
Malam itu Shanum mengabari om nya kalau pekan ini dia tidak bisa pulang ke rumah om nya, karena dia jadwal jaga Asrama.
"Pa, Shanum kok belum pulang ya?" tanya bu Mia kepada pak Yuda yang sedang menghadap leptop, mengerjakan beberapa pekerjaan dari Zio.
"Oiya, papa sampe lupa. Tadi Shanum udah ngechat papa, pekan ini dia belum bisa pulang, karena dia ada jadwal piket jaga asrama." kata pak Yuda.
"Dan papa percaya gitu aja?" tanya bu Mia.
"Hm... emang kenapa?" tanya pak Yuda menghentikan kegiatannya dihadapan leptop dan menatap istrinya.
"Pa...pekan kemarin Shanum pergi dalam keadaan marah, dia sedang tidak baik-baik saja kan? Papa lupa, Shanum baru saja sembuh dari gangguan kejiwaannya pa, dia bahkan harusnya masih harus kontrol ke psikiater lagi kan?" kata bu Mia yang sangat mengkhawatirkan keadaan keponakannya.
Pak Yuda pun tersadar. Ya, keponakannya memang mengalami gangguan kejiwaan sejak mamanya meninggal, dan dia harus selalu kontrol pada psikiater, dan terus berobat.
"Besok kita pastikan lagi, ini sudah larut malam." kata pak Yuda mencoba tenang.
Bu Miapun menurut, lalu bu Mia menuju kamarnya dan beristirahat.
💞💞💞
Disebuah kamar pengurus yayasan yang berada di asrama swasta, Seorang gadis sedang termenung di dalam kamarnya yang sederhana.
"Mama..." kembali air mata mengalir dari kedua mata gadis berkulit putih bersih keturunan Jawa Sunda itu sambil mengusap bingkai foto kecil berukuran 4R, yang sering dia bawa kemana-mana sebagai pelipur lara. Foto seorang wanita dewasa dengan jilbab ala wanita karier, dan setelan tunik dan kulot tampak menambah anggunnya wanita yang dia sebut sebagai mama.
"Kenapa aku harus hidup kaya gini? Kenapa mama pergi? Shanum udah ga kuat ma, Shanum capek." kata Shanum sesenggukan.
Gadis itupun membuka dompetnya, yang terdapat foto seorang laki-laki berseragam putih biru, berukuran 3x4, sangat jelas kalau itu foto ijazah, yang dulu harusnya dikumpulkan kepada pihak Tata usaha untuk diuruskan Ijazah, raport dan lainnya.
"Dzen... jujur...Iya, aku cemburu mendengar mu sudah dekat dengan orangtua Tiara, itu berarti hubungan kalian sudah sangat dekat. Dan aku... Rasa ini tak pernah berubah padamu Dzen. Rasa ini tetap ada untukmu. Namun, hal itu tak akan pernah terjadi, dan tak kan kubiarkan terjadi. Karena aku ga mau kamu kecewa sama aku. Aku ga pantes buat kamu Dzen, aku ga pantes..." kata Shanum lagi dengan tergugu dalam tangisan nya.
__ADS_1
Kembali teringat sebelas tahun yang lalu, saat dimana dia menginjak usia tujuhbelas tahun. Dia adalah anak seorang TKW di negeri Jiran. Papanya dahulu anak orang kaya, tetapi kemudian bangkrut, sehingga memaksa mama Shanum harus menjadi TKW disana, sedangkan papanya bekerja serabutan di rumah sambil merawat Shanum bersama nenek kakek dari mamanya.
Malam itu, Shanum yang baru selesai belajar dipanggil papanya.
"Num, sini dulu." panggil papanya.
"Ada apa pa?" tanya Shanum.
"Gantilah baju, dan ayo ikut papa. Papa mau ajak kamu jalan-jalan." kata Papanya.
Shanum sebagai anak remaja yang jarang keluar rumah, senang saja mendapat ajakan dari papanya. Diapun menurut dan berganti pakaian, lalu mengikuti papanya pergi.
Hingga tiba disebuah apartemen papa Shanum mengajak Shanum masuk.
"Kita mau ngapain ke sini pa?" tanya Shanum heran, karena bari kali ini Shanum diajak papanya ke sebuah apartemen megah.
"Ayo kita duduk dulu disana." ajak papanya.
"Datang juga kamu. Mari ikut saya." kata laki-laki itu.
"Ayo Num." ajak papanya.
Shanumpun menurut saja dengan tetap menggenggam erat tangan papanya.
Sesampainya di lantai lima, Shanum didekati laki-laki itu.
"Wangi, cantik. Okey. Boleh kamu tinggal sekarang." kata laki-laki itu dengan senyum liciknya.
Shanum yang sejak tadi kurang nyaman didekati terus oleh om om itu, merasa aneh dengan percakapan mereka.
__ADS_1
"Pa, apa maksudnya?" tanya Shanum minta penjelasan.
Papa Shanum hanya diam membisu. Lalu berbalik badan akan meninggalkan putrinya.
"Pa..." lagi Shanum memanggil papanya sambil tetap memegang tangan papanya, yang kemudian perlahan dilepaskan oleh papanya.
"Besok pagi, papa jemput." kata papanya sambil melangkah pergi.
"Pa, papa." Shanum mencoba berlari untuk meraih tangan papanya yang sudah dilepaskan papanya sejak tadi, namun gagal, karena tangannya terlanjur dipegang erat oleh om om berbadan besar itu.
"Tenanglah sayangku, kamu aman bersamaku." kata laki-laki itu dengan senyum mesumnya.
"Siapa kamu, mau apa kamu? Jangan sentuh aku!" tanya Shanum dengan penuh amarah, tangannya dia lepas dengan kasar dari pegangan laki-laki itu.
"Jangan berontak, atau saya akan bertindak kasar." kata om om itu sambil memegang pergelangan tangan Shanum, yang kemudian ditariknya ke dalam sebuah kamar.
Shanum meronta dan berteriak-teriak minta tolong, namun tak ada yang menolong. Hingga kejadian malam kelam yang tak diinginkan Shanum itupun terjadi. Malam dimana dia kehilangan kesuciannya, karena papanya. Dia menangis sesenggukan dikamar itu, dengan tanpa busana, hanya terutuo oleh selimut tebal yang ada dikasur itu. Om om itupun berkata kepada Shanum, bahwa Shanum menjadi jaminan atas semua pinjaman papanya. Malam itu, Shanum sangat geram dengan papanya, yang selama itu dia hormati, dia banggakan, karena selama mamanya pergi menjadi TKW, dia diurus oleh papanya bersama nenek dan kakeknya. Namun, siapa sangka, papanya tega menjual putrinya sendiri untuk menutup semua hutang-hutang nya.
Keesokan harinya, Shanum pulang dijemput papanya, dengan hati hancur, dan penuh kebencian dengan laki-laki yang menjemputnya, hingga berbulan-bulan, Shanum menjadi gadis yang murung.
Shanum menghapus air matanya dengan kasar.
"Tuhan benar-benar ga adil! Untuk apa aku dilahirkan ke dunia ini kalau hanya untuk menjalani hidup yang penuh dengan kesakitan seperti ini? Untuk apa aku hadir di dunia ini ma, kalau akhirnya mama tinggalin Shanum sendiri dengan penuh beban berat ini? Shanum ga kuat ma." kata Shanum mulai meracau dan menghujat Tuhannya.
Sejak mamanya tau, bahwa Shanum telah dijual oleh papanya sendiri, mama Shanum sangat shok dan sangat marah dengan suaminya didalam mobil, saat itu mereka rencananya akan menjemput Shanum yang tinggal dirumah om Yuda, namun na'as, saat mereka sedang marah, papa Shanum dipukuli oleh mamanya Shanum hingga papa Shanum tidak bisa mengendalikan mobilnya, hingga akhirnya mereka mengalami kecelakaan terhantam oleh truk. Papa Shanum meninggal di tempat, sedangkan mama Shanum, masih mengalami koma beberapa jam hingga akhirnya dia pun juga menghembuskan napas terakhirnya.
Kembali dia teringat oleh kata-kata om dan tantenya beberapa waktu lalu yang membicarakan tentang perjodohan, dan dia juga teringat oleh teman sekantornya yang akan menikah, dan dia sendiri yang belum menikah, hingga banyak wali murid dan teman-temannya yang menawarkan puluhan pria untuk dikenalkan dengannya, sedangkan dirinya sama sekali tak tertarik untuk menikah, karena bagi dirinya, dia adalah wanita kotor, yang tak pantas untuk menikah.
Sepanjang malam, Shanum tidak tidur, dia terus menangis meratapi hidupnya. Hingga pagi tiba, Shanum merasa lelah.
__ADS_1
"Aku mau ikut mama, aku ga kuat ma, aku capek." kata Shanum mulai lemah.
"Masa bodoh dengan Nikah, Haji. Tuhan ga sayang sama gue. mending gue mati aja.!" kata Shanum yang kemudian mengambil obat nyamuk semprot yang ada di kamarnya, lalu dia minum obat nyamuk itu, hingga dia tak sadarkan diri.