Karma Cinta

Karma Cinta
Penjual Sate


__ADS_3

Empat semester sudah Syila berkuliah, selama itu Syila semakin menutup hatinya untuk pria lain. Yang ia lakukan hanya belajar dan berwirausaha. Toko Syila semakin ramai, Syila mampu menarik para konsumen dengan varian kue buatan Syila sendiri.


Syila juga ditunjuk oleh dosen menjadi asisten dosen. Karena otaknya yang terbilang cerdas, Syila juga mampu dalam menyampaikan materi seperti dosen dengan cara yang unik dan lebih mudah diterima oleh teman-teman lainnya.


Hal itu semakin membuatnya tertutup dan menyita waktunya. Jadi Syila sangat minim waktu jika harus memikirkan tentang cinta-cintaan.


Hari ini, hari Sabtu, Syila menutup tokonya lebih awal. Memberikan waktu istirahat panjang bagi beberapa karyawannya. Syila sudah merekrut karyawan baru lagi. Karena jika hanya dua, mereka keteteran dalam melayani.


Syila merebahkan tubuhnya pada kasur kecil itu. Memijat pangkal hidungnya yang sedikit berdenyut. Akibat sering berdiam diri di layar monitor. Ponselnya berdering, Ayah menelfon. Kembali semangat yang sudah hampir habis kini sudah terisi penuh lagi.


Ayah menelfon menanyakan kabar putrinya, kegiatan hari ini bagaimana. Dan yang paling teringat oleh Syila saat mengatakan bahwa Dika akan bertunangan dengan Laura. Acara itu akan dibuat meriah di kediaman Laura, Ayah tadinya mendapat undangan dari Bibi Liyana, namun ia masih ragu untuk datang. Niat hati ingin meminta Syila mewakilinya saja. Namun ia urungkan kala Syila bercerita tugas kuliahnya menumpuk karena ia juga merangkap menjadi asisten dosen.


'Mengapa rasanya masih begini, padahal ini sudah memakan waktu yang lama. Hatiku..' Syila memegangi dadanya yang terasa sakit. Sebesar itukah sebenarnya rasa sayangnya untuk Dika.


Syila beranjak, tak ingin terus berlarut dalam kesedihannya kembali. Membersihkan diri dan berniat untuk makan diluar.


Syila mengendarai motor vespanya, ia terlihat semakin imut.


''Mengapa ramai sekali sih jalanan.'' Macet dimana-mana karena pengendara saling berebut jalan.


''Yaa ampun malam Minggu.'' Syila menepuk jidatnya sendiri. Anti keluar ketika malam Minggu, selain jalanan padat, ia juga harus melihat banyak muda mudi yang saling berpelukkan atau berpegangan tangan dijalanan.


''Cihh... menjijikkan !'' Kala tanpa sengaja ia mendapati sepasang kekasih saling berciuman di tempat umum bahkan mereka masih terlihat sangat muda.


Syila terus melajukan motornya, hingga ia menepi kala melihat tukang sate.


''Satenya satu porsi, Pak !!" Ucap Syila bebarengan dengan suara pria. Syila mendongakkan wajahnya seraya tersenyum manis karena tanpa disengaja mereka mengucapkan kata yang sama dan bersama-sama.


Namun seketika senyumnya luntur, wajah yang saling beradu, tatapan Syila berubah menjadi sendu. Klise waktu bersamanya terulang kembali. 'Dika.'


Dika masih menampakkan senyumnya, ia memberikan kursi kosong untuk Syila yang berada tak jauh darinya.


''Silahkan duduk Nona, kakimu akan pegal menunggu pesananmu dengan terus berdiri.''


Buru-buru Syila memalingkan wajahnya, 'Kenapa malah bertemu orangnya. Aku membenci hati ini, hati yang rapuh !!'


Karena rasanya ia sangat merindukan pria ini. 'Dika masih amnesiakah ?'

__ADS_1


''Tuan, Nona ini pakai bumbu apa ?'' Tanya tukang sate.


''Bumbu kecap saja Pak !" Lagi-lagi mereka mengucapkan kata yang sama dan bersama-sama.


Dika nyengir memperlihatkan giginya yang rapi, menambah ketampanannya.


''Selera kita sepertinya sama Nona ?'' Tanya Dika berbasa basi.


''Ahh iya sepertinya begitu.'' Jawab Syila sekenanya.


'Jika Dika tetap setia, mungkin kita saat ini sudah menikah, atau mungkin aku sudah mengandung benihnya, kita sudah hidup dalam ikatan yang sah. Makan sepiring berdua, saling menyuapi penuh cinta.' Syila tersadar dari pikirannya sendiri. Bodoh !!


Syila melihat tukang gulali, ia membelinya satu. Jika gulali ia teringat dengan Adji, pria yang baik, hanya salah pergaulan. 'Ah.. bagaimana kabarnya ya ? Pasti dia sudah hidup bahagia bersama anak dan istrinya.'


Syila kembali duduk ditempat semula dengan makan gulalinya, Dika mengamati wanita itu terus. Lalu senyumnya terbit begitu saja. Syila melihatnya.


''Emm kau mau ?'' Syila menawari, Dika menggelengkan kepalanya.


''Apa kau masih sekolah ?'' Tanya Dika.


''Iya.'' Jawab Syila.


Syila tersenyum, lagi-lagi ia dianggap seperti anak SMA, ''Aku kuliah semester empat Dika.'' Tanpa sadar Syila memanggilnya Dika.


''Kau mengenalku ?'' Tanya Dika dengan penuh keheranan.


'Aku kelepasan.' Batin Syila.


''Ohh jadi namamu juga Dika, maaf aku tidak sengaja, sepintas wajahmu mengingatkanku dengan seseorang.'' Jawab Syila.


''Wah pasti orang itu sangat kau cintai, sampai imajinasimu kepada orang lain terpenuhi tentangnya.'' Syila berhenti mengunyah. Bagaimana harus menjawabnya. Jika sebenarnya orang itu adalah pria di depan matanya ini sendiri.


''Tuan, Nona pesanan kalian.'' Suara pedagang sate memutuskan percakapan antara Syila dan Dika.


'Malaikat.' Syila.


Syila dan Dika lagi-lagi melakukan hal yang sama, menyodorkan uang pecahan seratus ribu rupiah. Pedagang itu nampak bingung karena kembaliannya hanya cukup untuk satu orang.

__ADS_1


''Biar aku yang bayar.'' Dika memberi penawaran.


''Tidak terimakasih, aku tidak ingin berhutang budi kepada orang asing.'' Kata Syila yang entah mengapa membuat hati Dika sedikit bersedih karena di katai orang asing.


''Ini untuk Bapak saja, saya beli lima porsi lagi, dan tolong kasihkan kepada orang lain saja.'' Ucap Syila, kemudian berlalu menuju vespanya.


Tentu sang pedagang merasa sangat senang, rejeki untuk anak-anak batinnya.


''Terimakasih Nona, semoga kau selalu bahagia !''


Doa sangat receh namun begitu berarti untuk Syila, Syila mengaminkan sembari tersenyum.


Dika tak henti-hentinya menatap kepergian Syila, 'Dia seperti tidak asing, tapi aku benar-benar tidak mengingatnya. Gadis yang manis.' Senyum Dika, lalu juga pergi dari sana.


Dika tak henti-hentinya memikirkan pertemuannya dengan Syila tadi. Lamunannya buyar kala panggilan masuk dari ponselnya.


***


Sementara Kaisar, dia juga menjadi sangat sibuk, banyak pertemuan-pertemuan penting serta kunjungan berbagai tempat yang harus ia sendiri yang mengerjakannya, tak lupa asisten pribadinya yang kemana-mana selalu ada, Lewis.


Liontin Syila juga selalu ia bawa, ia rasanya ingin sekali menemui Syila, namun waktunya sangat padat.


''Lewis, menurutmu aku bekerja keras seperti ini untuk apa ?'' Kaisar sedang satu mobil perjalanan menuju rumahnya, ia sangat lelah.


''Tentu untuk Tuan sendiri.'' Jawan Lewis sekenanya.


''Aku bosan dengan keseharianku, bekerja tiada henti, namun tidak ada yang kuberi.'' Keluh Kaisar.


''Bukankah ada anak-anak panti ?'' Jawab Lewis menyadarkan pikiran Kaisar.


''Ahh iya kau benar, bagaimana dana sumbangan bulan ini ? Kau sudah mengirimnya ?''


''Sudah Tuan.'' Kaisar hanya berdehem, mencoba memejamkan matanya.


''Tuan, sepertinya Anda harus mencari seorang istri, agar ada yang memberi semangat atau sekedar menyambut saat Tuan datang.''


''Aku tidak berminat.'' Jawaban ketus dari Kaisar.

__ADS_1


Lewispun diam, 'Aku selalu berdoa semoga ada wanita yang mampu merubah kepribadian bos gila pekerjaan ini. Hari liburpun aku masih disuruh bekerja, anak-anakku menagih untuk liburan.' Sedih Lewis namun tak mampu membantah.


__ADS_2