
"Permisi tuan, ini pesanannya." kata pelayan yang menurunkan beberapa menu pesanan Zio dan Mutiara.
"Okey, thank's." jawab Zio dingin.
"Silakan. Saya permisi." kata pelayan sopan dan ramah, karena di meja itu juga ada bos nya.
"Silakan bro, dinikmati dulu, kayaknya lo kelaparan hahaha." kata Rey yang mengetahui wajah sahabatnya sudah pucat menahan lapar.
"Tau aja lo." kata Zio langsung mengambil sendok dan garpu.
"Eh, ga nungguin temen makan malam lo?" tanya Rey.
"Keburu pingsan gue." kata Zio tak perduli.
"Hahaha, dasar, cowok ga romantis sama sekali. BeTeWe, keromantisan lo buat Rere dulu lo kubur juga ya? Bersama jasadnya Rere?" canda Rey.
"Hem..." Zio tak menimpali.
"Okey bro, nikmatilah makan malam, gue tinggal dulu. Nitip salam ya buat si cantik, nona Tiara. Bilang, dari Babang Rey." kata Rey lagi sambil tersenyum mengangkat kedua alisnya.
"Ish, udah sana lo, urus urusan lo sana. Ganggu aja." kata Zio yang mulai bedmood oleh ulah sahabatnya.
Saat asyik menikmati makanannya, Mutiara datang dengan wajah yang lebih segar.
"Assalamualaikum pak." sapa Mutiara.
"Wa'alaikumusalam." jawab Zio singkat sambil tetap menatap makanannya.
"Dimakan tu pesananmu. Keburu dingin." kata Zio dengan menunjuk sop Iga pesanan Mutiara.
"Dia bukan Rere, Zi. Lanjutkan makananmu." batin Zio yang sempat melihat Mutiara mulai mengambil sendok dan garpu.
"Baik pak." jawab Mutiara.
Tak banyak bicara diantara mereka, hanya adu piring sendok yang menjadi backsound diantara mereka.
Rey yang mengitip dari ruang kerjanya, melihat tingkah sahabatnya hanya geleng-geleng kepala.
"Dasar Zio, sebegitu besarnya kah perasaannya sama Rere, sampe dia begitu banget sama cewek. Tapi, ya memang wajar sih, karena gadis yang dia cintai meninggal begitu cepat, dihari yang harusnya menjadi hari bahagia bagi mereka. Dan hanya Rere satu-satunya gadis yang bisa mencuri hati seorang Zioda Candra Anggoro, Dan betapa buta nya dia, ada berlian didepan mata, ga mau melek barang sebentar gitu buat menutup luka yang terlalu lama menganga? Dasar Zio." batin Rey yang tak habis pikir dengan sikap dingin sahabatnya terhadap gadis bak bidadari yang sedang dia lihat.
Setelah selesai makan, Zio langsung mengajak Mutiara pulang, dia menuju kasir terlebih dahulu, sambil mengambil pesanan yang tadi sempat dia pesan saat Mutiara sedang sholat.
Sepanjang perjalanan mereka saling diam, Dan Mutiara hanya fokus dengan pemandangan dari jendela kaca mobil.
__ADS_1
"Motormu dimana?" tanya Zio.
"Oh, anu. Itu pak, tadi dititipin di warung sate." kata Mutiara yang tersadar sudah hampir dekat dengan lokasi kecelakaan tadi pagi.
"Stop pak, itu motor saya." kata Mutiara yang melihat motornya di parkir di halaman warung sate tepat di sebelah selatan jalan, tempat kecelakaan tadi pagi.
Tanpa menjawab dan berkata-kata, Zio langsung memarkirkan mobilnya di halaman warung sate yang dimaksud. Lalu, Mutiarapun keluar dari mobil.
"Assalamualaikum, pak." sapa Mutiara.
"Wa'akaikumsalam. Eh, mbaknya yang tadi pagi ya? Yang punya motor itu ya?" kata bapak yang tadi mengamankan motor milik Mutiara.
"Iya pak, benar." kata Mutiara.
"Sebentar mbak, saya ambilkan dulu kuncinya." kata bapak itu berlari ke dalam untuk mengambilkan kunci motor milik Mutiara.
"Ini mbak kuncinya."
"Terimakasih banyak ya pak. Maaf merepotkan." kata Mutiara.
"Tidak repot mbak. Oya, lalu, bagaimana keadaan ibunya tadi mbak?" tanya si bapak lagi.
"Alhamdulillah, ibu tadi sudah melewati masa kritisnya pak, dan sudah sadar kok pak tadi." jawab Mutiara dengan senyuman.
"Ehm, bukan pak. Ini dosen saya, kebetulan, pak Zio ini putra dari ibu yang tadi tertabrak pak." kata Mutiara memperkenalkan.
"Owalah, pak dosen to? Maaf ya pak, saya kira pacarnya mbaknya yang cantik ini. Soalnya keliatan serasi." kata si bapak.
Seketika Mutiara dan Zio tersipu malu, mereka menahan rasa itu hingga wajah mereka memerah. Namun Mutiara segera menguasai dirinya.
"Ya sudah pak, kalau begitu kami permisi ya pak, sudah malam." kata Mutiara berpamitan.
"Oh, ya mbak. Hati-hati ya mbak." kata si bapak.
"Oya pak, terimakasih tadi sudah turut membantu menolong mama saya, ini ada sedikit makanan untuk bapak sekeluarga, mohon diterima." kata Zio menyerahkan sebuah paper bag berisi makanan dari resto tadi, yang tadi saat di mobil sudah dia sisipi sejumlah uang sebagai tanda terimakasih dengan senyum tulusnya.
"Ya ampun pak dosen, ga usah repot-repot pak. Saya ikhlas nolongnya." kata si bapak.
"Saya juga ikhlas ngasih nya pak. Mohon diterima." kata Zio tersenyum tulus, lalu segera bergegas berjalan ke mobilnya.
Sedangkan Mutiara yang melihatnya, cukup terkesima dengan sikap dosen dinginnya.
"Ternyata pak Zio baik juga, dan ramah. Senyumnya juga... Astaghfirullahal'adzim." batin Mutiara.
__ADS_1
"Tiara." panggil Zio.
"Eh, ya pak?"
"Ini buat kamu. Buat lanjut buka puasa di rumah." kata Zio menyerahkan paper bag, smaa persis dengan yang dia berikan pada si bapak pemilik warung sate.
"Eh, ga usah pak, tadi saja saya sudah kenyang kok." kata Mutiara menolak.
"Harus diterima." kata Zio sambil menggantukna paper bag di stang motor Mutiara begitu saja, lalu berjalan berbalik menuju mobilnya.
"Ehm, terimakasih banyak pak." kata Mutiara.
Tak ada jawaban. Dan Zio juga tidak menoleh sama sekali, dia terua menuju mobilnya, membuka pintu kemudi, lalu masuk mobil.
Mutiarapun tak banyak berfikir, dia segera mengambil paper bag dari dosennya, lalu dia centelkan di centelan depan, lalu menstater motornya. Dia membunyikan klakson sebagai tanda permisi pada pemilik warung dan juga Zio yang sudah duduk di kursi kemudi.
Zio bimbang, ingin rasanya dia mengantarkan gadis itu sampai tempat tinggalnya, tetapi dia gengsi. Lalu, diapun memutuskan untuk pulang ke rumahnya yang tak jauh dari tempatnya berada saat ini.
๐๐๐
๐ฉMas Salah Sambung
Assalamualaikum, Tiara. Sudah sampai rumah belum? Maaf saya baru bisa monitor, tadi di ruang IGD cukup banyak yang harus saya kerjakan.
Sebuah pesan masuk ke ponselnya Mutiara, dan Mutiara yang baru saja sampai kos, langsung membuka ponselnya, siapa tau ada pesan atau telfon yang penting.
๐จTiara
Wa'alaikum salam warohmatullah. Alhamdulillah, sudah mas.
Kemudian Mutiara tak menunggu balasan dari dokter muda itu, dia segera menyambar handuk nya, badannya sudah lengket, dan jilbabnya yang terkena darah tadi pagi juga sudah tercium aroma amis. Mutiarapun segera membersihkan tubuhnya dari segala yang kotor.
Tak berapa lama, setelah mandi, dia melihat ponselnya ada dua panggilan tak terjawab dari nomer baru.
"Duh, siapa sih?" gumam Mutiara.
Diapun mengirim pesan ke nomer baru itu. Khawatirnya nomer salah sambung lagi.
๐จMutiara
*Maaf, siapa ya?"
๐๐๐*
__ADS_1
Kira-kira siapa ya yang menelpon Mutiara? tunggu kelanjutan ceritanya ya๐