Jodoh Salah Sambung

Jodoh Salah Sambung
Paginya Mutiara Hati


__ADS_3

Keesokan harinya, Mutiara bangun dari tidur nya yang semalam hanya tidur dua jam, dan setelah itu dia segera bangun lagi, dan memulai aktivitas hariannya. Namun, untuk hari ini, dia ijin kepada bu Kanti, untuk tidak ke pasar, karena Mutiara akan ada janji pagi berjumpa dengan dosen pembimbing nya.


Saat Mutiara bersiap untuk berangkat ke kampus, Mutiara mempelajari dulu semua yang akan dia sampaikan kepada dosbimnya. Mutiarapun segera ke rental untuk mengeprint skripsi nya.


Sambil menunggu dosbimnya di depan ruang dosen, Mutiara merasakan ponselnya bergetar cukup lama, tanda ada panggilan masuk, karena Mutiara sengaja mengatur hanya getar, agar tidak mengganggu ketika dia sedang bimbingan. Mutiara pun membukanya, namun saat akan diangkat, panggilan dari orang tak dikenalnya diakhiri. Sehingga Mutiara penasaran, lalu membuka pesan. Ada sebuah pesan dari nomer baru yang tak dikenalnya. Nomer itu sama dengan yang miscall tadi.


Saat dia membuka pesan itu, ada beberapa kiriman gambar, dengan caption 'Ini kelakuan calon suamimu'. Kening Mutiara mengernyit, apa maksudnya? Karena penasaran, Mutiara mendownload foto itu.


Betapa terkejutnya Mutiara, saat ada foto yang sangat jelas dia kenal. Dzen, laki laki yang dimaksud sebagai calon suaminya itu, tampak terbaring di atas ranjang, dengan bertelanjang dada, dan mata tertutup. Dan seorang wanita yang tak dikenalnya, tanpa busana, memeluk mesra tubuh Dzen. Dan sebagian foto lagi dengan pose yang hampir sama, dan kesemua foto itu sangat tidak senonoh. Serta ada juga video saat Dzen menggendong wanita dengan dress mini tetapi wanita itu bukan Silvia yang dia lihat tadi malam. Wanita ini berbeda, dan Dzen tampak menggendong wanita itu masuk ke sebuah rumah. Wanita itu mengalungkan tangannya di leher Dzen.


Saat melihat kiriman itu, Mendadak tubuh Mutiara lemas lunglai tak berdaya. Jantungnya bergemuruh hebat, matanya memanas menahan amarah, kepalanya bagai air yang sedang menguap, bibirnya yang mungil dia tutup dengan tangan kirinya dan terus beristighfar, saat melihat apa yang hadir dalam ponselnya. Wajah Mutiara memucat.


"Astaghfirullah, astaghfirullah al'adzim. Ini ga mungkin. Ga mungkin. Ga, ga mungkin mas Dzen melakukan itu. Ga mungkin." kata Mutiara sambil menangis, dan beberapa kali mengusap wajahnya yang terasa panas karena menahan amarah.


"Tiara?" sapa Zio, dosen kesayangannya yang baru datang, dan sepertinya dia akan mulai mengajar, namun saat dia akan masuk ruang dosen, dan melihat Mutiara yang duduk di depan ruang dosen dengan wajah merah.


"Eh, pak Zio?" kata Mutiara sambil menunduk, berusaha menutupi wajahnya yang sedang tidak baik-baik saja.


"Are you okey?" tanya Zio.


"Ah, Yes pak. Saya baik-baik saja kok." kata Mutiara gugup.


"Tapi, kamu seperti ada masalah. Kamu sudah bimbingan?" tanya Zio.


"Belum pak." jawab Mutiara.


"Lalu kenapa wajahmu sudah pucat begitu?" tanya Zio.


"Ehm, saya gapapa pak." jawab Mutiara.


"Kamu sakit?" tanyaa Zio.


"Tidak pak."

__ADS_1


"Kamu nervous?"


"Ah ya, sepertinya itu jawaban yang tepat.". batin Mutiara.


"Hehe, iya pak." jawab Mutiara sambil berusaha tersenyum getir, menahan. rasa yang sesungguhnya.


"Ya ampun Tiara, santai aja. Kamu bimbingan sama pak Nico kan, dah santai aja. Pak Nico itu orangnya enak kok, ga galak galak banget. apalagi kalo dia tau kamu anak bidikmisi, pasti digampangin sama dia." jawab Zio berusaha menenangkan. Sebenarnya Mutiara juga sudah tau sifat pak Nico yang sebenarnya, karena sudah beberapa kali bimbingan. dan ini adalah bimbingan dia yang terakhir. Dan jika hari ini berhasil tanpa revisi maka dia tinggal menunggu jadwal sidang saja.


"Hehe. Iya pak. Soalnya ini bimbingan yang terakhir pak. berharap segera selesai tanpa revisi. terus lanjut sidang aja." kata Mutiara.


"Oh, ini udah bimbingan terakhirmu?" tanya pak Zio heran.


"I iya pak." jawab Mutiara.


"Keren..." jawab Zio salut dan terkagum kagum.


"Nah, tu. Pak Nico baru datang, Ya udah, good luck ya. Saya ke dalem duluan." kata Zio.


Saat pak Nico sampai di ruang dosen, Mutiara diajak masuk dan dipersilakan duduk dihadapannya untuk menjelaskan skripsi nya. Hingga akhirnya selesai bimbingan, Mutiara lega, meski tadi saat bimbingan dia sempat nge blank karena teringat oleh kiriman dan video yang tak senonoh itu.


"Alhamdulillah, akhirnya. Bisa juga kulewati. Dan selesai juga akhirnya skripsi ku." kata Mutiara bergumam sendiri sambil memeluk map skripsi nya dengan penuh bahagia.


"Assalamualaikum Tiara." sapa Yusuf.


"Wa'alaikumsalam. Eh, kak Yusuf. Disini juga?" tanya Mutiara.


"Iya. Kamu abis bimbingan ya?" tanya Yusuf.


"Iya kak."


"Kak Yusuf kok ke kampus, masih ada kepentingan?" tanya Mutiara, karena Yusuf sudah bukan mahasiswa lagi. Dia sudah lulus tahun ini.


"Oh, iya. Ini, mau ambil ijazah." kata Yusuf.

__ADS_1


"Oh..."


"Ehm, buru buru banget nyelesein kuliahnya, Tiara udah pingin keburu lulus ya?" tanya Yusuf.


"Eh, iya kak. Ya, lebih cepat, lebih baik sih kak. Kebetulan juga bisa, jadi ya sekalian aja." kata Mutiara.


"Iya juga sih. Ga perlu menunda nunda ya."


"Iya kak."


"Ehm, Tiara. Mumpung ketemu disini, kak Yusuf boleh tanya sesuatu?" tanya Yusuf.


"Ehm, ya Boleh kak."


"Tiara sudah ada calon suami belum?"


"Ha? Calon? Calon suami ya? Ehm... Kenapa emangnya kak?"


"Ehm, gini Tiara. Saya sih yakin, Tiara ga mungkin dong pacaran, ya kan? Nah, kalau Tiara belum ada calon yang mengkhitbah, Rencananya, saya sama bunda mau main ke rumah Tiara, untuk mengkhitbah Tiara. Gimana?" tanya Yusuf yang membuat Mutiara terpaksa berfikir keras untuk memberikan jawaban.


"Ehm. Maaf kak sebelumnya, Tapi... Tiara sudah ada yang meminang. Makannya, ini Tiara segera selesaikan kuliahnya." kata Mutiara sambil menunduk.


"Oh... Gitu ya? Alhamdulillah. Selamat ya." kata Yusuf dengan wajah kecewanya yang tidak bisa disembunyikan.


"Ya udah Tiara, sukses ya buat skripsi nya." kata Yusuf berpamitan, berusaha tegar dihadapan gadis yang pernah mengisi hatinya.


"Oh ya ka. Terimakasih. Sekali lagi, maaf." kata Mutiara sungkan.


"Iya, gapapa. Mungkin memang kita bukan jodoh. Assalamualaikum." salam Yusuf dengan wajah yang berusaha tersenyum.


"Wa'alaikumsalam." jawab Mutiara penuh rasa bersalah.


"Yaa Allah, kenapa disaat seperti ini, justru hadir seorang laki-laki Sholih seperti kak Yusuf datang kepadaku untuk menyampaikan niat baiknya? Astagfirullah, aku sudah menyanggupi papanya mas Dzen untuk menjadi pendampingnya, tetapi, kenapa harus ada penampakkan yang sangat tidak indah hadir di ponselku? Aku harus gimana? Mas Dzen kan dulu memang cowok playboy, tapi apa iya dia akan melakukan hal serendah itu dengan perempuan seperti itu? Yaa Allah, tolong aku. Kak Yusuf, maafin Tiara. Kalau saja belum ada mas Dzen yang lebih dulu menyampaikan niat baiknya pada bapak, pastilah tadi aku bilang kalau aku akan menanti mu kak. Kak Yusuf pria Sholih, dan sangat baik. Tak ada yang kuragukan dari sosokmu kak. Tapi... Ah sudahlah. Astaghfirullah. Ampuni Hambamu yang lemah ini yaa Robb." batin Mutiara dalam kegalauannya.

__ADS_1


__ADS_2