Karma Cinta

Karma Cinta
Ziarah


__ADS_3

Keesokan harinya, Kaisar membawa Syila ke makam orang tua Syila. Hari yang teduh, tidak terik tidak juga mendung. Syila membawa dua buket bunga mawar merah, tanda ia sangat mencintai ayah dan ibunya. Lalu bersimpuh di gundukan tanah bertulis nama Ayahnya. Rasa rindu yang kembali menyeruak di dalam kalbu, namun tak terbalas, Syila menahan air mata yang hampir keluar lagi. Klise kebersamaan dengan orang tuanya kembali berputar dengan apik.


''Ayah ... terimakasih, karena keputusan terbaikmu. Terimakasih sudah memilihkan pendamping hidup yang luar biasa untukku,'' Syila melirik Kaisar yang ikut bersimpuh di sampingnya, suaranya tercekat ditenggorokkan, Kaisar memeluk bahu Syila, memberi kekuatan.


''Ayah, aku merindukanmu, merindukan Ibu juga. Andai kalian masih ada, masih bisa melihatku memakai gaun cantik di hari resepsiku, masih bisa menimang cucu kalian,'' Syila menunduk, ia lihat perutnya yang menjadi tempat berkembangnya janin. Sedangkan Kaisar mengaminkan ketika Syila mengucapkan kata cucu.


''Tenang di sana ya, jangan khawatirkan Syila di sini. Karena Syila sudah menemukan sandaran yang begitu nyaman setelah kalian. Doakan rumah tangga kami langgeng seperti Ayah dan ibu, hanya ada maut yang bisa memisahkannya,'' Syila mundur, memberi akses kepada Kaisar, tak kuasa berlama-lama takut ia terbawa kesedihan yang akan mempengaruhi janinnya yang baru berkembang.


''Ayah, Ibu, aku menepati janjiku kan? aku menjadikan putri kalian prioritas dalam hidupku, bahagianya adalah bahagiaku. Walau awal-awal begitu sulit, tapi aku senang, perjuanganku terbalaskan dan berbuah manis,'' terjeda, Kaisar melihat Syila yang masih mengusap air matanya.


''Hehehe,'' Kaisar terkekeh dengan wajah menunduk dan tangan mencabuti rumput liar yang tumbuh, pandangannya menerawang jauh.


''Bahkan kini putri kalian yang tidak bisa jauh dariku, dia akhir-akhir ini sering sekali menunjukkan aku sebagai miliknya kepada orang lain. Seperti takut aku akan berpaling saja,'' Kaisar mengingat kelakuan Syila yang sering bertingkah manja di hadapan umum, sebelumnya ia begitu enggan dengan alasan malu.


''Padahal jangan kan untuk berpaling, aku sendiri tidak bisa melihat wanita lain selain putri kalian,'' Kaisar mengelus nisan Ayah mertua bergantian ke Ibu mertuanya, bayangan pertama kali ia terpesona pada gadis sekolahan, yang lebih pantas dijadikan adik, tapi ternyata obsesinya ingin menjadikan dia sebagai pendamping hidup lebih mendominasi.


Bagaimana hari-hari terberat setelah kehilangan istri pertamanya bersama calon anak mereka, Kaisar lewati dengan bekerja tanpa mengenal waktu dan demi melupakan gadis SMK itu.


Pemandangan saat mata hampir menangis dengan wajah takutnya terlihat lucu bagi Kaisar sampai mengalihkan sebagian hidup Kaisar. Terus mengganggu pikirannya. Dan seperti yang di katakan Rana, Kaisar hampir gila.


.


.


.


Di kediaman mendiang orang tua Syila.


Semua masih sama, karena memang Syila meminta seseorang untuk terus merawat bangunan beserta tanamannya. Syila tersenyum simpul. Dengan Kaisar yang terus menggenggam tangannya.


Masih di pagar sebelum masuk halaman rumah. Keduanya berhenti menatap bangunan itu dengan pikiran masing-masing.


Kaisar yang mengingat pertama kali datang untuk sebuah pemakaman, di sana juga Kaisar melihat sorot kebencian Syila untuknya yang luar biasa membuatnya sakit. Pertama kali mendapatkan bibir Syila, dengan alibi menyuapi.


Kaisar tersenyum.


Sedangkan Syila, ia mengenang banyak hal, salah satunya kedatangan pria asing yang tiba-tiba berstatuskan suaminya. Pria yang semaunya tapi kini dia malah sesayang-sayangnya.

__ADS_1


Syila juga tersenyum mengenangnya.


''Ayo!'' kata mereka serempak, terdiam, lalu tertawa bersama lagi.


Mereka akan istirahat sebentar, sebelum melakukan perjalanan ke kota lagi.


''Aku sangat suka rumah ini,'' kata Kaisar memecah keheningan.


''Kenapa? rumah ini sempit,'' balas Syila.


''Karena rumah ini terdapat kenangan istriku yang bisa membuatnya tersenyum hanya dengan mengingatnya,'' tatapan yang dalam Kaisar berikan kepada Syila.


Syila mulai dengan mengalungkan tangannya ke leher Kaisar, menjangkau bibir yang terus berkata manis kepadanya dengan sedikit berjinjit.


''Pandai bicara sekali, padahal kau juga ada di kenangan itu,'' sahut Syila.


''Berarti kau akan tersenyum saat mengenangku?'' selidik Kaisar.


Syila menganggukkan kepalanya dengan senyum menggoda.


''Tapi aku tak mau menemanimu hanya sebagai kenangan, sudah seperti sejarah saja, aku ingin terus menemanimu dengan nyata, seperti saat ini misal,'' Kaisar mempererat pelukkannya di pinggang Syila.


Kruk kruk


Keintiman yang baru saja akan terjadi bubar jalan akibat suara dari perut Syila.


''Hehehe aku sangat lapar,'' cengengesan sendiri.


Kaisar membuang napas panjang, lalu menarik kedua sudut bibirnya, memandang dengan sayang istri keduanya yang semakin hari semakin berseri wajahnya.


''Ayo! aku ingin makan di warung lesehan,'' kata Kaisar dengan semangat.


.


.


.

__ADS_1


Di warung lesehan.


''Kai, kau pernah makan di tempat seperti ini?'' di rumah makan biasa yang sangat sederhana, hanya menyajikan masakan ala daerahnya.


''Tidak pernah, tapi aku penasaran, ingin mencobanya denganmu. Rekomendasikan, makanan mana yang harus kupilih?'' tanya Kaisar yang tampak bingung dengan menunya.


''Baiklah, serahkan padaku!'' semangat Syila memesan.


Beberapa saat kemudian Kaisar terperangah dengan hidangan di atas mejanya. Melihatnya saja sudah membuatnya kebingungan, apa akan habis dengan nasi empat porsi.


''Sayang, aku tidak akan mampu menghabiskan semua,'' nanar Kaisar menatap makanan yang dari aromanya sudah menggelitik perut namun dengan porsi berlebih.


''Tenang, aku kan sangat lapar,'' Syila merasa lucu melihat ekspresi suaminya. Andai Kaisar tahu jika Syila tengah berbadan tiga, pasti dia akan memesan lebih dari ini.


Syila makan dengan lahapnya, tak mempedulikan setiap mata yang memandangnya, salah satunya Kaisar. Kaisar sendiri kesulitan menelan makanannya melihat istrinya seperti tidak makan selama seminggu.


''Hei, pelan saja, aku tidak akan merebutnya darimu,'' ucap Kaisar dengan memberikan segelas air minum saat Syila tersedak.


''Terimakasih,'' hanya itu. Lalu Syila melanjutkan makannya lagi. Selain lapar, tampat itu memang sering ia kunjungi di masa sekolahnya dulu, masakannya selalu enak dengan kadar kematangan yang pas. Jika sayuran mereka memasak tidak terlalu matang, jadi masih terasa rasa asli sayur segarnya saat dimakan.


Kaisar mendorong piring yang hanya berkurang sedikit, ''Ini makanlah, sepertinya kau sangat lapar.''


Masih dalam kebingungannya. Namun disisi lain Kaisar senang melihat Syila yang lahap makannya.


.


.


.


Mereka sudah berada di kamar. Sepanjang perjalanan Syila terus menyunggingkan senyumnya, sesekali ia mengelus perutnya.


'Kalian kenyang? seharusnya sudah,' bahasa kalbu, dia tersenyum sendiri.


Lalu Syila pergi ke dapur mengambil air mineral. Membuka vitamin untuk ibu hamil yang diam-diam ia bawa.


''Kau minum apa?'' tanya Kaisar membuat Syila terkejut.

__ADS_1


''Ini hanya vitamin, darahku sedikit rendah,'' bohongnya.


Bagusnya Kaisar percaya begitu saja dengan alasan Syila.


__ADS_2