
Heri menatap tajam ke arah nya Deni dalam pikiran nya berkata " apa yang dia ucapkan itu serius, kalo Dewi mau di operasi di sana uang dari mata aku bayar nya sedangkan di rumah sakit sini aja harus ngutang sana sini " ucap Heri dalam hati
" apa yang kamu pikir kan kamu memikirkan masalah biaya? "
Heri mengangguk pertanda kalo dia sudah tidak ada uang lagi
" kamu sudah banyak berkorban untuk Dewi dan udah jadi kakak yang baik untuk nya! aku yang ingin Dewi sembuh , jadi aku yang akan urus masalah biaya nya"
"memang nya kamu tidak keberatan? biaya di sana pasti lebih besar di banding kan biaya di sini"
" aku ada sedikit tabungan yah ku rasa itu cukup . kalo memang masih kurang aku bisa jual mobil ku"
Heri kembali menatap wajah nya Deni . apa pendengaran nya masih normal apa benar yang dia ucap kan itu dia rela berkorban untuk Dewi.
" kamu jangan menatap ku seperti itu?
"kamu cuman kenal penyakit nya Dewi , tapi aku kenal hati nya yang sangat lembut dan aku menyukai nya " ucap deni
" buat berapa lama?"
" kenapa kamu khawatir sekali ? lebih baik dia bahagia setahun dari pada dia hidup kegersangan seumur hidup nya! apa matamu yang ahli itu belum melihat bagaiman dia bahagia nya akhir akhir ini setelah dia mengenal cinta ? kamu cukup percaya sama aku saja dan aku juga gak akan ingkari perkataan ku.. mana mungkin aku tega permainkan wanita seperti Dewi! tugas kamu sekarang cukup bujuk Dewi agar dia mau berangkat ke sana"
"mungkin saja ucapan deni benar tapi mungkin saja itu cuman omong kosong" ucap Heri dalam hati
" nanti akan aku usaha kan bicara sama ibu dulu" ucap Heri dengan nada rendah
di saat mereka asik ngobrol revan, raga , Sintya dan intan datang
" kak..? " sapa Sintya sambil senyum senyum jail kepada Deni
" her registrasi sudah gue lunasin" ucap e
Revan
" makasih gan" ucap Heri sedikit malu
ternyata bernar apa yang di pikirkan Deni kalo Heri sudah tidak ada tabungan lagi
__ADS_1
"bagaimana keadaan adik Lo?" tanya raga
" yah seperti itu lah dokter selalu beri saran agar Dewi di operasi"
"kalo dokter menyarankan operasi kenapa tidak segera di operasi"
" ibu yang takut kalo Dewi harus di operasi lagi"
"hhm gue dapat tiket dari claen ke Amerika jadi gue mau nya Dewi di bawa ke Amerika dan di operasi di sana mungkin di sana alat nya lebih lengkap"
"gue setuju dengan Deni" ucap Revan
"iya nanti gue bicara sama ibu dulu dan juga bujuk Dewi nya apa dia sanggup menempuh perjalanan sejauh itu"
lain hal nya dengan mamah nya deni yang sedang di dalam ruangan bersama ibu nya Dewi .
" saya ibu nya Deni" ucap mamah nya kepada ibu nya Dewi
" terima kasih sudah repot repot jenguk anak saya"
" iya tidak apa apa, semoga Dewi cepat sembuh dan kamu harus kuat jangan berkecil hati ya" ucap mamah nya sambil memegang tangan Dewi
mamah nya Deni yang sedang di dalam mendengar suara seperti banyak orang di luar dia juga memutus kan untuk keluarn siapa tahu aja keluarga yang lagi sedang menunggu untuk menjenguk Dewi . manun saat keluar yang di lihat nya adalah anak dan mantu nya.
" mamah??" ucap Sintya senang melihat mamah nya juga jenguk Dewi
" kamu ngafain? kalian kenapa keluar malam ingat perut kalian " tanya mamah nya yang melihat intan dan Sintya dengan perut yang sudah mulai membesar namun tetap keluyuran bahkan mereka cuman menggunakan baju dres tanpa lengan dan mereka juga tidak membawa jaket
"Tante.." sapa intan
"ini adik nya teman Revan mah!"
"berarti kakak kamu suka sama adik teman Revan?"
"iya..kok kamu gak bilang sih sama mamah"
"Tia juga tahu nya baru, kak Deni tuh yang gak bilang bilang" ucap Sintya sambil memanyunkan bibir nya
__ADS_1
"iya emang tuh kakak kamu? terus kenapa kalian gak bawa jaket ini malam terus kalian jalan pakai baju pendek .. hati hati nanti masuk angin "
" iya mah "
"iya Tante aku lupa bawa jaket "
raga yang mendengarkan ucapan mamah nya Sintya mengenai kesehatan intan raga langsung melepas kan jaket nya dan langsung menutupi ke badan intan .
" pakai ini nanti kamu masuk angin" ucap raga
" makasih ya sayang" ucap intan
Sintya yang melihat perhatian raga ke intan dia juga memberi kode kepada Revan agar Revan melepas jas nya. Revan tidak menggunakan jaket tapi dia menggunakan jas. namun revan langsung berpura pura tidak mengerti dia mengalih kan pandangan nya.
jam sudah menunjukkan pukul 22.00 Sintya sudah mulai mengantuk dan dia juga sudah gerisah karena merasa kenyamukan karena tempat mereka di luar dan juga dia pakai baju tanpa lengan
" kamu ngantuk sayang?" tanya Revan sambil mengelus rambut nya Sintya
"iya kita pulang yuk.. badan aku udah bentol bentol kerena nyamuk "
"coba aku lihat" Revan mengraih tangan Sintya memang benar tangan nya sudah bnyak gigitan nyamuk .
"kamu pakai ini ya" ucap Revan memberikan jas nya kepada Sintya
" kenapa gak dari tadi tadi " ucap Sintya kesal
" aku malu sama raga nanti di kira nya aku nurutin dia " bisik Revan
"hhm kamu lebih mikirin gengsi kamu ketimbang aku"
mereka semua pun berpamitan untuk pulang Deni juga berpamitan untuk pulang .
" aku pulang dulu ya besok nanti. aku akan kesini lagi " ucap Deni pada Dewi
ibu nya Dewi yang di samping sebelah kiri nya hanya menatap Deni
"apa dia serius?" pikir ibu nya dalam hati
__ADS_1
"Bu ijin kan saya bersama Dewi, ijin kan saya merawat nya" Deni meminta ijin kepada ibu nya dan ibu nya Dewi mengangguk