
"Nadia sama Mila jadi berangkat engga ya?" gumam Mutiara saat sudah bersiap membuka acara. Sambil menunggu kedatangan ulama besar di negeri itu.
Mutiarapun menelpon kedua sahabatnya.
πMila
Halo. Assalamualaikum
"Wa'alaikumsalam. Mil, kamu ga lupa kan, hari ini pengajian di masjid agung?" tanya Mutiara.
Astaghfirullah, Ra. Ini jam berapa? Aku baru bangun!
"Astagfirullah, Mila. Ini udah jam enam bisa-bisanya baru bangun, udah sholat subuh belum?" tanya Mutiara
Ya belum lah, orang baru bangun. Ya udah ya, aku sholat dulu.
"Mil, nanti ke masjid lho ya, aku tunggu." kata Mutiara.
Iya iya. Dah ya. matiin dulu.
Tut tut tut
Panggilan terputus.
"Mila, mila. Bisa-bisanya jam segini belum subuh, udah ke duluan sama matahari." gumam Mutiara.
Kemudian Mutiara menelpon Nadia.
πNadia
Halo, Ra. Ada apa?
"Assalamualaikum Nad." kata Mutiara.
Eh, lupa. Wa'alaikumsalam. Ada apa Ra?
"Kamu di mana?" tanya Mutiara.
Ya di rumah lah, ini masih beres-beres di dapur. Kenapa?
"Kamu lupa? Hari ini pengajian Nad." kata Mutiara.
Lhoh, emang kamu berangkat? tanya Nadia.
"Aku udah di lokasi dari subuh tadi." kata Mutiara.
Astaga Ra, kamu serius? Bukannya kamu masih sakit?
"Serius. Ayo cepet berangkat. Aku tunggu ya." kata Mutiara
Oh, ya okey. okey. Ini mama juga mau ke sana, aku bareng mama aja deh.
"Okey." jawab Mutiara.
Tut tut tut
Panggilan selesai, Mutiarapun melanjutkan kegiatannya. Dia turut serta menyambut peserta yang baru datang bersama ibu-ibu pengajian masjid agung.
Mutiara diminta Ahmad untuk ikut serta membantu ibu-ibu pengajian yang bertanggungjawab atas acara safari dakwahnya K.H. Gym Nastiar.
"Mbak Tiara, bisa tolong temani ibu Yuli untuk mendampingi istri ustadz? Beliau sudah hadir soalnya." kata Ahmad yang mengetahui Mutiara masih berdiri di teras masjid sambil mengarahkan para peserta kajian yang baru datang.
__ADS_1
"Oh, ya mas. Bisa." kata Mutiara yang kemudian mengekor Ahmad.
"Soalnya, kasian bu Yuli, kalo perlu apa-apa masak jalan sendiri, kalau ada yang muda kan beda, yang muda yang jalan." kata Ahmad lagi.
"Ya mas." jawab Mutiara.
Masjid Agung sebenarnya juga mempunyai remaja masjid bagian putri, tetapi bertepatan hari itu juga, ada acara Dauroh untuk para santri TPQ yang dilaksanakan di luar kota, dan para remaja masjid fokus mendampingi santriwan santriwati di sana.
Setelah sampai di dekat ustadzah Ninih, Mutiara menyalami istri ulama itu dengan khidmad.
"MaasyaaAllah, cantiknya. Mbak namanya siapa?" kata teh Ninih ramah.
"Mutiara Hati ust." jawab Mutiara santun.
"Nama yang cantik, secantik orangnya. Asli sini juga? Aa' tu punya radio, dengan nama Mutiara Hati lho." kata teh Ninih.
"Iya ust, di Solo ya? Saya asli Solo." kata Mutiara.
"Oh ya? Sering mengikuti kajian Aa'?" tanya teh Ninih.
"Dulu sih ust, pas masih sekolah. Sekarang setelah kuliah, saya di semarang, jadi jarang mengikuti ust, karena juga tidak punya radio." kata Mutiara.
"Oh, ya. Tidak masalah, sekarang lewat Youtube atau Facebook juga bisa kok mbak." kata Teh Ninih.
"Iya ust." jawab Mutiara.
"Mbak Tiara, udah siap." kata Ahmad memberi kode untuk dimulai acaranya.
"Oya mas." kata Mutiara.
"Afwan ust, saya buka acara dulu ya ust." kata Mutiara.
"Oh ya, tafadhol." jawab teh Ninih.
"Jagalah hati, jangan kau nodai, jagalah hati lentera hidup ini. Jagalah hati, jangan kau kotori, jagalah hati cahaya ilahi." Lantunan pembuka suara A' Agym yang membuat hati para jamaah turut larut dalam syair khas milik A' Agym itu. Kemudian dilanjutkan dengan siraman Rohani oleh beliau ulama besar di negeri islami.
πππ
"Ndi, itu udah mulai ya kajiannya?" tanya Dzen yang baru saja kelur dari mobilnya.
"Kayaknya belum, baru pembukaan aja." kata Andi santai.
"Oh, ya udah, yuk masuk." ajak Andi yang sudah tak asing dengan tempat itu, karena ibu mertuanya sering hadir acara pengajian di masjid agung ini.
Dzen dan Andi duduk di teras tempat bagian putra, dan bisa menatap langsung ke arah ulama besar itu.
Hingga acarapun selesai dengan baik, tanpa ada halangan apapun. Sepanjang pengajian Mutiara menyimak dengan sangat khusyuk dan antusias. Akhirnya, setelah selesai, ustadz Gym Nastiar di dampingi Oleh bapak-bapak panitia dan ibu-ibu panitia juga, hingga masuk mobil, begitupun dengan Mutiara yang turut serta mendampingi Ustadzah Ninih. Saat di jalan, menuju kembali ke masjid, Mutiara berjalan beriringan dengan Ahmad, dan pemandangan itu tampak jelas oleh Dzen dan Andi dari teras masjid.
"Dzen, itu Tiara kan?" tanya Andi menunjuk ke arah Mutiara yang sedang berjalan bersama Ahmad.
"Hem." jawab Dzen.
"Jeles lo?" ejek Andi.
Dzenpun mengalihkan pandangannya.
"Kenapa perasaan gue sakit liat kamu jalan bareng cowok lain Tiara? Apa aku cemburu? Meski aku tau, itu hanya sekedar temanmu, sesama panitia." batin Dzen.
"Bro." panggil Andi.
"Hem?" jawab Dzen masih malas berbicara.
__ADS_1
"Ini, mertua gue manggil." kata Andi menyikut lengan Dzen.
"Eh, astaghfirullah. Bapak. Maaf pak, maaf." kata Dzen sambil mencium tangan pak Latif, bapak mertua Andi.
"Kenapa nak Dzen? Melamun saja." kata pak Latif.
"Hehe, tidak apa-apa kok pak." jawab Dzen sambil mengusap tengkuknya, merasa sungkan.
"Biasa pak, kaya ga tau anak muda aja. Masih jomblo lagi." celoteh Andi.
"Hahaha, sabar nak Dzen, semoga dengan ikut pengajian disini, bisa ketemu jodoh yang Sholihah nak." kata pak Latif.
"Hehe, iya pak. Aamiin." jawab Dzen.
"Kamu naik apa ke sini, Ndi?" tanya pak Latif pada Andi.
"Andi nebeng Dzen pak." jawab Andi.
"Ini, bapak mau ta'ziyah bareng teman pengajian IPHI, temen haji bapak ada yang meninggal. Jadi nanti nitip ibumu ya, ibumu masih repot beres-beres soalnya." kata pak Latif.
"Oh, ya pak. Siap. Nanti biar barengan naik mobilnya Dzen, boleh kan Dzen?" tanya Andi.
"Ya boleh lah." jawab Dzen.
"Ya udah, kalau begitu, bapak tinggal dulu ya Ndi, nitip ibumu." kata Pak Latif.
"Ya, pak." jawab Andi.
Sedangkan Mutiara sudah sampai teras masjid, melihat Mila dan Nadia yang sudah menunggunya di teras utara, dekat tempat wudlu putri. Mutiarapun mendekati kedua sahabatnya.
"Maaf mas Ahmad, saya temui teman saya dulu ya sebentar." pamit Mutiara.
"Oh, ya mbak Tiara, tafadhol." jawab Ahmad.
Mutiarapun berjalan menuju ke arah Mila dan Nadia.
"Assalamualaikum, Nadia, Mila." sapa Mutiara.
"Wa'alaikumsalam." jawab keduanya bersamaan.
"Tiara, akhirnya ke sini juga. Eh, mas nya tadi siapa, Ra? Kaya ga asing." tanya Mila kepo.
"Oh, yang bareng aku tadi?" tanya Mutiara.
"Yup."
"Lhoh, kamu lupa? Itu kan mas Ahmad, kakak tingkat kita. Dulu beliau ketua panitia OSPEk waktu kita jadi peserta OSPEk." kata Mutiara.
"Oh, pantesan, kaya ga asing." kata Nadia.
"Beliau ketua remaja masjid di sini." jelas Mutiara.
"Oya, Tiara, gimana keadaanmu? Udah baikan? Aku kira kamu masih sakit, jadi ga jadi pengajian." kata Nadia.
"Aku ada amanah dan janji, dan alhamdulillah semalem dikasih obat sama mas Dzen, jadi badanku langsung enakan." kata Mutiara.
"Cie, emang ya, mas Dzen itu yang terbaik." kata Mila.
"Ish, apaan sih kamu, Mil. Udah ah, aku mau ke toilet dulu ya." kata Mutiara.
"Cie Tiara...Salah tingkah dia." goda Mila.
__ADS_1
"Nerveos dia." imbuh Nadia.
Mutiara tak menghiraukan kedua sahabatnya yang kian menyudutkannya. Mutiara terus berjalan menuju toilet.