
Sabtu pagi, Mutiara sudah siap dengan segala persiapannya yang akan dibawanya ke Solo. Mutiara sudah janjian dengan Kenzo untuk pulang bersama. Sedangkan Dzen, dia sedang ada acara seminar. Meski sebenarnya, Dzen sangat berat melepas Mutiara pergi sendiri ke Solo naik motor bersama Kenzo, ada kekhawatiran terhadap gadis pujaannya.
Sesampainya di rumah, Mutiara istirahat sejenak. Lalu sebuah pesan masuk dari Yusuf.
📩Kak Yusuf
Assalamualaikum. Tiara, ini saya perjalanan ke rumahmu di Solo. InshaaAllah ini saya bersama bunda saya.
"Ha, sama bundanya? Aku pikir sendiri? Terus, apa coba maksud kak Yusuf mau ke sini? Bukannya dia sudah tau, kalau Tiara sudah dikhitbah?" gumam Mutiara.
📨Kak Yusuf
Wa'alaikumsalam. Kak Yusuf jadi ke rumah ya? Sama bundanya kak Yusuf juga? Tetapi, rumah Tiara sangat sederhana kak.
📩Kak Yusuf
Tidak masalah, kami hanya ingin silaturahmi saja, mau berkenalan dengan keluarga mu, boleh kan?
📨Kak Yusuf
Oh. kalau sekedar mau silaturahmi dan berkenalan, boleh kok kak.
Dua jam kemudian, tampak sebuah mobil berwarna Hitam masuk ke pekarangannya. Dan tak lama kemudian, muncul seorang laki-laki muda dengan seorang wanita paruh baya keluar dari mobil itu.
"Assalamualaikum." salam bunda Rahma.
"Wa'alaikumsalam." jawab Mutiara dari dalam, menyambut kedatangan Yusuf bersama ibundanya.
"Kak Yusuf, tente. Mari, silakan masuk. Mohon maaf, rumah kami sangat sederhana." kata Mutiara.
"Tidak apa apa nak. Ini, dengan nak Tiara bukan?" tanya bunda Rahma ramah.
"Iya tente, saya Tiara, temannya kak Yusuf." kata Mutiara ramah.
"MaasyaaAllah, cantik sekali kamu nak." puji bunda Rahma tulus.
Kemudian, bu Hindun dan pak Bowo keluar dari dalam, dan menyapa tamunya.
"Assalamualaikum." salam pak Bowo ramah.
"Wa'alaikumsalam." jawab bunda Rahma dan Yusuf bersama. Namun, tiba-tiba Bunda Rahma dan bu Hindun saling tatap.
"Mbak Hindun?" sapa bunda Rahma.
__ADS_1
"Eh? Siapa ya?" bu Hindun tampak bingung.
"Saya Rahma mbak, anaknya pak Cipto." kata bunda Rahma yang tiba-tiba langsung memeluk Bu Hindun.
"Yaa Allah, Rahma? Anaknya paklik Cipto?" kata bu Hindun memastikan, bahwa dia adalah sanak saudaranya.
"Iya mbak. Pangling ya mbak?" tanya bunda Rahma.
"Yo jelas pangling to, kamu sekarang semakin cantik." puji bu Hindun.
"Walah, mbak Hindun ini ada ada saja. Rahma sudah tua mbak, nih, anak Rahma juga sudah besar." kata bunda Rahma menunjuk Yusuf.
"Ini anakmu?" tanya bu Hindun.
"Iya mbak." jawab bunda Rahma.
"Yaa Allah. Gantengnya." puji bu Hindun.
"Ini suamiku. Mas Bowo, kamu masih ingat kan Ma? Dulu pas mbak Nikah, kamu masih ikut hadir to sama bapak ibumu?" tanya bu Hindun.
"Iya mbak, aku masih kecil itu." jawab Bunda Rahma.
Bunda Rahma dan bu Hindun asyik mengobrol, sedangkan Yusuf dan pak Bowo hanya pendengar setia, sedangkan Mutiara sibuk di dapur menyiapkan minuman untuk tamunya.
"Maaf tante, kak Yusuf, silakan diminum." kata Mutiara sopan sambil meletakkan dua gelas berisi teh hangat untuk kedua tamunya dan satu cangkir untuk bapaknya dan satu lagi untuk ibunya.
"Ini putriku, yang ragil. Dia kuliah di Semarang." kata bu Hindun memperkenalkan Mutiara.
"Oh ya, ini mbak yang waktu itu nolongin saya di masjid agung ya mbak? Pas saya terjatuh di toilet." kata Bunda Rahma.
"Iya tente." jawab Mutiara.
"Panggil bulik aja lah, jangan tante. Kok kaya gimana gitu dipanggil tante, kita ini kan sodara." kata bunda Rahma yang membuat Yusuf tercengang.
Begitupun dengan Mutiara yang tidak tau apa-apa.
"Iya nduk, jadi bulik Rahma ini adik sepupunya ibu, kalian ini masih satu Simba buyut. Tetapi memang mbah Cipto itu merantau jauh ke Pekanbaru ya kalau ga salah? Dan jarang pulang." kata Bu Hindun memperkenalkan adik sepupunya.
"Apa? Jadi aku sama Mutiara ini saudara? Haduh, gimana ini? Niatku ke sini ka untuk meminangnya? Kenapa jadi pertemuan saudara begini?" batin Yusuf.
"Oh, jadi, bulik Rahma ini anaknya mbah Cipto, adiknya simbah?" tanya Mutiara memastikan, karena semasa kecilnya, simbahnya sering menceritakan adiknya Cipto yang menikah dengan orang Magelang, dan merantau jauh ke Luar jawa dan jarang sekali pulang.
"Iya nduk, memang kita sangat jarang pulang ke Jawa kala itu, tetapi, terus bulik menikah dengan orang Semarang, dan tinggal di Semarang." jawab bunda Rahma.
__ADS_1
"Lha kok kamu menikah waktu itu tidak kabar-kabar to dek?" tanya bu Hindun.
"Kenapa ya waktu itu? Lupa aku mbak... Oh ya, waktu itu kabarnya Mbah Sapto sakit mbak, mbak Hindun ndak bisa menghadiri acaraku." kata bunda Rahma.
"Owalah, yaya."
"Jadi, ibu sama dek Rahma ini saudara?" tanya pak Bowo menyimpulkan.
"Iya pak." jawab bu Hindun.
Saat itu juga, Yusuf kasak kusuk dengan bundanya.
"Bunda, kenapa jadi begini? Mutiara ini, gadis yang tadinya mau Yusuf khitbah bunda." kata Yusuf dengan sangat pelan, berbisik di telinga bundanya.
"Lha, lha ya gimana Suf, ternyata ibunya Tiara ini, mbaknya bunda." jawab bunda Rahma pelan.
"Oh ya dek, suamimu ndak ikut to?" tanya bu Hindun.
"Suami saya baru tugas ke luar kota mbak. Ini kebetulan si Yusuf, anak mbarepku, pingin ngajak silaturahmi ke rumah teman kuliahnya, yang namanya Mutiara. Lha kok, ternyata masih sodara sendiri." kata bunda Rahma.
"Owalah, Pantesan, mbak tu heran, katanya yang mau ke sini temannya Tiara. Oh, jadi rencananya memang mau ke sini sebagai temannya Tiara? Tapi ternyata kita ini saudara nak." kata hu Hindun menasehati Mutiara dan Yusuf.
"Lha selain ke sini, rencananya mau kemana dek?" tanya bu Hindun.
"Belum tau juga mbak, saya ngikut anak lanang sajalah." kata bunda Rahma.
"Yaa Allah, Alhamdulillah, disaat aku benar-benar bingung, takut PHPin kak Yusuf, karena keputusanku yang sembarangan, justru membuatku bingung. Satu sisi, aku tak berani mengatakan pada orang lain kalau aku akan dikhitbah besok, disisi lain, aku juga takut mengecewakan kak Yusuf." batin Mutiara.
Sedangkan Yusuf masih belum habis pikir dengan yang baru saja terjadi.
"Oya, besok itu, acara syukuran kelulusannya Tiara dek. Mending kamu menginap saja disini ya. Atau mau silaturahmi juga ke rumah mbak Jannah? Yang rumahnya di tempat simbah dulu. Sekarang rumah nya simbah ditempati mbak Jannah." kata bu Hindun yang hanya mengira mereka sekedar main saja.
"Oh, ya nanti gampang mbak. Gimana maunya anak saya aja." kata bunda Rahma.
"Bun, gimana ini? Jadi ngelamar ga?" bisik Yusuf pada bundanya.
"Suf, ini ternyata mbakmu sendiri. Ndak baik ah kalau mau mengkhitbah saudaranya sendiri." jawab bunda Rahma dengan berbisik pula.
Tiba-tiba wajah Yusuf berubah, yang awalnya sangat cerah, kini dia mulai kecewa.
"Oya, sekalian sih, besok itu selain syukuran, juga mau ada acara pertemuan dua keluarga dek. InshaaAllah Tiara akan segera menikah." kata bu Hindun yang tidak menyadari dengan perasaan kedua tamunya.
Seketika Yusuf terkejut, Mutiara dan pak Bowo hanya diam dan tetap tenang tanpa beban.
__ADS_1
"Apa? Tiara mau dilamar?" tanya Yusuf masih tak percaya.
Bu Hindun tersenyum dan mengangguk.