Jodoh Salah Sambung

Jodoh Salah Sambung
Undangan


__ADS_3

Sore itu seperti yang sudah direncanakan, Mutiara mengikuti Zio untuk di tryning terkait pemberian tugas untuk mengoreksi. Mereka menuju restonya Rey, dan seperti biasa mereka duduk di lantai dua sambil menikmati suasana malam.


Sambil menunggu pesanan datang, Zio memulai untuk tryningnya. Zio memberi satu sempel untuk dia memberikan nilai pada tugas mahasiswanya.


"Jadi begini, ini kamu harus cek dulu plagiat nya, kalau ketauan plagiat, ga usah di lanjutin, langsung aja kasih tanda merah. Brati sudah pasti dia remidi. Dan kalau tidak terbaca di plagiat, berarti itu murni kerjaan dia, kamu koreksi, kiranya bagus, dan masuk dengan judulnya, berikan nilai B, kalau masih ada beberapa yang kurang, kasih C gapapa." kaya Zio sambil fokus membuka salah satu makalah milik mahasiswanya."


"Baik pak."


Ziopun melanjutkan penjelasannya yang membuat Mutiara jadi semakin paham dengan model koreksi dosennya. Dia langsung bisa menilai, bahwa dosennya ini sangat 'Perfek' dalam hal memberikan nilai tugas mahasiswa.


"Sampai disini paham?" tanya Zio.


"Paham pak." kata Mutiara.


Tak lama kemudian muncul Rey yang memang bari datang.


"Hai Bro, apa kabar?" sapaa Rey kepada Zio.


"Baik." jawab Zio.


"Eh, ada Nona Tiara. Selamat malam nona, senang bertemu denganmu lagi." sapa Rey.


"Ya bang Rey. Ngikut makan lagi bang di sini hehe." kata Mutiara bercanda.


"Iya santai aja. Namanya juga di resto, masak mau mandi bola, ya ga ada lah hahaha." jawab Rey dengan bercanda pula.


Mereka bertiga pun berbincang-bincang, sambil menghabiskan pesanan yang mereka pesan.


💞💞💞


Seusai mengantar Mutiara ke kosan nya, Zio segera kembali pulang ke rumahnya. Dia sudah menyampaikan pada Asisten papanya, kalau hari ini dia tidak bisa berkunjung ke pabrik.


Sesampainya di rumah, sudah ada kakaknya yang sepertinya suaminya sudah kembali berlayar.


"Mbak Nilam, udah disini lagi aja. Suami mbak udaj balik?" tanya Zio sambil mengisi gelas dengan air putih di galon.


"Eh, kamu dah pulang Zi? Iya, tadi siang. Abis itu sorenya mbak ke sini." kata Nilam.


"Kata mama, pulang mu sekarang malem-malem ya Zi?" tanya Nilam sambil membuat susu untuk dirimu sendiri.

__ADS_1


"Iya. Ngurusin perusahaan papa." kata Zio sambil tetap duduk di kursi makan.


"Owh, begitu? Sepertinya ada yang sudah pingin segera ngumpulin biaya nikah nih." sindir Nilam.


"Uhuk." Tiba-tiba Zio terbatuk mendengar kata-kata kakaknya.


"Hati-hati dong Zi." kata Nilam sambil mengusap punggung adiknya.


"Lagian, kamu ngapain ngomongin itu lagi?" tanya Zio agak emosi.


"Yah, kan siapa tau Zi, kamu dah ada inceran gitu buat dijadiin adik iparku." kata Nilam.


"Belum kepikiran." kata Zio singkat.


"Move on dong Zi." kata Nilam.


"Zio. Kamu sudah pulang?" panggil bu Suyamti dari lantai atas.


"Iya ma." jawab Zio.


"Zio, mama mau minta tolong nih sama kamu." kata bu Suyamti.


"Jadi gini, besok malem jum'at tu kan giliran rumah kita ketempatan acara pengajian ibu-ibu komplek perumahan. Seperti biasa, mama akan mengundang panti asuhan tempatnya bu Hani, sama satu lagi, mama mau ngundang seseorang." kata bu Suyamti sambil memberikan sebuah undangan kepada Zio.


"Ini, tolong kamu kasihin Mutiara ya. Orang yang sudah nolongin mama waktu kecelakaan kemarin." kata bu Suyamti.


"Tiara? Mama ngundang dia? Rumah dia kan jauh mah." komentar Zio.


"Iya. Ya, kan kamu bisa anter jemput dia." kata bu Suyamti.


"Ehem, ehem." deheman Nilam menarik perhatian Zio.


"Jangan jangan ini akal amalan kamu mbak." tuduh Zio dengan tatapan tidak enak.


"Ih, bukan Zi, itu murni dari mama yang ngusulin sendiri." kilah Nilam.


"Lhoh? Emang apa urusannya sama Nilam?" tanya bu Suyamti yang justru bingung dengan tuduhan putranya.


"Gapapa ma, cuma salah paham aja." kata Zio sambil berjalan menuju kamarnya.

__ADS_1


Nilam di ruang makan hanya mampu menahan tawa, melihat tingkah adiknya jika berurusan dengan wanita.


"Kamu kenapa Nilam?" tanya bu Suyamti heran.


"Gapapa kok mah."


"Gapapa kok senyum senyum sendiri?" tanya bu Suyamti masih penasaran.


"Nilam tu cuma lucu aja sama tingkahnya Zio yang belum mau move on dari Rere mah, tapi ini kayaknya dia udah mau membuka hati buat wanita lain deh." kata Nilam.


"Oh, gitu? Ya do'ain aja, rencana mama ini berhasil." kata bu Suyamti berbisik di dekat telinga Nilam.


"Eh, mama nih?" Nilam tak menduga mamanya ternyata sudah bergerak lebih cepat.


"Sssttt." kata bu Suyamti memberi isyarat telujuk di bibirnya.


"Okey ma." jawab Nilam mengerti.


💞💞💞


Keesokan harinya saat di kampus, jam menunjukkan pukul dua belas siang, waktunya ishoma.


Tampak Mutiara keluar dari ruang kelasnya,


"Tiara." panggil Zio.


"Ya pak? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Mutiara.


"Ga ada. Ini, ada undangan buat kamu." kata Zio menyerahkan undangan yang diberikan mamanya semalam.


"Undangan? Undangan apa ini pak?" tanya Mutiara.


"Dibaca!" kata Zio sambil berlalu pergi meninggalkan Mutiara yang masih bertanya-tanya.


""Pengajian di rumah ibu Suyamti? Bu Suyamti? Siapa ya aku kok lupa." gumam Mutiara.


"Oh, iya. Baru inget, itu kan mamanya pak Zio." kata Mutiara lagi.


"Okey." kata Mutiara sambil memasukkan undangan itu ke da

__ADS_1


__ADS_2