
malam ini intan pergi sendiri ke minimarket yang di dekat hotel . di sana dia mencoba membeli tes kehamilan. tak menunggu lama sampai nya di kamar hotel langsung di tes nya. apa hasil nya garis satu atau dua.
tidak cukup lama hasil nya sudah kelihatan dan benar hasil dua garis merah. bagi seseorang yang sudah berkeluarga garis dua itu adalah rejeki yang amat besar namun bagi orang seperti intan yang masih belum berkeluarga itu tidak tahu jadi rejeki atau masalah yang amat besar. saat ini intan benar benar tak habis pikir kenapa semua bisa terjadi . dalam permasalahan ini yang ada di pikiran nya " bagaimana ngasih tahu orang tua nya dan apakah Edo mau menikahi nya? " cuman itu yang ada di pikiran nya. orang tua nya pasti akan benar benar marah kepada nya . cukup lama intan termenung dan menangis di dalam kamar mandi .
tok..tok..tok... terdengar suara ketukan pintu dari luar
" Tan Lo ngafain? kok lama banget" teriak Bella dari luar
" umm gak papa " sahut intan dengan suara habis menangis
" Lo nangis ya?" tanya bella " coba buka pintu nya dong, Lo ada masalah apa? "
"gue gak kenapa Napa! Lo jangan khawatir" ucap intan dengan menghapus air mata nya " gue kesini ingin senang senang buat hilangin masalah tapi ternyata gue malah dapat masalah besar" ucap intan dalam hati dengan air mata yang terus keluar. rasa nya dia benar benar tidak sanggup dengan masalah yang satu ini .
" gue mau ke kamar pacar gue" ucap intan dengan muka menunduk . sebisa mungkin dia menutupi masalah nya agar orang lain tidak tahu
" Lo kenapa? Lo nangis ?" tanya bella yang penasaran
" gue gak papa" ucap intan datar dan langsung meninggalkan Bella
intan langsung menuju kamar nya Edo kamar no 105
tok...tok...tok... intan mengetok pintu nya dengan keras
Edo langsung membuka pintu nya " ada apa sayang? kamu mau apa? " tanya Edo lembut
tanpa berkata apa apa intan langsung masuk ke dalam kamar Edo air mata intan sudah tidak bisa di tahan dia terus terusan menangis
__ADS_1
" kamu kenapa ?" tanya Edo yang mengangkat wajah nya intan
" kita....harus... menikah ...hiks..hiks.. " ucap intan terbata bata sambil menangis
Edo yang mendengar perkataan intan langsung tidak bisa menahan emosi nya darah nya terasa langsung naik " harus berapa kali sih aku bilang sama kamu" ucap Edo dengan suara keras .
intan terus menangis " pokok...nya..hiks.. kamu harus nikahin aku" ucap intan yang juga tidak kalah keras
" aku belum siap.. aku gak mau menikah karena terpaksa dan aku gak mau asal menikah gak mikir panjang dulu. banyak claen claen aku menikah cuman karena cinta atau apa tidak memikir panjang dan akhirnya bercerai.. aku gak mau seperti itu dan untuk saat ini aku masih belum benar benar siap.. kalo kamu ingin cepat cepat menikah silahkan kamu cari yang lain.. aku gak menghalangi kamu aku akan ikhlas lepas kamu" ucap Edo
perkataan Edo benar benar membuat intan sakit hati membuat nya benar benar tersinggung. intan langsung menampar wajah Edo dengan keras " dengan seenak itu kamu bilang? aku selama ini tetap setia menunggu kamu! semua nya apa mau kamu aku berikan tapi setelah aku minta nikahi kamu malah suruh aku sama orang lain? apa kamu tidak pernah untuk memikir? " ucap intan dengan menangis
Edo tidak berkata apa apa lagi dia juga terdiam antara kesal karena tamparan dari intan dan juga bingung harus bagaimana saat ini dia benar benar tidak siap untuk menikah masih banyak cita cita yang belum dia dapat.
" aku... hamil..." ucap intan dengan mengeluarkan hasil tes nya
tamparan ke dua kembali mendarat di pipi nya Edo " kamu tanya aku dengan siapa?? kamu pikir aku cewe apa? apa kamu tidak merasa bersalah dengan ku? " tanya intan dengan suara yang tak kalah keras nya
"itu cuman sekali... dan itu juga tidak kesengajaan gak mungkin cuman satu kali langsung jadi... semua itu terjadi tidak sepenuh nya salah aku" jawab Edo
4 bulan yang lalu mereka ada acara ulang tahun teman nya Edo di Bandung. karena bujukan teman teman membuat mereka mabuk tak sadar kan diri. mereka menginap satu kamar jadi hal yang tidak di ingin kan malam itu terjadi
" jadi kamu tetap anggap aku sama cowok lain ?kamu gak mau menghadap orang tua ku? kamu gak mau bertanggung jawab " ucap intan dengan nada datar
" aku masih gak percaya "
" ini bukti nya " intan langsung melempar bungkusan tes itu ke wajah nya Edo " kalo kamu gak mau bertanggung jawab gak mau menemui orang tua aku, oke aku gak papa"
__ADS_1
" bagaimana kalo kita aborsi ? " ucap Edo dengan seenak nya
" kamu gila... " teriak intan emosi nya semakin menjadi jadi saat mendengar Edo bicara seperti itu " kamu sudah tidak mau tanggung jawab terus kamu mau bunuh anak ini hah? anak ini gak bersalah yang bersalah itu kita kita yang harus bertanggung dengan semua nya"
" tapi aku gak siap... apa lagi harus menjadi ayah.. aku gak siap" teriak Aldo sambil mengacak ngakak rambut nya
" baik kalo begitu.. mulai sekarang kamu jangan temui aku lagi jangan pernah cari anak ini lagi .. aku masih bisa hidup tanpa lelaki pengecut kaya kamu " intan langsung beranjak dari duduk nya dan ingin berlari namun tangan nya langsung di renggut Edo
" pulang dengan ku malam ini" ucap Edo pelan
" loe aja yang pergi jauh jauh dari hidup gue... gue udah gak mau liat Lo" ucap intan dengan kasar dan langsung meninggalkan Edo
tanpa di suruh dua kali Edo langsung mengemasi barang barang nya dan malam itu juga Edo langsung balik .
intan langsung menuju kamar nya Sintya
" tok..tok...tok... intan mengetuk kamar nya Sintya
" sin...." ucap intan langsung menangis dalam pelukan Sintya
Revan dan Sintya langsung heran melihat tingkah nya intan " siapa yang bikin intan nangis, apa Edo atau raga" itu yang ada di dalam pikiran Revan
" Lo kenapa?" tanya Sintya yang penuh dengan rasa iba " kaya nya Lo punya masalah besar akhir akhir ini "
intan tidak menjawab dia terus menangis.. dia masih merasa tidak siap ingin cerita dengan orang
" jangan bertanya dulu, tenang kan dia, aku mau ke kamar raga dulu" bisik Revan sama Sintya
__ADS_1
---BERSAMBUNG-----