Jodoh Salah Sambung

Jodoh Salah Sambung
Keinginan Ibu


__ADS_3

Sore itu Mutiara dan Bu Hindun sudah siap dengan pakaiannya, karena sore itu mereka akan pergi menjenguk bapaknya Kenzo di rumah sakit. Sedangkan pak Bowo dan Dzen masih asyik bercengkrama di teras.


"Pak, ayo, jadi ke rumah sakit ndak?" tanya bu Hindun yang sudah rapi.


"Yo jadi. Bapak kan tinggal ganti baju saja." jawab pak Bowo sambil meneguk kopinya.


"Nak Dzen mau mandi dulu ndak?" tanya bu Hindun.


"Ehm, nanti saja bu, sepulang dari rumah sakit." jawab Dzen segan, karena sepulang dari masjid, pak Bowo terus mengajaknya bercerita.


"Oh. ya sudah. Brati ini sudah siap semua nak. Sudah jam setengah lima juga. Ayo, berangkat saja, nanti pulang nya ndak kemalaman." kata Bu Hindun.


"Baik bu." jawab Dzen.


Mereka berempatpun naik mobil Dzen dan pergi menjenguk bapak Kenzo di rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Mereka langsung menuju kamar rawat umum.


"Assalamualaikum." sapa pak Bowo.


"Wa'alaikumsalam. Eh, pakde. Kok sampai sini, sama siapa pakde?" tanya Kenzo menyambut pak Bowo dengan suka cita dan mencium tangan pak Bowo.


"Sama mbakmu." jawab Pak Bowo sambil berjalan masuk ke ruangan adiknya.


"Bude, lho, ini tadi sekalian to?" tanya Kenzo saat melihat bu Hindun muncul dibelakang pak Bowo, lalu Kenzo mencium tangan budenya juga.


"Iya. Itu sama mbakmu juga." kata bu Hindun sambil menunjuk Mutiara yang sedang berjalan beriringan dengan Dzen.


"Alhamdulillah, mimpi apa aku semalam. Kedatangan pak dokter juga. Monggo mas, mbak, langsung masuk saja. Bapak di dalam." kata Kenzo mempersilakan Dzen dan Mutiara masuk.


"Iya Ken, gimana keadaan bapak?" tanya Dzen ramah.


"Alhamdulillah mas, kemarin abis oprasi." kata Kenzo.


"Hem, gitu?" jawab Dzen sambil berjalan masuk ke ruang rawat pak Gio.


"Assalamualaikum." sapa Mutiara kepada semua yang ada di sana.


"Wa'alaikumsalam. Eh, ada nduk Tiara. Datang kapan nduk?" tanya bu Rini, ibunya Kenzo.

__ADS_1


"Baru tadi siang bulik." jawab Mutiara sambil menjabat tangan buliknya.


"Lha mas ini siapa? Calonmu to nduk?" tanya bu Rini yang memang suka banyak bicara. Mutiara dan Dzen saling pandang, begitupun dengan pak Bowo dan bu Hindun yang menatap reaksi Dzen, takut menyinggung perasaan tamunya.


"Ibu ini, sembarangan aja kalo bicara. Ini temen Ken sama mbak Tiara, namanya mas Dzen. Dia ini dokter." kata Kenzo mengingatkan atas kelancangan ibunya.


"Woalah. Mas dokter to? Saya ibunya Ken mas." kata bu Rini menyalami Dzen dengan senang hati.


"Ya bu. Saya Dzen. Pas ibu menelpon waktu itu, Ken sedang bersama saya, jadi saya tau kalau bapak Ken mengalami kecelakaan." kata Dzen menjelaskan.


"Owalah. Ya ya. Ini mas, kemarin itu bapaknya Ken kerja di proyek, terus jatuh, patah bagian tangan sama tulang bagian lehernya. Terus di oprasi, Alhamdulillah dikasih kelancaran." kata bu Rini.


"Alhamdulillah." jawab Dzen dan Mutiara.


Percakapan ala orang tua diranjang tempat pak Gio berbaring mulai tercipta. Begitupun. dengan Dzen, Mutiara dan Kenzo yang mengobrol di teras. Hingga waktu adzan maghrib berkumandang, merekapun pamit ke masjid sekalian pamit pulang.


"Semoga bapak sembuh ya Ken." kata Dzen menepuk pundak adik sepupu Mutiara.


"Eh, iya mas. Aamiin." jawab Kenzo.


"Yang jagain kamu apa ibu?" tanya Dzen.


"Ow. gitu?"


"Ya udah, saya duluan ya." kata Dzen berpamitan.


Mutiara, bu Hindun dan pak Bowo juga sudah siap masuk mobil bersama Dzen. Merekapun langsung pulang ke rumah, karena cuaca di luar mulai mending, pertanda akan turun hujan.


"Kita mau mampir mampir dulu atau langsung pulang?" tanya Dzen kepada Mutiara.


"Tiara ngikut aja. Bapak ibu mau mampir kemana gitu dulu ndak?" tanya Mutiara.


"Ga usah nduk, langsung pulang saja." jawab pak Bowo.


"Ya pak." jawab Dzen.


"Nanti kalau kalian mau jalan jalan di kota solo, berdua saja. Bapak sama ibu pulang dulu saja, karena ini mendung, mau hujan juga kayaknya." kata bu Hindun.

__ADS_1


"Baik bu."


Merekapun tiba di rumah pak Bowo dengan Disambut hujan saat masuk desa mereka. Sampai rumah, Mutiara dan bu Hindun menyiapkan makan malam untuk semuanya, saat pak Bowo dan Dzen ke masjid untuk sholat isya'. Setelah makan bersama, Mutiara bersama ibunya di dapur mencuci piring dan lanjut bercengkrama sendiri, karena pak Bowo dan Dzen juga masih asyik mengobrol di teras.


"Nduk, nak Dzen itu baik yo." kata bu Hindun sambil mencuci piring.


"Iya bu. Alhamdulillah. Memang beliau itu dokter berjiwa sosial tinggi bu." kata Mutiara.


"Gimana to ceritanya, kok kalian bisa ketemu? Ibu kira, nak Dzen itu teman kuliahmu lho nduk." kata bu Hindun.


"Dulu itu, mas Dzen entah pulang dari mana, dia minta dijemput di stasiun. Tiara yang tidak mengenal nomer itu, awalnya keberatan bu. Karena itu pasti salah sambung. Tapi mas Dzen bilang, dia ada pasien yang harus segera ditangani. Ya meski Tiara ga kenal, merasa itu salah sambung, Tiara langsung aja menjemput dia bu. Karena mengingat pasien dia yang harus segera ditangani. Dan setelah itu, kita ketemu lagi, pas Tiara nolongin ibu-ibu korban tabrak lari, kebetulan mas Dzen juga yang bantu Tiara. Jadi mulai saat iti bu, Tiara mulai kenal mas Dzen dan sering berkomunikasi." kata Mutiara.


"Owalah, karna salah sambung?" tanya bu Hindun.


"Iya bu."


"Allah itu, selalu punya cara ya untuk mempertemukan dua orang yang baik seperti kalian." kata bu Hindun sambil menata piring di rak piring.


"Iya bu. Tiada cuma yakin aja dengan peesn bapak ibu dahulu, selama kita berbuat baik, pasti akan ada orang yang akan berbuat baik pula pada kita." kata Mutiara.


"Belum lama ini, Tiara sempet sakit bu,Tiara masuk rumah sakit, tapi maaf, Tiara sengaja ga ngabarin orang rumah." kata Mutiara jujur.


"Ya Allah nduk, kamu masuk rumah sakit? Kapan? Ken kenapa juga ga bilang? Apa Ken ga tau?" tanya bu Hindun kaget.


"Ken tau bu, dia juga ikut bantuin Tiara, ngurusin Tiara. Cuma memang Tiara yang ngelarang dia kasih kabar orang rumah. Khawatirnya ibu bapak kepikiran." kata Mutiara.


"Lha terus, sekarang gimana? Sakit apa kemarin?" tanya bu Hindun khawatir.


"Cuma Typhus kok bu. Mas Dzen juga yang ngerawat Tiara, dan jagaian Tiara di saat Ken kuliah. Dan beliau juga yang sudah bayarin rumah sakitnya." kata Mutiara.


"Yaa Allah, nak Dzen?" tanya Bu Hindun sambil menengok keluar.


"Iya bu." kata Mutiara.


"MaasyaaAllah, baik sekali dia nduk. Ibu bisa merasakan ketulusan hatinya, dia memang orang baik nduk. Wis, kalau kamu ndak kuliah, ibu pinginnya kamu itu nikah saja langsung sama nak Dzen itu." kata bu Hindun.


"Ih, ibu ni apaan sih? Mas Dzen itu cuma temen Tiara bu. Kita kan ga tau juga, mas Dzen itu udah punya calon istri belum? punya Pacar belum? Udah dijodohin belum? Mas Dzen itu kan dokter, muda, masih ganteng. Pasti banyak cewek cewek yang menyukainya. Tiara ini jauh bu. Gadis desa anaknya petani, mosok mau menikah sama dokter?" kata Mutiara mengeles.

__ADS_1


"Jodoh itu udah diatur sama Gusti. Kalau sudah jodoh itu, ga kenal anak mentri, ataupun anak bakul teri. Ga kenal dokter ataupun bakul lemper. Semua dianggap sama. Termasuk kamu, ga ada kata ga mungkin, jika Allah sudah berkehendak. Yang jelas, ibu srek sama nak Dzen ini." kata bu Hindun mantab.


Mutiara hanya tersenyum dan geleng-geleng melihat tingkah ibunya yang sudah lebih awal berpengalaman perihal jodoh.


__ADS_2