
Sarapan sudah siap, Dzen dan pak Bowo sudah ikut serta duduk di ruang makan bersama Mutiara dan bu Hindun.
"Nak Dzen, coba rasain ini. Ini makanan kesukaan Mutiara kalo pas pulang kampung, dia selalu reques masakan ini." kata bu Hindun menunjuk oseng-oseng daun pepaya.
"Apa itu bu?" tanya Dzen.
"Oseng daun Kates." kata bu Hindun.
"Kates? Pepaya maksudnya?" tanya Dzen.
"Iya." jawab bu Hindun sambil menyajikan sarapan untuk pak Bowo.
"Ehm, daun pepaya itu pahit kan bu?" tanya Dzen.
"Dirasain dulu aja nak." kata pak Bowo.
"Ehm, ya boleh lah di coba." kata Dzen yang hendak mengambil oseng tersebut.
"Tiara, tolong di ambilin itu buat nak Dzen." perintah bu Hindun yang masih sibuk menuangkan minum untuk pak Bowo.
"Ehm? Ya bu." jawab Mutiara yang terkejut akan diperintah ibunya untuk melayani Dzen.
Mutiara yang duduk di samping Dzen pun mengambilkan nasi dan oseng serta lauk untuk Dzen.
"Sedikit aja dulu Ra, nyobain dulu aja."kata Dzen saat Mutiara hendak mengambilkan oseng.
"Oh, ya mas." jawab Mutiara.
"Terimakasih Tiara." kata Dzen saat menerima piring berisi nasi beserta lauknya dari tangan Mutiara. Dan Mutiara hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Kalau mau lagi, nanti boleh nambah kok nak Dzen." kata bu Hindun.
"Oh, iya bu. Terimakasih." kata Dzen.
Merekapun sarapan bersama, namun belum sampai selesai sarapan, suara ponsel Mutiara di atas meja TV berbunyi, tanda ada panggilan masuk.
"Nduk, itu suara HPmu?" tanya bu Hindun.
"Iya bu. Sebentar ya bu, pak, Mas. Tiara permisi." kata Mutiara memohon ijin untuk mengangkat telepon.
"Halo, Assalamualaikum pak Zio." sapa Mutiara.
Seketika Dzen memfokuskan telinganya ke suara Mutiara, saat menyebut nama suara laki-laki. Dengan tangannya yang masih tetap memasukkan nasi ke dalam mulutnya.
"Oh. alhamdulillah, saya sampe rumah kemarin sore pak, karena mampir mampir dulu." kata Mutiara lagi.
__ADS_1
"Zio? Itu kaya nama dosennya Mutiara yang masih muda itu kan? Seperhatian itukah dia sama Tiara, sampe nanyain kedatangan Tiara di Solo?" batin Dzen.
"Oh, ya pak. Bisa."
"Assalamualaikum bu Suyamti. Apa kabar bu?"
"Oh, iya bu, Iya, tidak apa apa bu."
"Ehm, ya InshaaAllah saya usahakan bu. Nanti untuk jadwalnya, saya atur dulu."
"Baik bu."
"Wa'alaikumsalam. Ibu sehat sehat ya." kata Mutiara yang kemudian meletakkan ponselnya di meja TV lagi.
"Siapa nduk?" tanya pak Bowo yang sejak tadi memperhatikan Dzen.
"Dosennya Tiara pak. Namanya pak Zio." jawab Mutiara.
"Sedekat itu kamu sama dosenmu? Sampe kenal istrinya juga?" tanya pak Bowo.
"Bukan pak. Pak Zio itu dosen Tiara masih muda, belum menikah. Sedangkan bu Suyamti itu ibunya pak Zio pak. Beliau mau berangkat haji tahun ini, tetapi beliau belum bisa ngaji, dan beliau meminta Tiara untuk mengajari nya ngaji pak." kata Mutiara menjelaskan.
"Terus, kamu mau?" tanya bu Hindun.
"InshaaAllah bu, karena untuk bekal akhirat juga." kata Mutiara.
"InshaaAllah pak." jawab Mutiara.
Dzen yang mendengar itu, hanya diam membisu sambil terus menekuri isi piring nya.
Acara sarapan selesai, dan Dzenpun berpamitan untuk berangkat seminar, dan sekaligus pulang ke Semarang.
"Hati hati ya nak Dzen, ga usah ngebut-ngebut." kata bu Hindun menasehati.
"Jaga diri baik-baik nak Ahmad. Titip Mutira Hati nanti jika dia sudah kembali ke sana juga." kata pak Bowo, memeluk Dzen, seperti anak sendiri.
"InshaaAllah pak." Jawab Dzen.
"Duluan ya Ra, nanti kalau mau Otw kembali ke Semarang, kabar-kabar ya." kata Dzen.
"Ya mas. InshaaAllah." jawab Mutiara.
Dzenpun masuk mobil, dan mengemudikan mobilnya keluar pekarangan rumah pak Bowo, dan meninggalkan desa itu.
Sesampai nya di rumah sakit UNS, Dzen segera mencari aula tempat dimana seminar kedokteran itu di gelar. Dzenpun segera masuk dan duduk di baris tengah, tetapi bagian tepi. Karena dia berangkatnya agak pagi, sehingga belum banyak peserta yang hadir, diapun membaca-baca artikel di ponselnya. Hingga tak terasa peserta seminar sudah semakin banyak, lalu pembawa acara sudah memulai acara.
__ADS_1
"Permisi, boleh saya duduk di sini?" tanya seseorang pada Dzen saat Dzen sedang fokus memperhatikan acara. Seketika Dzen menoleh.
"Oh, ya Silakan." jawab Dzen, namun seketika dia terkejut dengan seseorang yang ingin duduk di sampingnya.
"Kamu?" kata wanita itu, dengan raut wajah tegang.
"Lisa?" spontan Dzen menyebut nama mantannya yang beberapa tahun lalu telah meninggalkannya demi menuruti keinginan orangtuanya, untuk menikah dengan pengusaha kaya pilihan ayahnya.
"Dzen? ehm, maaf saya cari tempat laimn saja." kata Lisa akan pergi.
"Kenapa? Duduk lah di sini. Tidak masalah bagiku." kata Dzen yang berhasil membuat Lisa kembali menoleh.
"Kursi Yang lain sudah penuh, kamu datang terlambat." kata Dzen lagi yang kemudian berdiri, untuk memberikan jalan pada Lisa untuk duduk di sampingnya.
"Ehm, baiklah. Terimakasih." kata Lisa. Kemudian Lisa duduk di kursi sebelah Dzen. Dzen tetap duduk di kursi paling ujung.
"Apa kabar?" tanya Dzen berusaha mengontrol hatinya, dengan mencairkan suasana yang sempat tegang.
"Baik." jawab Lisa sungkan.
"Ehm. Alhamdulillah." jawab Dzen.
"Kenapa terlambat?" tanya Dzen lagi.
"Gapapa. Biasa. Tadi masih mengantar anak saya dulu, yang lagi bad mood." kata Lisa.
"Oh, begitu? Pasti anakmu sudah besar ya?" tanya Dzen.
"Ya. Sudah dua setengah tahun." jawab Lisa.
"Pasti cantik." kata Dzen lagi.
"Ehm, begitulah." jawab Lisa.
"Bagaimana kabar suamimu?" tanya Dzen.
Seketika Lisa menoleh pada Dzen yang sejak tadi tidak berani menatap wajah mantan keskasihnya itu.
"Ehm, dia... Baik." jawab Lisa tampak ragu.
Dzen yang juga membaca raut wajah Lisa, tampak mengernyit dengan jawaban Lisa.
"Sepertinya dia sedang tidak baik baik saja." batin Dzen.
Merekapun kembali fokus pada seminar, dengan sesekali Lisa mencuri pandang pada pria tampan yang pernah mengisi hatinya. Dan bahkan hingga sekarang, Lisa masih mengagumi sosok pria disampingnya.
__ADS_1
"Dzen, andaikan aku boleh meminta pada Tuhan, aku sangat ingin kembali padamu. Kamu pria baik, sangat baik. Namun bodohnya aku, yang lebih mementingkan kemauan keluargaku, hingga ku korbankan perasaan ku, dan menyakiti perasaanmu.
Maafkan aku Dzen. Andaikan memilihmu mungkin hidupku tak akan seperti ini. Aku masih sangat mencintaimu Dzen. Aku masih sangat mengharapkan mu. Kamu adalah mantan terindahku Dzen. Kamu tetap menjadi pria baik yang aku kenal, dan kamu ga pernah berubah." batin Lisa dengan linangan air mata yang dia tahan, dan sesekali berhasil lolos, namun dia usap perlahan dengan mengalihkan pandangannya.