
Hari berlalu, tepat sehari sebelum acara resepsi diadakan, keluarga Kaisar sudah datang, mereka memilih menginap di hotel. Begitu pun dengan Bibi Nuha, ia juga menginap di hotel. Lewis sudah kembali dari cuti panjangnya. Mertuanya sudah lebih baik.
Acara Kaisar, namun Lewis yang kembali di sibukkan. Tidak ada kata lelah, dia malah merasa bersalah sudah mengambil cuti panjang dan mendengar kabar jika Klarisa membuat masalah.
''Maafkan saya Tuan, karena saya Tuan menjadi repot,'' mereka sudah berada di ruang kerja Kaisar. Untuk pertama kalinya juga bagi Lewis memasuki ruangan itu.
''Kau meremehkanku? aku bisa mengatasinya!'' sombong. Padahal memang kuwalahan. Bekerja tanpa Lewis disampingnya benar membuatnya sangat sibuk, Klarisa hanya diberi tugas yang tidak terlalu berat.
''Kau siap bekerja lagi kan?'' tanya Kaisar. Membuat Lewis merasakan akan ada tugas lain selain dari tugas kantor. Lewis menganggukkan kepalanya tanda siap.
''Aku ingin makan malam romantis dengan Syila, aku ingin melamarnya sebelum resepsi besok,'' kata kaisar dengan menerawang cincin di jarinya.
''Baik Tuan, saya permisi,'' sudah begitu saja. Tanpa bertanya tema apa yang dipilih, menginginkan di ruang terbuka atau tertutup. Seolah selera Lewis adalah selera Kaisar.
Kaisar memilih bekerja dari rumah, sedangkan Syila sedang berkumpul bersama keluarganya di ruang tamu. Ada mertua juga kakak iparnya tentu dengan Jeje yang semakin tinggi dan bertambah pintar.
''Bibi, apa pestanya juga akan memakai kostum super hero?'' tanya Jeje polosnya. Ia pikir jika Syila dan Kaisar sedang merayakan ulang tahun sepertinya waktu lalu.
''Bukan Boy, Bibi Syila akan memakai pakaian ala princess,'' jelas Rana.
Obrolan yang hangat jarang-jarang sekali bisa bersama seperti itu. Membuat Syila kembali merindukan orang tuanya.
''Lalu aku?'' tanyanya dengan binar mata.
''Kau juga akan mengenakan kostum ala pangeran tampan dari sebuah kerajaan ternama,'' sahut Syila.
''Baiklah, aku pastikan aku adalah pria paling tampan,'' semangat Jeje, membuat yang mendengarnya ikut tertawa terhibur.
''Dimana Kaisar?'' tanya Mahendra.
''Tadi dia bilang masih ada beberapa pekerjaan, mungkin masih berada di ruang kerjanya, Yah,'' jawab Syila.
Mahendra pun menemui anak bungsunya itu.
Tok tok tok.
''Boleh Ayah masuk?'' ijin Mahendra.
''Masuk saja Yah,'' sahut Kaisar.
Suara pantofel beradu dengan lantai menimbulkan suara nyaring diruang yang sunyi kedap suara itu.
Kaisar menghentikan aktifitasnya, mengalihkan kepada objek yang berjalan mendekatinya. Mehendra duduk di depan putranya.
Sebagai Ayah, tentu ia juga merasakan kebahagiaan melihat putranya seperti terlahir kembali dari kubungan kemurungan.
"Apa yang kau kerjakan? sibuk sekali, besok adalah acaramu," kata Mahendra.
"Hanya beberapa saja Yah, aku akan mengambil cuti untuk pergi berlibur nanti setelah resepsi dan aku tidak ingin Lewis harus menghabiskan hari liburnya untuk pekerjaan ini," jawab Kaisar.
Ditatapnya penuh makna putra bungsunya ini, masih teringat jelas keadaannya sebelum mengenal Syila, dingin dan menggilai pekerjaan.
"Kau bahagia?" pertanyaan dari Mahendra yang membuat fokus Kaisar pada pekerjaannya buyar.
"Apa masih ada keraguan di wajah dan hidupku, Yah?" tanya balik Kaisar.
__ADS_1
Mahendra menggeleng.
"Kau sudah bisa melupakan Yasita Lily?"
"Tidak mungkin Yah, dia masih ada di sisi lain dari hatiku, hanya ia tersimpan begitu dalam, dan juga rasa ikhlas yang sudah kumiliki untuknya,'' jawab Kaisar dengan nada sendu.
''Semoga Syila benar-benar bisa membuatmu bahagia. Ayah bahagia melihatmu kembali pada kewarasanmu,'' Mahendra mencoba mencairkan suasana sendu yang tercipta.
Kaisar terkekeh, ''Aku tidak gila, Yah, hanya hampir,'' lalu keduanya terkekeh bersama.
Tiba-tiba pintu terbuka, "Apa kalian sedang sayang-sayangan tanpa ingin mengajakku?" seloroh Rana.
"Kak, bahasamu menggelikan!" jawab Kaisar dengan mencebikkan bibirnya.
"Berhentilah bekerja, semua sedang menikmati untuk detik-detik resepsimu, tapi kau malah menyendiri di sini," Rana berjalan dengan senyum di wajahnya. Lalu memeluk adik satu-satunya itu.
"Selamat untukmu, semoga ini menjadi yang terakhir untukmu, menjadi sumber kebahagiaan untuk menjaga kewarasanmu!" Rana.
Apa itu 'menjaga kewarasan', sepertinya seluruh keluarganya benar menganggap Kaisar hampir gila. Sedikit kesal dengan kata terakhir dari Rana.
"Aku tidak gila, hanya hampir!" ia ulangi jawaban untuk Ayahnya tadi kepada Rana.
.
.
.
Serangkaian acara untuk hari esok dilakukan di kediaman Kaisar. Seperti doa-doa dan tradisi keluarga. Hingga malam datang. Rayhan menjemput kedua orang tuanya yang turut serta hadir. Ia membawanya kepada Syila yang tengah asyik memakan buah.
Syila mendelik, sengaja sekali sih mau membuatnya sebagai kambing hitam. Dia pun tersenyum canggung.
"Paman, Bibi, aku Syila," ucap Syila dengan melirik tajam ke arah Rayhan.
"Sayang, dia yang membuat kue enak itu! Rayhan sering membawakannya dulu," kini Ibu Rayhan yang terlihat antusias melapor pada suaminya dan tak mempedulikan ocehan putranya.
Ayah Rayhan hanya mangut-mangut mengelus dagunya yang di tumbuhi bulu-bulu.
''Selamat untukmu ya, semoga pernikahan pertama dan terakhir disepanjang hidupmu membawa kebahagiaan dan keberkahan,'' Ibu Rayhan memberikan pelukkan hangat.
Setelah beberapa saat berbincang semua berkumpul untuk makan malam. Namun tidak untuk Kaisar dan Syila, Kaisar sudah memberitahu keluarganya tadi jika ia ingin memberi kejutan kecil untuk istrinya tentu tanpa sepengetahuan dari Syila.
.
.
.
''Kai, kenapa harus ditutup mataku? kau membawaku kemana?'' tanya Syila yang berjalan dengan berpegang erat pada lengan suaminya.
''Ayo menurutlah, jangan banyak bertanya.''
''Ini di kamar?'' saat indra penciumnya menghirup aroma khas kamar mereka.
Lalu Kaisar membuka penutup mata dan taraa...
__ADS_1
Tatanan meja dan dua kursi beserta makanan di atasnya sudah terhidang dengan sempurna. Lampu utama yang sengaja dipadamkan, diganti dengan cahaya lilin dengan sentuhan kelopak mawar pink disekitarnya menambah kesan romantis.
''Apa ini Kai?'' tanya Syila yang merasa bingung.
''Kemarilah, aku ingin kita makan dulu,'' ajak Kaisar.
Ya, Lewis hanya menyiapkan makan malam romantis itu di dalam kamar Kaisar. Satu jam sebelum acara makan malam Lewis dibantu anak buahnya memindahkan furniture ke kamar Kaisar. Merombaknya seapik mungkin dalam waktu sesingkat mungkin.
Syila makan seperti biasanya, begitu lahap. Kaisar hanya tersenyum melihat istrinya yang yerus kelaparan itu.
Setelah makan selesai.
Kaisar bangkit dari duduknya, lalu berjongkok di hadapan Syila, membawa kedua tangan Syila kepada genggamannya. Syila yang tak mengerti akan kelakuan suaminya ini hanya mampu mengikuti saja. Ditatapnya penuh sayang suami yang kini begitu ia cintai, begitu pun dengan Kaisar.
''Sayang, seharusnya ini kulakukan sejak awal sebelum kita menikah, melamarmu secara resmi dan romantis, memberikan kesan manis yang tidak akan terlupakan. Namun, Tuhan memberikan jalan lain untuk kita bisa bersatu. Jadi biarkan malam ini aku mengutarakan niat baikku. Niat tulus dari seorang pria yang sudah sangat lama jatuh cinta padamu.''
''Arsyila Putri,'' pertanda Kaisar dalam mode serius.
''Maukah kau menjadi teman hidupku? kala susah dan mudahku, kala sehat dan sakitku, kala tangis dan tawaku. Meredakan api saat aku tengah marah, menjadi penawar dari segala kerinduan, dan menjadi Ibu untuk anak-anakku kelak.''
Kaisar menundukkan pandangannya, merogoh kotak beludru kecil berwarna merah, mengambil sebuah cincin berlian yang begitu cantik lalu ia menunggu jawaban dari istrinya.
Bukannya menjawab Syila malah tertawa terbahak merusak momen manis yang susah payah Kaisar bangun.
''Aduh Kai, kenapa masih kau tanyakan seperti itu, semua tak perlu jawaban lagi, sebuah pembuktian yang nyata sudah memberikan semua jawabanmu, termasuk dengan janin yang sedang tumbuh di perutku ini,'' dengan gerakan cepat, Syila menutup mulutnya yang tak sengaja membeberkan kejutan rahasianya.
Sedangkan Kaisar mengunci istrinya dengan tatapan keterkejutannya.
''Katakan padaku apa yang kau katakan tadi!'' kalimat perintah.
Syila menghembuskan napas beratnya, lalu bangkit dari duduknya, ''Sebentar.''
Syila pergi mengambil sesuatu, dalam kotak juga lalu ia berikan kepada suaminya.
Mata Kaisar terus mengawasi tanpa ingin melewatkan seinchi pun dari apa yang ada di dalam kotak itu. Perlahan ia membukanya, hanya ada kertas, yang pertama ia mengambil kertas berketerangan dari rumah sakit, ia membacanya dengan teliti.
Matanya membola memahami keterangan dari surat itu, lalu ia ambil kertas satunya seperti cetakan foto. Bergambar putih dan hitam, tak mengerti namun tangan Kaisar gemetar saat memegangnya. Bibirnya terkunci, matanya kini mulai berkaca.
Syila yang melihat suaminya tak kuasa untuk tidak tersenyum, lalu ia mendekati Kaisar yang masih mematung di kursinya. Membisikkan sesuatu yang semakin membuat Kaisar tak berdaya untuk tidak menangis.
''I'm pregnant baby twins!''
Butuh waktu beberapa detik, sampai Kaisar berdiri dari duduknya dengan cepat, menggerakkan tubuhnya seperti orang sedang menari, merasakan luar biasa bahagia yang tumbuh di hatinya.
''Aku jadi Ayah!! aku jadi Ayah!!'' dengan mengecupi seluruh wajah Syila tanpa celah.
''Sayang, kau seriuskan, ini bukan sebuah candaan?'' Kaisar memastikan lagi.
Syila menggeleng, ''Aku serius!''
Kaisar bersimpuh di depan Syila yang masih berdiri tegap. Tepat di hadapan perut Syila. Tangan Kaisar masih gemetar, menjulur menyentuh dan mengusap perut yang masih rata namun sudah terasa lebih keras.
''Sehat-sehat kalian di dalam sana, Daddy menyayangi kalian, jangan membuat Mommy kalian kesusahan,'' bicara seperti janin itu sudah paham saja.
''Kau berhutang penjelasan padaku!'' senyum Syila luntur saat Kaisar melayangkan tatapan intimidasi dan seperti menuntut sebuah kebenaran dari semua kenyataan.
__ADS_1