
masih dengan Deni dan Bella
" apa kamu menyukai cewe itu?" tanya bella
" siapa? Dewi maksud kamu?"
"hhm iya"
"aku belum tau apa aku suka atau bagaimana tapi yang jelas semenjak kami bertemu tempo dulu aku merasa kesihan melihat dia rasa kesian itu membuat aku ingin mengenal nya lebih jauh, aku selalu berusaha mencari info dia mau cari tahu nama nya"
"oh kesian... " ucap Bella kesal " kesian dan suka itu beda tipis biasa orang berawal dari kesian,suka dan akhirnya jadi cinta"
"yah mungkin " sahut Deni singkat
"kalo memang iya bagaimana dengan aku? apa kamu cuman permainan perasaan ku?"
"memang nya kita ada hubungan apa? bukan nya selama ini aku tidak pernah menembak Kamu atau pun ungkap kan perasaan aku ke kamu"
" gampang banget kamu bicara seperti itu" sahut Bella sengit dengan nada tinggi " asal kamu tahu ya kalo memang kamu dengan wanita itu bakalan jadi perawat nya seumur hidup nya bagaimana pun dia tetap jadi wanita lemah yang hanya berkegantungan dengan orang lain? coba kamu pikirkan lagi apa lebih nya cewe itu"
"apahhh... berani sekali kamu bilang dia seperti itu? dia memang cewe lemah tapi dia lebih baik dari kamu! jaga ucapan kamu" sahut Deni kesal saat mendengar ucapan bell seperti itu. Deni pun langsung melajukan mobil nya menuju rumAh nya Bella
"kok pulang? bukan nya kita mau ke mall" tanya bella saat melihat perjalanan ke arah rumah nya
"tidak jadi aku sudah tidak mood kamu pulang aja"
beberapa menit akhir merek sampai di depan rumah nya bella. Bella pun langsung turun dari mobil Deni sebelum masuk ke dalam rumah Bella masih membahas Dewi
"sifat kamu seperti ini berarti kamu benar benar lebih memilih dia"
"sudah lebih baik kamu masuk saja terus istirahat aku pusing lagi gak mau bahas apa apa"
lain hal nya dengan Heri sepulang dari ruangan Sintya dia di panggil lagi oleh dokter untuk menemui dokter di ruangan nya
"permisi.. ada apa dok? "
"silahkan duduk mas"
"baik terima kasih "
"bagaimana apa mas dan ibu sudah memikirkan untuk keputusan operasi nya Dewi"
"shhmm saya masih belum ada uang nya dok dan ibu saya juga keberatan kalo Dewi harus di operasi lagi"
"tapi penyakit nya akan semakin parah kalo hanya kita diam kan! kesian dengan Dewi nya yang akan selalu merasakan sakit "
"hhmm" Heri terdiam tidak bisa berkata apa apa setelah mendengar ucapan dokter nya
__ADS_1
"saya cuman bilang gitu aja tapi menurut saya itu jalan terbaik untuk.dewi"
"iya dok saya berterima masih nanti saya pikirkan lagi "
-----🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷----
keesokkan hari nya pagi sekali Deni sudah bersiap siap dia begitu wangi dan begitu rapi namun tidak menggunakan baju kantor nya .
"eh... eh... mau kemana kamu?" tanya mamah " wangi banget lagi"
"aku mau jalan"
"jalan? memang nya kamu gak kerja "
"enggka mah hari jni Aku ijin "
"kamu kerjaan nya jalan melulu jalan gak jelas sampai sampai kamu berani ijin kerja! jalan sama siapa?" ibu nya kembali ngomel melihat tingkah anak lelaki yang satu ini
" mamah kok cerewet banget " sahut Deni sengit " aku ini gak jalan. aku mau jenguk teman aku yang lagi sakit"
" lagi sakit? rumah sakit mana? mau jenguk teman kok kamu wangi banget kaya lagi mau ketemu cewe aja ?"
"mah... kapan sih mamah gak bawel sama aku? aku mau jenguk teman aku dia satu rumah sakit sama Sintya"
"hhm kalo begitu kebetulan dong mamah sekalian itu jenguk adek kamu"
"gak ada tapi tapi an mamah sudah siap nih" terlihat mamah nya yang sudah siap dengan tas nya. Deni pun tidak bisa menolak nya lagi
"hhmm" Deni menarik napas panjang nya sambil berjalan menuju mobil yang di ikutin mamah nya dari belakang
di perjalanan mobil nya Deni berhenti di toko Bungan
"mah tunggu sebentar" ucap Deni dengan segera membuka pintu mobil nya
tidak cukup lama dia memilih milih bunga di toko itu akhirnya di keluar dengan membawa satu buket bunga mawar yang terlihat indah
"bungan? untuk siapa?" tanya mamah nya yang kembali bertanya
"kan udah aku bilang mah mau jenguk teman "
"jenguk teman kok ngasih bunga? mamah jadi penasaran"
"memang nya salah ngasih bunga kan aku ngasih bunga gak maksud apa apa cuman buat maksud supaya dia tetap semangat "
"oohh.. hhmm mamah boleh gak ikut ke ruangan teman kamu dulu sekalian kenalin "
"gak... kata nya mamah cuman ikut mau keruangan Sintya kok malah ikut sama aku juga"
__ADS_1
"yah gak papa "
"gak nanti aja kalo dia sembuh baru aku kenalin kalo sekarang takut dia malu sama mamah"
"hhm ya udah deh.. tapi beneran ya nanti kenalin"
" iya.."
mereka pun sampai di rumah sakit. saat Deni masih mengatur parkiran mobil mamah nya sudah duluan turun dan pergi ke ruangan Sintya
"mamah duluan ya"
"iya..."
Deni pun berjalan menuju ruangan nya Dewi dengan membawa bunga di tangan nya. sambil di lihat lihat nya siapa tau Dewi sedang berada di taman. namun Deni tidak menemukan dewi. itu arti nya Dewi berada di ruangan nya
"hallo" sapa Deni dari depan pintu ruangan nya
Dewi masih berbaring setengah duduk di ranjang ketika deni masuk
dewi hampir tidak percaya matanya ketika melihat siapa yang datang. sekejap tadi di kiranya dia sudah berada di Akhirat.
mata nya langsung bersinar gembira dan dia sudah bergerak bangun jika ibunya yang sedang duduk di dekatnya tidak cepat cepat mencegah
" astaga dewi" ucap nya kaget" kamu mau apa?"
ibu nya malah lebih terkejut lagi melihat tatapan Dewi yang sedemikian berseri-seri tak pernah di lihat nya pancaran bahagian yang begitu cerah di mata anak nya.
dan dia juga kaget saat dia menoleh ke belakang ternyata ada lelaki tampan berdiri di ambang pintu . hampir tidak bisa di percaya! Dewi punya teman yang begitu rupawan? biasanya anak kecil pun segan berteman dengan dia
senang sekali bisa bertemu kembali" desah dewi dengan napas terengah " jantung saya hampir berhenti berdenyut" ucap nya
" dewi." cetus ibu nya
" jangan " ucap Deni santai
dengan tenang Deni melangkah ke samping tempat tidur " selamat pagi Bu" sapa deni
ibu dewi tidak menjawab dia hanya mengangguk dan menyilahkan deni duduk.
"ini Bungan buat kamu"
"terima kasih ya"
mereka ngobrol cukup lama sebelum deni pamit dan saat sebelum deni meninggalkan nya dewi memohon dengan sungguh sungguh
" kalau saya masih hidup apa kita masih bisa bertemu lagi?" .
__ADS_1
sejak pertama kali Deni melihat Dewi Deni sudah tertarik kepada matanya yang selalu bersorot lembut dan sejuk. mata yang tidak pernah menyimpan kemarahan dan dendam . mata yang selalu membangkitkan rasa iba. sebentar alasan nya menemui dewi cuman itu cuman rasa kesian