk orang yang berhak, dan yang terkahir Berhaji, yaitu pergi haji ke tanah suci mekkah almukaromah." kata Mutiara menjelaskan.
"Bentar bentar, puasa juga?" tanya Zio.
"Iya pak."
"Hem,,, kalo ga kuat, gimana?" tanya Zio.
"Ya berusaha pak. Orang boleh tidak berpuasa itu, apabila dia wanita yang sedang haid atau nifas, orang gila, orang sakit yang tak kan pernah sembuh, dan orang gila, serta anak kecil." kata Mutiara.
"Oh, gitu?" jawab Zio.
"Berarti selama ini gue jauh banget dong dari ibadah orang islam? Dosa gue banyak banget dong. Hm..." batin Zio yang mulai terbuka hatinya untuk berbenah diri.
"Pak Zio siap dampingin ibu berangkat haji kan?" tanya Mutiara lagi.
"Ehm, gimana ya?" jawab Zio masih ragu.
"Bismillah pak. Bisa." jawab Mutiara.
"Emang ga bisa kamu aja ya?" tanya Zio.
"Saya perempuan pak, saya tetap harus bersama mahrom saya." kata Mutiara lagi dengan senyuman.
"Hem..." Zio masih berfikir.
"Stop pak, sudah sampai." kata Mutiara mendadak, karena mobil Zio hampir saja akan terus lurus.
"Oh, ya. Sorry." kata Zio mengerem mendadak.
"Terimakasih pak, sudah diantar." kata Mutiara.
"Terimakasih juga, sudah bantu saya menyadarkan mama." kata Zio dengan senyum tulusnya.
"Astaghfirullah.". batin Mutiara saat sempat terpesona dengan senyuman dosennya.
"Ya pak, sama-sama. Saya permisi pak. Assalamualaikum." kata Mutiara pamit memutar badan saat sudah diluar mobil.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam." jawab Zio. Dan tidak seperti biasanya, Zio tetap di sana, sambil menatap punggung Mutiara hingga menjauh dari mobilnya.
"Kenapa mobil pak Zio tak segera pergi?" batin Mutiara dengan tetap membelakangi mobil Zio.