
Hari ini adalah hari yang dinantikan setelah satu bulan lamanya menunggu. Tak terasa, waktu begitu cepat berlalu. Dalam persiapan pernikahan Dzen dan Mutiara, mereka mempercayakan kepada Wedding Organizer sepenuhnya, mereka hanya bertemu saat fiting baju pengantin saja.
Di sebuah kamar hotel terbaik di kota Solo, Mutiara tampak anggun dengan hasil karya MUA dan gaun pengantin berwarna putih, tentunya kecantikan itu terpancar juga dari wajahnya yang memang cantik.
"Dek, mempelai pria dan penghulu sudah siap di meja ijab qobul. Kamu siap-siap ya." kata mbak Fatimah, kakak tertua Mutiara yang anak-anaknya sudah remaja semua.
"Ya mbak."
"Dek, kamu cantik banget lho, kaya bidadari turun dari kayangan." kata mbak Khotimah, kakak keduanya Mutiara memuji.
"Kamu tu gimana to Tim? Ya jelas lah Tiara cantik, karena ga dandan aja dia udah cantik lho." kata Fatimah.
"Hehehe, iya juga ya mbak."
"Mbak Khotim sama mbak Fatim ini apaan sih, Tiara kan jadi malu." kata Mutiara.
"Ga papa malu Ra, daripada malu-maluin." kata Khotimah.
Tak lama kemudian, pintu diketuk, ternyata dua sahabat Mutiara datang.
"Tiaraaaaa.... Uwuwu...kamu cantik banget sih Ra." kata Mila sambil memeluk Mutiara.
"Eh, ati ati dong Mil, entar dan dana Tiara rusak, tau rasa, diomelin lho kamu nanti sama juru riasnya." kata Nadia mengingatkan.
"Eh, ups. sorry Tiara." kata Mila.
"Iya gapapa." jawab Mutiara.
"Oya, ini ada hadiah buat kamu cantik, dariku." kata Mila sambil memberikan sebuah kado kepada Mutiara.
"Ya ampun, terimakasih." kata Mutiara.
"Aku juga ada sesuatu nih buat kamu Ra, diterima ya." kata Nadia.
"Ya ampun, kok repot repot sih kalian?" kata Mutiara sungkan.
"Tiara, ssstttt... itu acara mau dimulai, ayo didengerin." kata mbak Fatimah mengingatkan.
Merekapun fokus pada suara mikrofon dari lantai bawah. Acara ijab qobuk akan segera dimulai, Mutiara memang meminta kepada penghulu, untuk acara ijab qobulnya model syar'i, dengan posisi pengantin wanitanya masih di kamar dan baru akan keluar jika sudah sah menjadi suami istri.
"Bismillahirrahmanirrahim." ucap pak Bowo.
"Saudara Ahmad Zainuddin." kata pak Bowo.
"Ya, saya." jawab Dzen.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau, dengan putri saya Mutiara Hati binti Bowo Harjuno dengan maskawin uang lima ratus ribu dan emas murni limaratus gram dibayar tunai." kata pak Bowo.
__ADS_1
"Saya terima nikah dan kawinnya Mutiara Hati binti Bowo Harjuno dengan maskawin tersebut dibayar tunai." jawab Dzen dengan lantang dan dengan sekali tarikan nafas.
"Bagaimana para saksi? Sah?" tanya penghulu.
"Sah...." semua yang hadir di acara tersebut mengucapkan satu kata yang mengubah kehidupan dua nama yang disebut dalam ijab qobul tersebut.
Setelah ucapan kata itu, Mutiara dipeluk erat oleh kedua sahabatnya.
"Selamat ya Ra." kata Nadia dan Mila.
"Makasih ya." kata Mutiara.
"Ayo dek, kamu pasti ditunggu." ajak Mbak Fatimah.
Mutiarapun keluar dari kamar itu, lalu berjalan menuruni tangga, menuju tempat dimana semua tamu undangan berkumpul di satu ruang yang cukup megah itu.
Mutiara mengenakan gaun pengantin berwarna putih bersih, dengan hijab syar'i hang menghiasi kepalanya, dan bando bunga melati di kepala hingga pinggangnya. Gaun Mutiara hang panjang, dibantu dipegangi oleh kedua sahabatnya, dan kedua tangan Mutiara di gandeng kedua mbak kandungnya.
Banyak pasang mata memandang kecantikan alami dari seorang Mutiara Hati, yang akan menjadi ratu sehari untuk hari ini. Tak terkecuali seorang pria yang tadi mengucapkan kalimat ijab qobul tadi.
"MaasyaaAllah." gumam Dzen tanpa berkedip saat memandang gadisnya.
Mutiara sudah duduk di samping Dzen, dengan arahan penghulu, Mutiara mencium tangan Dzen untuk pertama kalinya. Rasa canggung melanda, karena ini baru kali pertama Mutiara memegang tangan kekar seorang laki-laki dengan sengaja. Dan tangan Dzen yang satunya memegang kepala Mutiara sambil mengucapkan do'a pengantin baru. Lalu Dzen mencium kening Mutiara dengan penuh cinta, mata Mutiara terpejam, kala keningnya dicium mesra oleh suaminya. Itu juga ciuman pertama dari laki-laki lain yang dia dapat.
Setelah itu, Mutiara diminta untuk menandatangani berkas-berkas pernikahan, dan merekapun bertukar cincin. Dzen memakaikan cincin berlian di jari manis kanan Mutiara dan Mutiara memakaikan cincin perak di jari manis Dzen. Setelah itu, merekapun berfoto bersama dengan arahan Wedding Organizer.
Disaat resepsi, tampak seorang laki-laki yang sedang menahan hatinya yang hancur berkeping-keping saat melihat dua insan itu duduk bersanding di pelaminan. Matanya memerah, menahan air mata agar tidak tumpah.
"Mail?" panggil Mbak Khotim.
"Eh, mbak...?" Mail tampak mengingat-ingat karena lupa.
"Mbak Khotim. Mbaknya Tiara." kata Khotimah.
"Oh, ya mbak Khotim. Apa kabar mbak?"
"Baik Il, kamu sendiri gimana?" tanya mbak Khotim menyelidik.
"Alhamdulillah, baik juga." jawab Mail.
"Oh ya? Yakin baik? Ga lagi patah hati?" tanya Mbak Khotim.
"Ehm, maksud mbak?" tanya Mail.
"Mbak tau kok, Kamu tu sebenarnya suka sama adik mbak, Tiara." kata mbak Khotim.
"Eh, ehm..."
__ADS_1
"Yang sabar, InshaaAllah nanti Mail juga akan bertemu jodoh yang lebih baik dari Tiara." kata mbak Khotim memotivasi.
"Makasih mbak
"Mbak tinggal dulu ya, kalau kiranya ga kuat, Mail gabung aja sama suami mbak di belakang panggung. Mereka lagi menemani anak-anak mbak mainan." kata mbak Khotimah.
"Mbak..."
"Ya?"
"Mail, nitip ini aja buat Tiara, Mail mau pamit pulang dulu." kata Mail sambil menyerahkan sebuah kotak kecil kepada mbak Khotim.
"Kamu ga ikut makan dulu Il?" tanya mbak Khotin yang memang sudah tau kedekatan Mail dengan adiknya sejak adiknya masih kecil.
"Engga mbak." jawab Mail.
"Ya, makasih ya Il." kata mbak Khotimah sambil menerima bingkisan itu dari Mail.
"Kasian juga dia, hem... kalau saja dulu kamu tu engga olayboy Il, sebenarnya Tiara dulu juga suka sama kamu " gumam mbak Khotim yang selalu menjadi teman curhat adik kesayangannya itu.
Sedangkan di lain sisi, ada seorang pria yang merasakan hal yang sama dengan Mail. Dia tampak duduk sendiri sambil memainkan ponselnya.
"Kak..." panggil seseorang kepadanya. Seketika pria itu mendongak, menatap siapa orang yang memanggilnya, ternyata sahabat dari orang yang dicintainya.
"Eh, Mila?"
"Kak Yusuf sendirian aja? Ga bareng kak Fahri?" tanya Mila.
"Eh, engga Mil, itu Fahri udah sama Nadia." kata Yusuf menunjuk keberadaan sahabatnya yang duduk bersebelahan dengan Nadia.
"Ehm, Mila, boleh duduk disini?" tanya Mila.
"Oh, ya, boleh." kata Yusuf mempersiapkan gadis yang belum lama diakrabinya.
"Ehm, Kak."
"Ya?"
"Kak Yusuf, suka ya sama Tiara?"
"Ehm, dia saudaraku. Kakak Sepupuku." kata Yusuf.
"Ehm, tapi... Kak Yusuf pernah suka kan sama Tiara?" tanya Mila.
Yusuf hanya menarik nafas dalam dan mengeluarkan nya perlahan. Ada rasa sesak di dadanya saat ditanya begitu oleh Mila.
"Maaf." kata Mila.
__ADS_1
"Gapapa." jawab Yusuf.