Jodoh Salah Sambung

Jodoh Salah Sambung
Suara Tetangga


__ADS_3

Acara khitbah Mutiara dan Dzen berjalan dengan lancar. Hingga akhirnya, acara ditutup dengan makan malam, dan acara syukuran kelulusan Mutiara. Para tamu undangan Mutiara juga berpamitan untuk kembali pulang, termasuk Sahabat dan juga Yusuf.


Dzen sudah berpamitan bersama keluarganya untuk istirahat di hotel, karena menuruti permintaan adiknya yang keesokan harinya menginginkan berwisata ke air terjun seribu atau orang jawa mengatakan grojogan sewu Tawangmangu. Sehingga, mau tak mau, Dzen mendadak mengajukan ijin ke pihak rumah sakit. Dzen berfikir, jarang juga mereka bisa berlibur ke tanah jawa, sehingga ini kesempatan bagi mereka untuk berlibur, sebelum Dzen menikah nanti.


Sedangkan Nadia dan Mila juga sudah langsung berpamitan pulang, karena ijin mereka pada orangtua memang tidak menginap, sehingga Fahri langsung tanjap gas lagi untuk mengantar kedua gadis itu kembali pulang ke Semarang.


Tak luput juga Yusuf bersama bundanya, yang memutuskan untuk kembali pulang juga, setelah mereka bermalam di Solo sebentar. Yusuf kembali pulang bersama bundanya dengan meninggal kan rasa yang campur aduk, termasuk patah hati. Berat rasanya bagi Yusuf menerima kenyataan ini, namun, lagi-lagi bundanya menyemangatinya, dan terus membesarkan hatinya dengan mendekatkan diri kepada Allah.


Pagi itu, Mutiara yang memang mengambil ijin kepada bu Kanti beberapa hari, masih membantu ibunya beres-beres di rumahnya bekas acara tadi malam. Ibunya pamit belanja ke warung terdekat, untuk membeli bahan masak hari ini. Sekembalinya dari warung, bu Hindun tiba-tiba datang dengan wajah yang kurang senang.


"Assalamualaikum." salam bu Hindun sambil meletakkan belanjaannya.


"Wa'alaikumsalam bu." jawab Mutiara.


"Tiara, kamu sama dokter Dzen hubungannya biasa saja to nduk? Ga neko neko?" tanya bu Hindun.


"Maksud ibu apa?" tanya Mutiara.


"Ya, ga berhubungan kaya orang suami istri gitu?" tanya bu Hindun lagi.


"Astaghfirullah ibu, ya ga mungkin lah Tiara melakukan hal kaya gitu. Na'udzubillah bu." kata Mutiara kaget dengan kata-kata ibunya.


"Lha iya, ibu udah bilang kok, kalau anak ibu ga mungkin neko-neko. Tapi mereka itu curiga, kenapa nikahnya cepet-cepet. Termasuk dadakan, dikiranya kamu itu hamil duluan nduk. Yo ibu ga terima to, anak ibu dituduh hamil diluar nikah, cuma gara-gara nikahnya buru-buru." kata bu Hindun menceritakan kejadian di warung tadi.

__ADS_1


"Ya udah lah bu ga usah dipikirin. Yang jelas kan Tiara ga aneh-aneh bu, InshaaAllah nanti juga bakal terjawab dengan sendirinya. Wis, ndak usah dijawab omongan-omongan miring itu." kata Mutiara.


"Oya nduk, ehm, nak Dzen itu bener anak pertama nduk?" tanya bu Hindun.


"Iya bu. Kenapa memangnya bu?" tanya Mutiara.


"Ehm, ini nih, ibu malah kepikiran sama omongannya mbah Karyo tadi. Kata mbah Karyo, jangan sampai kamu itu menikah sama anak pertama. Kata mbah Karyo, itu namanya pernikahan Lusan, pernikahan anak ketelu dan kepisan." kaya bu Hindun.


"Memangnya kenapa bu?" tanya Mutiara mulai tak tenang dengan hatinya.


"Kata mbah Karyo, kalau orang jawa mempercayai adanya kepercayaan itu nduk. Katanya, kalau hal itu terjadi, akan ada yang meninggal di antara keluarga dua belah pihak mempelai. Bisa dari keluarga pengantin putri, atau pihak keluarga pengantin putra." kata bu Hindun.


Saat bu Hindun bercerita, pak Bowo ternyata diam-diam mendengarkan obrolan mereka dari ruang makan. Lalu pak Bowo masuk, dan menyanggah kata-kata bu Hindun.


"Ibu...ibu. Katanya ibu ini sudah hijrah, sudah sregep ngaji, sholatnya juga tekun. Lha kok masih percaya hal-hal seperti itu. Itu berasal dari kitab Fatkhul jare. Jarene jarene dan jarene (Jarene artinya 'Katanya'), tanpa ada dasar yang jelas." kata pak Bowo berjalan ke dapur sambil duduk di kursi tempat mengambil air minum.


"Ibu percaya?" tanya pak Bowo.


"Ya,,, sedikit sih, tapi ya, ga terlalu percaya juga." kata bu Hindun ragu-ragu.


Mutiara yang mendengarkan sambil meracik bahan sambel, lalu mengulegnya tak banyak komentar dengan obrolan dua orangtuanya.


"Bu. Istighfar. Itu namanya khurofat, ibu kalau percaya, bisa masuk kategori syirik. Karena ibu percaya pada makhluk lain selain Allah. Ibu mendahului kehendak Allah." kata pak Bowo mengingatkan istrinya.

__ADS_1


"Astaghfirullahal'adzim. Pangapunten pak." kata bu Hindun menyesal.


"Minta ampun sama Allah bu, ibu jaga perasaan anak kita, dia sudah mantab memilih nak Ahmad sebagai calon suaminya. Kalau dia termakan kata-kata ibu tadi, bisa jadi dia nanti berubah pikiran, dan ada rasa takut dan cemas." kata pak Bowo lagi.


"Wis nduk, ndak usah dipikir ya. Itu tadi cuma kepercayaan nenek moyang jaman dulu. Sekarang kita sudah mengenal islam, agama yang damai dan tidak banyak larangan yang tidak masuk akal. Wis, yakin saja, InshaaAllah semua akan baik- baik saja. Mau dibilang Lusan atau Lusin, terserah, yang penting kita berpasrah hanya kepada Allah ya nduk. Berdoa'a selalu, agar acara pernikahanmu nanti diberi kelancaran oleh Allah." kata Pak Bowo yang memang beliau bijak dan sangat tekun beribadah. Sejak Kecil, pak Bowo memang tak pernah jauh dari ajaran Agama, sehingga meski beliau termasuk orang jaman dahulu, tetapi beliau memegang teguh ajaran agama dengan kuat. dan tidak mudah termakan oleh bujuk rayu atau hasutan hasutan terkait kepercayaan animisme dinamisme.


"Nggih pak." jawab Mutiara.


"Maafkan ibu ya nduk." kata bu Hindun.


"Ndak papa bu, ya wajar, namanya juga kita ini hanya manusia biasa bu. dan ibu adalah seorang ibu yang sangat sayang pada putrinya, sehingga wajar jika ibu kepikiran dengan nasib Tiara." kata Mutiara membuat Bu Hindun justru terharu.


"Oya nduk, mbak mu Fatim dan Khotim sudah kamu hubungi? Mereka bisa datang to ke acara pernikahanku?" tanya bu Hindun mengalihkan pembicaraan. Karena bu Hindun takut di ceramahi lagi oleh suaminya, karena salah bicara.


"Sudah bu, tadi Tiara suda video call sama mbak Fatim dan mbak Khotim. InshaaAllah mereka bisa pulang, tetapi hanya sebentar, karena tanggal pernikahan Tiara kan pas masih di hari efektif sekolah dan kerja." kata Mutiara menjelaskan.


"Iya nduk. Gapapa. Itulah kenapa kita resepsinya di gedung. Kata bu Lastri kemarin, biar ibu sama bapak ga kerepotan beres-beres rumah, karena khawatir jika anak-anak ibu bapak langsung pada kembali ke rumah mereka masing-masing." kata bu Hindun.


"Kalau nanti ada yang komentar lagi terkait acara hajatan kita di gedung, jawab saja apa adanya. Kalau mereka mau, ya mereka suruh bantu-bantu bersih-bersih dan beres beres. Ga cuma sekedar rewang saja." kata pak Bowo mengultimatum istrinya jika ada suara tetangga lagi.


"Oiya, tadi juga ada yang bilang begitu pak, katanya boros, kaya ga punya tetangga aja gitu, karena acara di gedung, kaya punya uang aja." kata mereka.


" Yo karena ibu yo sengit, ibu jawab aja, semua acara ini ditanggung sama pihak mempelai laki-laki, kita cuma ngikut aja. Makannya, diminta di gedung. Gitu sih tadi ibu jawabnya." kata bu Hindun.

__ADS_1


"Lho, lha iya to? Tetangga itu cuma pinter komentar, tanpa solusi. Wis, ibu ga usah sering-sering main keluar, banyak suara yang tak pantas didengar." kata pak Bowo.


"Nggih pak " jawab bu Hindun, yang kemudian membantu Mutiara memasak sayur.


__ADS_2