
Waktu terus berlalu, keadaan Mutiara semakin membaik, semenjak setelah melewati masa trisemester awalnya. Mutiara dan Dzen yang sudah satu bulan lalu pindah domisili ke Solo, dan Dzen juga sudah mulai dines menjadi dokter spesialis di beberapa klinik dan disebuah rumah sakit swasta. Sedangkan Mutiara yang keadaannya sudah jauh lebih baik, memutuskan untuk menyibukkan diri ikut serta membantu mengajar di Taman Kanak-kanak tempat dia sekolah dahulu, seperti janjinya pada gurunya dulu. Selain itu, Mutiara juga menyibukkan diri mengajar mengaji kembali seperti kala dia masih sekolah dulu. Diusia kandungannya yang ke lima bulan, Mutiara memutuskan untuk memenuhi panggilan Allah, dengan menggunakan tiket umroh yang dihadiahkan untuk nya pada waktu mengajari mengaji bu Suyamti kala itu. Sedangkan Dzen sudah menyiapkan tabungan untuk umroh jauh-jauh hari, sehingga dia bisa mendampingi istrinya. Tentunya, Bu Hindun dan pak Bowo juga diikutsertakan berangkat umroh, dengan tabungan mereka juga yang ditambahi Dzen.
Sesuatu yang sangat membahagiakan memang, bisa berangkat umroh bersama. Pak Bowo dan Mutiara diberi fasilitas lebih oleh panitia, berupa kursi roda dan tempat yang nyaman untuk lansia dan ibu hamil. Dzen selalu sigap untuk mmendampingi istrinya selama di tanah suci. Begitupun dengan bu Hindun yang juga senantiasa siap mendampingi pak Bowo yang sudah lanjut usia. Hingga mereka telah kembali ke tanah air dengan sehat dan selamat tanpa kurang suatu apa.
Satu bulan sejak kepulangan mereka dari tanah suci, kesehatan pak Bowo semakin menurun, pak Bowo sering sakit-sakitan. Namun, Mutiara justru masih sehat bugar dengan perutnya yang semakin membesar. Dia senantiasa sabar ikut serta merawat bapaknya bersama ibu tercinta. Tak luput pula Dzen yang juga senantiasa membantu Mutiara untuk melayani dan memenuhi kebutuhan keluarganya.
Di usia kandungan Mutiara yang sudah memasuki HPL, kala itu bulan Ramadhan, Mutiara sudah tidak diijinkan untuk berpuasa oleh dokter, karena mengingat HPLnya di bulan Ramadhan. Suatu pagi saat Mutiara beristirahat, setelah menyapu halaman.
"Nduk." panggil pak Bowo sambil berjalan mendekati Mutiara dan duduk di kursi yang ada di teras.
"Ya pak."
"Bagaimana keadaan kehamilanmu? Apa ada kendala?" tanya pak Bowo.
"Alhamdulillah, tidak pak." jawab Mutiara.
"Alhamdulillah, sudah mendekati hari H kelahiran cucuku nduk, bapak sangat bahagia, melihat anak-anak bapak sudah menikah dan mendapat suami yang bertanggung jawab. Hingga kalian sudah memiliki keturunan. Dari dulu, bapak selalu kepikiran sama kamu nduk, tapi alhamdulillah, sekarang bapak senang, apa yang bapak khawatirkan, tidak terjadi. Kamu jaga kandunganmu ya nduk, semoga nanti dimudahkan Allah." kata pak Bowo.
"Aamiin yaa Robb. Terimakasih pak." kata Mutiara. Namun kemudian Mutiara merasakan sakit pada perutnya, Mutiara menahannya, agar bapaknya tidak curiga, tidak kepikiran.
"Ehm, pak. Tiara ijin mau istirahat dulu ya pak, rasanya pegel abis nyapu mungkin ya." kata Mutiara berdiri dari duduknya sambil mengelus perutnya yang buncit.
"Ya nduk. Hati-hati jalannya."
"Ya pak."
Sesampainya di kamar, Mutiara merasakan rasa sakit lagi, setelah tadi sempat sembuh. Mutiara mencoba menahan rasa sakit itu sambil mengelus perutnya. Pinggangnya terasa pegal, sehingga Mutiara memilih untuk tiduran. Sesaat, rasa sakit itu kembali pergi lagi. Mutiara pun mengirim pesan pada dokter kandungannya. Berkonsultasi terkait kasus yang dialaminya ini.
Kemudian bu Hindun masuk kamarnya. Namun saat ibunya masuk, kebetulan perut Mutiara kembali sakit.
"Assalamualaikum." salam bu Hindun.
"Wa'alaikumsalam, eh, ibu." kata Mutiara sambil merintis menahan sakit dan mengelus perutnya, sambil bersandar di kepala ranjangnya.
"Nduk, kamu kenapa? Perutmu kerasa sakit?" tanya bu Hindun.
__ADS_1
Mutiara hanya mengangguk.
"Sejak kapan kamu merasakan sakitnya?" tanya bu Hindun.
"Tadi bu, setelah menyapu." kata Mutiara.
"Tapi, sebentar lagi paling juga sembuh bu." lanjut Mutiara.
"Jadi rasanya sakit hilang sakit hilang gitu?" tanya bu Hindun. Lagi-lagi Mutiara mengangguk.
"Alhamdulillah, sekarang cepat kamu hubungi suamimu nduk, suruh dia segera pulang." kata bu Hindun sambil mengelus perut Mutiara yang besar. Ada sendulan kecil di perut Mutiara saat bu Hindun mengelus perutnya.
"Ya bu." jawab Mutiara yang rasa sakit itu sudah hilang.
Mutiara pin segera mengambil ponselnya dan menelpon suaminya.
📞Suamiku Sayang
'Halo, assalamualaikum sayang, kenapa?'
"Wa'alaikumsalam. Mas, bisa tolong pulang sekarang? Ini Tiara udah mulai merasakan sakit perut mas, tapi belum pecah ketuban ataupun flek sih." kata Mutiara.
"Ya mas."
Panggilan terputus, kemudian perut Mutiara terasa sakit lagi. Bu Hindun siaga menemani Mutiara di kamarnya.
"Makan dulu ya nduk, kamu belum makan to?" tanya bu Hindun mengelus kepala Mutiara yang berbalut jilbab bergo.
"Ga mau bu. Nanti saja." kata Mutiara.
Bu Hindun tak berani meninggalkan putrinya, sehingga dia mengurungkan untuk mengambilkan makan untuk anaknya. Bu Hindun meminta Mutiara untuk makan roti dan cemilan yang ada di kamarnya. Namun, Mutiara masih tetap belum mau.
Setengah jam kemudian, Dzen tiba dk rumahnya.
"Gimana sayang?" tanya Dzen saat melihat Mutiara pas sedang merasakan kontraksi. Dzen mengelus perut istrinya, dan tangan kanannya membelai kepala Mutiara dengan lembut.
__ADS_1
"Kata dokter Mia, Tiada disuruh langsung ke rumah sakit mas, ini udah tanda-tanda." kata Mutiara yang rasa sakitnya sudah mulai sering.
"Okey, kita berangkat sekarang." kata Dzen sambil mengambil tas yang sudah disiapkan Mutiara sebagai wadah pakaian gantinya dan pakaian baby.
"Ibu, tolong dampingi Tiara ya. Saya bawa barang-barangnya" kata Dzen.
"Ya Dzen."
"Nduk, kamu yang kuat ya." kata pak Bowo memegang erat tangan putrinya saat Mutiara berpamitan pada bapaknya.
"InshaaAllah pak, mohon tambah do'anya pak." kata Mutiara sambil memeluk bapaknya, namun kemudian, rasa sakit itu kembali lagi. Frekuensi rasa sakitnya sudah semakin sering, sehingga Mutiara sudah semakin lemas dibuatnya.
Mutiarapun segera masuk mobil di kursi belakang, bersama bu Hindun, sedangkan Dzen meletakkan tasnya di bagasi, lalu masuk ke kursi kemudi.
"Sabat ya sayang, tahan ya." kata Dzen yang juga ikut panik.
Mutiara hanya mengangguk, karena lagi-lagi rasa sakit itu kembali.
Belum sampai di rumah sakit, tiba-tiba mobilnya oleng. Saat Dzen melihat keluar, ternyata ban mobil depan bocor. Dzen benar-benar panik, sedangkan Mutiara sudah mulai merasakan rasa sakit yang teratur dengan durasi yang lebih cepat.
"Astaghfirullah, ban mobilnya bocor bu. Gimana ini?" Dzen mulai panik.
"Astagfirullah. Lha gimana Dzen? Coba cari bantuan Dzen." kata bu Hindun yang kuga panik, karena Mutiara sudah mulai merasakan kesakitan yang lama.
"Ya bu, Dzen cari bantuan dulu."
Dzen segera keluar mobil, dan mencari bantuan di luar sambil menelpon seseorang.
"Dzen, ketuban Tiara udah pecah." teriak bu Hindun dari dalam mobil.
"Astaghfirullah." Dzen benar-benar panik, sedangkan ambulance yang dia telpon baru mau berangkat dari rumah sakit.
"Dzen, gimana ini?" tanya bu Hindun panik.
Dzen segera menghampiri Mutiara di dalam mobil, dan mengelus kepala Mutiara dan mengelus perut Mutiara.
__ADS_1
"Sabat ya sayang, mas lagi cari bantuan, bertahan ya."
Mutiara tak kuasa menjawab, dia hanya mengangguk sambil menahan rasa sakit.