
Sampai di kamar, belum sempat Mutiara mendudukkan tubuhnya, ponselnya berbunyi, dan betapa terkejutnya dia, Panggilan Video dari orang yang tadi memberinya beberapa buku saat di toko buku.
π₯Mas Salah Sambung
"Assalamualaikum Tiara." sapa laki-laki di layar ponselnya.
"Wa'alaikumussalam dok." jawab Mutiara kikuk, karena dia masih bermuka kusam, setelah seharian beraktivitas.
"Ada apa ya dok? Kok tumben sampe Video Call?" tanya Mutiara.
"Eh, maaf ya kalau mengganggu. Dari tadi saya chat, tapi belum kamu buka." kata Dzen.
"Oh, ya maaf dok. Tadi masih dijalan. Ini saya juga baru masuk kamar kok dok, belum mandi belum duduk juga, hehe." kata Mutiara.
Dzen melihat dari layar ponselnya, memang tampak guratan lelah dari wajah gadis itu, tetapi aura kecantikan yang natural tetap terpancar, karena memang gadis itu tak banyak bersolek. Membuat Dzen semakin dalam perasaan yang wajar itu tumbuh dalam hatinya
"Oh, kok baru pulang? Bukannya sudah daritadi kamu pulangnya? Dari toko buku ke kosan kamu kayaknya ga jauh kan?" tanya Dzen.
"Iya dok, tadi saya mampir masjid dulu, untuk sholat maghrib." kata Mutiara.
"Owh, begitu? Brati, makanannya sampai tapi bukan kamu dong yang menerima." kata Dzen.
"Makanan? Ini maksudnya?" tanya Mutiara sambil menunjukkan sebuah kantong plastik berisi box makanan.
"Yap." jawab Dzen.
"Jadi ini dokter Dzen yang ngirim? Soalnya tadi yang nerima ibu kost. Saya sempat bingung sih, karena ga merasa pesen gofood." kata Mutiara.
"Iya, itu dari saya. Tadi saya dengar kamu butuh teh hangat untuk membatalkan puasa, jadi saya sengaja pesankan buat kamu berbuka." kata Dzen dengan senyum teduhnya, namun tak berhasil meruntuhkan benteng perasaan Mutiara, karena Mutiara telah ada rasa dengan seseorang.
"Ya ampun dok, kenapa harus repot-repot sih ngirim makanan segala. Tadi kan udah ditraktir buku." kata Mutiara sungkan.
"Gapapa Tiara, Alhamdulillah ini tanggal muda, saya abis gajian. Hahaha." kata Dzen bercanda.
"Hehehe, dokter Dzen nih bisa aja. Ya udah, makasih banyak ya dok, nanti saya makan kok." kata Mutiara.
"Ya udah kalau gitu, istirahat lah, mandi, biar seger." kata Dzen.
"Ya dok, sekali lagi, terimakasih dok." kata Mutiara.
"Sama-sama Tiara." kata Dzen dengan tersenyum.
"Assalamualaikum." lanjutnya.
"Wa'alaikum salam dok." jawab Mutiara.
Setelah panggilan selesai, Mutiarapun bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya, karena ada banyak tugas yang harus segera diselesaikan.
πππ
__ADS_1
Pukul 23.00
Disebuah rumah cukup megah, yang berada dikawasan perumahan ellite, sebuah mobil brio berwarna silver masuk ke pekarangan.
Seorang laki-laki berjas navy keluar dari mobilnya, dan berjalan menuju rumah itu.
"Zio." panggil bu Suyamti yang turun dari tangga.
"Mama? Mama kenapa belum tidur?" tanya Zio mencium punggung tangan mamanya.
"Mama menunggumu." kata bu Suyamti.
"Kenapa harus nunggu Zio, Ma?" tanya Zio.
"Karena mama khawatir sama kamu, sampe jam segini belum pulang juga." kata bu Suyamti.
"Tenang aja Ma, Zio ga papa." kata Zio melenggang menuju kamar menyampirkan jas di pundaknya.
"Zio, sebentar." kata bu Suyamti yang berhasil menghentikan langkah Zio.
"Ada apa ma?" tanya Zio.
Tanpa berkata-kata, bu Suyamti memutari anak bungsunya itu, dan mengendus pakaian yang dikenakan Zio.
"Mama kenapa sih?" tanya Zio heran.
"Sampai selarut ini, kamu tidak mengulangi perbuatan kamu semasa kuliah 'kan?" tanya bu Suyamti menyelidik.
"Ya, syukurlah kalau begitu Zi. Mama cuma khawatir kamu kaya dulu lagi." kata bu Suyamti berwajah melo.
"Nanti Zio ceritain ya. Sekarang Zio mau mandi dulu, ganti baju, dan mau makan. Mama masak apa malam ini?" tanya Zio dengan tersenyum.
"Mama ga masak. Yang masak bi Saodah. Tadi sih, kayaknya masak telur balado." kata bu Suyamti.
"Kayaknya? emang mama belum makan?" tanya Zio.
Bu Suyamti hanya menggeleng.
"Hm... Okey, tunggu Zio mandi ya mah, nanti kita makan malam bersama." kata Zio menenangkan hati mamanya.
"Ya, Mama tunggu ya Zi." kata bu Suyamti.
"Okey mama." kata Zio sambil berlari naik ke lantai dua menuju kamarnya.
πππ
πPak Yuda
"Halo, Mas Zio."
__ADS_1
"Ya pak Yuda, ada apa?" tanya Zio yang baru saja keluar dari perpustakaan.
"Mas Zio, saya mau bertemu dengan anda sekarang. Penting mas." kata pak Bagas dari seberang.
"Baik, ketemu dimana?"
"Di pabriknya bapak ya mas." kata pak Bagas.
"Ok."
Sambungan terputus.
"Pak Yuda nyariin gue ada apa ya? Di pabrik papa? Kayaknya ada masalah serius sama pabriknya papa." gumam Zio.
Ziopun bertemu dengan Pak Yuda di pabrik papanya, ternyata benar dugaannya. Banyak jumlah kayu yang tidak sesuai dengan laporan, dan kualitas kayu yang tidak sesuai dengan standar ketentuan pabrik. Sudah pasti, ini ada yang bermain curang dari orang dalam. Malam itu juga, pak Yuda memohon dengan sangat, agar Zio berkenan memimpin perusahaan pak Anggoro. Karena Berkah Abadi Meubel telah diketahui oleh lawan bisnis, bahwa tidak ada kepemimpinan didalamnya, hanya ada pak Yuda sebagai tangan kanan pak Anggoro yang mengendalikan semua urusan perusahaan.
"Saya mohon mas Zio."
"Tapi pak basic saya tu engga di meubel, engga di dunia bisnis. Saya bisanya ngajar. Jadi dosen. Gitu aja." kata Zio berusaha menolak seperti saat papanya meminta Zio menggantikannya.
"Saya mohon mas, Nanti mas Zio akan saya dampingi, mas Zio bisa belajar bersama saya." kata pak Yuda asisten pribadi pak Anggoro yang memang usianya terbilang masih muda.
"Aku akan bicarakan sama mama dulu." kata Zio.
" Baik mas." kata pak Yuda.
πππ
"Seperti itu Mah, ceritanya." kata Zio mengakhiri ceritanya.
"Mama rasa, apa kata Yuda itu ada benarnya Zi." kata bu Suyamti.
"Maksud mama, Zio terima?" tanya Zio.
"Ya. Karena 'kan anak papa cuma kamu sama mbak Nilam. Mbak Nilam sudah bersama suaminya, suaminya sudah sibuk menjadi abdi negara, Nahkoda yang sangat jarang di rumah. Mbak Nilam, ya ngga mungkin 'kan? Ya kamu lah satu satunya harapan papa." kata bu Suyamti memberi alasan.
"Hem..."
"Ayolah Zio. Kamu pasti bisa." kata bu Suyamti menyemangati.
Ziopun menarik napas dalam.
"Baiklah Ma." kata Zio pasrah.
Bu Suyamtipun tersenyum senang.
"Terimakasih sayang." kata bu Suyamti sambil memeluk putranya.
πΎπΎπΎ
__ADS_1
Mohon maaf para Reader, Sudah satu pekan ini Author sekeluarga sedang diuji sakit, jadi mohon maaf baru bisa melanjutkan cerita.
Jangan lupa tinggalkan jejak yaπ