
Dzen dan Andi yang tadinya berbincang dengan pak Latif, kemudian tinggal berdua saja, Dzenpun melihat Nadia dan Mila di ujung teras masjid paling utara dekat toilet putri,
"Ndi, ke sana dulu yuk." ajak Dzen sambil menunjuk ke arah dua gadis yang sedang duduk bersama di sana.
"Okey." jawab Andi.
Dzen dan Andipun menghampiri Nadia dan Mila.
"Assalamualaikum. Nadia, Mila." sapa Dzen.
"Wa'alaikumsalam." jawab keduanya bersama.
"Lhoh, Dokter Dzen disini juga?" tanya Mila.
"Iya." jawab Dzen.
"Pasti karena Tiara." terka Nadia sambil senyum-senyum.
Dzen yang mendapat tebakan dari Nadia tak dapat mengelak, karena memang benar adanya, dirinya berada di sana, karena Mutiara.
"Ehem." dehem Andi yang mengerti dengan perasaan sahabatnya.
"Ehm, Berdua aja? Tiaranya ke mana?" tanya Dzen celingak celinguk.
"Cie, dokter Dzen ini, perhatian banget deh sama Tiara." kata Mila sambil tersenyum.
"Saya hanya bertanya keberadaannya, apakah dia masih sibuk bersama laki-laki tadi? Atau kemana? Pasti Tiara kan yang ngajak kalian ke sini, tapi kenapa malah ditinggal-tinggal?" tanya Dzen dengan wajah yang kurang sedap dipandang.
"Ehem. Kalo cemburu bilang aja." kata Andi cengengesan.
"Tiara baru ke toilet kok mas." jawab Mila.
"Ehm, betewe, ini temen dokter Dzen?" tanya Nadia mengalihkan perhatian,.
"Oh. iya sampe lupa. Ndi, kenalin ini dua sahabatnya Tiara, Nadia dan Mila. Nadia, Mila, kenalin, ini Andi, sahabat saya." kata Dzen memperkenalkan sahabat nya.
"Oh, ya. Andi." kata Andi menyalami Nadia dan Mila.
"Nadia."
"Mila."
"Dokter juga?" tanya Mila.
"Iya, Tetapi jangan di lirik, dia sudah beristri dan anak satu." kata Dzen melirik sahabatnya.
Nadia dan Mila hanya tersenyum menanggapi dokter ganteng dihadapannya itu, tiba-tiba Mila mendengar orang minta tolong dari arah Toilet.
"Tiara?" gumam Mila.
"Eh, Tiara minta tolong!" kata Nadia panik yang sudah mendengar suara minta tolong dari arah toilet putri.
__ADS_1
"Tiara!" kata Dzen panik langsung mengikuti Nadia dan Mila yang juga spontan berlari ke toilet putri.
"Astaghfirullah. Tiara, kamu kenapa?" tanya Nadia yang melihat Mutiara duduk tersungkur sambil memegang tubuh besar seorang ibu-ibu paruh baya.
Dzen dan Andi yang turut serta berlari menyusul, dan beberapa orang yang juga mendengar teriakan Mutiara segera berkerumun di tempat Mutiara terduduk.
"Tolong, ibu ini tadi kepleset, terus pingsan." kata Mutiara panik sambil memegang tubuh besar ibu itu.
"Biar kita angkat Tiara." kata Dzen, yang kemudian mengajak Andi untuk menggendong tubuh besar ibu paruh baya itu.
"Bawa ke teras dulu aja Dzen." kata Andi.
Andi dan Dzen menggendong tubuh besar ibu itu ke teras masjid, dengan diikuti ibu-ibu yang juga hanya berani melihat saja. Mutiarapun mengikuti dengan gemetar.
Dzen pun segera mengecek nadi di pergelangan ibu itu.
"Ini siapa? Ada pihak keluarganya ga?" tanya Dzen sambil memeriksa secara manual bagian-bagian tertentu.
"Aku ga tau mas." kata Mutiara
Orang-orang yang berkerumun juga tidak tahu, siapa ibu itu.
"Ya udah, Ndi, gue ambil alat dulu. Lo telponin ambulance ya. Nadia, Mila, tolong kalian longgarin pakaian ibu ini, dan diberi bau-bau seperti minyak kayu putih ya, biar ibu ini segera sadar." kata Dzen mengarahkan.
"Okey." jawab Andi.
"Baik Dok." jawab Nadia dan Mila yang langsung beraksi.
Dzenpun segera berlari menuju mobilnya, untuk mengambil tas dokternya.
Saat itu juga, Nadia dan Mila memijit-mijit tubuh ibu itu, dan Mutiara juga memberi aroma minyak kayu putih di hidung ibu itu.
"Ada apa itu orang-orang berkerumun?" gumam seorang laki-laki yang baru keluar dari dalam masjid, dan berjalan ke arah kerumunan orang.
"Permisi, ada apa ya?" tanya Laki-laki itu.
"Ini mas, ada ibu ibu pingsan, karena terpeleset di toilet." kata seorang wanita yang juga ikut berkerumun.
Karena penasaran, laki-laki itu ikut melihat ke arah orang yang pingsan, namun berapa terkejutnya dia, ternyata orang yang pingsan itu adalah ibunya sendiri.
"Innalillahi, bunda." pekik laki-laki itu segera menerobos kerumunan, lalu memeluk tubuh ibu itu.
"Eh." Mutiara yang tadinya berada disamping ibu itu seketika mundur karena ada sosok laki-laki yang tiba-tiba memeluk tubuh ibu yang dia tolong.
"Kak Yusuf?" panggil Nadia dan Mila bersamaan.
Yusuf yang merasa namanya disebut, menoleh ke sumber suara.
"Nadia, Mila, Tiara? Kalian? Ini kenapa Bunda saya?" tanya Yusuf panik sambil memangku kepala ibunya yang masih tak sadarkan diri.
"Jadi ibu ini ibunya kak Yusuf?" tanya Mutiara.
__ADS_1
"Iya, itu tadi, Bundanya kak Yusuf abis dari toilet, kebetulan jalannya licin, bundanya kak Yusuf teroeleset, jatuh lalu pingsan." kata Mutiara menjelaskan.
"Innalillahi." kata Yusuf sambil memeluk ibunya.
"Permisi!" kata Dzen menerobos kerumunan.
"Saya periksa dulu." kata Dzen yang segera mengeluarkan stetoskopnya, lalu menempelkan ke dada ibu itu.
"Harus segera dibawa ke rumah sakit." kata Dzen.
"Ambulance udah perjalanan Dzen." kata Andi.
"Okey." jawab Andi.
"Ada pihak keluarga yang bisa dihubungi?" tanya Dzen.
"Saya anaknya." kata Yusuf.
"Oh, baik. Ibu anda dibawa ke rumah sakit ya." kata Dzen.
"Ya, Lakukan yang terbaik untuk bunda saya dok." kata Yusuf.
"Kami akan berusaha." kata Dzen.
"Itu ambulancenya sudah sampai." kata Andi.
Andi bersama Yusuf segera membawa bunda Yusuf ke dalam mobil ambulance. Sedangkan Mutiara, Nadia dan Mila hanya mengikuti dari belakang. Sedangkan Dzen, dengan membawa alat dokternya juga mengikuti mereka, dan akan ikut dengan ambulance.
Sesampainya di mobil ambulance, tubuh bunda Yusuf yang masih belum sadarkan diri langsung dimasukkan dalam mobil.
"Kak Yusuf, Saya ikut ya." kata Mutiara.
Dzen yang mendengar itu cukup terbawa emosi.
"Tidak Tiara! Kamu di sini saja." kata Dzen tegas.
"Tapi mas...." kata Mutiara terhenti.
"Ibu ini sudah bersama keluarganya, Anaknya. Saya akan mengabarimu segera, jika terjadi sesuatu dengan ibu ini. Jadi kamu tetap disini, jaga kondisi kamu." kata Dzen dengan nada agak meninggi.
"Nadia, Mila. Tolong kalian bawa Tiara kembali ke masjid." kata Dzen.
"Baik Dok." jawab Nadia dan Mila.
"Andi, tolong kamu bawa mobil saya, saya akan ikut ambulance." kata Dzen sambil mengerjakan kunci mobilnya kepada Andi.
"Okey." jawab Andi.
Yusuf yang melihat itu kini menyadari, ada sesuatu diantara Mutiara dengan dokter yang kini bersamanya.
Tanpa menunggu lama, mobil ambulance itu segera membawa bunda Yusuf, Yusifcdan dokter Dzen pergi meninggalkan masjid untuk segera ke rumah sakit.
__ADS_1
Sedangkan Nadia dan Mila juga segera membawa Mutiara menuju ke masjid untuk menenangkan dirinya.
"Dokter Dzen itu ada benarnya, Tiara. Dia khawatir sama keadaanmu." kata Nadia menteri pengertian.