Karma Cinta

Karma Cinta
Pedulinya Doni


__ADS_3

Doni..


Pagi ini aku berangkat lebih awal. Aku menunggunya di gerbang sekolah. Sampai-sampai membuat beberapa siswa siswi yang mengenalku merasa aneh dengan kedatanganku pagi-pagi begini. Tujuanku hanya ingin memastiksn Syila baik-baik saja.


***


Syila..


Drt drt drt..


Ponselku bergetar. Dika menghubungiku.


"Halo". Jawabku.


"Selamat pagi pacar orang."


Apa sih harus begitu apa panggilannya. Tidak nyaman sekali dengan panggilan seperti itu.


"Mudah-mudahan bisa jadi pacar sendiri" Gumamnya pelan.


Aku mendengarnya terkejut tapi memilih pura-pura tidak mendengarnya. Dan di sana kami bertukar cerita. Dia bercerita tentang tugas-tugasnya kemarin yang banyak dan membuatnya super sibuk. Aku hanya mendengarkan sesekali menanggapinya.


Moodku masih buruk.


"Syila..?" Aku tersadar aku jauh melamunkan Adji. Yang sekarang entah sedang apa dan dengan siapa dia.


"Memikirkan siapa sih.. Sepertinya sedang kurang fokus ya. Ada apa ? Coba cerita kalau-kalau ada yang perlu di ceritakan." Beruntun Dika bertanya.


"Dika... Misal orang yang kamu sayang ternyata mengkhianatimu, membuatmu kecewa, tapi jauh dihatimu hanya ada dia seorang. Apa yang akan kamu lakukan ?"


Dika tertegun. Syila sedang bermasalahkah dengan pacarnya ?? Setelah itu ada senyuman yang sulit diartikan yang terbit dari bibir Dika.


"Syila.. Bagiku seberapa seseorang itu berharga untuk hidupku namun tidak bisa menghargaiku dan memilih mempermainkanku maaf aku memilih mundur. Sebuah hubungan itu yang berkomitmen dan berjuang harus 2 orang bukan cuma seorang. Karena itu hanya akan membuat kita terluka sendiri. Hati boleh memilih tapi imbangi dengan logika." Pendapat panjang Dika.


"Jadi menurutmu orang seperti itu tidak pantas diperjuangkan begitu ??"


"Tidak !" Tegas Dika membuatku bungkam.


"Dengar baik-baik. Orang yang pantas diperjuangkan itu orang yang tidak akan mengecewakanmu, orang yang mau berjuang untukmu, dan tidak membiarkan dirimu terluka sendirian. Walaupun terdengar mustahil tapi setidaknya dia berusaha yang terbaik untukmu. Mengerti..?!"


Aku menganggukkan kepalaku. Baiklah jika kemungkinan terburukku memang terjadi maka aku harus tegas. Cukup hatiku yang sakit karena kecewa dan di khianati jangan sampai harga diriku ikut diinjak-injak. Karena, aku ini bukan fakir asmara.


***


Masih ada waktu 20 menit sebelum bel masuk. Ada pesan masuk dari Adji. Aku masih dalam perjalanan.


"Pagi yank. Sudah berangkat ya ?"


"Iya ini sudah hampir sampai. Yank disini sampai kapan ?" Tanyaku penasaran.

__ADS_1


"Semangat ya.. Nanti Jumat kembali ke ibu kota."


"Ohh.." Jawabku ketus karena terasa sakit kembali hatiku.


"Heii jangan marah. Maaf belum ada waktu buat kamu yank. Nanti pulang aku jemput." Bujuk Adji.


"Iya. Ya sudah ya. Nanti lagi. Sudah sampai."


Tanpa menunggu jawabannya aku matikan teleponnya.


Wait..


Doni ?? Sontak aku kedipkan mataku berulang kali. Pasalnya ini masih kurang 15 menit lagi dari waktu masuk. Dia sudah berdiri di gerbang sekolah dengan satpam bahkan dia minum kopi bersama.


Hahh apa peduliku. Tapi itu benar-benar kejadian yang langka. Secara Doni biasa datang siang bahkan sering sekali telat.


"Pagi Pak.." Sapaku ke Pak Satpam.


"Pagi juga. Tumben siang Sisil ?"


Kuputar mata jengahku. Bapak satu ini semaunya ganti-ganti nama orang. Dia memang lebih suka memanggilku Sisil. Panggilan sayang katanya.


"Hehehe.. Iya Pak. Pak ada asisten baru ya ?" Sindirku kepada Doni yang sejak tadi hanya diam mengamati.


Si Pak Satpam melirik Doni lalu menyenggol lengannya. Membuat yang punya tangan tersadar dari keterdiamannya.


Tiba-tiba ada yang menahan tanganku. Doni mau apa dia.


Doni membawaku ke tempat yang agak sepi. Membuatku waspada kepadanya.


***


Doni..


Orang yang aku tunggu sudah datang. Orang yang masih bersemayam dihati dan fikiranku. Bayangan sedih diwajahnya membuatku seperti sekarang. Aku datang pagi buta hanya karena tidak sabar ingin memastikan dia baik-baik saja atau tidak.


Kulihat matanya bengkak, wajahnya murung, dia tersenyum tapi senyum yang menyiratkan kepedihan. Ada apa dengan Syilaku apa yang membuat senyum teduhnya menghilang.


Aku harus tahu. Setelah aku sadar dari fikiranku sendiri kulihat Syila sudah melangkah menjauh. Segera kukejar lalu kubawa dia ke tempat yang agak sepi.


Genggaman tanganku dilepas paksanya. Aku sendiri bahkan tidak sadar sudah menggenggam tangannya.


Kutatap lamat-lamat wajah tepat dibagian matanya.


"Jangan melihatku seperti itu. Mengapa kemari ?"


"Syila ada masalah apa ?" Enggan menjawab. Aku malah bertanya.


Dia nampak bingung.

__ADS_1


"Please jangan bersedih begini. Aku jadi tidak tenang melihatmu murung seperti ini. Apa yang membuatmu seperti ini Syila ?"


"Aku memperhatikanmu kemarin waktu kau menatap sebuah keluarga kecil yang nampak bahagia. Namun yang tercetak diwajahmu itu kesedihan bukan haru bukan bahagia."


"Semenjak itu kau terlihat bersedih. Maaf bukan bermaksud lancang mencampuri urusanmu. Hanya saja aku sungguh khawatir."


Tutur Doni panjang lebar.


Ahh di tatap dalam dan diberi pernyataan seperti itu membuatku kembali ingat kepada Adji. Membuatku sedih dan terharu dalam waktu bersamaan.


Aku tundukkan wajahku. Menahan air mata yang mulai memaksa keluar. Sial respon tubuhku ini benar-benar lemah tidak bisa dikendalikan dalam situasi seperti ini. Aku terlihat menyedihkan.


Doni maju beberapa langkah. Menyentuh daguku memaksaku mengangkat wajahku. Tepat saat itu air mataku keluar dari tempat semestinya.


***


Doni...


Aku tertegun melihat Syila yang menunduk. Apa ada kata-kataku yang menyakitinya. Lalu kuangkat wajah ayunya menghadapku. Ikut teriris hatiku saat air matanya kembali menetes.


Kuhapus air matanya. Lalu rasanya ingin kupeluk dia. Namun aku urungkan. Kuusap bahu dan kepalanya berharap mampu menenangkannya.


"Oke menangislah untuk saat ini. Namun setelah ini berjanjilah untuk tidak ada airmata kesedihan lagi."


Syila maju menatapku sesaat. Lalu tiba-tiba wajah dan kepalanya disandarkan ke dadaku. Kudekap ia dalam pelukku. Sungguh aku rindu dengan dia yang suka malu-malu namun periang.


"Berceritalah aku siap mendengarnya jangan dijadikan beban sendiri. Kita teman bukan ??"


Ada rasa ngilu saat kuucapkan kata "teman". Bahkan aku sungguh menyayanginya melebihi itu.


"Heii aku tidak membawa baju lagi loh. Jika terus menerus begini aku dikira kehujanan. Hujan tropis." Kucoba mencairkan suasana ketika kurasa tangisnya mereda namun dia masih betah bersandar di dadaku.


"Hehehe.. maaf ya". Ucap Syila dengan sesekali menyeka sisa air matanya.


"Sudah ya nanti aku traktir ice cream. Jangan menangis lagi"


Matanya berbinar wajahnya lebih sumringah lalu dia mengangguk cepat.


"Iya mau yang rasa strowberry, vanilla, coklat, mocca, tiramissu apa lagi ya selagi ada yang mau bayarin." Dia menyebutkan banyak macam rasa, menghitung dengan jari-jarinya menyebutkan satu-satu yang dia suka dengan tertawa sesekali melirikku.


Hahaha aku tak percaya dia akan memesan sebanyak itu.


Kami mulai berjalan menuju ruangan kami.


Semua nanti aku belikan jika itu bisa membuatmu tersenyum kembali.


Terimakasih ice cream.


Batinku..

__ADS_1


__ADS_2