Jodoh Salah Sambung

Jodoh Salah Sambung
Cocok


__ADS_3

Malam itu, hujan mengguyur kota Semarang.


"Yaa Allah, kemana Zio ini? Jam segini belum pulang juga, mana hujan sedari sore, ga ada kabar." kata bu Suyamti khawatir.


"Di minum dulu nyonya." kata Bi Saodah memberikan secangkir teh panas kepada majikannya.


"Terimakasih bi." kata bu Suyamti.


"Den Zio belum pulang ya Nya?" tanya bi Saodah.


"Belum bi. Mana di luar hujan petir, bergemuruh terus dari tadi." kata bu Suyamti.


"Tadi bener ga ada telpon dari mana gitu bi?" tanya bu Suyamti.


"Ga ada nyonya." jawab bi Saodah.


Tiba-tiba terdengar suara mobil masuk pekarangan, bu Suyamti segera melihat ke jendela, dibukanya tirai jendela rumahnya.


"Ah, akhirnya dia pulang." kata bu Suyamti lega.


Tak berapa lama, Zio tampak berjalan ke dalam rumah, pintu rumah sudah dibukakan bi Saodah.


"Assalamualaikum." salam Zio.


"Wa'alaikumsalam Zio." jawab bu Suyamti segera mendekati putranya.


Ziopun segera mencium tangan mamanya.


"Maaf ma, Zio pulang terlambat." kata Zio.


"Kemana aja kamu ini Zi? Tanpa ada kabar, mama kan jadi khawatir." kata bu Suyamti.


"Maaf ma, tadi Zio ada banyak kerjaan di kantor. Tadi Zio juga ada kunjungan ke pabrik papa yang di Salatiga. Jadi, maaf, Zio pulang terlambat." kata Zio.


"Ya sudah, segeralah mandi dan bersihkan dirimu. Mama tunggu untuk makan malam bersa." kata bu Suyamti.


"Okey ma." jawab Zio.

__ADS_1


Setelah selesai mandi dan lainnya, Zio segera menyusul mamanya yang sudah menunggunya di meja makan.


"Mbak Nilam ga ke sini ma?" tanya Zio sambil menuang air putih ke dalam gelasnya.


"Tadi pagi sepeninggal kamu sih dia ke sini, sampe siang. Terus dia jemput Diego langsung pulang." kata bu Suyamti.


"Gimana perkembangan Diego mah? Ada keluhan ga dari cerita mbak Nilam?" tanya Zio.


"Seharian bersama mama tadi, Nilam sama sekali tidak menceritakan tentang keluhan Diego. Diaa justru menceritakan tentang Mutiara." kata bu Suyamti.


"Kenapa dengan dia?" tanya Zio.


"Zi. Mama tu sampe lupa, tadi pagi, mama mau tanya Tiara, tapi keputus karena dikasih tau bi Saodah kalo sarapannya udah siap. Eh, malah kelupaan, jadi belum tai jawabannya Tiara." kata bi Suyamti.


"Emang mama mau nanya apa?" tanya Zio heran sambil mengunyah sambal telur baladonya.


"Zi. Kamu kan tau, mama ini belum bisa ngaji, sedangkan lima bulan lagi mama akan berangkat haji. Ya masak mama ke mekah, sholat di sana, tapi mama ga bisa ngaji? Padahal kata pak Ustadz, di sana itu harus banyak-banyakin ibadah. Kalau ga bisa ngaji, terus mau ngapain coba di sana." kata bu Siyamti.


"Terus, maksud mama?" tanya Zio yang masih belum mengerti maksud mamanya.


"Mama tu mau minta tolong Tiara, untuk ajarin mama ngaji. Karena dulu mama pernah denger dia ngaji, suaranya bagus, bacaannya juga bagus, menyentuh banget. Kira-kira dia bisa ga ya Zi?" tanya bu Suyamti.


"Hem, gitu ya? Tapi mama masih pingin tau dari dia sendiri, bisa apa engga nya. Bisa telponin ga Zi? Maksudnya. kalo dia bisa kan, besok kalau dia sudah kembali dari Solo, mama minta dimulai ngajinya." kata bu Suyamti.


"Sekalian mama mau tanya, apakah dia sudah sampai Solo Dengan selamat." kata bu Suyamti lagi.


"Besok ya ma. Ini udah malam, ga baik telpon malam malam." kata Zio beralasan.


"Okey Zi." jawab bu Suyamti.


"Mama harap, dengan begini kamu bisa lebih dekat dengan Tiara Zi. Mama masih mengharapkan dia, untuk menjadi bagian dari keluarga ini." batin bu Suyamti.


Merekapun melanjutkan kegiatan makan malam mereka.


💞💞💞


Sedangkan di Solo, udara dingin setelah hujan menyelimuti kota itu. Malam itu, setelah sholat isya', pak Bowo mengajak anggota keluarga beserta tamunya makan malam bersama, setelah pulang dari rumah sakit.

__ADS_1


"Nak Ahmad ini, ke Solo dalam rangka apa nak?" tanya pak Bowo.


"Ehm. Saya kemarin ada keperluan pak di kampus UNS, dan dulu saya pernah dengar dari Ken, kalau rumah Tiara dan Ken tak jauh dari UNS." kata Dzen.


"Oh. Selain dokter, nak Dzen juga dosen?" tanya bu Hindun.


"MaasyaaAllah, itu jangkauannya terlalu tinggi bu, saya belum mampu menjadi dosen, saya di UNS masih menjadi mahasiswa Program pendidikan dokter Spesialis." kata Dzen menanggapi kata-kata bu Hindun yang dirasa berlebihan.


"Owalah, nak Ahmad ini masih sekolah juga to?" tanya pak Bowo.


"Iya pak. Saya masih kuliah sekitar dua tahunan lagi untuk menyelesaikan program dokter spesialis saya." jawab Dzen santun.


"Oh, berarti sama yo sama Tiara. Tiara lulus nya masih sekitar dua tahun lagi to nduk?"tanya pak Bowo.


"Nggih pak." jawab Mutiara.


"Kalau boleh tau, ambil spesialis apa nak Dzen?" tanya bu Hindun.


"Spesialis anak bu." jawa Dzen.


"Ow, bagus itu, sangat bermanfaat itu nak. Apalagi kalau musim pancaroba, banyak anak yang terserang penyakit. Dan rantai penularannya itu terus berputar, apalagi yang anaknya masih kecil-kecil." kata bu Hindun menanggapi.


"Iya bu. Daya tahan tubuh anak itu masih sangat lemah, sehingga saya sengaja mengambil spesialis anak, karena dulu saya pernah berkunjung ke sebuah panti asuhan, disana banyak anak yang membutuhkan pendampingan dokter spesialis anak. Selain itu, kedepannya saya kan juga ingin berkeluarga, layaknya orang pada umumnya, mempunyai istri dan keturunan, sehingga dengan saya belajar di spesialis anak ini, saya bisa punya sedikit bekal untuk nanti ketika saya punya anak bu. Memberikan yang terbaik untuk anak saya nantinya." kata Dzen.


"Bagus itu nak. Sama dengan Mutiara, dia juga ambil fakultas guru PAUD juga dengan tujuan yang sama. Ya to nduk? Kalian ini memang cocok." kata bu Hindun berkomentar.


Dzen melirik ke arah Mutiara, dan Mutiara justru menoleh ke arah ibunya, Pak Bowo melihat kedua anak muda itu dengan tersenyum.


"Semua sudah diatur sama Gusti, kita tinggal yang menjalani." kaya pak Bowo menanggapi kata kata bu Hindun.


Semalam suntuk hujan mengguyur kota solo, Suara katak yang bersautan, menambah suasana syahdu ditengah desa tempat Mutiara tinggal bersama kedua orangtuanya. Jam sudah menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Seperti biasa, Mutiara melakukan rutinitas paginya, dengan menggelar sajadah dan bersujud kepada Robbnya. Setelah itu. Dia lanjut dengan mengaji hingga tiba waktu sholat subuh.


Saat akan sholat, bapak nya terdengar sedang berbincang dengan Dzen.


"Sudah bangun nak Ahmad?" tanya pak Bowo.


"Kita ke masjid bersama ya." lanjut pak Bowo.

__ADS_1


"Ya pak." jawab Dzen.


Mutiara yang masih mengenakan mukena di kamarnya tersenyum senang. Benar kata ibunya, Dzen laki-laki baik. Dia memang laki-laki Sholih idaman banyak wanita, selain rajin sholat, dia juga berjiwa sosial, dan ramah. Jauh berbeda dengan dosen tampan nya yang selama ini dia kagumi, tetapi entah mengapa, hatinya masih tertuju dengan dosen itu.


__ADS_2