Jodoh Salah Sambung

Jodoh Salah Sambung
Perubahan


__ADS_3

Sepeninggal Zio dan Mutiara, Bu Suyamti tampak canggung dengan putrinya sendiri. Sedangkan Nilam, berusaha untuk tetap melayani mamanya dengan sepenuh hati.


"Ma, makannya dilanjut ya." kata Nilam menyodorkan sesendok bubur yang tadi dipegang Zio. Bu Suyamti hanya mengangguk menurut. Hingga bu Suyamti menyudahi, meski belum habis.


"Cukup." kata bu Suyamti menolak suapan berikutnya.


Nilampun menurut, diletakkannya sterofoam itu di meja, dan mengambilkan minum untuk mamanya.


"Diminum ma." kata Nilam menyodorkan gelas berisi teh hangat. Setelah selesai, Nilam memijit kaki mamanya sambil mengucapkan kata-kata.


"Ma, maafin Nilam ya ma. Gara-gara permasalahan Nilam, mama jadi drop begini." kata Nilam dengan wajah penuh rasa bersalah.


Bu Suyamti menarik napas dalam, dan menghembuskaannya perlahan. Ditatapnya wajah ayu putrinya.


"Mama, juga minta maaf Nilam. Ga seharusnya mama bersikap seperti kemarin sama kamu, disaat kamu sedang dalam keterpurukan. Harusnya mama disampingmu, kuatin kamu. Maafkan mama." kata bu Suyamti tulus.


"Ma..." Nilam seketika memeluk tubuh renta itu.


"Terimakasih mama udah maafin Nilam." kata Nilam dengan tangisannya.


"Kita saling memaafkan ya sayang." kata bu Suyamti mengelus kepala Nilam.


"Bagaimana kabar Pian?" tanya bu Suyamti sambil melepas pelukannya.


"Mas Pian belum bisa pulang mah, tapi nanti jika dia pulang, dia akan segera mengurus semua masalahnya. Dia akan menemui Sinta dan anaknya, bersama dengan Nilam. Mas Pian ga mau Nilam jalan sendiri mah, takut ada salah paham nantinya." kata Nilam.


"Oh, begitu? Setelah mama pikir-pikir, kamu tidak sepenuhnya salah, Pian hanya kurang tepat saja untuk menyelesaikan masalahnya dahulu. Sehingga berimbas pada masa depannya." kata bu Suyamti.


"Iya mah, sekali lagi, Nilam minta maaf ma." kata Nilam kembali memeluk mamanya.


Ceklek


Suara pintu terbuka, sosok laki-laki bermata elang masuk ke dalam dengan terheran-heran.


"Assalamualaikum." salam Zio.


"Wa'alaikumsalam." jawab bu Suyamti dan Nilam bersama sambil melepas pelukan mereka.


"Ck, romantis amat, berpelukan ga ajak-ajak." tanya Zio mendekati dua wanitanya.


"Ish, kamu ni Zi. Ganggu aja." kata Nilam menghapus air matanya.


"Kalian udah baikan?" tanya Zio.


"Udah dong." jawab Nilam.

__ADS_1


"Memang, siapa yang marahan?" tanya bu Suyamti.


"Ya mama sama mbak Nilam lah." jawab Zio.


Bu Suyamti hanya menanggapi dengan senyuman.


"Tumben ucap salam." tanya Nilam mengalihkan pembicaraan.


"Emang kenapa?" tanya Zio.


"Ya ga heran kalo mama, dia baru saja mengantarkan seseorang yang telah membuatnya berubah menjadi lebih baik." kata bu Suyamti.


"Cie... emang ya, ga salah gue minta elo jemput Tiara ke sini, buat nemenin mama, juga sekaligus bisa mrivat elo supaya lebih baik lagi." kata Nilam.


"Oya, Cepet banget nganter Tiara pulang Zi, kamu anterin dia sampe rumahnya kan?" lanjut bu Suyamti memastikan.


"Engga." jawab Zio singkat.


"Engga?" tanya Bu Suyamti dan Nilam bersamaan dengan tatapan menghakimi Zio.


"Ya engga lah ma, kosan Tiara itu di dalem gang, mobil Zio ga bisa masuk. Ya udah, Zio cuma nganterin sampe pinggir jalan, deket gang masuk ke kosan dia. Dia sendiri kok yang mintanya gitu." kata Zio menjelaskan.


"Oh, ya udah. Mama kira kamu turunin Tiara di sembarang tempat." jawab bu Suyamti lega.


"Oya ma, kemarin ada telpon dari tour and travel yang mengurus keberangkatan hajinya mama, nanyain kepastian nya, mama jadi berangkat ga? Katanya kemarin mama masih ragu." kata Nilam yang baru ingat kalau kemarin ada telpon dari Tour and travel.


"Jadi. Nanti gue yang dampingin." jawab Zio tanpa ragu.


Seketika bu Suyamti dan Nilam menoleh ke arah Zio, mereka tak percaya dengan ucapan Zio.


"Kenapa?" tanya Zio heran sambil memainkan ponselnya.


"Elo serius?" tanya Nilam.


"Serius lah." jawab Zio santai


"Zio, kamu yakin?" tanya bu Suyamti.


"Yakin ma." jawab Zio mendekat ke wajah mamanya.


"Zio ga akan biarin mama sedih, karena ga jadi berangkat haji, karena itu impian mama sama papa puluhan tahun yang lalu." kata Zio dengan senyum tulusnya.


"Tapi, lo bilang..." kata Nilam tak dilanjutkan.


"Gue bilang, gue ga bisa? Gue sibuk? Asal lo tau, gue kemarin udah kuliah ke berbagai negara, prancis, Ausi. Awalnya gue ga siap buat ke arab, karena gue ga ada keperluan ke sana. Tapi, melihat mama, gue akan ke sana temenin mama." kata Zio tersenyum menatap mamanya penuh cinta.

__ADS_1


"Kalo gitu, elo harus segera urus berkas keberangkatan elo Zi, karena data yang ada di sana, datanya papa." kata Nilam.


"Ya, entar gue urus segera." kata Zio santai.


"Terimakasih Zi. Kamu memang anak baik." kata Bu Suyamti terharu, sambil mengelus wajah putranya penuh cinta.


"Papa udah ga ada ma, Zio yang bertanggungjawab atas mama." kata Zio memberi penjelasan.


"Wah wah wah, sepertinya memang pengaruh baik sudah masuk dalam diri Zio mah." kata Nilam.


"Maksud lo apa?" tanya Zio.


"Gapapa. Oya, kamu ada kerjaan ga di kantor atau di kampus?" tanya bu Suyamti mengingatkan.


"Ada ma, ini mau ke kantor." kata Zio.


Merekapun berbicara banyak hal tentang persiapan keberangkatan haji.


💞💞💞


Di kampus, Mutiara sudah siap dengan acara kongres mahasiswa yang dihadiri para anggota organisasi mahasiswa dan beberapa tamu undangan, seperti pengurus universitas, dosen, dan beberapa alumni. Mutiara ditugaskan sebagai pembawa acara, yang dipandu oleh Meylani dan Rico selaku ketua panitianya. Hingga acara pembukaan selesai, dan masuk acara inti.


Pada acara inti, Mutiara lagi-lagi terpilih menjadi notulensi dengan pimpinan sidangnya Fathan, selaku koordinator devisi Humas.


"Tapi mbak, Tiara ga bisa." kata Mutiara keberatan dengan tugas barunya.


"Santai aja Tiara, kita yakin kamu bisa, entar Fathan dan aku bakal bantu kamu wis. Pokoke santai wae ya." kata Meylani yang asli Semarang memberi ketenangan.


"Masalahnya, nulisnya kan di depan mbak, dan itu langsung di harapkan pada proyektor " kata Mutiara masih ragu.


"Santai wae wis, bisa. pasti bisa, wong kamu asisten dosen, mosok ga bisa." kata Meylani lagi.


"Kan beda mbak." kata Mutiara membela diri.


"Tiara." panggil Rico, selaku ketua panitia.


Seketika Mutiara dan Meylani menoleh ke sumber suara.


"Maju! Jangan memperlambat acara!" kata Rico tegas. Rico memang sangat disiplin, dia tidak suka menyia-nyiakan waktu. Sehingga dia terpilih menjadi Ketua Majelis Permusyawarahan Mahasiswa (MPM-pimpinan tertinggi Organisasi Mahasiswa di sebuah kampus)


"Eh, ehm. Ya kak." jawab Mutiara dengan takut-takut.


"Santai aja Ra, kakak ga gigit kok." kata Fathan dengan nada bercanda, selaku pimpinan sidang yang sudah duduk manis di kursi depan persidangan.


"Huuuu...." seru semua para peserta kongres seisi aula.

__ADS_1


"Udah, sana. Kalau Fathan nakal, nanti tak jewere." kata Meylani lagi.


Dengan menelan Saliva nya secara kasar, Mutiara berjalan menunduk ke kursi persidangan, tempat Notulen duduk. Dia duduk tak jauh dari pimpinan sidang, dan berhadapan dengan para audien.


__ADS_2