
Hari berganti hari. Semenjak kejadian eksekusi itu, hidup Syila kembali tentram.
Syila, Kaisar, dan Rana akan melakukan penerbangan ke tempat Ayah Mahen. Tentu saja untuk menepati janjinya kepada keponakan Kaisar, putra Rana.
Beberapa jam perjalanan, sampailah mereka di bandara, Ayah Mahen dan Kak Sesha, istri Kak Rana sudah menunggu. Tentu bersama Jeje, putra Kak Rana.
''Daddy!'' pekiknya memanggil Kak Rana. Bocah yang mungkin berusia sekitar 7 tahunan itu langsung berhambur pada pelukan Ayahnya. Tak lupa Sesha juga ikut memeluk suaminya. Setelah itu, Jeje melirik Pamannya, Kaisar. Ia turun lalu berlari pada Pamannya.
''Paman!!''
''Uhhh jagoan Paman,'' Kaisar menurunkan setelah beberapa saat berpelukan.
''Kau sudah menjadi pria dewasa ternyata bukan lagi seorang bocah kecil,'' kata Kaisar membuat Jeje membusungkan dadanya dengan pujian sang Paman.
''Tentu saja, sebentar lagi aku juga akan menikah seperti Paman, pacarku sangat cantik loh,'' pamernya dengan suara khas anak kecil. Membuat yang mendengarnya langsung melongo.
Kaisar berdiri, ''Kak, ilmu apa yang kau ajarkan kepada anak setinggi cabai ini?'' tanyanya pada Rana.
Rana sendiri syok dengan ucapan sang putra, pembahasan seperti orang dewasa, Rana melirik Sesha, ''Oh no, aku tak mengajarinya seperti itu,'' jawab Sesha yang mengerti akan arti tatapan suaminya.
Sedangkan Ayah Mahen hanya tersenyum melihat anak, dan menantu saling ribut masalah Jeje.
''Sudah-sudah, kita harus meluruskan apa yang Jeje katakan tadi, tapi bukan disini,'' lerai Ayah Mahen.
''Paman, ini istrimu?'' tunjuk Jeje pada Syila yang sedari tadi hanya tersenyum melihat perseteruan mereka.
''Iya, cantik mana? istri Paman atau teman wanitamu?'' tanya Kaisar. Jeje nampak berpikir keras, membuatnya terlihat lucu. Jari telunjuk yang berada di pelipisnya ia ketuk-ketukan.
''Sebelas : dua belas, masih cantikan pacarku setingkat lebih tinggi,'' Syila dibuat geleng kepala, bahasa Jeje sudah seperti orang dewasa saja.
''Hei, mana bisa begitu...,'' perdebatan di akhiri oleh Syila yang langsung menarik tangan Kaisar juga Ayah Mahen untuk segera masuk ke mobil. Jika di teruskan Kaisar pasti akan terus menanggapinya, sampai ia yang menang.
Di dalam mobil, Syila dan Sesha baru bisa berkenalan.
''Ini adik iparku?'' tanyanya pada Rana. Dan mendapat anggukan sebagai jawabannya.
''Pantas saja Kaisar sampai gila mengejarnya, yang di kejar saja modelnya begini, tidak mengecewakan,'' sambung Sesha.
__ADS_1
''Jangan di bahas bagian aku gilanya, itu membuat imageku sebagai suami turun!'' protes Kaisar kepada kedua kakaknya.
Syila melirik penuh arti kepada Kaisar dengan mengulum senyum.
Beberapa waktu kemudian, sampailah mereka di kediaman Mahendra. Rumah mewah nan klasik memanjakan setiap mata yang melihatnya. Bangunan dengan design elegan benar-benar membuat Syila terperangah.
Kepala pelayan menyambutnya, beserta beberapa pembantu, satpam, dan bodyguard. Mereka berjajar, menundukan kepala dan bahunya ketika rombongan Kaisar lewat.
''Kaisar,'' panggil Ibu Lulu memeluk haru putra bungsunya itu. Rasa takut akan kehilangan anaknya kini melebur.
Lalu memeluk Syila, barulah mereka masuk ke dalam rumah seperti istana itu.
''Apa kalian lelah? beristirahatlah dulu, jika makanan sudah siap Ibu akan membangunkan kalian,'' kata Ibu Lulu, di tujukan untuk Syila dan kedua putranya.
Kaisar membawa Syila ke lantai dua rumah itu, begitupun Rana. Kamar mereka memang di lantai dua.
''Kai, ini kamarmu?'' tanya Syila begitu berbinar, melihat tatanan kamar yang menurutnya sangat apik itu.
''Iya dan sekarang juga menjadi kamarmu. Beristirahatlah,'' Kaisar sudah mulai melepaskan sepatu, jaket, baju, dan celana panjangnya.
''Itu sudah sembuh,'' kata Kaisar.
''Aku tahu, gara-gara luka ini aku hampir merasakan kehilangan untuk kesekian kalinya,'' jawab Syila.
''Tidak akan,'' ia peluk sesaat istrinya, ''Seharusnya kau siap karena luka ini sudah sembuh, kemarin aku harus menahan dan sangat tersiksa karena kau menolak namun terus menggodaku,'' ingatkan lagi Kaisar pada momen dimana Syila mendatanginya hanya dengan gaun tidur pendek, mengekspos sebagian tubuhnya. Begitu berani namun ketika Kaisar sudah menginginkannya, Syila malah berlalu pergi dan berkata tidak bisa, karena luka Kaisar yang belum sembuh.
''Kai!'' memerah sudah wajah Syila karena malu saat mengingat kejadian itu.
Mereka mengganti pakaian mereka, Kaisar tidur hanya menggunakan celana kolor pendek, dan Syila hanya memakai tuniknya yang sepanjang lutut.
***
Syila menggeliat malas, ketika tidurnya tiba-tiba terganggu. Ia membuka matanya, ada suaminya yang sudah tersenyum dengan terus memainkan jarinya di area wajah Syila.
Sampai yang ia usap adalah bibir, membuka sedikit bibir mungil itu, lalu Syila menangkap tangan Kaisar, yang hendak menuruni lehernya.
Merasa di cegah, Kaisar menatap tidak suka.
__ADS_1
''Mau apa?'' pertanyaan aneh keluar dari mulut Syila.
''Aku tak ingin menjelaskan, biar kupraktekkan saja,'' Kaisar tersenyum penuh arti.
Lalu Kaisar kembali pada pemanasan yang tertunda itu. Mulai dari menciumi wajahnya, berakhir pada bibirnya, di rasa Syila sudah nyaman, bisa mengimbangi serangannya, tangan Kaisar mulai pindah haluan. Turun tepat di tempat yang paling menonjol namun terasa begitu lembut. Memulai aksinya disana, tidak ada penolakan dari Syila, ia mulai membuka satu per satu kancing baju Syila. Membuka pengait benda yang membuat bagian tubuh Syila terlihat sesak.
''Sayang, jika hanya di kamar, tidak usah memakainya, apa itu tidak menyiksamu, aku melihatnya saja sudah merasa sesak sendiri,'' katanya dengan terus melancarkan aksinya.
Syila yang hanya mampu menikmati seperti tidak ingin menjawab pertanyaan apapun, ketika sampai pada keinginan yang sama, yaitu butuh pelepasan, tiba-tiba pintu di ketuk dengan sangat keras.
''Paman!! Paman!! bangunlah, lihat aku punya apa! Paman!!'' teriak Jeje dari luar sana.
Syila langsung bangkit dari tidurnya, mendorong Kaisar yang nampak tidak peduli dengan teriakan Jeje.
''Kai, hentikan! ukkhh...,'' ketika Kaisar terus memberikan rangsangan untuk Syila, agar dia kembali ke mode on.
''Paman!!'' gedoran pintu semakin membuat Syila resah.
Tak lama terdengar seperti Rana yang menghampiri Jeje, mengajak Jeje pergi dari sana. Dia mengerti, apa yang sedang adiknya perbuat di dalam, hingga tak menghiraukan teriakan dari luar.
''Biarkan saja, sudah ada Ayahnya, kita lanjut membuat junior,'' bisik Kaisar membuat Syila mau tak mau menurutinya.
Mereka menghabiskan waktu satu jam untuk sebuah pertempuran panas itu. Setelah selesai mencapai pada puncaknya, Kaisar juga Syila memutuskan untuk membersihkan diri dan keluar dari kamar.
Bertepatan dengan jam makan malam. Mereka sudah berkumpul di meja makan.
''Hai jagoan!'' sapa Kaisar yang hanya mendapat manyunan dari Jeje. Dia masih kesal karena di acuhkan.
''Bibi, apa tadi Bibi tidak mendengarku berteriak?'' tanya Jeje pada Syila.
Syila gelagapan, ''Emm itu iya Bibi mendengarnya,'' Syila melirik Kaisar.
''Lalu mengapa tidak membukakan pintu? Daddy bilang, kalian sedang mengerjakan tugas orang dewasa, memangnya tugas seperti apa? sampai tidak mengijinkan aku masuk?!'' Jeje sudah kesal lagi.
Uhuk uhuk uhuk, kaisar tersedak minumannya sendiri. Sedangkan Syila semakin gelagapan ingin menjawab apa bertambah tatapan orang-orang di meja makan seperti menggodanya. Wajahnya merona karena malu.
''Je, tidak sopan ketika berada di meja makan, kau banyak bicara seperti itu, habiskan makananmu dulu, nanti kita bisa mengadakan sidang antara pria, bagaimana?'' tawar Rana. Membuat Jeje patuh, dan kelegaan pada Syila.
__ADS_1