
Waktu terus berlalu, Mutiara sudah menyelesaikan ujian semesternya, dan juga menyelesaikan skripsi nya. Jadwal sidang sudah tiba, pagi itu Mutiara sudah bersiap dengan segala persiapannya, dia mengenakan baju putih, rok hitam dan jilbab putih, serta mengenakan jas almamater. Dia sudah tiba di kampus, satu jam sebelum sidang, untuk menyiapkan materi dan mental tentunya. Hingga akhirnya, dia telah selesai menghadapi segala pertanyaan dari dosen penguji, dan menyampaikan semua yang harua dia sampaikan, mulai dari seminar skripsi, seminar hasil dan komprehensifnya. Kemudian, Mutiara keluar ruang sidang, dengan memeluk map skripsi nya.
Ada kedua sahabatnya yang siap menantinya, tentu saja Nadia dan Mila.
"Gimana Ra?" tanya Nadia yang antusias sekali menyambut kelulusan Mutiara.
Mutiara menghampiri kedua sahabatnya dengan wajah datar, tanpa ekspresi.
"Belum berhasil ya Ra?" tanya Mila berempati sambil mengelus pundak Mutiara.
"Ga mungkinlah Mil, seorang Tiara gagal. Dia kan pinter." kata Nadia tak percaya.
"Hem..." dengan lesu Mutiara duduk di tempat duduk dekat ruang sidang itu.
"Ra? InshaaAllah masih ada kesempatan kan di semester depan?" kata Mila lagi yang jelas mengerti suasana hati Mutiara.
"Ish, Mila. Masa' iya sih seorang Tiara gagal?" tanya Nadia yang masih tidak percaya.
Mutiara memandang kedua sahabatnya yang berdebat. Lalu tersenyum.
"Alhamdulillah, aku lulus." kata Mutiara sambil memeluk kedua sahabatnya.
"Alhamdulillah..." pekik keduanya dan membalas pelukan itu.
"Selamat ya Ra." kata Mila.
"Congratulation Ra!" kata Nadia.
"Memang kamu tu the best Ra!" kata Nadia sambil mengacungkan jempolnya.
"Tuh kan Mil, jangan suka su'udzon dong Ga mungkin lah seorang Tiara gagal dalam hal akademik. Dia kan pinter." kata Nadia.
"Ye... abisnya Tiara gitu banget wajahnya. Aku pikir kan dia gagal." kata Mila yang merasa bersalah.
"Karena memang ga semua yang pinter itu, bisa lolos sidang Nadia." kata Mutiara.
"Iya juga sih." kata Nadia.
"Tapi alhamdulillah, udah lega, akhirnya Tiara lulus juga. Berarti abis skripsi, resepsi dong." kata Mila menggoda.
"Ha? Ya engga lah." kata Mutiara menolak.
"Ya kali aja kan Ra? Dokter Dzen udah ga sabar. Katamu dulu, kamu harus segera lulus dulu, biar bisa segera menikah." kata Mila.
"Ah, tau lah. Yang jelas, sekarang aku udah lulus." kata Mutiara.
"Oya, ini... for you." kata Nadia sambil memberikan buket boneka kepada Mutiara.
"Congratulation Mutiara Hati." kata Nadia.
"Yaa Allah, terimakasih Nadia" kata Mutiara sambil menerima buket boneka doraemon kesukaannya.
"Ini dari aku Ra, diterima ya. Selamat." kata Mila yang memerikan boneka barby berbusana sarjana yang dibungkus kaca.
"MaasyaaAllah, cantik sekali. Terimakasih ya Mila." kata Mutiara sambil menerima boneka itu.
"Ra, makan makan yuk, kita yang traktir. Kamu mau makan apa?" kata Nadia sambil meletakkan lengannya diatas puncak Mutiara.
__ADS_1
"Ehm. Maaf Nad, hari ini aku niat." kata Mutiara tersenyum.
"Yah..." kata Nadia cemberut.
"Ish, kamu nih Nad, temennya puasa bukannya seneng, ngedukung malah cemberut gitu." kata Mila mengingatkan.
"Ya kan, jadi gagal rencana kita buat nraktir Tiara." kata Nadia kecewa.
"Kenapa harus gagal? Nanti sore traktir aku buka puasa. okey?" kata Mutiara tersenyum menyemangati.
"okeylah." jawab Nadia.
"Ya udah yuk, kita pulang dulu aja." kata Mila.
"Yuk." jawab Mutiara.
Mereka bertigapun berjalan menuju ke parkiran motor. Sesampainya di lobi gedung fakultas, ponsel Mutiara bergetar terus, tanda ada panggilan masuk, karena ponselnya di silent.
"Eh. bentar. Aku ada telfon." kata Mutiara sambil mengambil ponselnya di tas.
📞Mas Dzen
"Halo mas, Assalamualaikum." sapa Mutiara.
Sedangkan kedua sahabatnya kusak kusuk di belakang.
"Ehem, cie cie. Mamas dokter..." goda Mila sambil tertawa kecil dengan Nadia.
'Wa'alaikumsalam. Tiara, coba lihat keluar. Tepatnya, di depan tulisan Fakultas.' kata Dzen dari seberang.
"Yup." jawab Dzen.
Mutiara pun segera melongokkan wajahnya keluar, tepatnya di depan tulisan fakultas. Benar adanya, tampak olehnya seorang laki-laki dengan kemeja berwarna mint sedang memegang ponsel dan wajahnya tampak menoleh ke arahnya.
"Ya mas, Tiara ke sana. Sebentar." kata Mutiara sambil memutuskan panggilan.
"Ehm, temenin aku yuk, mas Dzen ada di depan soalnya." kata Mutiara.
"Kenapa ga sendiri aja?" kata Nadia protes.
"Ish, Ayolah, temenin aku ya. Please." kata Mutiara memohon.
"Okey tuan putri." kata Mereka bersamaan.
Merekapun sampai di depan gedung fakultas.
"Mas Dzen." panggil Mutiara.
Dzen yang tadinya menghadap arah lain, lalu membalikkan badan menghadap sumber suara.
"Congratulation Mutiara Hatiku." kata Dzen sambil memberikan buket bunga kepada Mutiara deng full senyuman.
"Cie...Tiara...Ehem ehem. Jadi ngiri." kata Nadia menggoda.
"Sama Nad." kata Mila cekikak cekikik berdua.
"Eh, apaan sih mas? Emangnya mas Dzen udah tau, kalo Tiara udah lulus?" tanya Mutiara.
__ADS_1
"Ehm... feeling aja sih, sepertinya ga mungkin deh, calon istri mas ga lulus. Dia kan pinter naklukin dosen, naklukin mas aja pinter." kata Dzen dengan gombalannya.
"Ish... apaan sih mas." komentar Mutiara yang merasa risih.
"Ya tolong segera diterima dong, keburu pegel ini tangan mas." kata Dzen.
"Astaghfirullah. Maaf mas, maaf." kata Mutiara sambil menerima buket bunga itu dengan tangan kanannya. Sedangkan tangan kiri memegang buket boneka dan menjinjing tas berisi vandel boneka barby.
"Terimakasih ya mas." kata Mutiara tersenyum malu.
"Sama-sama." jawab Dzen dengan senyum manisnya.
"Oya, sama ini, kamu pake ya." kata Dzen sambil mengambil selempang wisuda dari paper bag yang dia letakkan di dekat tas kerjanya.
"Oh My God, Tiara... mas Dzen so sweet banget sih? Jadi baper deh." kata Mila kegirangan sambil loncat-loncat sendiri.
"Eh, ini apa mas?" tanya Mutiara bingung dengan sikap Dzen.
"Nadia, Mila, bisa bantu saya untuk pakaikan selempang ini buat Mutiara?" tanya Dzen.
"Siap, bisa dok." jawab keduanya berbarengan.
Nadia dan Mila pun memakaikan selempang untuk Mutiara.
"Foto dulu dong Ra." kata Nadia sambil mengarahkan ponselnya ke harapan Mutiara.
"Di depan tulisan ini aja Nadia, tolong fotokan kami." kata Dzen yang mendapat tatapan tajam dari Mutiara yang sejak tadi jantungnya berdetak tak karuan.
"Oh, iya. Bener bener. Okey, ayo Ra, sana berdiri di depan tulisan. Sama dokter Dzen." Kata Nadia yang siap jadi fotografer mereka.
"Eh, ehm... engga ah, malu ah diliat orang." kata Mutiara sungkan.
"Please Ra, mama sama papa minta fotomu." kata Dzen beralasan.
"Ayo Ra. Cepetan." kata Nadia mengarahkan.
"Lebih deket lagi bisa kan Ra?" tanya Mila yang sudah gemas dengan keduanya, lalu Mila menarik Mutiara untuk lebih dekat lagi dengan Dzen.
"Eh, Ga mau ah, kita belum halal Mila." kata Mutiara menolak.
"Hem, cuma segini aja kok Ra." kata Mila mengarahkan.
"Senyum napa sih Ra?" protes Nadia yang mau menjepret tapi ragu karena melihat wajah Mutiara yang memerah karena menahan malu.
Cekrik cekrik cekrik
"Okey terimakasih. Sekarang, giliran kalian bertiga ya, biar saya foto." kata Dzen.
Dzen pun memori Mutiara dan kedua sahabatnya. Lalu terakhir, Dzen memoto Mutiara seorang diri, saat dia sedang tertawa lepas dengan kawannya, foto candid.
"Ehm, Tiara, kita minta foto kamu sendiri ya. Bawa hadiahnya satu satu aja." kata Dzen.
Mutiarapun menurut saja, hingga sesi foto-foto selesai, merekapun pulang, sedangkan Dzen kembali ke rumah sakit untuk dinas.
💞💞💞
Mohon maaf reader, agak telat up. Ada kendala sedikit saja... terimakasih senantiasa menanti kelanjutan cerita JSS😉😍😘
__ADS_1