Jodoh Salah Sambung

Jodoh Salah Sambung
Harapan Pak Yuda


__ADS_3

"Assalamualaikum." salam Shanum saat akan masuk rumah.


"Wa'alaikumsalam." jawab bu Mia.


Shanum disambut hangat oleh bu Mia, dan dia mencium punggung tangan tantenya itu dengan khidmad.


"Siapa tadi, Num? Tante belum pernah ketemu dia ya?" tanya bu Mia yang tadi memang mengintip dari kaca jendela.


"Temen tan." jawab Shanum sambil meletakkan dua dus martabak.


"Ifa sama Dimas kemana tan?" tanya Shanum.


"Kalau Dimas lagi keluar sama temen -temennya. Kalau Ifa..." kata bu Mia yang terhenti karena tiba-tiba anak yang akan dibicarakan muncul dari lantai dua.


"Aku disini mbak, Kenapa? Mbak Shanum kangen?" tanya Ifa yang tiba-tiba muncul.


"Idih, Kepedean banget lo? Nih ada martabak dari temen mbak, dibagi sama Dimas ya." kata Shanum sambil berjalan menuju kamarnya.


"Widih, martabak. I like it." kata Ifa kegirangan.


"Oiya, yang satu buat om sama tante ya." kata Shanum kembali mundur.


"Lhoh? Beda ya? Kirain cuma buat gue sama Dimas." kata Ifa.


"Makannya, mbak bilangin dulu, entar elo habisin semua lagi." kata Shanum kembali menoleh ke arah Ifa.


"Hehehe, tau aja lo mbak." kata Ifa dengan nyengir kuda.


Shanumpun masuk kamar dan mandi membersihkan tubuhnya yang terasa lengket setelah seharian beraktivitas. Setelah mandi dan sholat isya', Shanum kembali keluar kamar untuk bergabung dengan keluarganya.


"Fa, tumben lo ga malam mingguan sama cowok lo?" tanya Shanum sambil berjalan menuju sofa didepan televisi tempat bu Mia duduk.


"Dia lagi sibuk mbak. Lagi fokus ujian semester." kata Ifa.


"Oh, kirain lagi pada bokek." kata Shanum.


"Yah, kalau bokek mah setiap hari mbak, hahaha." kata Ifa sambil memasukkan seiris martabak telur spesial ke dalam mulutnya yang kesekian kalinya.


"Hey Fa, inget Dimas!" tegur Shanum saat melihat tinggal empat iris saja martabak di box tempat Ifa mengambil martabak.

__ADS_1


"Hehe, iya mbak. Iya. Sorry, abisnya enak sih." kata Shanum nyengir.


"Eh, Num, enak nih martabak nya. Beli dimana?" tanya bu Mia yang juga sudah mencicipi martabak yang dibawakan Shanum.


"Di alun-alun tan, di sana ada pasar malem." kata Shanum.


"Mbak Shanum dari pasar malam?" tanya Ifa.


"Iya." jawab Shanum sambil mengambil toples berisi kacang goreng.


"Kok ga ajak-ajak sih? Sama siapa mbak?" tanya Ifa.


"Sama temen." jawab Shanum


"Pantesan pulang malem." kata Ifa lagi.


"Tadi tu, gue pulang sekolah, ada janji ketemu sama bosnya papamu, om Yuda, terus pas mau pulang, ponsel gue mati, mau pesan grab udah ga bisa, untung aja gue ketemu temen SMP gue, dia ngajak pulang bareng, eh malah diajak makan dulu di alun-alun. Ternyata di sana ada pasar malam juga. Ya udah sekalian aja jalan-jalan sambil nostalgia gitu, terus beli martabak deh buat oleh-oleh." kata Shanum menceritakan kepulangannya tadi.


"Cie, ketemuan sama bos ganteng ya?" goda Ifa yang mendengar kata bosnya papamu.


"Dia sama kakaknya." jawab Shanum dengan wajah datar.


"Serah lu dah." kata Shanum sambil meneguk air mineral dalam botol minumnya.


"Oh, jadi itu tadi yang nganterin kamu pulang temen SMPmu?teman SMPmu itu cowok ya Num? Nikah belum?" tanya bu Mia nimbrung.


"Belum tan." jawab Shanum sambil memasukkan kacang goreng ke dalam mulutnya yang kesekian kalinya.


"Ehm, kebetulan dong, mbak Shanum kan juga masih jomblo, jadian aja mbak sama si masnya." seloroh Ifa.


"Apaan sih Fa, main jadian jadian aja. Kalau seumuran mbak Shanum udah ga usah jadi jadian, langsung lamar terus nikah." kata bu Mia.


"Nah, itu maksud aku mah." kata Ifa.


"Eh, tapi. Si bos Zio juga ganteng lho mbak, sama si bos aja. Udah jelas keluarganya, anak orang kaya, CEO pula." kata Ifa memberi pendapat.


"Iya, mama setuju. Pak Zio kayaknya ada rasa sama kamu lho Num." kata Bu Mia membubuhi.


"Halah, ngapain sih kalian malah ngomongin jodoh? Tante, om Yuda kemana? Sedari tadi ga keliatan." kata Shanum celingak celinguk.

__ADS_1


"Biasa, lagi ngelembur di ruang kerjanya." kata bu Mia.


"Ish, papa ni, ga kenal malem minggu apa? Kerja mulu." omel Ifa.


"Ya gitu lah kalo jadi asistennya orang arogan kaya Pak Zio itu. Semena-mena aja kalo ngasih kerjaan." omel Shanum.


"Ralat. Pak Zio bukan tipe orang yang semena-mena Num, beliau itu saat ini lagi banyak kerjaan di kampus, karena sedang ada ujian semester, selain itu, beliau juga kan lagi ada masalah keluarga, makannya beliau minta tolong kamu bantuin keluarganya kan?" kata pak Yuda yang tiba-tiba muncul bersama kopi panasnya.


"Eh, om. Maaf." kata Shanum dengan wajah menyesal.


Pak Yuda hanya tersenyum lembut menatap wajah keponakannya.


"Bagaimana perkembangan masalahnya keponakan pak Zio, Num?" tanya Pak Yuda.


"Ehm, panjang om ceritanya." kata Shanum.


Kemudian Shanumpun menceritakan apaa yang dia tau dari hasil investigasi dan interogasi terhadap si pelaku pembulyan itu. Pak Yuda, bu Mia dan Ifa terkaget juga dibuatnya, mereka tidak menyangka, perbuatan seorang laki-laki dapat membuat sakit jiwa seseorang dan menjadikan anaknya menyimpan dendam dan bersikap kasar.


"Itulah mengapa, menjadi seorang laki-laki itu berat. Apalagi jika sudah menjadi seorang ayah. Dia diamanahi empat wanita, yaitu, Istrinya, ibunya, anaknya perempuan nya, dan saudara perempuan nya." kata pak Yuda memberi petuah.


"Itu juga menjadi pelajaran bagi mbak Nilam, karena dulu, dia keukeuh minta menikah dengan mas Pian, meski sebenarnya, ibu dan bapak tidak setuju, tetapi mbak Nilam sudah terlanjur hamil duluan, sehingga bapak dan ibu terpaksa merestui mereka." kata pak Yuda yang mengerti perjalanan hidup keluarga pak Anggoro.


"Apa si bos arogan itu ga tau masalah itu sebelumnya?" tanya Shanum.


"Pak Zio sejak SMA sekolah di luar negeri, hingga kuliah dan lanjut S2. Sehingga beliau tidak tau menau terkait perjalanan cinta kakaknya dan bagaimana keadaan perusahaan papanya. Beliau hanya fokus belajar, dan berusaha meraih prestasi yang baik di sana." kata pak Yuda.


"Emang dia kuliah dimana?" tanya Shanum mulai kepo.


"Di Singapura." jawab pak Yuda.


"Pantesan tu orang arogan banget. Nyebelin, kaya ga pernah diajari tata Krama." keluh Shanum.


Pak Yuda hanya tersenyum menanggapi keluhan keponakannya.


"Mbak, jangan terlalu benci sama dia, entar beneran Cinta lho." kata Ifa menegur.


"Idih, ga mungkin lah gue cinta sama dia. Bukan tipe gue." kata Shanum.


"Tapi, kalau om dan tante mau jodohin kalian, giaman dong?" goda bu Mia.

__ADS_1


Shanum menoleh ke arah tantenya, dengan wajah terkejutnya. Dan menoleh ke arah om nya, memohon agar itu hanya candaan saja.


__ADS_2