Karma Cinta

Karma Cinta
Berondong Manis


__ADS_3

''Pelan-pelan, jangan grogi begitu, aku tahu aku tampan.'' Ucap bronis itu.


''Apa kau juga siswa dari SMA XX ?'' Tanya Syila.


''Bukan, aku dari sekolah lain, kelas 3.'' katanya lagi.


''Dan menurutmu aku kelas berapa ?'' Tanya Syila mengetes.


''Kelas 1.''


Syila tertawa terbahak-bahak, dia dikatai anak SMA kelas 1 pula.


''Terimakasih ya pujiannya, asal kau tahu saja, aku wanita dewasa, aku sudah bekerja.''


Bronis itu nampak terkejut dan malu, pasalnya Syila memakai kemeja kotak-kotak yang ia ikat diperutnya, sama seperti yang di pakai geng vespa tadi, apalagi wajahnya yang merupakan wajah baby face. Membuat Syila nampak lebih fresh seperti anak SMA.


''Oh benarkah ?'' Garuk kepala yang tidak gatal.


''Kau manis sekali,'' sambil tertawa renyah ''Karena aku hari ini sedang mendapatkan rejeki yang luar biasa membuat hatiku senang, aku akan mentraktirmu makan bakso, kau mau ?'' Tanya Syila yang memang sangat merasa terhibur. Hatinya senang hari ini.


''Siapa namamu ?'' Tanya Syila ketika sudah memesan bakso untuk bronis disampingnya itu.


''Aku Rayhan, Kak.'' Terdengar ragu dalam mengatakan 'Kak'.


Syila tersenyum manis, ''Heii, kau terlihat malu-malu begitu, dimana tadi kepedeanmu ? Mengapa melebur tak tersisa ? Aku Syila.''


''Berhenti meledekku Kak, wajahmu masih imut seperti anak SMA lalu kau juga memakai kemeja sama seperti anak2 vespa tadi, aku kira kau bagian dari mereka.'' Dengan sedikit menunduk.


Syila masih betah menertawakan Rayhan.


Diseberang sana ada Dika yang tadinya sudah mau masuk mobil namun dia urungkan ketika matanya menangkap sosok wanita yang ia kenal sedang asyik bercanda dan tertawa renyah dengan pria lain.


'Syila, jadi memang benar, kau menduakanku ? Kau asyik dengan pria lain saat kita berjauhan ?'


Tidak sadar, padahal dia sendiri begitu.


''Laura, aku ada urusan mendadak, kau bisa kan pulang sendiri, aku pesankan taksi.'' Tanpa menunggu Laura menjawab, Dika langsung memberhentikan taksi lalu menyuruh Laura pulang.


Laura hanya mampu mencebikkan bibirnya karena kesal. Dan Dika tidak memperdulikan itu.


Setelah Laura pergi, Dika mengambil ponselnya, menelfon Syila.


''Hallo.'' Suara renyah Syila masih dengan sisa tawanya.

__ADS_1


''Masuk, temui aku di mobil depan restaurant diseberangmu makan bakso dengan seorang pria itu.'' Titah Dika langsung mematikan telfonnya.


Syila menghentikan tawanya, dia celingukkan mencari Dika, 'Dia benar disana.' Saat melihat mobil Dika.


''Ray, sepertinya aku harus pergi, ada tunanganku disana, aku akan menemuinya dulu. Baksonya sudah kubayar. Sampai jumpa lagi Ray, jangan lupa mampir ke tokoku loh.'' Pamit sekaligus menjadi marketing.


Rayhan mencerna, 'tunangan' ? Wahh dia harus patah hati sebelum mencinta.


***


Syila langsung memasuki mobil Dika,


''Dika, kau juga disini ? Aku kira kau sedang istirahat di rumah.'' Masih dengan wajah berseri, Dika tidak menjawab, matanya menyiratkan kemarahan.


Dika mulai menyalakan mesin mobilnya, ''Tunggu Dika, aku bawa motor.'' Cegah Syila.


'Dan sekarang dia bisa membeli motor, apa juga karena kencannya bersama pria lain ?' Asumsinya membuat Dika marah.


''Jadi begini kelakuanmu ? Kau bilang pagi tadi sibuk, lalu sekarang aku lihat kau sedang berkencan dengan pria ingusan itu.'' Dika menunjuk dengan matanya, dan Syila mengikuti arah Dika, ada Rayhan yang terlihat masih menghabiskan baksonya.


''Maksudmu kau sibuk berkencan dengan pria lain begitu ?'' Tambah Dika.


Ponsel syila berdering, nomor baru. Syila memilih mengangkatnya dulu.


''Iya betul Bu,''


''Baik, terimakasih kembali.''


Syila menutup telfonnya. Beralih kepada pria yang di bilang sebagai calon suaminya itu. Ditatapnya dengan sendu, masih tersisa rindu dihatinya, namun mengapa setiap kali bertemu selalu perselisihan yang ada.


''Dika, kau mengajakku bertemu lagi-lagi hanya untuk berdebat ?''


''Bahkan aku baru saja mengenal pria ingusan yang kau sebut itu. Bagaimana kau bilang aku sedang berkencan ?!!''


''Dan lagi, aku memang sibuk, dan sekarangpun aku masih sibuk, tadi aku berhenti hanya untuk makan bakso, aku hanya ingin mengenang momen ketika hangatnya bersamamu, aku sungguh sedih kau berkata demikian kepadaku, tapi aku tetap tidak bisa marah. Aku bahkan masih ingin bercerita dan bertanya banyak hal kepadamu, namun sepertinya dekat-dekat waktu ini bukanlah waktu yang baik untuk kita bicara, kau kembali seperti tidak membawa penawar rinduku, tapi kau seperti membawa belati untukku. Semoga semua kesalahpahaman diantara kita cepat selesai, aku pergi dulu.'' Tanpa menunggu jawaban Dika, Syila hendak membuka pintu mobil dan keluar, sebelum tangannya dicekal dan dengan pemaksaan Dika memajukan wajahnya hendak mencium bibir Syila.


Namun dengan tangan reflek, Syila malah menamparnya.


Dika tak percaya, bahkan untuk sebuah ciuman saja Syila sampai menamparnya.


''Maaf Dika, aku tidak bermaksud menamparmu,'' Sesalnya.


''Kenapa Syila ? Bahkan untuk sebuah ciumam saja kau berlebihan seperti ini ?'' Dika tak terima.

__ADS_1


''Bukankah kau pernah melakukannya ? Aku rasa itu cukup.'' Syila membuang muka.


''Tidak. Aku tidak pernah melakukannya kepadamu. Baiklah kau boleh keluar, bukankah kau sibuk ?''


Syila mencerna, 'Berarti waktu itu dia berbohong padaku ?'


''Maafkan aku Dika.'' Syila langsung keluar menuju vespanya.


Dika menjambak rambutnya frustasi.


Syila benar-benar menjaga dirinya untuk suaminya kelak. Bahkan tak terjamah dengan godaan seperti apapun. Sedangkan dia ? Seharusnya Syila yang murka kepada Dika, namun Dika tak ingin di salahkan, dia seperti mencari celah tentang kesalahan Syila. Dia menutupi busuknya dia sendiri.


Syila pergi dengan wajah yang murung, lagi-lagi hatinya merasa tersinggung oleh kata-kata Dika tadi.


'Sebenarnya apa yang Dika pikirkan, kenapa selalu menuduhku mendua. Aku bahkan tak mampu mengagumi pria lain, selain dirinya.'


''Kak, kau baik-baik saja ?'' Tanya Rayhan yang ternyata belum beranjak dari sana.


''Kau dari tadi belum selesai makan ?'' Syila mengalihkan pembicaraan.


''Ya seperti yang kau lihat.''


''Emm aku tidak tahu masalahmu apa, tapi jika kau murung begitu wajahmu benar-benar terlihat tua sekali, seperti nenek tua giginya tinggal dua.''


Sontak Syila kembali tertawa dengan omongan receh bronis itu.


''Ray, kau sungguh berbakat merayu, aku yakin wanitamu bukan hanya satu.'' Ledek Syila.


''Woo hoo hoo... Anda salah Nona, aku ini termasuk pria langka, karena nama kesetiaan aku junjung tinggi-tinggi dalam hidupku.'' Ucapnya bangga.


''Andai aku belum bertunangan, mungkin aku akan tertarik denganmu.'' Bercanda Syila, namun dianggap celah untuk Rayhan.


''Oke aku pergi dulu ya.'' Pamit Syila.


Rayhan masih saja terpesona oleh kakak-kakak penjual kue itu.


***


Syila kembali ke toko, memfoto stok kue serta contoh lainnya, mengirimnya kepada calon pembeli.


Lalu Syila masuk kamarnya mengecek pemasukkan dan pengeluaran bulan ini.


Matanya membola tak percaya, lalu ia cocokkan lagi dan lagi. Omset bulan ini menaik lima kali lipat.

__ADS_1


Syila teriak hore sambil melompat diatas kasur kecilnya memeluk boneka kelincinya.


''Aku harus memberi bonus dan cuti untuk kedua karyawan itu.''


__ADS_2