Jodohku Seorang Duda

Jodohku Seorang Duda
174


__ADS_3

"ada Sintya gak di rumah Lo?"


"Sintya ... maksud Lo apa?" raga tidak ngerti dengan pertanyaan Revan


" Sintya ada nginap atau datang kerumah Lo gak tadi malam ?"


"gak ada memangnya kenapa?" raga malah kembali bertanya kepada revan


" nanti di kantor gue ceritakan " ucap revan lalu ponselnya pun langsung di matikan nya


Di rumah raga


"kenapa revan?" tanya intan kepada raga


"revan menanyakan sintya apa ada menginap atau datang kerumah kita" jawab raga yang sambil memasang dasi nya


"memang nya mereka ada masalah?" tanya intan lagi


"aku juga gak tau sayang, revan belum cerita sama aku. Tolong sayang benerin dasi aku" perintah raga


"sini aku benerin, semoga ya revan dan sintya gak ada masalah seperti yang dulu" ucap intan yang mencemaskan sahabatnya


"iya semoga aja"


"nanti aku coba telpon sintya menanyakan keberadaan nya" ucap intan


"iya nanti, tugas kamu sekarang ini dulu" raga menyodorkan pipi kanan nya untuk minta kecupan dari istri nya


"hhm kamu orang aku bicara serius" sahut intan


" aku juga serius sayang.. Ini..."


"cup " intan mencium pipi raga namun saat intan ingin beranjak pergi raga langsung memeluk pinggang intan dan membuat intan terperangkap kedalam pelukkan nya


"cup.. " raga mengecup bibir intan sekilas


"bibir kamu manis, bikin aku pengen terus" ucap rasa


intan selalu tersipu malu saat mendengar gombalan raga


"sudah sana berangkat nanti kesiangan" perintah intan


"oke sayang, kamu jangan nakal ya di rumah dan jangan capek-capek, titip anak aku ya"

__ADS_1


"anak kamu anak aku juga " jawab intan


"hehe.. Dah.." raga pun langsung berangkat ke kantor


Di kantor


Revan sudah sampai di kantor dia langsung menuju ke ruangan heri, terlihat heri yang sedang duduk di kursi nya sambil bekerja


"her ikut ke ruangan saya" perintah revam lalu menutup pintu itu kembali


"oke" sahut heri


"ada apa ya revan, gak biasa nya dia datang sepagi ini" ucap heri heran dengan revan


Saat revan ingin keruangan nya revan berpapasan dengan wati, wati memberika senyuman tipis kepada revan mungkin senyuman yang di maksud wati hanya sebagai menyapa antara bos dan bawahan atau niat lain


Tidak menunggu lama heri langsung beranjak dari kursinya dan menuju ke ruangan revan


"tok..tok...tok..." revan mengetuk pintu ruangan revan


"masuk " teriak revan


Hery pun langsung membuka pintu ruangan itu terlihat revan yang sedang duduk sambil memegang kepala nya seperti orang yang lagi kebingungan.


"apa ada masalah?" hery kembali bertanya


"tolong bikinkan surat pengunduran diri untuk wati sekarang juga"


"memang nya dia kenapa? menurut gue dia bagus aja dalam bekerja " sahut hery


"iya dia bagus dalam bekerja tapi dia tidak bagus dimata keluarga gue" sahut revan sambil menghentakkan tangannya keatas meja


"sabar.. Memangnya ada masalah apa jadi lo seemosi ini?" tanya heri lagi


"lo mau tau masalah nya apa? Gara-gara dia sintya kabur dari rumah" ucap revan dengan nada keras


"kabur dari rumah? Gue tambah gak ngerti maksud lo"


"gini gue ceritain" revan ingin memulai ceritanya tiba-tiba pintu ruangan revan terbuka membuat revan dan heri terkejut. Dan ternyata yang membuka pintu itu raga.. Ya seperti biasa tifa serangkai itu selalu berkumpul kalo di jam kerja


"kenapa lo pagi-pagi cari istri lo? Memang nya ada masalah apa jadi istri lo kabur?" ucap raga yang baru datang dan tidak beehenti ngomong


"sabar. Ini revan baru mau cerita" sahut heri

__ADS_1


raga pun duduk di sopa juga tepat di hadapan revan dan heri, dia juga sudah penasaran dengan ceritanya revan


"silahkan tuan revan lanjut cerita nya " ucap raga


"gue melakukan hal besar yang bikin sintya marah" revan memulai pembicaraan nya


"apa itu?" tanya hery dan raga berbarengan


"kemaren yang gue berangkat bekerja ke kalimantan kan sama wati, wati setiap malam selalu datang ke kamar dengan alasan yang macam-macam, kadang dia datang menggunakan pakaian seksi seperti ingin memancing gue, tapi awal-awal gue tidak tertarik dan tidak terpancing tapi pas hari terakhir malam nya dia kembali datang ke kamar gue juga dengan menggunakan pakaian seksi dan malam itu dia juga terlihat cantik, dan karena godaan dia dan godaan setan gue ikut terpancing, dan di malam itu kami meluapkan nafsu kami " ucap revan


"enak van tubuhnya?" tanya raga namun revan tidak berani menjawab pertanyaan raga


"yah pasti enak dong maka nya revan tergoda, perawan lagi kan van?" sahut heri lagi


"terus bagaimana jadi sintya tau dan kabur dari rumah" tanya raga lagi


"setelah kejadian itu gue merasa sangat berdosa dan merasa sudah begitu besar mengkhianati pernikahan gue, gue merasa bersalah telah bermain di belakang anak istri gue, lalu tadi malam gue memberanikan diri untuk mengaku dan menceritakan semua nya kepada sintya lalu sintya marah dia memanggil wati dan bella kerumah dengan alasan acara makan malam di rumah orang tua gue, lalu di situ lah awal semuamya terbongkar sampai-sampai mamah gue marah besar sama gue dan juga wati, mamah meminta gue memecat wati secara sepihak dia akan marah kalo gue tidak memecatnya sekarang maka nya gue meminta loe bikin surat pengunduran diri" ucap revan


"loe yang goblok" raga menghampiri revan dan mendorong kepala nya raga saking dia gemesnya dengan tingkah revan yang masih sok cool


" kalo gue jadi sintya gue gak akan kabur dari rumah tapi gue akan tetap di rumah tengah malam baru gue beraksi untuk membunuh lo, supaya gak ada lagi laki- laki kaya loe van" ucap raga


"sintya bukan kabur, tapi dia bilang ingin sendiri dulu menenangkan diri"


"lalu gak loe tahan?" sahut heri


"gak dia yang gak mau gue tahan.. Tapi gue tau kok istri gue gimana semarah-marah nya dia dia pasti tetap maafin gue"


"van ini soal pengkhianatan dalam rumah tangga, gak semua orang bisa melupakan masalah itu" heri mulai memberi arahan untuk revan


"itu semua karen loe berdua" ucap revan lagi-lagi dia menghentakkan tangan nya diatas meja


"kok loe nyalahkan kita? " tanya raga


"ya dari awal gue udah telpon loe berdua minta loe ikut kesana tapi loe berdua banyak alasan"


"gue gak alasan gue saat itu memang sakit"


"bukan loe tapi ini" revan menunjuk raga


"gue juga sedang temenin intan"


"berapa kali gue minta loe berdua nyusul tapi tetap gak bisa, jadi gini kam cerita nya"

__ADS_1


"loe gak bisa salahin orang, yang harusnya loe salahin itu otak lo kenapa bisa bernafsu sama orang lain"


__ADS_2