Jodoh Salah Sambung

Jodoh Salah Sambung
Menjaga Perasaan


__ADS_3

"Mama." panggil Nilam yang seketika menghambur dalam pelukan bu Suyamti saat bu Suyamti membukakan pintu utama.


"Nilam. Kamu kenapa?" tanya bu Suyamti bingung melihat anak perempuannya tiba-tiba datang dengan keadaan menangis.


"Mama, mas Pian mah. Mas Pian Jahat!" kata Nilam dalam isak tangisnya di pelukan bu Suyamti.


"Sayang. Kenapa? Ada apa dengan Pian?" tanya bu Suyamti, panik, namun tiba-tiba tubuh Nilam lemas dalam pelukan bu Suyamti.


"Astaga. Zio!" Teriak Bu Suyamti memanggil anak laki-lakinya yang baru saja menyusul masuk rumah.


"Astaga, mbak Nilam!" seru Zio, sambil berlari lalu dengan sigap, Zio menggendong tubuh mbaknya, dan dibawa ke kamar Nilam. Bu Suyamti hanya mengekor Zio dengan perasaan tak menentu.


"Bi Saodah, tolong ambilkan kotak P3K dan bawa ke kamar Nilam!" kata bu Suyamti saat di dekati bi Saodah.


"Baik nyonya." kata bi Saodah.


Zio meletakkan tubuh mbaknya di atas kasur, dan merapikan posisinya.


"Ada apa sebenarnya Zi?" tanya Bu Suyamti yang masih panik dan penasaran penyebab pingsannya Nilam, sambil melonggarkan baju Nilam, dan merenggangkan kucirannya.


"Ma, Diego kemana?" bukannya menjawab, Zio justru menanyakan keberadaan keponakannya.


"Diego lagi mandi, katanya dia pilih tidur dan mandi di kamarmu Zi." kata bu Suyamti.


"Berarti Diego di kamar Zio?" tanya Zio.


"Iya Zi." jawab Bu Suyamti.


"Ma, ternyata, kasus Diego ada hubungannya dengan masalalu mas Pian mah." kata Zio.


"Pian?" tanya bu Suyamti masih tak mengerti.


"Iya. Ini tadi sepanjang jalan, mbak Nilam mencoba menghubungi mas Pian, tetapi ga ada respon, sepertinya mas Pian masih bertugas." kata Zio.


"Memangnya kenapa Zi? Ada apa dengan Masa lalu Pian?" tanya bu Suyamti.


"Orang yang membuly dan meneror Diego, adalah orang yang iri dengan Diego ma. Motifnya rasa iri dan dendam." kata Zio.


"Memangnya siapa anak itu? Apa Diego melakukan sebuah kesalahan?" tanya bu Suyamti.


"Engga ma, Zio akan cerita, tapi mama janji, mama harus bisa kontrol emosi. Zio ga mau mama shok, pingsan jantung mama sakit. Okey?" kata Zio mengajukan perjanjian.


"Apaan sih zi?" tanya bu Suyamti lagi.


"Pokoknya mama janji dulu." kata Zio sambil mengajukan jari kelingkingnya.


"Baiklah." jawab bu Nilam.


Sebelum Zio bercerita, Bi Saodah mengetuk pintu sambil membawakan kotak obat untuk Nilam.


Bu Suyamti mengolesi kepala Nilam dengan minyak kayu putih.


"Bi, bisa keluar sebentar?" tanya Zio.

__ADS_1


"Baik den." kata bi Saodah.


Setelah bi Saodah keluar, Ziopun menceritakan hasil pertemuannya dengan Shanum. Wajah bu Suyamti berubah drastis, memerah seperti menahan amarah, tiba-tiba air mata mengalir deras, membasahi pipinya yang mulai keriput.


Wajah tua itu manatap sayu wajah putrinya dengan pilu. Bu Suyamti memeluk tubuh putrinya dengan penuh rasa pilu.


"Oma, om." panggil Diego yang sudah tiba di kamar mamanya.


"Mama kenapa?" tanya Diego sambil berlari mendekati mamanya.


💞💞💞


"Ini mbak martabak nya, martabak telur spesial dua." kata si penjual sambil menyerahkan dua dus martabak kepada Shanum.


"Oh, ya. Terimakasih. Ini uang nya." kata Shanum memberikan lembaran biru.


"Mau kemana lagi kita?" tanya Dzen.


"Ehm, pulang aja lah Dzen. Tante sama om pasti udah nunggu aku di rumah." kata Shanum.


"Kenapa ga ngabarin dulu aja? Ponselmu jadi kamu chas kan?" tanya Dzen.


"Oiya, lupa. Sorry. Ini PBmu, entar kebawa gue lagi." kata Shanum menyerahkan power bank milik Dzen.


"Okey." jawab Dzen.


Merekapun melangkah berjalan menyusuri pinggiran alun-alun, sambil mengobrol ringan tentang perjalanan hidup mereka selama losecontac. Hingga mereka tiba di parkiran mobil, tempat mereka memarkirkan mobil Dzen.


"Langsung pulang aja lah Dzen, aku juga udah capek, gerah. Seharian beraktivitas." kata Shanum.


"Okey. Kasih tau jalannya ya." kata Dzen.


"Siap." jawab Shanum.


Sepanjang perjalanan, Dzen tak henti memikirkan Mutiara yang keluar malam. Dia tau, Mutiara hanya menuruti kemauan dua sahabatnya, tetapi itu tidak membuatnya nyaman, apalagi di tengah keramaian seperti itu.


"Dzen, gadis tadi itu, cantik ya." kata Shanum membuka percakapan saat di mobil.


"Siapa Num?" tanya Dzen.


"Gadis yang tadi di pasar malem, yang ketemu kita di tukang martabak, siapa namanya? Tiara? ya Tiara." kata Shanum sambil mengingat ingat.


"Namanya Mutiara Hati, biasa dipanggil Tiara, dia baik." kata Dzen.


"Nama yang cantik, secantik orangnya." kata Shanum bergumam.


"Lo suka ya sama dia?" pancing Shanum dengan nada candaan, meski hatinya berdesir hebat.


"Hahaha, ya masak benci? Setiap orang pasti suka lah sama dia, apalagi dia itu baik." jawab Dzen dengan berusaha santai. Dzen sama sekali tidak mengetahui bagaimana perasaan Shanum saat ini, karena menurut Dzen, Shanum adalah sahabat baiknya sejak SMP.


"Ish, kamu nih, ditanya serius juga. Maksud gue, suka dalam tanda kutip." kata Shanum sambil menggerakkan kedua tangannya diatas kepala seperti telinga kelinci.


"Hahaha, eh, betewe, ini belok mana?" tanya Dzen mengalihkan perhatian, meski sebenarnya dia tau, jalan patimura, arah ke rumah Shanum itu kemana. Namun Dzen berusaha mengalihkan percakapan mereka.

__ADS_1


"Oh, belok kanan Dzen." kata Shanum.


"Okey." jawab Dzen.


"Abis itu, lurus, ada alfamart, ke kiri. Masuk komplek perumahan." kata Shanum memberi arahan.


"Siap bu Guru." kata Dzen dengan ramah.


"Apaan sih lo Dzen. Pake manggil bu Guru segala." kata Shanum.


"Lhah, emang bu guru kan?" tanya Dzen.


"Ya pak Dokter." balas Shanum.


Tak lama kemudian, mereka sudah hampir sampai.


"Stop Dzen, berhenti. Ini rumah om gue." kata Shanum.


"Okey." kata Dzen sambil menghentikan mobilnya.


"Thank's ya Dzen." kata Shanum menatap wajah tampan pria yang membuatnya jatuh hati sejak SMP.


"Yup, sama-sama. Aku ga mampir ya, udah malam." kata Dzen.


"Idih, kepedean banget sih lo, siapa juga yang nawarin mampir. Pamali. Laki-laki main ke .rumah gadis." kata Shanum.


"Hahaha, ya kali aja ditawarin mampir." Dzen membela diri.


"Dah ah, gue masuk dulu." kata Shanum.


"Eh, iya. Ini buat lo Dzen, thank's banget udah nganterin gue pulang." kata Shanum sambil menyodorkan satu box Martabak.


"Ga usah Num, buat om sama tante kamu aja. Soalnya kalo buat aku, mubadzir, aku di rumah cuma sendiri, ga ada yang bantuin makan, biasanya sampe rumah juga aku udah langsung tidur." kata Dzen menolak.


"Ah engga, udah satu aja cukup kok mereka." kata Shanum.


"Ya udah, ini aku terima. Tapi, ini aku titip, buat keponakan kamu ya." kata Dzen yang berusaha menghormati pemberian Shanum.


"Ya ampun Dzen, masa' ga mau sih?" kata Shanum sedih.


"Bukannya ga mau, cuman ini aku kasihin keponakan kamu, lagian mubadzir kalo aku bawa, buat besok udah beda rasa." kata Dzen memberi pengertian.


"Okey lah." jawab Shanum pasrah.


Shanumpun keluar dari mobil Dzen. Lalu Dzen berpamitan.


"Dzen." panggil Shanum.


"Ya?" jawab Dzen.


"Hati-hati." kata Shanum.


"Okey. Med Rehat ya." kata Dzen melambaikan tangan tanda perpisahan.

__ADS_1


__ADS_2