
Waktu berlalu begitu cepat, Syila sudah membeli sebuah tanah yang ia bangun untuk tokonya, ia melebarkan sayapnya dengan cepat.
Toko kue merangkap menjadi kafe juga. Untuk kafenya ia memilih tema out door. Yang terinspirasi saat ia dan Ayahnya suka bersantai meminum teh dan memakan kue di gubuk ditengah hamparan kebun yang hijau.
Dan dibelakangnya ia bangun untuk tempat pribadinya, nah tanah itu menjadi tiga bangunan yang tergabung. Toko kue, kafe dan juga rumah kecil.
Rayhan semenjak kejadian penolakkan itu sudah tidak pernah terlihat lagi batang hidungnya. Syila hanya berharap dia tidak mempunyai dendam seperti yang dirasakan oleh Samuel. Yang berujung mencelakai dirinya. Hidup Syila ingin tenang, tanpa sakit hati dan dendam. Hanya jika teringat tentang Dika, sakit hatinya merambah lagi.
Tiga hari lagi adalah acara wisuda Syila, Syila di beri gelar cum laude sebagai mahasisiwi yang berprestasi dengan IPK hampir sempurna, yaitu 3,85. Ini benar-benar sebuah kebanggaan untuknya.
Setelah wisuda nanti, Syila berencana untuk meresmikan toko kuenya yang lebih besar ini.
''Ayah dan Ibu harus datang ya, Syila punya kejutan untuk kalian.'' Ucap Syila ketika sedang melakukan panggilan telephone kepada orangtuanya.
Setelah sekian lama ia sembunyikan usahanya, akhirnya hari itu datang juga. Hari dimana semua keinginannya terwujud. Kariernya melejit, serta pendidikkannya juga mendapat predikat baik.
''Kami pasti datang, ingin melihat putri manja kami memakai toga, pasti sangat membanggakan.'' Ucap sang Ayah semangat.
''Baiklah baiklah, janji kepada Syila, kalian harus datang, karena kalau tidak, Syila akan marah !'' Ancam Syila yang hanya mendapat kekehan dari yang diseberang sana.
Syila sudah menyiapkan kebaya yang senada untuknya juga Ibunya, sedangkan Ayahnya ia siapkan jas yang serasi pada baju Ibu dan juga dirinya. Semua itu masih berada dibutik.
''Tuan Kelinci aku sudah tidak sabar menantikan tiga hari kemudian.'' Kata Syila kepada bonekanya.
***
Sedangkan di tempat lain, Dika dan Laura tengah fitting baju pengantin, kurang dari sebulan mereka akan melakukan pernikahan.
Namun anehnya Dika tidak seantusias Laura. Dika nampak malas dengan kegiatan-kegiatan itu. Jika ditanyai pendapat, jawabannya ''terserah kau saja''. Terkadang Laura juga kesal, yang menikahkan mereka berdua mengapa yang berpartisipasi penuh hanya Laura.
__ADS_1
Laura mengesampingkan rasa gondoknya itu. Ia harus tampil sempurna di hari pernikahan bersama seorang manager di tempatnya bekerja. Pasti karyawan lainnya tidak akan berani menentangnya. Begitu yang dipikiran Laura. Selain cinta gilanya, ia juga terobsesi oleh kedudukkan kariernya.
Dika dikenal sebagai atasan yang baik namun juga tegas, semua harus sesuai prosedur perusahaan. Jika ada yang melanggar tak sungkan Dika langsung memberi peringatan secara terlulis maupun lisan.
''Sayang apa aku terlihat cantik dengan gaun ini ?'' Tanya Laura kepada Dika yang hanya dijawab 'Cantik'.
Laura sudah mengganti lima gaun dan jawaban Dika masih sama 'Cantik'.
''Dika, jika semua gaun kau bilang cantik lalu aku harus menggunakan yang mana ? Pilihlah salah satu yang paling cantik untukku !" Rengek Laura.
Gaun yang dicoba Laura semua mengakses tubuh atasnya. Dika sudah melarangnya jangan memakai gaun seperti itu. Namun Laura bilang jika itu sedang menjadi trend fashion. Maka dari itu Dika merasa malas memberi pendapatnya.
Dika beranjak, menyentuh gaun berlengan panjang namun sedikit mengekpos bahunya, ''Yang ini bagus.''
Laura melihatnya tak suka, ''Sayang itu jelek, aku tidak suka.''
Dika kembali mendudukkan dirinya, memainkan ponselnya, lalu seketika ia dibuat terpesona oleh wanita yang sedang mencoba kebaya juga. Kebaya modern berwarna cokelat mocca. Simple namun terlihat elegan.
Dika mengingat-ingat dengan keras, memaksa otaknya bekerja, seperti familiar, tapi dimana melihatnya. Seperti itu Dika bertanya-tanya. Dan ketemu, otaknya menemukan sebuah kenangan saat malam membeli sate, gadis yang dimaksud itu Syila.
Tanpa disengaja Syila dan Dika memilih butik yang sama untuk memesan pakaian.
Laura keluar dari kamar ganti, berpapasan dengan Syila yang hendak masuk.
''Ehhh kau juga disini ?'' Sapa Laura.
''Wahhh kau mengganti kostummu menjadi begini ? Seperti ibu-ibu saja.'' Yang dimaksud adalah hijab persegi yang lebar dan panjang yang ia pakai seperti anak SMA.
''Dan kau sedang memesan kebaya juga, apa kau akan bertunangan ? Atau menikah ? Dengan siapa ? Pasti hanya karyawan rendahan.'' Laura masih mencemooh. Sedangkan Syila masih diam mendengarkan.
__ADS_1
''Kau sudah move on dari calon suamiku ya. Syukurlah jika begitu, kau tidak akan merasa sakit hati terlalu dalam, karena mantan tunanganmu yang kau cintai itu akan menjadi suamiku.'' Laura mengompori.
Syila angkat bicara, '' Sudah selesai Nona ? Sepertinya kau terlalu banyak bicara membuang beberapa menit waktuku yang berharga, aku permisi ingin mengganti pakaianku.'' Jawaban Syila yang terlihat acuh dan tidak termakan oleh kata-kata Laura membuat Laura seperti di hina.
Laura menyeringai, ''Kau tumbuh lebih baik sepertinya, setelah tragedi yang kau lalui di masa lalu. Aku mengundangmu secara spesial, datanglah, aku benar-benar ingin melihat ketangguhan hatimu.'' Ledek Laura seraya memberi kartu undangan yang masih kosong namanya.
Syila geram, apa maksudnya. Syila tidak lagi mempunyai rasa pada Dika, hatinya serasa mati untuk pria lain selain Ayahnya hanya tersisa rasa sakit hatinya, jika ia mengingat masa lalu. Syila mengambil undangan itu, '' Wah aku menjadi tamu VVIP kah ? Aku merasa terhormat, aku pastikan aku datang.'' Ucap Syila berlalu.
Syila membayar pesanannya di kasir, begitu juga dengan Dika, Laura tak nampak karena pamit pergi ke toilet.
''Hai Nona, kita bertemu kembali.'' Sapa Dika.
'Demi manusia srigala yang bereinkarnasi menjadi manusia kecebong, tadi wanitanya, sekarang prianya. Wahai takdir kau jangan bercanda denganku, aku tak akan goyah lagi.' Batin Syila merutuki.
Syila hanya tersenyum, ''Kau sangat cantik dengan kebaya tadi, apa untuk wisudamu ?'' Jujur Dika saat memujinya cantik, namun untuk Syila itu terdengar menjijikkan.
''Hmmm.'' Memaksakan senyuman.
Laura datang memasang wajah tak sukanya, ketika Dika dan Syila terlihat saling berdekatan dan mengobrol.
''Heii Nona minggir, jaga jarakmu, dia calon suamiku !'' Sarkas Laura. Dika mencoba menghentikan Laura yang terlihat akan bicara banyak.
''Laura kau ada masalah apa dengannya ? Apa kau mengenal gadis ini ?'' Tanya Dika bingung karena Laura seperti sangat tidak menyukai wanita itu.
Laura terdiam dengan pertanyaan Dika, jelas ia tahu dan tak suka, dia wanita yang menjadi saingannya untuk merebut hati Dika.
Syila yang berada ditengah-tengah mereka merasa jengah, ''Tuan dan Nona saya permisi.'' Syila berlalu setelah mendapat struk pembayarannya.
'Undangan pernikahan, mereka akan menikah, siapa yang peduli, apa kau pikir aku akan menangis ? Kau salah Laura. Seperti katamu, aku tumbuh menjadi wanita yang lebih baik.' Syila meyakini hatinya. Karena memang hatinya terasa penuh hanya untuk menerima satu nama pria.
__ADS_1