
raga langsung membawakan buah buahan yang dia beli di supermarket tadi .
" banyak banget buah buahan nya, buat siapa?" tanya heri
" ya buat intan lah masa buat Lo!" sahut raga sinis " intan kan habis muntah otomatis perut nya kosong lagi jadi supaya perut nya gak kosong dia harus makan buah " ucap raga sambil mengupaskan apel
" hhm laki yang baik" sahut Revan
" ya dong.. gak kaya Lo berdua lebih mentingin pekerjaan ketimbang istri "
"asal aja Lo ngomong" ucap Revan kesal
"sorry... nih buah nya" raga mengasihkan buah kepada intan
" Lo mau sin?'' intan menawari Sintya
" gue pengen yang rujak aja"
" sayang .. itu punya intan nanti kita beli aja ya" Revan langsung menolak keinginan istri nya
" tapi aku pengen nya sekarang" ucap Sintya manja
" ya udah kita makan bareng aja! dini juga sini" ucap intan
mereka pun memakan rujak nya rame rame
" oh ya Din gimana kabar di kantor? "
" hhm kamu kenapa gak nanya suami kamu kan suami kamu juga di kantor situ" ucap Revan sebal
" iya memang di kantor situ tapi kamu mana tau urusan staff! gimana kabar Bella dan raga! gue kangen mereka gue lama gak masuk kantor"
" yah mereka baik! yah seperti biasa mereka selalu berantem" ucap dini sambil tertawa
" hhm kangen mereka apa kangen Hendra ?"tanya Revan geram
" ih apaan sih kamu" sahut Sintya sebal
" tuh arti nya Revan cemburu" sahut Heri yang sok tau
" enggak biasa aja! ngafain gue cemburu dengan Hendra masih Bantengan gue kali" ucap Revan kesal
" ih kamu kaya anak kecil" ucap Sintya kesal
" iya sayang maaf" Revan langsung membujuk Sintya
" Lo itu masih kaya anak kecil" sahut Raga asal
" kamu diam" intan langsung menyuruh raga dia agar suasana tidak memanas
"hehe maaf" raga langsung cengar cengir
saat mereka asik menikmati rujak ternyata telepon nya revan berbunyi dan di lihat nya di layar siapa yang nelepon namun tanpa nama nomor baru yang masuk .
" hallo" ucap Revan
" hallo" terdengar suara perempuan. Revan seperti mengenali suara itu dan dia langsung menjauhkan diri dari Sintya dan teman teman nya
__ADS_1
" sebentar " ucap Revan yang langsung beranjak dari duduk nya. Sintya yang melihat nya merasa heran dan bertanya tanya siapa yang menelepon Revan tidak biasa nya Revan mengangkat telepon menjauh dari diri nya. terlihat dari wajah Sintya menahan kecurigaan kepada Revan. tak cukup lama Revan bertelepon dan dia kembali.
" siapa? cewe " tanya Sintya dengan mata yang sangat tajam
" hhmm claen " ucap Revan yang sedikit gugup
" claen! kenapa harus menjauh? " tanya Sintya yang terus menatap Revan
" takut berisik disini " ucap Revan yang sedikit ragu dengan ucapan nya
"claen siapa?" tanya Heri
"kamu jangan ikut bertanya " tegur dini takut Revan dan Sintya jadi masalah
" nggak bukan nya begitu kalo clean pasti antara kami bertiga kenal" bisik Heri yang ada benar nya juga. memang kalo masalah pekerjaan Revan pasti share kepada raga dan Heri
Revan langsung mengalihkan pembicaraan nya " Lo gak balik ke kantor ?"
" Sintya tahu betul kalo ada yang di sembunyikan Revan dari nya "
" Nih kita mau ke kantor " ucap dini karena dini merasa tidak dengan dengan Sintya yang muka nya berubah
" kalo begitu kita juga mau pulang " ucap intan
" iya" sahut Sintya datar
mereka semua pun langsung pamitan untuk pulang
" kita pulang ya, kamu jangan marahan " ucap intan sambil memeluk Sintya
" kami pulang ya" ucap dini yang juga memeluk Sintya . dini jadi berubah begitu baik dan akrab dengan Sintya
"gue pulang bro" ucap raga yang sudah di dalam mobil
mereka pun langsung melajukan mobil nya dengan kecepatan standar .
" kita langsung pulang?" tanya raga
" iya aku udah capek kita langsung pulang aja"
" gak mau beli makan dulu"
" enggak.. kan kamu tadi sudah beli makanan banyak"
" ya udah... sini ponsel kamu"
" buat apa"
" sini aja ponsel kamu aku pinjam sebentar"
intan pun mengasih kan ponsel nya. raga memasukkan nomor telepon dan dan memiscall ke ponsel nya
" itu nomor aku, kalo kamu ada perlu apa apa atau pengen apa kamu bisa hubungi aku"
" tapi ... "
" kenapa" tanya revan tajam
__ADS_1
" apa aku gak bikin repot kamu?"
" kalo.untuk kamu aku gak merasa di tepotkan kamu ngerti kan, waktu Akau akan selalu.ada buat kamu aku akan selalu Jagan kamu dan anak kamu"
" makasih ya" ucap intan sambil tersenyum lebar menatap raga
"kamu tidak perlu berterima kasih kaya gitu " ucap raga sambil mengelus kepala nya intan
mereka pun tiba di rumah nya intan
" kamu masuk aja duluan aku yang akan bawakan belanjaan nya ke dalam"
"aku bisa bawa sendiri" ucap intan ingin mengambil belanjaan yang raga pegang
" tidak usah biar aku yang bawakan dan sekalian pamitan pulang dengan mamah dan papah"
" pah mah..." panggil intan
"eh kalian sudah pulang " ucap mamah nya intan
"iya .. raga mau pamitan pulang"
" langsung pulang aja.. gak makan dulu?" tanya papah nya intan
" iya langsung pulang aja tadi udah makan" sahut raga samb bersalaman
" makasih ya.. hati hati di jalan " ucap intan
"iya.. " raga pun langsung pulang kerumah nya dengan kecepatan tinggi . sesampainya di rumah nya terlihat di dapur ada ibu nya dan kakak. ipar nya .
" ibu lagi apa?"
" lagi masak.. tumben kamu pulang cepat kenapa?"
" raga gak masuk kantor"
"kenapa? kamu sakit?"
"enggak .. tadi raga antar intan periksa "
" oh karena wanita itu " ucap ibu nya raga dengan nada terdengar geram
" maksud ibu apa.. bicara seperti itu? memang nya kenapa kalo raga bawa intan periksa gak boleh?"
" bukan seharus nya kamu yang bawa dia periksa tapi lelaki yang hamili dia, " ucap ibu nya kesal
" tapi intan calon istri raga"
" belum juga jadi istri sudah susahin orang " ucap kakak ipar nya raga kasar
"jaga mulut lo, Lo yang di sini nyusahin orang" sahut raga yang tak kalah pedas dengan Kaka ipar nya
" memang bisa nya nyusahin aja, memang perempuan gak benar "
"Lo yang perempuan gak benar.. seharus nya Lo juga sadar siapa Lo sebelum nya . yang jelas intan lebih baik dari Lo . bukan kaya Lo cewe bermuka dua.. yang gue heran kenapa Abang gue mau sama Lo"
" sudah.. sudah..." ucap ibu nya raga
__ADS_1
" kalo kalian gak bisa terima istri saya bilang dari sekarang " ucap raga yang begitu kesal