Jodoh Salah Sambung

Jodoh Salah Sambung
Benih Cinta


__ADS_3

Saat di perjalanan, Zio mengabarkan, bahwa harusnya Mutiara tadi maju ke podium untuk mewakili wisudawan. karena Mutiara adalah mahasiswa dengan IPK tertinggi tahun ini. Lalu Zio menanyakan keadaan Mutiara.


"Gimana kata dokter, Dzen?" tanya Zio.


"Alhamdulillah mas, Tiara gapapa. Makannya langsung boleh pulang. Tiara hanya syok, karena pergantian hormon." kata Dzen sambil menoleh ke arah istrinya, dengan tangan kanannya terus menggenggam tangan istrinya.


"Pergantian hormon?" tanya Zio dengan dahi mengernyit.


"Iya mas. Pergantian hormon, dari gadis menjadi ibu." kata Dzen tersenyum.


"Bentar, maksud kamu... Tiara hamil?" tanya Zio yang berusaha mencerna kata-kata dokter muda itu.


"Alhamdulillah, iya mas." jawab Dzen.


"Widih, manteb bener... tok cer bener kamu Dzen, langsung jadi aja. Pake jamu apa kemarin?" tanya Zio yang ikut bahagia dengan kabar itu.


"Hahaha, ga pake jamu apa-apa mas. Cuma pake perasaan aja." kata Dzen.


"Belum juga kalian bulan madu, udah jadi aja tu benih cinta." kata Zio.


"Iya juga sih mas, memang kita belum sempat bulan madu, karena saya sibuk terus, bolak balik ngurus wisuda saya, dan ngurus berkas wisudanya Tiara, belum lagi nurutin keluarga yang minta piknik ke sana ke sini, dan sibuk mainan sama keponakan. Padahal rencananya, abis wisuda ini, kita mau make tiket Umrohnya Tiara yang ibunya mas kasih waktu dulu." kata Dzen menceritakan pengalaman mereka setelah menikah.


"Memang ya. rejeki itu ga bisa ditebak. Saya yang abis nikah langsung bulan madu aja, sampe satu tahun baru isi, kalian, belum sempat bulan madu, malah udah ngisi." kata Zio lagi.


"Ya begitulah mas." jawab Dzen.


Sedangkan Mutiara yang sejak tadi diam sambil menyandarkan kepalanya di pundak Dzen, merasakan tubuhnya masih lemas, sehingga dia masih enggan untuk bercakap-cakap.


"Beli makanan dulu ga ini? Atau, mau mampir ke mana gitu?" tanya Zio.


"Ehm, ya, boleh mas. Kasian Tiara, dia belum makan sejak tadi pagi." kata Dzen.


"Ga usah mas, langsung pulang aja ya. Tiara mau tiduran." kata Mutiara yang tidak berminat mendengar kata makanan.


"Okey." jawab Zio.


Zio pun melajukan mobilnya menuju kampus dengan kecepatan sedang. Siang itu, sudah masuk jam makan siang, dan dugaan Zio acara sudah selesai, sehingga tiba di auditorium pasti sudah mulai sesi foto-foto.


Sesampainya di kampus, Zio langsung mengantarkan Mutiara dan Dzen di depan auditorium, sedangkan Zio memarkirkan mobilnya. Dzen meminta Mutiara untuk duduk dulu di kursi tunggu yang berada di depan ruang auditorium, sedangkan Dzen mencari pak Bowo dan bu Hindun.


Saat masih duduk dengan keadaan lemas, tiba-tiba dua sahabat Mutiara datang.


"Tiara...." teriak Nadia sambil berlari lalu memeluk Mutiara.


"Congratulation ya sayangku..." kata Mila yang juga ikut heboh dan memeluk Mutiara.

__ADS_1


"Iya, makasih." jawab Mutiara dengan berusaha tetap tersenyum menyembunyikan rasa yang sedang dia alami.


"Yaa Allah Ra, kamu tadi kemana sih? Kita cari kemana-mana kok ga ada?" tanya Mila.


"Kamu kok ga pake toga sama baju kebesaran mu sih Ra?" tanya Nadia yang menyadari, Mutiara tidak mengenakan pakaian kebesarannya.


"Gapapa kok." kata Mutiara tersenyum.


"Tiara. Gimana keadaanmu?" tanya Fathan, yang tadi melihat Mutiara pingsan saat acara prosesi tiba-tiba muncul. Karena Fathan juga peserta wisuda tahun ini.


"Eh, kak Fathan. Alhamdulillah, kak, sudah baikan." kata Mutiara yang tau juga bahwa Fathan baru di wisuda.


"Lhoh? Emang Tiara kenapa kak?" tanya Mila yang seketika memegang kening Mutiara.


"Kalian ga tau? Apa kalian baru dateng?" tanya Fathan yang heran dengan kedua sahabat Mutiara.


Belum sempat Nadia dan Mila menjawab, Dzen sudah kembali bersama pak Bowo dan Bu Hindun.


"Nadia Mila? Kalian disini juga?" tanya Dzen.


"Eh, dokter Dzen, pak, Bu." kata Nadia sungkan, lalu menyalami bu Hindun, begitupun dengan Mila.


"Iya dok." jawab Mila.


"Lho? Mau langsung pulang ya dok?" tanya Mila.


"Iya, kenapa?" tanya Dzen.


"Ehm..." Nadia dan Mila tampak kecewa, karena sebenarnya, mereka ingin berswa foto bersama Mutiara.


"Tenang aja, kapan-kapan, kalau mau foto barengan, kita kabarin. Maaf. untuk saat ini, Tiara harus istirahat dulu ya." kata Dzen.


"Oiya dok, emang, Tiara kenapa dok?" tanya Nadia penasaran.


Dzen menoleh ke arah Mutiara, dan Mutiara hanya mengangguk memberi isyarat.


"Tiara tadi pingsan, dia lagi nyidam." kata Dzen.


"Apa?" seketika Fathan, Nadia dan Mila kaget dengan suara yang sama tanpa aba-aba.


"Tiara Hamil?" tanya Nadia.


Mutiara mengangguk dengan senyuman.


"Yaa Allah Ra, kamu serius? Cepet bener?" komentar Mila.

__ADS_1


"Wah, dokter Dzen ni, patut dicontoh. Kerja yang bagus dokter." kata Fathan memberi acungan jempol.


"Ehm, ya udah, saya titip Tiara dulu ya, saya mau ambil mobil dulu." kaga Dzen.


"Siap dok." jawab Mila.


"Nduk, selamat ya." kata bu Hindun memeluk tubuh putrinya.


"Terimakasih bu." jawab Mutiara.


"Bapak dan ibu ga berharap banyak padamu, yang penting, kamu sehat selalu." kata bu Hindun sambil mengusap air matanya yang keluar.


"Bapak dan ibu sudah bangga padamu nak, kamu sudah buktikan, bahwa kamu mampu lalui semua ini. Dan semoga benih cintamu ini juga sehat sampai persalinan tiba." kata bu Hindun lagi.


"Aamiin bu." jawab Mutiara.


"Ehm, Tiara, boleh minta foto bareng dulu ga?" tanya Fathan yang ternyata sejak tadi membawakan toga milik Mutiara yang tadi sempat jatuh saat Mutiara pingsan.


"Eh, togaku kak Fathan bawain?" tanya Mutiara.


"Iya."


"Tapi Tiara pucet kak." kata Mutiara.


"Gapapa. Foto sama Nadia Mila, bapak dan ibu Juga ya." kata Fathan.


"Ya kak."


Merekapun foto selfi bersama. Dengan Mutiara di peluk dua sahabatnya, dan kedua orang tuanya sedangkan Fathan di depan.


Tak lama kemudian, Dzen datang bersama mobilnya. Lalu Dzen keluar dari mobilnya untuk menjemput istrinya.


"Eh, saya baru nyadar, kamu ini bukannya kakak tingkatnya Mutiara yang dulu pernah hadir di acara pernikahannya mas Zio ya?" tanya Dzen yang sejak dalam perjalanan mengambil mobil, dia mengingat-ingat sosok laki-laki itu.


"Iya mas. Saya Fathan, kakak tingkatnya Tiara, tapi kita wisudanya bareng, karena Tiara mempercepat kelulusannya, sedangkan sama lemot, hahaha." Jawab Fathan.


"Itu karena kak Fathan terlalu sibuk sih di ormawa. Makannya kak, berorganisasi itu boleh saja, tapi ya waktunya ngerjain tugas itu, ya ngerjain tugas dong kak." kata Mila.


"Hahaha, iya juga ya? Makasih lho atas nasehatnya." kata Fathan sambil mengangkat alisnya pada Mila untuk menggoda gadis cantik itu.


"Ehem, ya udah, maaf. Ini kita duluan ya, Tiara katanya mau segera istirahat dulu." kata Dzen.


"Oh, ya dok, silakan." kata Nadia.


Dzenpun membawa Mutiara masuk kedalam mobilnya, dan diikuti pak Bowo dan Bu Hindun. Dzen segera melajukan mobilnya menuju apartemen, karena Mutiara sudah tampak sangat lemah. Namun, sebelum sampai apartemen, Dzen menyempatkan diri untuk mampir ke minimarket, untuk membeli roti dan beberapa camilan untuk istrinya, agar istrinya kemasukan makanan.

__ADS_1


__ADS_2