
''Kau anak baru disini ?'' Tanya karyawati senior.
''Iya Kak, saya bisa bantu apa ya ?'' Tanya Syila sesopan mungkin.
Namun sepertinya karyawati itu tidak menyukai Syila. Dia merasa seperti akan tersaingi. Melihat postur tubuh Syila yang proporsional seperti model. Tinggi dan langsing, berisi ditempat tertentu saja dan di dukung oleh wajah manisnya.
Belum apa-apa Syila sepertinya sudah harus mempunyai musuh.
''Antarkan pesanan ini ke meja 37, 14, 11, 09 dan 02, setelah selesai antarkan ini ke private room. Disana sedang ada meeting.'' Menunjuk pesanan dalam jumlah banyak.
Syila bahkan belum tahu dimana letak private room itu.
Tidak apa masih banyak stok semangat serta sabar Syila.
Diapun mengantarkan pesanan dari meja ke meja dengan ramah dan senyum manisnya. Membuat para pelanggan yang datang merasa senang juga. Hal itu tak luput dari pengawasan senior yang bernama Nerra.
Nerra merasa sangat kesal melihat kemampuan Syila yang dengan mudah menarik pelanggan.
Dan dengan sengaja saat Syila membawa pesanan minuman, kaki Nerra terjulurkan hendak mencelakai Syila, namun sayang nasib buruk menimpanya, lantai yang ia pijaki ternyata sedikit basah karena minyak, Nerrapun terjungkal sendiri dan malu sendiri. Rasa sakitnya tidak seberapa dengan rasa malunya. Sedangkan Syila dengan santainya melayani pesanan orang-orang.
''Jangan usil Nerra.. Dia hanya anak baru, sedangkan kau sudah menjadi anak emas di sini, jangan sampai bos mengganti posisimu karena kebodohanmu sendiri.'' Ucap teman Nerra memperingati, Zee.
Syila mengantar pesanan yang berada di private room dengan Yumma.
Ketika masuk lalu menata macam-macam pesanannya dan ketika berbalik badan hendak undur diri, Syila dibuat terkejut, Sam tamu privatenya.
''Syila ? Kau bekerja disini ?'' Saat melihat seragam kafe yang digunakan Syila.
''Ahh iya baru hari ini masuk, silahkan dinikamati ya.'' Ucapnya sopan. Lalu pergi meninggalkan ruangan itu.
''Kau mengenalnya ?'' Tanya Yumma penasaran.
''Hanya sekedar tahu nama, dia senior kampus.'' Jawab Syila.
''Tapi jika dilihat dari caranya melihatmu, dia nampak menyimpan rasa.'' Jelas Zee yang memang orangnya lebih peka.
''Ah tidak, hanya perasaanmu saja mungkin. Kami jarang berinteraksi.'' Syilapun berlalu meninggalkan Zee, membantu teman lainnya dibelakang. Mencuci prabotan bekas pakai.
Pukul 10 malam Syila pulang. Dia mengambil sift 2. Sampai kontrakan dia mengecek ponsel.
List panggilan dari Dika dan Ayah.
__ADS_1
Syila hanya membalas melalui pesan bahwa tadi dia sibuk dan lelah lalu ketiduran.
Baik Dika maupun Ayah tidak ada yang tahu jika Syila kini bekerja bahkan Bibi Nuha juga tidak tahu.
Keseharian Syila kini padat, pagi sampai siang dia kuliah, sore sampai malam dia bekerja. Lalu dia akan belajar disela-sela waktu sibuknya. Bahkan terakhir dia menjelaskan kepada Dika bahwa mungkin hari-harinya akan sibuk dan waktu luangnya hanya sedikit. Dika menanyakan alasannya namun Syila hanya menjawab ikut kegiatan kuliah.
***
Di kota lain. Dika merasa tidak tenang, karena memang akhir-akhir ini Syila sangat sulit dihubungi. Sehari paling ia hanya akan berbalas pesan beberapa kali.
''Dika kau kenapa ?'' Tanya Laura yang melihat Dika murung.
''Aku khawatir dengan Syila, dia susah sekali di hubungi. Rasanya ingin menemui tapi kerjaan disini tidak selesai-selesai.'' Keluh Dika.
''Dika, biarkan saja tunanganmu disana. Mungkin dia sedang bersenang-senang, menikmati masa mudanya. Apa lagi kampus yang dimasuki oleh Syila adalah kampus favorite. Pasti banyak teman-teman yang keren.'' Jawaban Laura membuat pikiran Dika berpikir yang tidak-tidak.
Apa mungkin iya Syila seperti itu. Tapi rasanya tidak mungkin.
''Dia tidak begitu Laura !" Bantah Dika.
''Jangan naif Dika, kau pikir Syila sekarang hidup dimana ? Dia hidup sendiri saat ini tidak ada yang mengatur dan menjaganya, dia hidup bebas. Beda ceritanya jika dia hidup di lingkungan Ayah dan Ibunya.'' Kompor Laura.
Saat Sam berdiri dihadapan Syila, mereka tengah membicarakan sesuatu lalu ada seseorang yang mendorong Syila, hingga Syila hampir terjungkal, dan ternyata jatuh dalam pelukkan Sam. Saat itu pula seseorang mengambil gambarnya sangat apik. Seolah-olah mereka sedang berpelukkan.
Tak lain ini semua adalah rencana Sam sendiri.
Ya Sam dan Laura sedang bekerja sama. Sama-sama ingin menghancurkan hubungan Syila dan Dika.
Laura memperlihatkan foto itu kepada Dika. Tentu Dika menjadi sangat marah.
***
Dika sengaja menunggu sampai Syila menghubunginya, biasanya dia akan memberi kabar hampir tengah malam.
''Selamat malam Dika, semoga harimu menyenangkan, pekerjaanmu lekas selesai dan pulang, aku merindukanmu.''
Pesan-pesan itu tidak pernah absen dari pesan Syila. Dan Dika membukanya ketika pagi hari.
Dika melakukan panggilan. Dengan senang hati Syila mengangkatnya.
''Halo Dika. Kau belum tidur ?'' Syila senang sekali. Namun rasa senangnya melebur ketika mendengar nada bicara Dika yang cenderung dingin.
__ADS_1
''Belum, aku menunggumu. Apa hari ini kau bersenang-senang ?''
''Itu..'' Belum selesai Dika sudah memotong pembicaraan Syila.
''Apa kau hari ini sangat sibuk ?''
''Emm...'' Lagi-lagi Dika memotongnya.
''Apa yang kau lakukan dengan seniormu ?''
Syila diam.
''Apa kau merasa kesepian sekali lalu kau mencari kesenangan dengan seniormu itu ?''
Syila tak mengerti ada apa dengan Dika, dia marah ? Apa salahnya ? Namun kata-kata Dika sangat menyinggungnya. Syila dibilang wanita kesepian dan mencari kesenangan dengan pria lain.
''Apa yang kau bicarakan Dika ? Kau menungguku hanya untuk pertanyaan-pertanyaan konyol ini ?''
''Bahkan aku tak mengerti apa yang kau maksud, itu kata-kata untukku ? Apa kau meragukanku ?''
''Kau menuduhku mendua darimu begitu ?'' Syilapun terpancing emosinya. Dia sudah lelah dengan drama di kafe, masih ada drama di kontrakan.
''Kau merasa bukan ?'' Pancing Dika lagi.
''Sudahlah aku sangat lelah hari ini, jika kau menelfonku hanya untuk berdebat aku tidak punya waktu.''
''Iya, waktumu habis hanya untuk bersenang-senang dengan pria lain !!'' Bentak Dika. Dika mengatur deru nafasnya karena emosi. Lalu dengan seksama ia mendengarkan suara di seberang sana. Suara isakan ? Syila menangis ?
''Syila ? Sayang ?'' Panggil Dika melunak.
''Maaf sayang. Aku tidak bermaksud membuatmu menangis.'' Sesal Dika.
''Aku hanya cemburu melihatmu dekat dengan pria lain, lalu waktumu sangat tersita untukku. Membuat..''
''Membuat kau berpikir aku mengkhianatimu, begitu ?! Kau tidak mempercayaiku ?'' Ucap Syila teriris.
''Dika, akupun sama denganmu, merasa kau lebih dekat dengan mantanmu, dengan waktu yang lebih banyak dengannya, tidak menutup kemungkinan kau bisa saja merubah perasaanmu. Namun aku sebisa mungkin menekannya agar tidak menganggu pekerjaanmu.''
''Sudahlah aku lelah. Aku mau tidur. Kau juga tidur. Besok masih akan banyak drama lagi !!" Syila menyindir.
Akhirnya Dika istirahat dengan penyesalannya. Dan Syila dengan lukanya.
__ADS_1