Jodoh Salah Sambung

Jodoh Salah Sambung
Kabar Gembira


__ADS_3

Masih di gedung yang sama, dua pasang insan masih saling membisu di kursi tamu yang cukup jauh dari panggung pelaminan. Meski suasana yang ramai dan riuh dengan banyaknya suara, keduanya merasa sepi dengan keheningan hati mereka masing-masing. Kemudian, si wanita memberanikan diri untuk memecah kesunyian yang sejak tadi tercipta.


"Ehm. Kak." panggil Mila.


"Ya?" jawab Yusuf.


"Menurut kakak, kisah cinta Ibunda Khodijah dan Rasulullah itu, baik ga sih?" tanya Mila.


"Ya pastinya bagus lah, mereka kan panutan kita." jawab Yusuf santai.


"Tapi kan, ibunda Khodijah lebih dulu melamar Rasulullah." kata Mila.


"Tidak ada yang salah dari apa yang dilakukan siti Khodijah. Karena Allah pun mendukungnya."


"Kalau menurut kak Yusuf, apa alasan hal itu diperbolehkan? Bukankah baiknya, yang melamar lebih dulu itu laki-laki?" tanya Mila.


"Seperti halnya kisah nabi Yusuf dan Zulaiha. Zulaiha begitu mencintai Nabi Yusuf karena ketampanannya, dan baik budinya. Apakah hal itu salah? Tidak, hal itu wajar. Karena Zulaiha adalah wanita normal. Dan dia juga berhak menyatakan perasaannya kepada Yusuf. Karena Yusuf adalah laki-laki terbaik yang ditemuinya sepanjang hidupnya."


"Begitupun dengan Siti Khodijah, beliau melihat sosok Nabi Muhammad yang tampan, baik budinya dan sempurna segala perangainya, hingga membuatnya jatuh hati. Maka, ketika Khodijah sudah menemukan pria terbaik menurutnya, tak menunggu waktu agar dia dikhitbah pria lain, maka dia segera melamar Nabi Muhammad, agar dia bisa menyalurkan perasaan cintanya kepada yang tepat." kata Yusuf menjelaskan.


"Oh, gitu ya?"


"Ehm, kalau kak Yusuf sendiri, misal ada gadis yang menyatakan perasaannya terlebih dahulu ke kakak, apakah akan diterima, seperti halnya Nabi Muhammad dan Nabi Yusuf?" tanya Mila mulai menuju ke inti.


"Ehm, tergantung sih. Jika gadis itu baik perangainya, baik agamanya, why not? Tetapi, jika sebaliknya, saya juga akan berfikir berulang kali untuk menjawabnya." jawab Yusuf.


"Ehm... Gitu ya?"


"Kenapa?" tanya Yusuf penasaran.


"Eh, ehm. Ga papa kok Kak." jawab Mila mulai gugup.


"Memangnya, ada gadis yang punya rasa sama aku?" tanya Yusuf merasa putus asa sejak dia patah hati dengan Mutiara.


"Ada." jawab Mila.


"Siapa?" tanya Yusuf Mulai penasaran. Yusuf menatap Mila meminta jawaban.


"Orang yang duduk di samping kakak, dan menghadap ke arah kak Yusuf." kata Mila sambil menunduk. Pipinya sudah merona menahan malu.


"Maksudmu?" tanya Yusuf.


Mila semakin menunduk, dia merutuki dirinya sendiri yang sudah lancang mengatakan tu kepada yang bersangkutan. Dia menahan malu yang sangat. Karena dia menyadari bahwa dirinya tidak pantas untuk bersanding dengan Yusuf, mengingat Yusuf adalah pria Sholih yang taat pada agamanya.


Yusuf tersenyum melihat Mila tampak menunduk malu. Yusuf tau siapa gadis yang dimaksud Mila.

__ADS_1


"Terkadang, kita berdoa'a pada Allah, agar kita di jodohkan dengan Si A, namun Allah tak menghendakinya, sehingga Allah menjodohkan kita pada orang PilihanNya. Kita miscall Allah, kita ceritakan semuanya pada Allah, namun Memang, jodoh itu terkadang salah sambung." kata Yusuf yang justru membahas tentang jodoh. Hati Mila yang awalnya bergemuruh hebat, karena was was dengan jawaban Yusuf, kini dia pesimis, karena Yusuf tak menyinggung perkataannya sama sekali.


"Kita maunya si A, justru ketemunya sama si B. Dan ternyata dengan bersama si B, justru hidup kita lebih berwarna, dan si A sudah bersanding dengan si C. Memang jodoh itu unik ya." lagi-lagi Yusuf berkata tidak nyambung dengan pernyataan Mila.


"Akan ada pelangi setelah hujan, Disaat hati hancur berkeping-keping, ada serpihan yang siap memperbaiki nya. Ketika Jiwa terasa ini adalah akhir, ada raga yang menyemangati, bahwa ini ada awal." kata Yusuf lagi.


"Ehm, Maaf kak kalo Mila Lancang. Jikalau memang di hati kakak masih ada ruang sedikit, ijinkan Mila berkunjung ke sana." kata Mila masih menunduk malu.


"Terimakasih, kamu sudah mau jujur padaku Mila."


"Ehm, ya kak. Maaf. Kalau begitu, Mila permisi kak." kata Mila beranjak dari duduknya yang merasa cintanya bertepuk sebelah tangan. Karena tak ada jawaban dari Yusuf.


"Mau kemana?" tanya Yusuf.


"Ehm, mau...mau ke... ke... gabung sama temen." kata Mila gugup, menahan perasaannya yang tak menentu.


"Tetaplah di samping ku, Jangan tinggalkan aku. Karena kamu yang akan menjadi makmumku." kata Yusuf tersenyum cerah kepada Mila. Seketika Mila mendongak, menatap wajah pria yang baru saja dia tembak.


"Ma...ma...maksud kak Yusuf?" tanya Mila masih tak percaya.


"Duduklah, nanti kita berdiri bersama ya. InshaaAllah, dalam waktu dekat nanti, aku akan datang menemui orangtuamu, dan kita akan menyusul Mutiara dan dokter Dzen." kata Yusuf.


"Kak Yusuf serius?"


"Ya."


"Harusnya aku yang makasih Mila, karena kamu hadir disaat yang tepat, disaat hatiku terasa sakit, kau datang membawakan penawar." kata Yusuf.


Milapun tersenyum malu.


💞💞💞


Acara resepsi telah selesai, tinggal sesi foto-foto bersama orang-orang terdekat. Foto keluarga, foto bersama teman dan sahabat. Hingga tiba saat ada seorang wanita oaruh baya turut serta naik ke pelaminan.


"Tiara."


"MaasyaaAllah, bu Suyamti? Ibu sama siapa?" tanya Mutiara.


"Sama Nilam." jawab bu Suyamti.


"Pak Zio dan Mbak Shanum?" tanya Mutiara.


"Mohon maaf Tiara, mereka ijin ga bisa hadir, karena hari ini juga, Shanum di rumah Sakit bersama Zio."


"Maksud ibu?" tanya Mutiara.

__ADS_1


"Shanum sudah melahirkan hari ini juga."


"MaasyaaAllah. selamat ya bu. akhirnya launching juga Dedek bayi yang diinginkan. " kata Mutiara turut bahagia.


Bu Suyamti tersenyum,


"Aamiin, Semoga kamu juga segera menyusul ya nak." kata bu Suyamti.


"Aamiin. Terimakasih atas do'anya bu." kata Mutiara tulus, dan melirik suaminya. Ternyata Dzen memperhatikan mereka sejak tadi.


"Kita foto bersama dulu ya bu." pinta Mutiara.


Merekapun berfoto bersama. Dengan mesranya Dzen menggandeng Mutiara. Setelah bu Suyamti dan Nilam pergi, Dzen yang tadi mendengar percakapan Mutiara dengan bu Suyamti berbisik ditelinga Dzen.


"Sayang."


"Hm?"


"Udah siap nyusul Shanum ya? Bikin dedek bayi?" tanya Dzen. Seketika wajah Mutiara merona, menahan malu.


Tangan kiri Dzen menggenggam erat tangan kanan Mutiara, dengan tetap menatap ke depan. Tamu undangan masih banyak yang wara wiri, dan minta berswa foto dengan mereka.


"Sayang." bisik Dzen lagi.


"Hm?"


"Love You."


"Too." jawab Mutiara sambil menunduk malu.


Setelah acara selesai, para tamu undangan sudah pulang, Mutiara dan Dzen masuk kamar untuk mengganti busana, dan menjalankan ibadah sholat Dzuhur.


Sesampainya di kamar pengantin, Mutiara segera duduk di kursi depan cermin, untuk melepas seluruh pernah pernik di kepalanya, sebelum dia sholat.


"Perlu mas bantu, sayang?" tawar Dzen yang sudah berdiri di belakang Mutiara. Pantulan wajah mereka jelas terlihat bahagia di cermin, Mutiara menatap Dzen, dan Dzen menatap Mutiara dari pantulan cermin dengan lembut.


"Ehm..."


"Mas bantu bukain ya, pasti kamu kesulitan untuk melepas jilbabnya." kata Dzen yang sudah memegang jilbab Mutiara, dan perlahan, Dzen membuka satu persatu peniti dan di jilbab Mutiara, dan membuka jilbab Mutiara. Mutiara hanya menatap Dzen dengan takjub, karena saking gugupnya dia diperlakukan seperti itu.


Saat rambut Mutiara tampak, perlahan Dzen melepaskan kuncir rambut istrinya. Dan tergerailah rambut panjang Mutiara, yang hitam dan lurus.


"MaasyaaAllah, kamu cantik sekali sayangku " kaya Dzen, sambil mendekatkan wajahnya, hendak mencium kening Mutiara.


"Kita wudlu dulu ya mas. Waktu sholatnya sudah mau habis." kata Mutiara dengan lembut.

__ADS_1


"Ah. ya sayang." jawab Dzen menarik wajahnya, lalu diapun berjalan ke toilet terlebih dahulu untuk mengambil air wudlu sambil tersenyum bahagia. Sedangkan Mutiara yang masih duduk di kursi cermin, juga berusaha menetralkan jantungnya yang sedari tadi sempat konser.


__ADS_2