
Seusai sholat maghrib, Mutiara kembali ke tempat dia duduk bersama Dzen tadi. Ternyata Dzen sudah disana dengan dua cup teh hangat.
"Eh, Ra. Udah selesai?" tanya Dzen menoleh ke arah Mutiara yang baru selesai sholat.
"Iya mas." jawab Mutiara.
"Ini, buat kamu." kata Dzen menyerahkan satu cup teh hangat.
"Terimakasih mas." jawab Mutiara sembari menerima cup itu.
"Ehm, mas. Ini tadi, Tiara ngechat Ken, Tiara minta ijin Ken untuk memberi tempat istirahat buat mas Dzen malam ini, gapapa kan?" tanya Mutiara.
"Kamu udah ngechat Ken?" tanya Dzen. Mutiara mengangguk.
"Maaf jika Tiara lancang." kata Mutiara.
"Engga Lancang kok Ra. Kamu perhatian banget sama mas." kata Dzen dengan tersenyum.
"Ish, mas Dzen nih. Ya, kan, tadi mas bilang, kalau mas Dzen ga tau harus kemana. Ya udah, Tiara cuma punya solusi itu." kata Mutiara.
"Hahaha, ya udah gapapa. Sebenernya sih, mas bisa aja ke rumah temen mas sesama dokter atau temen kuliah mas, tapi ya gapapa deh, udah dikontakin Ken." kata Dzen.
Mutiara tersipu, dia lupa kalau Dzen adalah dokter yang sudah lama tinggal di Semarang, pastinya chenelnya lebih banyak daripada dirinya.
"Nanti mas anter Tiara aja ya ke kosan, motornya mas pinjem buat mas bawa ke kosnanya Ken." kata Dzen.
"Lho, emang mas Dzen udah tau kosan nya Ken?" tanya Mutiara.
"Udah lah. Dulu pas mas pinjem motor kamu, pas mobil mas mogok." kata Dzen.
"Oiya. Lupa." kata Mutiara.
"Ya udah yuk, mas anterin pulang." kata Dzen.
"Ya mas." jawab Mutiara.
Merekapun berboncengan menuju kosan Mutiara.
💞💞💞
Pagi hari, seperti biasa, Dzen memulai aktivitasnya. Dia ke rumah sakit dengan mengendarai motor Mutiara, dan menjemput Mutiara untuk diantarkan ke kampus.
Saat Dzen menunggu Mutiara didepan gerbang kosan nya, kebetulan ada dua gadis yang keluar dari kosan, dan mengenali motor Mutiara yang dikendarai Dzen.
"Ehm, nungguin mbak Tiara ya mas?" tanya seorang teman kos Mutiara.
"Eh, iya." jawab Dzen sungkan.
"Mas ini, pacarnya mbak Tiara ya?" tanya teman satunya.
"Ehm? Eh... temen kok." jawab Dzen gugup.
"Oh. Itu mbak Tiara sudah keluar mas, kita permisi ya mas." kata gadis pertama saat melihat Mutiara muncul dari dalam.
"Oh, iya. Silakan." kata Dzen sopan.
"Maaf ya mas, nunggu lama?" tanya Mutiara sambil memakai helmnya.
"Engga kok. Santai aja. Udah biasa, nunggu cewek lama gini." jawab Dzen.
__ADS_1
"Iya lah, udah enam kali pacaran, pasti udah pengalaman dong." kata Mutiara meledek.
"Hem, terus deh, buat ledekan." kata Dzen bersungut.
"Hehe, maaf. Ya udah yuk mas." kata Mutiara yang sudah membonceng.
"Awas, rok." kata Dzen memperingatkan, agar roknya Mutiara tidak kena ruji motor.
"Oh, iya. Makasih mas." kata Mutiara sambil membenahi roknya.
Motor pun melaju menuju kampus Mutiara. Mereka sudah mulai akrab, dan banyak mengobrol juga di motor.
"Beneran nih, Ini motornya mas bawa dulu gapapa?" tanya Dzen.
"Iya mas. Udah bawa dulu aja. Nanti kalau kiranya ga bisa jemput, Tiara bonceng temen aja." kata Mutiara.
"Ya engga lah Ra, mas usahain untuk tetap menjemputmu, Mutiara Hati." kata Dzen dengan tersenyum penuh arti.
"Okey. Nanti Tiara kabarin mas." kata Mutiara.
"Siap. Good luck ya buat kuliahnya." kata Dzen.
"Ya mas. Terimakasih. Mas Dzen juga, semangat kerjanya." kata Mutiara.
"Pasti. Apalagi udah dapet mood boster darimu gini." kata Dzen menggombal.
"Ish, apaan lho mas Dzen nih, udah sana mas." kata Mutiara mulai baper.
"Ya udah. Assalamualaikum." kata Dzen.
"Wa'alaikumsalam." jawab Mutiara.
Saat akan masuk gedung, Nadia dan Mila sudah menghampiri mereka,
"Apaan sih Nad? Engga." jawab Mutiara salah tingkah, sambil berjalan ngeloyor masuk kelas.
"Eh, tapi itu kenapa dokter Dzen ga naik mobilnya sendiri? Kenapa bawa motormu Ra?" tanya Mila.
"Gapapa, mobilnya minta istirahat aja." kata Mutiara yang sebenarnya tidak tau apa alasannya.
"Oh, gitu?" jawab Nadia dan Mila bersamaan.
💞💞💞
Sesampainya di rumah sakit, Dzen masuk ruangannya dan disusul Andi.
"Dzen." panggil Andi.
"Eh, Ndi. Kenapa?" tanya Dzen.
"Elo yang kenapa? Ada masalah apa elo sama orangtua elo? Sampe keluar rumah Segala semalem tidur dimana lo?" tanya Andi.
"Ehm, biasalah. Masalah jodoh." kata Dzen.
"Hahaha, apa gue bilang, jangan lama lama ngejomblo bro, inget umur napa? Apalagi kita ni dokter, banyak pasien yang bisa aja menggoda iman. Kudu punya penawar, seperti istri." kata Andi.
"Terus aja diledek." kata Dzen.
"Betewe, mobil lo tadi masih di baseman, elo kemarin ga bawa mobil?" tanya Andi.
__ADS_1
"Engga."
"Trus, elo berangkat ke sini naik apa?" tanya Andi kepo.
"Naik motornya Tiara." jawab Dzen.
"Elo semalem nginep ditempatnya Tiara?" tanya Andi ga percaya.
"Gile aje lo, gini gini gue cowok bener bro, ga mungkinlah gue nginep dikosan Tiara, mau di gebukin masa gue?" protes Dzen.
"Hahaha, ya abisnya, elo bawa motor Tiara, ya gue pikir semalem elo sama dia." kata Andi.
"Astagfirullah Ndi. Tiara tu cewek baik baik, terhormat, masak iya malem malem sama gue. Semalem gue tidur di kosan sepupunya Tiara, Dan gue pinjem motornya Tiara." kata Dzen.
"Ga modal banget sih lo, kendaraan aja minjem punya ceweknya. Ga gengsi lo?" tanya Andi.
"Heleh, gue mah ga kenal gengsi. Yang penting bisa lebih deket sama cewek inceran gue, itu udah lebih dari cukup." kata Dzen.
"Dasar buaya!" kata Andi.
"Daripada elo, embahnya buaya." kata Dzen.
Kemudian Dzen dan Andi pun bertugas, hingga sore tiba, Dzen tiba-tiba mendapat kabar, kalau papanya pingsan, Dzen segera meluncur ke apartemen mengendarai motor Mutiara.
"Papa." panggil Dzen saat tiba di apartemen.
"Dzen."
"Papa kenapa?" tanya Dzen.
"Gapapa." jawab Pak Panca, setelah tadi sempat pingsan.
"Gapapa gimana? Dzen tadi jelas jelas ditelpon ibu, kalau papa pingsan, masih bilang gapapa." kata Dzen sambil mengeluarkan stetoskop dari tasnya, dan mengecek keadaan papanya.
"Dzen periksa dulu ya pa." kata Dzen sambil mengecek dada papanya, dan mengecek suhu tubuh papanya.
"Tensi papa tinggi." kata Dzen sambil menggulung stetoskopnya.
"Papamu semalaman ga tidur Dzen." kata bu Lastri.
"Dzen aman kok pa." jawab Dzen.
"Tetaplah di sini Dzen, jangan pergi." kata pak Panca.
"Ehm..."
"Okey, papa ga akan paksa kamu balikan sama Lala." kata pak Panca.
"Tapi, Tiara?" tanya Dzen masih ragu.
Pak Panca dan bu Lastri saling berpandangan,
"Kami akan merestui kalian." kata bu Lastri dengan tersenyum.
"Serius bu?" tanya Dzen tak percaya.
"Ya." jawab pak Panca tulus.
Dzenpun bahagia, lalu Dzen kembali mengecek dan memberikan resep untuk papanya.
__ADS_1
"Ah, iya. Dzen harus jemput Tiara dulu pa, karena motornya Tiara , Dzen bawa." kata Dzen.
"Okey, hati-hati." jawab pak Panca.