Jodoh Salah Sambung

Jodoh Salah Sambung
Wisuda 2


__ADS_3

Sesampainya di kampus, Dzen mengehentikan mobilnya di depan gerbang kampus,


"Lho. Kenapa berhenti mas?" tanya Mutiara.


"Bentar." kata Dzen yang kemudian keluar dari mobil, lalu membuka pintu bagasi, dan mengambil tas dokternya. Kemudian Dzen kembali duduk di kursi kemudi dengan membawa tas dokternya.


"Mau ngapain sih mas? Ini kita udha telat." kata Mutiara gusar.


"Bentar aja." kata Dzen berusaha tetap tenang, sambil mengambil Stetoskopnya.


"Mas periksa dulu sebentar ya." kata Dzen mengarahkan stetoskop nya pada Mutiara.


"Mas, ga usah. Tiara gapapa. Udah ayo lanjut aja, Tiara udah telat ini." kata Mutiara menolak dengan wajah cemas nya.


"Nak. Nurutlah sama suamimu. Dia hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja." kata pak Bowo menasehati.


"Ehm, ya pak." lagi-lagi kalau bapaknya sudah angkat bicara, Mutiara memilih untuk menurut.


Dzenpun memeriksa keadaan Mutiara dengan bantuan stetoskop nya.


"Gimana?" tanya Mutiara.


"Baik, gapapa, Tapi tetep aja, nanti kita periksa dulu ke klinik atau ke rumah sakit ya, abis prosesi wisuda nanti." kata Dzen yang sebenarnya dalam hatinya dia tau, bahwa istrinya sedang kurang enak badan.


"Kenapa begitu? katanya gapapa?" tanya Mutiara.


"Masih mau wisuda kan?"


"Iya."


"Ya udah, wisuda dulu. Semampu kamu ya, nanti kalau kiranya kerasa pusing atau lemes, jangan sungkan ijin ke belakang temui mas. Okey?" kata Dzen.


"Iya."


"Kalau mual, jangan ditahan. Karena perutmu kosong. Harusnya ini kamu makan lagi sayang." kaya Dzen.


"Ah, engga mas. Ga doyan, ini aku udah telat banget." kata Mutiara yang tidak nafsu makan karena sudah terlambat, pikirannya kacau.


"Ya udah, kita langsung ke gedung ya." kata Dzen.


Sesampainya didepan gedung audit, Dzen menurunkan Mutiara dan kedua orangtuanya, sedangkan dia memarkirkan mobilnya terlebih dahulu.


Dan benar saja, sesampai nya di dalam, Mutiara sudah terlambat, semua peserta wisuda sudah duduk rapi di kursi mereka masing-masing, dengan setengah berlari, Mutiara menuju ruangan.


"Nak, jangan lari, hati-hati." kata bu Hindun memperingatkan, karena bu Hindun sudah menebak, bahwa putrinya sedang hamil.


"Iya bu. Buru-buru ini." kata Mutiara yang meninggalkan orangtuanya begitu saja.


Sesampainya di tempat duduk, teman kanan kirinya menanyakan alasan Mutiara datang terlambat. Dan Mutiara menjelaskan bahwa jalanan macet, dan tadi dia sempat kurang enak badan.


Acarapun berlangsung khidmad, hingga tiba pada inti acara, yaitu pemindahan Samir dan pengesahan gelar untuk semua wisudawan wisudawati.

__ADS_1


Saat sedang mengantri untuk dipanggil namanya dengan posisi berdiri, Mutiara merasakan pusing dan mual lagi. Namun dia tahan, agar tidak mengganggu kawan yang lain. Mau ke toilet, sudah tidak ada waktu, karena sebentar lagi namanya akan dipanggil. Sehingga Mutiara memutuskan untuk tetap bertahan sampai dia selesai melalui prosesi itu.


Sedangkan di kursi tamu, kedua orang tua Mutiara tampak khawatir melihat putrinya dari kejauhan tampak pucat, dan sesekali memegang kepalanya.


"Pak, sepertinya Mutiara sedang kerasa pusing lagi itu pak. Ibu khawatir, terjadi sesuatu sama dia." kata bu Hindun memegang tangan pak Bowo khawatir.


"Kita bantu do'a saja ya bu, semoga Mutiara kuat, dan bisa melalui prosesi itu dulu sampai selesai." kata pak Bowo menguatkan.


Tak berbeda dengan Dzen yang berada di luar gedung audit, dia begitu mengkhawatirkan keadaan istrinya, yang mana dia tau bahwa istrinya sedang kurang sehat, dia terus mengamati istrinya dari kejauhan.


Saat nama Mutiara Hati dipanggil, Mutiara berjalan menuju Senat, untuk dipindah kucirnya, lalu menerima ijazah. Namun, Mutiara merasakan badannya sudah panas dingin. keringat dingin sudah membasahi seluruh tubuhnya, wajahnya berubah pucat, dan pandangannya semakin buram, buram, dan setelah menerima ijazah dan bersalaman dengan senat, baru beberapa langkah dia berbalik badam untuk menuju kursinya, tiba-tiba pandangannya semakin gelap, dan sesuatu yang tak diinginkan pun terjadi.


Brugh


Mutiara pingsan, dan seketika wisudawan di belakangnya langsung berlari untuk membantu Mutiara.


Zio yang juga menjadi salah satu panitia wisuda, sedari tadi menyadari bahwa Mutiara tampak pucat, sehingga dia tidak mengalihkan perhatiannya dari mantan asdosnya itu. Sehingga saat Mutiara pingsan, Zio langsung sigap berlari dan menerima tubuh Mutiara yang lemah. Dzen yang melihat itu juga langsung berlari ke dalam, dengan meminta ijin pada petugas, bahwa yang pingsan itu adalah istrinya. Pak Bowo dan Bu Hindun seketika berdiri dan ikut berlari menuju putrinya yang pingsan.


Meski begitu, panitia mencoba tetap mengkondisikan acara dengan baik, sehingga prosesi tetap berjalan normal, meski dengan sedikit iklan. Senat dan beberapa Wisudawan yang tadinya sempat terkejut, akhirnya kembali melanjutkan prosesi lagi, dengan arahan penanggungjawab acara.


"Pak, langsung dibawa keluar saja." kata seorang dosen rekan kerja Zio.


"Sebentar, ada suaminya. Suaminya lebih berhak menggendongnya." kata Zio yang melihat Dzen sudah berlari ke arah mereka.


Sesampainya di posisi Mutiara, Dzen segera mengambil alih posisi Zio yang tadi sempat memangku Mutiara, Dzen langsung menggendong istrinya keluar ruang auditorium. Sedangkan pak Bowo dan bu Hindun mengikuti Dzen dari belakang.


"Dzen, kita bawa ke klinik kampus dulu saja." kaya Zio memberi usul.


"Ibu bapak, tunggu disini dulu saja ya, Nanti kalau kita sudah dapat tempat pasti, bapak ibu akan saya jemput." kata Dzen.


"Ya nak." jawab pak Bowo menurut.


Zio dengan sikap menyiapkan mobil untuk Dzen dan Mutiara. Kemudian Zio membawa Mutiara dan Dzen ke klinik kampus, namun ternyata dokternya sedang tidak praktik.


"Ga kamu periksa sendiri aja Dzen?" hanya Zio.


"Aku ga bawa alatnya mas." jawab Dzen.


"Ya udah, kita langsung ke IGD aja. Ga jauh kok dari sini." kata Zio yang langsung melajukan mobilnya ke rumah sakit terdekat.


Sesampainya di rumah sakit, Dzen membawa Mutiara ke IGD, dan langsung mendapat penanganan. Dzen selalu disamping Mutiara, selama masa pemeriksaan.


Tak lama kemudian, hasil tes keluar, dan muncul dokter perempuan yang masuk ke ruangan Mutiara.


"Bagaimana keadaan istri saya dok?" tanya Dzen dengan panik.


"Tidak apa-apa pak. Istri bapak hanya kecapekan, dan perutnya kosong saja. Sehingga dia lemas dan jatuh pingsan. Selain itu..." kata dokter wanita bername tag dr. Indah Kusuma, Sp.Og menghentikan kata-katanya.


"Kenapa dok?"


"Selamat, istri bapak hamil." kata dokter Indah.

__ADS_1


"Alhamdulillah." pekik Dzen mengusap wajahnya sebagai tanda syukur.


"Jika nanti istri bapak sudah sadar, nanti juga sudah boleh pulang kok pak, tidak perlu di rawat. Hanya saja harus banyak istirahat dulu." kata dokter Indah.


"Baik dok."


"Istrinya lagi wisuda ya pak?"


"Iya dok, ini tadi pingsan di kampus, abis prosesi." kata Dzen.


"Oh, ya selamat. Nanti jika istri bapak sudah sadar, bisa panggil kami ya." kata dokter Indah dengan ramah.


"Biak dok, terimakasih." kata Dzen.


Sepeninggal dokter Indah, Dzen memandangi istrinya dengan penuh rasa bahagia dan syukur tak terhingga. Tak terasa air bening keluar dari pelupuk matanya. Lalu, jari Mutiara tampak bergerak.


"Sayang..." Dzen yang menyadari istrinya sudah sadar langsung menyambutnya.


"Mas..."


"Tiara dimana?" tanya Mutiara bingung.


"Kamu di rumah sakit syaang, kamu tadi pingsan." kata Dzen sambil menciumi tangan istrinya.


"Hm... Maaf ya mas." kata Mutiara merasa bersalah.


"Ga papa. Bentar lagi, kalau keadaanmu udah enakan, kata dokter kamu udah boleh pulang kok sayang." kata Dzen.


"Alhamdulillah."


"Sayang..."


"Hm?"


"Kamu tau ga... kamu pingsan ini karena apa?"


Mutiara menggeleng.


"Kami hamil sayang." kata Dzen dengan penuh rasa bahagia.


"Hah? Apa? Tiara hamil?"


"Iya." jawab Dzen mengangguk mantab.


"Alhamdulillah yaa Allah." kata Mutiara sambil dipeluk erat oleh Dzen.


"Makasih mas." kata Mutiara sambil menangis.


"Mas yang harusnya makasih sayang. Kamu sehat-sehat ya." kata Dzen.


Mutiara mengangguk.

__ADS_1


Setelah diperiksa lagi oleh dokter, Mutiara diberi resep dan diUSG, lalu Mutiara diijinkan pulang. Zio yang sejak tadi menunggu diluar sudah siap mengantar sepasang pasutri itu kembali ke kampus, untuk mengambil mobil Dzen dan menjemput orangtuanya.


__ADS_2