Jodohku Seorang Duda

Jodohku Seorang Duda
114


__ADS_3

pagi yang cerah..


jam sudah menunjukkan pukul 6.30 matahari sudah mulai memasuki celah celah lubang dari jendela kamar nya deni, Deni merasakan pancaran matahari tepat di mata nya, membuat Deni terbangun, perlahan dia membuka kedua mata nya di raih nya ponsel nya yang terletak di atas meja. dengan mata yang masih sedikit mengantuk di tatap nya layar ponsel tiga panggilan tak terjawab.


" rupa nya dia benar benar menunggu " ucap Deni dengan suara garau bangun tidur nya, yang menelpon nya Bella, cuman Bella yang biasa nya menelpon sepagi itu apa lagi dia sudah ada janji sama Deni akan ke taman pagi ini pasti dia sudah menunggu deni


Deni pun beranjak dari tempat tidur nya dan pergi menuju kamar mandi. beberapa menit Deni di kamar mandi akhirnya dia sudah keluar dengan pakaian santai nya, celana panjang dan kaos oblong nya.


" mau kemna kamu? kan hari jni hari Minggu ?" tanya papah nya yang sedang menikmati sarapan


" mau jalan jalan aja pah" sahut Deni


" mau jalan jalan tapi kok kamu bawa kamera"


" oh kamera, iya jalan jalan sekalian cari tempat yang bagus buat kerjaan nanti"


Deni memang berkerja sebagai fotografer di salah satu perusahaan terkenal, biasa dia setiap hari Minggu selalu mencari tempat untuk foto.


" gak sarapan dulu?"


" ini mau sarapan" ucap Deni sambil mengraih secangkir teh dan roti tawar yang sudah belutin selai


" jalan jalan sama Dewi? "


" iya mah, sekalian bawa Dewi hirup udara segar"


"hhm kamu banyak berubah selama kenal dengan Dewi"


" berubah apa pah? aku biasa biasa aja"


" menurut papah kamu sekarang lebih dewasa aja dan gak keluyuran lagi, tapi papah pinta kamu jangn pernah permain kan Dewi"


" tenang pah permintaan papah pasti Deni turutin! ya udah aku berangkat dulu"


" hati hati di jalan" ucap mamah nya


saat Deni hendak menjalan kan mobil nya ponsel Deni berbunyi


" ada apa" sahut Deni judes


" kamu dimana? kamu jemput aku ya" ucap Bella yang menelponnya nya


" gak bisa... kalo kamu mau ketemu kamu jalan sendiri aja aku gak bisa jemput, kalo gak yah gak usah temui ku juga gak masalah" telepon pun langsung di matikan Deni


lain hal nya dengan revan, pagi sekali dia sudah berada di dapur dia membuat nasi goreng untuk sarapan, sedangkan Sintya masih tertidur lelap di kamar,


" sayang bangun.. " bisik Revan kepada Sintya

__ADS_1


perlahan Sintya membuka mata nya


" kamu sudah bangun? sudah mandi"


" aku sudah mandi dan sudah bikin sarapan buat istri aku tercinta ini" ucap Revan sambil menyentuh hidung mancung nya Sintya


" kamu bikin sarapan apa?" Sintya mulai membangunkan tubuh nya dan duduk di tepi kasur


" aku bikin nasi goreng"


bukan nya senang mendengar ucapan Revan Sintya malah menggeleng kan keplaa nya


" kenapa?" tanya Revan


" aku gak kepengen sarapan nasi goreng""


" terus kamu nya mau apa?"


" aku pengen sarapan bubur ..."


" bubur...? tapi kita makan nasi goreng dulu ya baru setelah itu kita jalan keluar beli bubur"


" gak mau.aku gak mau nasi goreng" ucap Sintya tetap keras dengan kemauan nya .


memang ibu hamil.mood nya tidak bisa di tebak. Revan menarik napas panjang untuk mengatur kesabaran nya.


" kamu yang masak memang harus nya kamu yang makan" ucao Sintya santai tapi menusuk bagi Revan


"iya.. iya aku yang makan, kamu cuci muka dulu terus turun ke meja makan aku bikin kan susu"


" iya sayang" Sintya sekilas mencium pipi revan. walau sekilas tapi itu bisa beri semangat buat nya


beberapa menit kemudian


" sayang.." peluk Sintya dari belakang.


"kamu minum susu dulu, "


"iya.."


" kamu beneran gak mau makan nasi goreng buatan aku? enak Lo.. jarang jarang aku bisa masak buat kamu"


"hhmm.." Sintya melirik ke arah nasi goreng yang beneran terlihat enak di tambah lagi dengan telur ceplok setengah matang. " aku mau makan tapi siapin"


" siap.. ok aku siapin"


" tapi ku juga pengen bubur.."

__ADS_1


" iya setelah ini kita beli bubur "


Revan pun langsung menyuapin nasi goreng untuk Sintya


di taman Bella sudah menunggu deni namum Deni tak kunjung datang juga, suasana hati nya sudah benar benar kacau, dan kesal. saat dia berdiri ingin meninggalkan tempat duduk itu terlihat Deni yang datang sambil menuntun Dewi .


" kok datang nya sama dia?" ucap Bella kesal. sudah lama menunggu malah datang sama Dewi .


" hallo" sapa Dewi


" hei.. " sapa bella dengan muka kesal " aku ingin bicara sama kamu" ucap Bella menarik tangan nya Deni


" gak bisa bicara di sini aja?" sahut Deni yang berusaha melepaskan tangan nya


" gak bisa.." sahut Bella sengit


" kamu tunggu di sini dulu ya aku mau ngobrol sebentar" ucap Deni kepada Dewi. Deni pun mengangguk


lumayan jauh Bella dan Deni


" kenapa kamu.bawa dia" ucap Bella kesal


" memang nya kenapa? sebelum kamu menelpon.aku sudah janji sama dia untuk.ajak dia jalan jalan"


" tapi kamu juga janji mau bicara penting sama aku"


" ya udah kalo begitu kamu bicara sekarang"


" hhmm kamu bikin mood ku hilang "


"memang nya kamu mau bicara apa? mau bicara lagi gimana hubungan kita? kan aku sudah jelas kan kalo aku cuman anggap kamu adek gak lebih "


" tapi aku anggap kamu lebih dari adek kakak.." sahut Bella dengan nada tinggi


" kamu jangan egois begitu, apa kamu tega mau rebut kebahagian dia" ucap Deni sambil menatap ke arah dewi


" aku gak peduli aku cuman ingin buat diri ku bahagia"


" aku juga gak peduli aku cuman ingin Dewi bahagia sama aku! kamu wanita yang sempurna masih banyak.lelaki di luar sana yang jauh lebih baik dan lebih pantas dari aku yang mau sama kamu, tapi kalo Dewi dia bukan cewe seperti kamu! aku tidak tau bagaimana nasib nya nanti kalo gak sama aku,.apa senyum nya itu masih bersinar atau tidak? atau bahkan dia bisa mati karena sakit hati"


Bella benar benar kesal mendengar ucapan Deni yang tetap membela Dewi,


" terserah kamu" Bella pun langsung pergi dengan penuh kekecewaan


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


hey guys jangan lupa ya ikutin juga novel terbaru aku yang judul nya " PANGGIL AKU DAVIRA" cerita nya juga gak kalah seru dengan ini

__ADS_1


__ADS_2