
Bapak silahkan masuk, bapak revan sudah menunggu bapak di ruangan nya"
"ruangan revan dilantai berapa ?" tanya deni
"nanti di antar sama scurity " ucap resepsionis itu
Deni pun langsung di antar ke scurity ke ruangan nya revan, deni berpapasan sama bella, bella terheran-heran dengan kehadiran deni
langkah deni berhenti di hadapan bella
"apa kabar?" deni menyodorkan tangan nya kepada bella
"ba..baik.." bella terbata-bata saat menjawab sapaan deni
"syukur lah" ucap deni lagi
" ngapain kesini, kok tumben?" tanya bella
"ada yang ingin di bicarakan sama revan, revan ada di ruangan nya?" tanya deni
"oh ada" jawab bella
"ya udah nanti kita ngobrol lagi aku mau ke ruangan sintya dulu" ucap deni
"iya.." jawab bella
Deni pun berlalu meninggalkan bella
"deni kesini apa ada sangkut paut nya dengan masalah wati ya?" ucap bella dalam hati
"semoga aja gak kenapa-kenapa sama sintya" ucap bella
Deni sampai di depan ruangan revan
"tok..tok..tok.." scurity itu mengetuk pintu ruangan revan di depan ruangan nya bertulisan direktur utama, hanya orang tertentu saja yang boleh masuk ke dalam ruangan itu ya seperti raga dan hery dan sudah bebas masuk ke dalam ruangan selebih nya karyawan lain tidak bisa seenak nya masuk
"her tolong bukain pintu nya" perintah revan
dengan segera hery beranjak dari tempat duduk nya dan membuka pintu ruangan itu
"silahkan masuk" ucap hery mempersilahkan deni untuk masuk
"silahkan pak, saya tinggal dulu" ucap scurity itu kepada deni
"terima kasih pak sudah mengantar saya" ucap deni
__ADS_1
" sama-sama pak" scurity itu pun langsung pergi sedangkan deni masuk ke dalam ruangan revan
"silahkan duduk" ucap revan dan dia yang tadi nya duduk di kursi kerja nya lalu langsung beranjak untuk bergabung dengan deni, raga dan hery
"apa kabar" ucap raga yang menyapa deni
"baik " sahut deni.
Revan pun duduk di hadapan deni
"kita langsung saja, ada apa? Kemana adek gw" ucap deni
"duh.. Sabar bro kita santai dulu jangan langsung di mulai dulu, gue tadi memesan banyak makanan untuk kita semua nanti kalo pembicaraan nya sudah mulai malah hak nafsu makan" ucap raga dia mencoba menenangkan keadaan dulu
"apa masih lama makanan nya?" tanya heru
"gak kok ini sudah di jalan dan sebentar ladi akan datang" raga menjawab pertanyaan hery
"iya kita tunggu makanan dulu" ucap revan juga. Padahal sangat terlihat jelas dari wajah revan dia memasang wajah khawatir dan takut
"oke " jawab deni
beberapa menit kemudian makanan pun datang
Tok...tok..tok.. Terdengar suara ketukkan dari luar
" makasih ya, ini uang nya dan tidak lupa raga memberi uang lebih untuk yang mengantar makanan itu
"makasih lak" ucap lelaki itu
"iya"
Raga membawa 6 kantong yang semuanya berisj makanan dan minumana
"gila banyak banget yang loe beli" ucap revan
"tenang loe van.. Hari ini gue yang teraktir, jadi loe makan aja " sahut raga
revan pun hanya terdiam dengan kelakuan temannya
"kita harus perlu banyak makan hari ini untuk menghadapi semua masalah nya revan" ucao raga menyindir revan
mata revan langsung membulat setelah mendengar ucapan sahabat nya.
ke empat lelaki tampan itu langsung menikmati makanan yang sudah terhidang di atas meja, biasa nya mereka menikmati makanan sambil berbincang-bincang cerita-cerita tapi lain dengan hal ini mereka menikmati makanan nya dengan tidak banyak bicara takut. Heri ingin memulai bicara tapi dia takut salah omong
__ADS_1
Beberapa menit kemudian mereka sudah menghabiskan semua makanan nya
"sekarang loe jelaskan van, kemana sintya " ucap deni
" gua bingung harus mulai cerita dari mana" jawab revan
"ya cerita aja yang mulai loe selingkuh van" sahut raga dengan memasang muka santai
" apa revan selingkuh?" tanya deni menanyakan ucapan raga
"gak kaya gitu cerita nya" ucap heri ingin menenangkan deni dulu
" loe jangan ikut ngomong dulu" bisik heri kepada raga
"sudah jangan banyak alasan, kemana sintya? ada masalah apa sampai sintya kabur dari rumah?"
"iya ini memang kesalahan gue, gua minta khilaf.. Khilaf" ucap revan sambil menundukkan kepala nya
"loe beneran selingkuh?" tanya deni lagi
"gue gak ada niat selingkuh dari sintya, gua sayang banget sama sintya, tapi waktu itu waktu gua di kalimantan gua melakukan dosa besar terhadap sintya, gua terbawa nafsu membuat gua khilaf mengkhianati pernikahan kami.. Gue minta maaf" ucap revan
"siapa wanita yang sudah loe tidurin?" tanya deni lagi
"wati, dia asisten gua di sini " jawab revan
"lalu mana wanita itu? Apa dia masih bekerja di sini?" tanya deni lagi
"dia sudah di cepat revan" ucap raga
"apa kamu tidak mau bertanggung jawab dengan wanita itu van? Gak menyangka gua loe sebejat itu jadi laki-laki"
"semua bukan salah gua, dia yang selalu datang ke kamar gua dengan pakaian seksi dan dia juga yang selalu memulai menggoda gua, gua gak ada rasa dengan dia" ucap revan
"memang nya loe ke luar kota hanya berdua?" tanya deni lagi
" iya gua cuman berdua.. Karena si dua kampret ini yang gak bisa di ajak kesana, dengan alasan nya macem-macem" ucap revan
heri dan raga langsung mengalihkan wajah nya saat di tatap deni.
"gak mungkin dong gue ikut marahin heri, kalo gue marahin heri bisa-bisa gue yang gagal nikah sama dewi" ucap deni dalam hati nya
"gue juga gak tau harus cari sintya kemana, nomornya masih gak aktif" ucap deni
"itu yang masih gue pikirkan, pasti sintya sangat kecewa sama gue, loe sebagai kakak nya sintya gue banyak-banyak minta maaf sama loe" ucap revan
__ADS_1
"udah lebih baik kita cari dulu sintya nanti masalah selanjutnya biar keputusan di tangan sintya" jawab deni .
walau pun sintya adek kandungnya tapi dia tidak mau hanya membela sepihak dan itu juga masalah rumah tangga revan dan sintya dia tidak ingin lancang untuk langsung mengambil keputusan untuk adek nya