
" kenapa cemberut setelah telponan sama deni? deni bikin kamu kesel? " tanya om nya deni yang melihat dewi dari depan pintu
" enggak om, deni lagi sibuk kerja " dewi berusaha menutupi kalo dia sedang cemburu dengan deni
" oh.. kamu sudah minum obat? sebentar lagi kita pergi ke rumah sakit untuk cek up"
" iya om.. "
lain hal nya dengan revan dan rekan rekan nya yang sudah sampai di hotel.
tut.. tut.. tut.. revan menelpon raga
" ada apa? " sahut raga
" kita makan siang dulu dan setelah itu baru kita ke kantor "
" ok siap"
" lo kenapa? lo sakit ya? "
" enggak"
" terus kenapa kayak gak semangat gitu"
" gue kepikiran intan gak ada yang nemanin "
" udah lo telpon dia aja suruh intan ke rumah gue"
" ya udah gue mau telpon intan dulu"
" ok gue tunggu di restoran "
__ADS_1
tut.. tut.. tut... raga menelpon intan namun intan tidak mengangkat nya. raga semakin khawatir dengan intan
" Duh intan kemana ya kok gak mengangkat telpon, duh sayang kamu dimana sih? " ucap raga khawatir
raga pun keluar dari kamar hotel nya dan menuju ke restoran yang tidak jauh dari kamar nya.
" bagaimana intan apa dia sudah mengangkat telpon lo? " tanya revan dan heri
" intan gak mengangkat telpon gue"
" lo sabar jangan terlalu di pikirkan nanti lo telpon lagi kalo selesai makan"
" gue gak bisa sabar. her ini urusan hidup dan mati istri gue, dia sendirian di rumah dalam keadaan perut yang begitu besar her"
" iya gue tau di posisi lo" ucap revan " sudh kita makan dulu aja"
mereka pun menyantap makanan yang di hidangkan. saat mereka sedang asik menikmati makanan nya Sintia menelpon revan
" kamu lagi dimana dan lagi apa? " dengan suara seperti sedang gugup
" aku lagi makan sama heri dan raga! memang nya kenapa? "
" intan beb... intan"
" kenapa? " raga tidak mau menyebut nama. intan dia tau pasti raga akan khawatir kalo mendengar nama istri nya
" intan masuk rumah sakit dia pendarahan, suruh raga pulang sekarang "
" pulang? kamu tahu kan di sini di Kalimantan bukan di jakarta beb kalo pulang gak bisa secepat yang kamu mau, harus pesan tiket pesawat dulu belum lagi kalo pesawat nya ada perubahaan jam terbang"
" udah lah kamu gak usah banyak alasan beb bilang aja cepat kalo intan lagi kritis, awas kalo kamu tidak bilang aku akan marah sama kamu"
__ADS_1
" iya sayang " revan pun langsung mematikan telpon nya
" kenapa Sintia? " tanya raga " ada kabar apa?"
" kita habiskan makan nya dulu aja" ucap revan dengan suara berat
perasaan raga langsung tidak enak mendengar suara berat revan
" gue udah selesai " ucap raga sambil menaruh sendok dan gerpu nya. revan hanya melirik ke arah raga.
beberapa menit kemudian revan, raga dan heri selesai makan nya.
" baik.. " raga memulai pembicaraan nya
" ada apa Sintia menelpon? " tanya raga
" sintia tadi bilang kalo intan.... " belum selesai berbicara raga langsung memotong pembicaraan revan
" kenapa intan? kenapa istri gue" tanya raga yang mulai khawatir
" intan masuk rumah sakit dia pendarahan"
" pendarahan? " ucap heri yang juga ikut kaget
" kenapa lo gak bilang dari tadi? gue harus pulang ke Jakarta sekarang, kalo sampai kenapa napa sama istri gue . lo harus tanggung jawab" ucap raga dengan wajah marah nya dan raga pun langsung pergi dari restoran menuju kamar nya sedangkan revan hanya terdiam melihat sahabat nya semarah itu dan heri juga bingung harus berbuat apa.
" baru kali ini gue melihat raga semarah ini sama gue" ucap revan kepada heri
" apa raga akan pulang ke Jakarta? "
" gue juga tidak tahu" ucap revan dengan wajah yang bingung harus berbuat apa kepada sahabat nya itu,
__ADS_1
sedangkan raga langsung mengemasi pakaian dan barang- barang nya ke dalam koper. setelah selesai membereskan dengan segera raga memanggil taksi untuk menjemput nya menuju Bandara