
sesampai nya di rumah Deni langsung mengantarkan Dewi ke kamar nya untuk beristirahat.
" Dewi kenapa" tanya ibu nya
" dia mungkin kecapean Bu habis jalan jalan" sahut Deni
" kamu pusing ?" tanya ibu nya sambil menyentuh kening nya Dewi
" iya.." sahut Dewi
" kamu istirahat dulu biar aku belikan bubur" ujar Deni
" eh gak usah.. ibu tadi sudah bikin bubur kesukaan nya Dewi, kamu istirahat juga.. nanti ibu bikin kan teh sekalian kita sarapan bareng"
" makasih Bu.. aku keluar dulu" Deni pun keluar dari kamar nya Deni dan menuju keluar untuk duduk di teras. namun di teras itu sudah terlihat Heri yang sedang duduk sambil melamun.
tanpa berbicara apa apa Deni duduk di sebelah nya Heri, tatapan Heri tetap pokus ke depan.
" kenapa dengan Dewi ?" Heri mulai memulai pembicaraan nya namun tatapan nya terus kedepan
" dia pusing "
" dia kecapean, dia belum sembuh jangan paksakan dia untuk jadi wanita normal, dia tidak bisa jadi yang kamu mau jangan terlalu sering ajak dia jalan jalan" ucap Heri
mendengar ucapan Heri Deni merasa geram " kenapa lelaki ini terus saja egois, dia bukan nya khawatir tapi dia melarang Dewi dekat dan bahagia dengan orang" ucap Deni dalam hati
" kalo kamu tidak bisa terima keadaan Dewi kamu bisa cari cewe lain"
" siapa bilang aku gak bisa terima dia, aku cinta dia apa ada nya,, jadi kamu tidak perlu repot repot urusi hubungan kami" sahut Heri sengit
" cinta? "
"iya... aku datang kesini juga mau bilang kalo minggu depan Dewi harus berangkat ke Amerika"
" Minggu depan? kenapa mendadak begini "
" ini tidak mendadak, kan saya sudah bilang dari kemaren kemaren saya urus keberatan nya, apa kamu lupa?"
" tapi uang saya belum ngumpul " ucap Heri dengan nada pelan
" aku yang akan ngantar dewi dan ibu ke sana, kamu jangan khawati"
__ADS_1
saat Heri dan Deni asik bicara ibu nya datang dengan membawakan segelas teh..
"ini teh nya.."
" makasih Bu! "
"apa yang kalian bicarakan seperti nya serius?" tanya ibu nya Heri
" gak ada yang serius " sahut Heri
" baik lah kalo begitu ibu masuk dulu"
lain hal nya dengan Revan .
hari ini dia harus menjaga Sintya yang merasa kurang enak badan di tambah lagi dengan perut nya terus terusan keram.
" kita periksa ya sayang .."
" gak mau...aku takut dengar kabar macam macam"
" tapi kamu sakit sayang.. aku gak tega liat kamu kayak gini.."
Sintya terus menolak ajakan Revan
" aku masih bisa menahan" ucap Sintya dengan suara lemah nya
" aku takut kamu dan anak kita kenapa kenapa"
" aku pengen teh hangat.."
" ya udah tunggu sebentar aku bikin kan "
saat Revan bikin teh ponsel nya revan berbunyi, Sintya ingin mengangkat nya namun dia tak bisa menahan perut nya yang keram.
tak lama Revan Masuk ke dalam kamar.
" tadi telepon kamu berbunyi"
" siapa yang nelpon ?"
" gak tau tapi mau aku angkat tapi perut aku sakit"
__ADS_1
" kamu jangan banyak gerak.. nih minum dulu Teh nya " ucap Revan sambil mengasih kan segelas teh hangat .
" makasih, "
" bunda yang nlpon sayang! ada apa ya?"
" telpon balik aja"
Tut..Tut..Tut.. Revan menelpon bunda nya
" hallo assalamualaikum Bun "
"Van kamu dimana?" tanya bunda nya dengan suara sedikit berbeda
" bunda kenapa? aku di rumah "
" Aldo masuk rumah sakit... "
" Aldo masuk rumah sakit" ucap Revan dengan nada kaget
" iya kamu cepat kesini ya"
" tapi Sintya juga sakit Bun"
"terus bagaimana? masa kamu gak khawatir dengan anak kamu"
" iya bun nanti aku ke sana"
telepon pun terputus
" Aldo sakit"
" iya ..."
" ya udah kamu Tio aldo aja"
" terus bagaimana dengan kamu sayang? kamu juga sakit "
" aku gak papa ada bi Inah yang jaga aku, sudah kamu temui aja nanti dia nunggu kamu"
" kamu beneran gak papa aku tinggal"
__ADS_1
"iya.."