
metting pun selesai Revan, raga dan Heri pun kembali ke ruangan nya. Revan bergeas gegas untuk pulang karena dia sudah janji dengan sintya.
"Lo berdua urus di kantor ya gue mau pulang cepat hari ini" ucap Sintya
"mau kemana lo"?" tanya raga dengan kepo nya. yah bagaimana tidak kepo raga lagi ngantuk ngantuk nya harus di suruh kerjain banyak kerjaan.
"istri gue minta gue pulang" ucap Revan
tiba tiba pembicaraan mereka terhenti karena ponsel nya Heri berbunyi
Heri langsung menjauhkan diri dari mereka berdua. di lihat nya di layar ponsel ibu nya nelpon
"hallo.. ada apa Bu?" tanya Heri lembut kepada ibu nya
" adik kamu her..." ucap ibu nya dengan suara tangis nya
"kenapa dengan Dewi?" Heri juga ikut panik setelah mendengan suara ibu nya ( apa yang sebenar nya terjadi di rumah" )
"adik kamu pingsan muka nya memucat sekali her. cepat kamu pulang "
"baik Bu Heri akan langsung pulang " telepon pun terputus
"gue minta maaf gue harus pulang sekarang adik gue sakit harus di bawa ke rumah sakit" ucap Heri bilang kepada Revan dan raga
"apahhh.. Lo juga mau pulang?" tanya Revan dengan suara tinggi dan melotot sampai mata nya hampir keluar . " kenapa setiap gue ada perlu dia antara Lo berdua juga selalu ada keperluan mendadak .. kalo Lo berdua udah gak sanggup kerja di sini silahkan angkat kaki " ucap Revan kesal .
hari ini hari paling bikin Revan kesal pertama istri nya yang manja selalu minta dia untuk pulang yang ke dua bawahan nya yang seenak nya untuk kerja. . sebenarnya nya atasan itu siapa sih??
" tapi ini gue benar benar penting ini bersangkutan dengan nyawa adek gue.. terserah Lo kalo Lo mau pecat gue gue terima tapi gue gak bisa kalo Lo tetap minta gue untuk kerja hari ini.. karena masalah gue begitu penting. antara hidup dan mati adek gue" Heri pun lngsung meninggalkan ruangan itu
"aghhhh... " teriak Revan sambil mengacak ngacak rambut nya" gue bisa gila hari ini"
"aghh gue ngantuk " ucap raga sambil menguap
__ADS_1
Revan yang melihat raga langsung menyambar nya " apahh Lo mau pulang juga? kalo Lo mau pulang bawa barang barang Lo dari sini! dasar jadi karyawan di baikin malah semakin melunjak " ucao Revan dengan suara tinggi .
semua Karyawan disana tidak ada yang berani berbicara walau hanya sekata. semua nya hanya menunduk pokus ke pekerjaan mereka masing masing.
beberapa menit kemudian Heri sampai di rumahnya dia langsung bergegas untuk masuk ke dalam rumah nya
"Bu.. " panggil Heri sambil berlari mencari ibu nya. dan akhirnya dia menemukan ibu nya yang sedang duduk menangis sambil memegang tangan adik nya. terlihat adik nya yang masih belum sadarkan diri dengan wajah nya yang begitu pucat sudah hampir menyerupai mayat.
"kita bawa ke rumah sakit" ucap Heri
"tapi her..." ucapan ibu nya terputus karen ibu nya tahu kalo bawa Dewi ke rumah sakit biaya nya tidak sedikit sedangkan tabungan Heri sudah tidak seberapa..
"sudah ibu jangan pikirkan masalah biaya dulu kita harus selamatkan Dewi dulu kalo masalah biaya saya bisa cari pinjaman dulu " ucap Heri yang segera menggendong adik nya .
sebenar nya ibu nya Heri juga kesian dengan anak sulung nya ini harus berkerja keras untuk biaya hidup dan pengobatan adik nya .
beberapa menit di perjalanan akhirnya mereka sampai di rumah sakit. dengan segera dokter dan perawat memeriksa keadaan dewi. Lucup lama dokter di dalam ruangan nya dan akhirnya keluar.
"silahkan kita bicara di ruangan saya" ucap dokter itu sambil berlewat
"kamu saja her yang keruangan dokter ibu tunggu di sini aja "
"iya bu" Heri pun langsung menuju ruangan dokter itu.
tok...tok...tok.. Bayu mengutuk pintu ruangan dokter itu
"silahkan masuk.."
" bagaimana dengan keadaan adik saya?" tanya heri
kondisi penyakit Dewi memang sudah semakin parah, dia sudah sulit sekali untuk beraktivitas. bahkan untuk melakukan aktivitas sehari hari aja bibir nya sudah membiru . dan sekarang dia malah sering pusing bahkan pingsan, kaki nya juga mulai bengkak dokter mengatakan suara jantung dan nafas nya sudah tidak teratur. obat obatan masih bisa menolong nya tetapi tidak ada yang tahu harus berapa lama umurnya bertahan.
ibu nya tidak ingin anak nya di operasi lagi dia takut dewi meninggal di atas meja operasi. dokter juga memberikan kesempatan kepada keluarga pasien untuk mempertimbangkan nya dulu.
__ADS_1
"apakah dokter tidak ada cara lain selain operasi?"
" kalo tidak di operasi saya tidak yakin apakah Dewi dapat bertahan" ucap dokter " tetapi operaai juga bukan tanpa resiko Dalam keadaan seperti ini, kansnya hanya 39 pasien
"baik dok saya bicarakan dengan ibu saya dulu " Heri pun keluar dari ruangan itu dengan muka tatapan kosong. dia bingung apa yang harus dia perbuat untuk adik nya sedangkan tabungan nya sudah habis sudah tidak bisa untuk biaya operasi.
"bagaimana her?" tanya ibu nya Heri yang ikut duduk di samping heri
"dokter beri Sarah agar Dewi harus di operasi karena kondisi nya sudah semakin parah! obat obatan masih bisa menolong tapi tidak ada yang tahu kapan Malaika maut menjemput nya " ucap Heri dengan tatapan kosong nya .
dia benar benar bingun apa yang harus dia lakukan?
ibu tidak mau kalo dewii harus operasi lagi, itu sama saja memberi nya tiket kematian"
"kata dokter resiko operasi kali ini lebih tinggi, keadaan dewi memburuk"
ibu nya hanya bisa menangis sambil memeluk heri. keadaan di situ haru tiba tiba ponsel nya Heri berbunyi di lihat nya dari layar ponsel dini yang nelpon
"hallo" ucap Heri lemas seperti orang yang tidak berdaya
"sayang kamu dimana? kenapa suara kamu kaya gitu?"
"aku di rumah sakit "
"kenapa? dini sakit lagi? "
"iya.. kamu hari ini pulang pakai taksi aja ya"
"iya.. kamu kalo perlu apa apa bilang sama aku ya dan jaga juga kesehatan kamu"
"iya makasih ya.. "
"dahh.." telepon pun terputus
__ADS_1