
setelah selesai makan siang bersama raga Revan kembali ke ruangan nya dia mengraih telepon genggam di tulis no nomor. Tut..Tut..Tut.. telepon itu tersambung
"hallo siapa ya?" tanya Deni. ya Revan menelpon Deni
"gue Revan , Lo lagi sibuk"
"oh Lo.. ya lumayan sibuk sih memang nya ada apa?" tanya Deni
" gue cuman mau ngasih tau kalo Dewi masuk rumah sakit dan sekarang keadaan nya begitu lemah. rencana entar malam kami mau jenguk nya Lo mau ikut?"
"apa Dewi masuk rumah sakit lagi? " Deni seperti kaget mendengar ucapan Revan " secepat mungkin gue akan ke rumah sakit . gue gak peduli walau nanti Heri melarang gue"
"iya gue cuman ngomongin itu ya.. ya udah lanjut kerja nya"
"iya makasih ya.. salam buat Sintya "
"sipp.." Revan pun mematikan telpon nya.
jam sudah menunjukkan pukul 07.00 malam Deni bersiap siap untuk ke rumah sakit.
"kamu mau kemana?" tanya mamah nya
" ke rumah sakit mah jenguk teman"
" tema kamu yang kemaren y?"
"mamah ikut ya.. pah mamah ikut Deni jenguk teman nya ya?" pinta mamah nya kepada papah nya yang juga sedang duduk di ruang tamu
"boleh aja! tapi Deni mau gak bawa kamu" ucap papah nya
"kalo mamah ikut mamah jangan bicara apa apa ya"
"iya mamah janji.. papah gak papa kan di tinggal dulu"
"iya gak papa hati hati di jalan pulang nya jangan terlalu larut "
"iya gak malam kok.. " sahut Deni " ayo mah.."
"sebentar mamah ambil tas dulu" mamah nya pun langsung mengambil tas nya di dalam kamar.
di perjalanan mamah nya memulai pertanyaan sama anak nya ini
"sebenar nya teman kamu itu sakit apa jadi dia sering sekali masuk rumah sakit?"
"sakit leukimia mah dan sekarang keadaan nya semakin kritis"
"apa kamu suka dengan nya?"
__ADS_1
" apa mamah mau punya menantu seperti dia kalo aku suka sama dia apa mamah mau terima keadaan nya?" Deni malah berbalik tanya kepada mamah nya
"kenapa kamu malah balik nanya sama mamah ?"
"enggak aku cuman nanya seadanya aku suka sama dia mamah mau terima dia sebagai menantu mamah sedangkan keadaan nya seperti itu"
"mamah terserah kamu aja yang mana baik nya kalo kamu senang dengan nya kenapa mamah harus melarang"
Deni langsung tersenyum mendengar ucapan mamah nya.
akhirnya mereka sampai dirumah sakit dan dengan segera Deni menuju ruangan nya. setelah sampai di ruangan nya terlihat dari luar kaca Dewi kritis terpasang infus di tangan nya dan juga di hidung nya. namun dia tetap sadar
mamah nya deni yang melihat keadaan nya Dewi langsung mengelus dada dan meneteskan air mata. mamah nya juga gak tega begitu juga Deni . Heri yang di dalam melihat Deni datang langsung ke luar .
"bergiliran saja " ucap Heri tegas " supaya jangan banyak orang di dalam sudah ada ibu".
deni pun masuk
"Deni..." sergah Dewi terperangah melihat kedatangan Deni yang tak di sangka sangka
muka yang sayu langsung berbinar dia menatap ibu nya dengan penuh berterima kasih .
Deni memberi salam dan ibu Dewi hanya menggumam membalas salam nya.
" kenapa paras Dewi berbinar binar saat melihat Deni?" tanya ibu nya dalam hati
" Bu aku juga mencintai nya " ucap Dewi dengan suara pelan nya
ibu nya hanya bisa mengangguk mendengar ucapan anak nya.
"itu siapa?" tanya Dewi saat melihat mamah nya Deni
"itu mamah aku.. aku keluar dulu " ucap Deni
Deni keluar dan mamah nya yang masuk . terlihat Heri yang sedang duduk sendirian di kursi panjang seperti ada yang sedang di pikirkan nya .
Deni pun menghampiri Heri dia duduk di sebelah nya. di tatap Heri sebentar dan pandangan nya kembali lurus ke depan lagi .
"siapa yang beri tahu Lo kali dewi masuk rumah sakit?" tanya Heri dengan tatapan yang masih lurus ke depan
"revan yang beri tahu" sahut Deni
Heri hanya terdiam tidak mungkin dia marah sama Revan .
"apa kata dokter tentang penyakit nya dewi"
"semakin parah dan dokter sellau mengarahkan Dewi untuk operasi "
__ADS_1
"lalu kenapa tidak langsung di operasi saja?"
Heri langsung memberi tatapan tajam kepada Deni saat Deni berbicara seperti itu. "kamu enak bilang seperti itu" ucao Heri dalam hati
"ibu keberatan kalo di operasi lagi ibu tidak mau kalo hidup nya Dewi berakhir di meja operasi "
" saya mencintai Dewi, dan saya ingin dia sembuh"
" kamu mencintai Dewi? sampai berapa lama? kalo kamu suka sama Dewi kamu akan bosan harus bolak balik rumah sakit harus merawat nya apa sudah kamu pikirkan? tidak ada laki laki yang tahan dengan keadaan seperti itu " ucap Heri kesal
" saya ada dapat tawaran tiket ke Amerika dari claen dan saya ingin membawa dewi ke sana"
kesabaran Heri sudah tidak bisa di tahan lagi. Heri hampir tidak mempercayai pendengaran nya . mereka sedang mendiskusikan kondisi Dewi yang memburuk. lelaki ini malah melantur mau ke Amerika bersama Dewi.
"Dewi sedang kritis kamu malah mau ajak Dewi keluyuran di amarika?" ucap Heri sengit
"kata siapa saya mau keluyuran?"
" saya tahu sekali hobi mu! Amerika pasti tempat impian "
"siapa bilang aku ke Amerika untuk liburan?"
" terus.. klien mu memberikan bonus tiket kamu tolak?"
"tentu saja tidak "
"tidak usah di jawab " dengus Heri pedas " karena saya sudah tahu jawaban nya"
"tapi tiket itu bukan untuk saya tapi untuk Dewi "
" Dewi...?" mata Heri langsung terbelalak karena terkejut " apa kamu gila? mana boleh dia naik pesawat ?"
" bukan sekarang. keadaan umum nya dewi harus di perbaiki dulu. kita juga perlu pesan tempat. aku lihat di internet ada rumah sakit bagus di florida."
Heri hanya bisa terdiam dia benar benar bingung, cemas dan takut. mampukah dewi menempuh perjalanan sejauh biru ke Amerika ? benar kah dokter dokter di sana mampu menyembuhkan nya?"
" bagaimana pendapat ku" desak Deni penasaran " ada paman saya di Miami paman menikah dengan orang bule. saya bisa minta paman mencari informasi yang lebih lengkap"
" kamu pikir dewi mau di operasi di sana?"
" kamu yang harus membujuk nya "
sekali lagi Heri tercenung haruskah dia membujuk dewi? melangkah ke kamar operasi yang mungkin akan menjadi kamar mayat nya? kalau operasi itu gagal... betapa penyesalan nya dia nanti .
" setelah operasi itu berjalan dan Dewi kembali ke Indonesia aku ingin melamar nya " ucap Deni
Heri langsung mengangkat wajah nya setelah mendengar ucapan Deni " kamu serius? "
__ADS_1
" iya aku ingin mengawini nya"