Jodoh Salah Sambung

Jodoh Salah Sambung
Coupel


__ADS_3

Pagi itu Mutiara sudah siap dengan segala persiapannya di hari yang bahagia ini. Betapa tidak, hari ini adalah hari pernikahan Dosen bermata elangnya dengan wanita yang pernah hadir di cerita hidupnya. Pria yang awalnya selalu membuat Mutiara Baper oleh segala sikap dingin maupun ramahnya, kini dia sudah berhasil memupus harapan itu dan menggantinya dengan bahasa kekeluargaan, yaitu sosok seorang kakak. Hari ini Mutiara ijin pulang lebih awal dari pasar, karena dia sudah dipesan oleh Nilam untuk membantu persiapan ijab Qobul Zio dan Shanum. Mutiara langsung memakai dress yang dia dapat dari kado ulang tahunnya, dan memakai sepatu yang dibelikan dua sahabatnya kemarin saat di Mall.


📩Nadia


Ra, kita udah di depan.


Sebuah pesan dari sahabatnya masuk ke ponselnya, Mutiarapun segera melangkah keluar kamarnya, dan berjalan menuju jalan raya untuk ikut serta satu mobil dengan dua sahabatnya.


"Yaa Allah, cantiknya kamu Ra." puji Mila yang melihat Mutiara dengan balutan dress barunya berwarna maroon dengan pink dusty dan jilbab pink dusty yang dia pakai secara sederhana, dengan berhiaskan bros mawar berwarna emas di dada kirinya.


"Iya nih, cantik banget. Jarang dandan, sekalinya dandan udah kaya bidadari turun dari kosan." kata Nadia yang duduk di belakang kemudi.


"Emang kemarin kemarin aku ga Cantik?" tanya Mutiara sambil membuka pintu mobil.


"Ya, cantik. Tapi maksudku, hari ini cantiknya tu...lebih gitu lho Ra." kata Mila menjelaskan kesalahpahaman yang disengaja itu.


"Ya udahlah, ayo jalan. Aku harus datang lebih awal soalnya. Kalian nanti, nunggu kelamaan dong di sana?" kata Mutiara tak enak hati dengan dua sahabatnya, yang ikutan berangkat pagi, agar bisa mengantarkan Mutiara sekalian.


"Okey. Ga masalah tuan putri. sekalian cuci mata, kali aja ada jodoh nyasar ke kita." jawab Mila asal.


Merekapun jalan ke gedung pertemuan yang dijadikan sebagai tempat ijab qobul dan resepsi pernikahan Zio dan Shanum. Mutiara turun dari mobil bersama kedua sahabatnya, dan dismabut hangat oleh Nilam dan bu Suyamti.


"Halo Tiara, yaa Ampun, kamu cantik banget." kata Nilam menciumi Mutiara dengan penuh kasih sayang.


"Terimakasih mbak, mbak Nilam juga cantik." kata Mutiara.


"Tapi kamu lebih cantik dengan busana dan riasan yang sangat sederhana." komentar bu Suyamti sambil memeluk Mutiara yang dia anggap sebagai anaknya sendiri.


"Ibu juga cantik. Maaf ya bu, Tiara dandan sendiri soalnya, ga pake jasa rias, jadi ya begini adanya." kata Mutiara.


"Santai saja. Kalau butuh jasa rias, itu di lantai dua, ada jasa rias juga, siap merias siapa saja yang membutuhkan." kata bu Suyamti yang sengaja menyewa MUA untuk dua keluarga mempelai.


"Ga usah bu, jika diperkenankan, gini aja, gapapa kan bu?" tanya Mutiara.


"Ya gapapa sayang. Ini aja nanti bakal banyak tamu pria yang takjub sama kamu." kata bu Suyamti.


"Bu Suyamti ni. Terlalu berlebihan." kata Mutiara sungkan.


Merekapun bersiap untuk menyaksikan prosesi ijab qobul Zio dan Shanum di masjid dekat gedung itu. Saat menanti penghulu datang, Mutiara melihat sosok pria yang berjalan ke masjid, tempat dia duduk saat itu, pria itu mengenakan baju berwarna maroon dengan list di kancing, lengan pendek dan kantongnya berwarna pink dusty, sangat mirip dengan dress yang dia pakai.


"Mas Dzen? Apa dress ini dari dia?" batin Mutiara.

__ADS_1


Sedangkan Nadia dan Mila yang juga melihat sahabatnya sedang menatap ke luar masjid, menjadi menyimpulkan bahwa pria itu dan Mutiara memakai pakaian cople.


"Ehem. Kopelan ni ye..." goda Nadia mengikut lengan Mutiara yang ada di samping kirinya.


"Apaan sih, aku juga ga tau. Orang ini dress juga cuma yang ngasih." kata Mutiara dengan pipi bersemu merah.


"Siapa?" tanya Nadia.


"Pasti mas Dokter ganteng." tebak Mila.


"Entah. Soalnya ga ada nama pemberinya." kata Mutiara mengangkat bahunya.


"Udah bisa ditebak, pasti dia." kata Nadia menggoda.


"Ya udah lah ya, itu pak Penghulu udah datang. Jangan berisik." kata Mutiara mengingat kan.


Sedangkan Dzen yang juga melihat Mutiara mengenakan dress itu, Dzen tersenyum sendiri.


"Kupikir ga mau dipakai. Karena ga ada nama pemberi nya. Alhamdulillah." batin Dzen.


Kedua mempelai sudah siap duduk di depan penghulu, Zio tampak gagah dengan pakaian pengantin serba putih dan Begitupun dengan Shanum yang juga tampak cantik memukau dengan balutan kebaya putih dan jarik, mengikuti adat jawa serta dengan hiasan pernak pernik di sekitar kepalanya, serta hena yang terlukis di tangannya.


Zio sangat lantang mengucapkan ijab qobul dengan sekali tarikan nafas. Dan akhirnya mereka berdua sah menjadi sepasang suami istri. Shanumpun mencium punggung tangan Zio dengan khidmad, lalu mereka berdua mencium tangan bu Suyamti secara bergantian, lalu mencium tangan bu Mia dan pak Yuda bergantian.


Saat di perjalanan menuju gedung, Mutiara yang awalnya berjalan bersama dua sahabatnya, kemudian Dzen menyusul Mutiara.


"Assalamualaikum Mutiara Hati." sapa Dzen di belakangnya.


"Eh, ehm. Wa'alaikumsalam warohmatullah. Mas Dzen." jawab Mutiara sambil menunduk karena menahan malu.


"Ehem, Ra. Kita duluan ya." kata Nadia mengajak Mila untuk jalan duluan, memberikan ruang untuk Mutiara dan Dzen berjalan bersama. Dan merekapun segera pergi tanpa menunggu jawaban dari Mutiara.


"Kamu cantik." kata Dzen sambil berjalan mensejajari Mutiara.


"Makasih mas." jawab Mutiara masih menunduk.


"Mas pikir, Tiara ga mau make." kata Dzen.


"Ehm, emang kenapa?" tanya Mutiara yang akhirnya menoleh ke arah Dzen.


"Karena pengirimnya ga jelas." kata Dzen.

__ADS_1


"Oh..."


"Tiara udah tau? Kalau ini dari mas?" tanya Dzen.


"Belum. Tapi, karena amanahnya suruh make buat kondangan, ya Tiara pake." kata Mutiara.


"Tiara suka kan?" tanya Dzen.


"Alhamdulillah mas. Kan tinggal make aja, engga usah beli, gratis pula, hehe." kata Mutiara polos.


"Tapi kopelan sama mas tu, gimana? Malu ga?" tanya Dzen lagi.


"Kenapa emang?" bukannya menjawab, Mutiara justru ganti bertanya.


"Kalo dikira pacar, atau pasangan gitu, gimana?" tanya Dzen yang mencoba mengetes jawaban Mutiara.


"Ya gapapa." jawab Mutiara singkat.


"Ehm, maksudmu? Gapapa? Tiara ga malu gitu kalau ketauan punya calon?" tanya Dzen.


"Hem... kan bisa bilang, bajunya kebetulan aja sama. Di store kan banyak. Hehe." jawab Mutiara santai.


"Oh gitu...? Iya juga sih." gumam Dzen sambil berfikir, agak kecewa memang, karena harapannya, bisa memancing jawaban Mutiara yang sebenarnya.


"Tapi, kalau ada yang ngira mas Dzen pasangan Tiara, juga gapapa kok. Kan emang calon." kata Mutiara sambil terus berjalan.


"Eh, bentar, apa kamu bilang Ra? Kamu serius?" tanya Dzen yang tiba-tiba terasa sangat bahagia mendapat jawaban tanpa tatapan dari lawan bicaranya.


"Emang mas Dzen kemarin ketemu bapak ga serius?" ganti Mutiara yang bertanya dan menghentikan langkahnya menatap Dzen.


"Ha? Ya serius lah, Masak ga serius?" kata Dzen spontan.


"Ya udah." jawab Mutiara sambil kembali berjalan.


"Berarti, mas diterima?" tanya Dzen kembali memastikan.


Sambil berjalan Mutiara mengangguk dan tertunduk malu dengan wajah bersemu merah. Sedangkan Dzen yang masih dibelakang, mengepalkan tangannya, dan ditarik kebawah sambil berucap


"Yes."


"Alhamdulillah yaa Allah."

__ADS_1


Dzen sangat bahagia hari ini, jawaban yang seharusnya masih dia tunggu satu tahun lagi, akhirnya justru terjawab lebih cepat.


__ADS_2