
"Manis sekali sih cerita cintamu itu.'' Dea berkomentar.
''Bagaimana mungkin kau benar-benar mendapatkan pangeran tak berkuda sepertinya. Akupun ingin.'' Kini Una.
Tidak tahu saja mereka bagaimana peliknya kisah cintaku ketika dengan Adji. Bagaimana rasanya saat cinta harapan berada diujung angan-angan harus terlebur hancur dengan luka pengkhianatan.
''Apakah itu tandanya kalian akan merebut tunanganku ?'' Ceplos Syila.
Sontak Syila lagi-lagi mendapatkan tatapan horor dari teman-temannya.
''Aku memang ingin, tapi bukan berarti juga harus tunanganmu itu.'' Una ketus menjawabnya.
''Ngomong-ngomong, sudah sejauh mana kalian berhubungan ?'' Imbuh Una lagi dengan menaik turunkan alisnya.
''Apa maksudmu. Kau jelas tahu kami sudah sampai jenjang pertunangan.'' Jelas Syila kembali.
''Berciuman, bercumbu, atau yang ekstrim lainnya ?'' Bisik Una lagi.
Langsung mendapatkan tatapan horor dari Syila.
''Tidak ada. Hanya pegangan tangan saja.'' Menghembuskan napas lelah.
Una memang lebih bar bar dari yang lainnya. Dan entah apa saja yang sudah ia lakukan dengan pacarnya. Terkadang Syima melihat tanda merah dilehernya. Namun malas membahasnya. Syila merasa itu privasinya.
''Syila kapan kau berangkat ke kota ?'' Kali ini Talita.
''Lusa aku berangkat.''
''Kau benar-benar akan pergi ? (dengan wajah sedih). Semoga perjalananmu meraih cita-cita lancar ya.'' Imbuhnya.
''Iya. Kau sendiri bagaimana ? Aku pasti akan sangat merindukan kalian.''
''Jangan pikirkan kami. Kami sudah mempunyai rencana masing-masing. Kita saling support dan mendoakan yang terbaik saja. Jangan lupa untuk selalu berkomunikasi.'' Dea mengimbuhi.
Sore itu dihabiskan dengan berkumpul dengan teman se geng.
***
''Ayah.. Ibu..''
__ADS_1
''Ada apa sayang ? Kemarilah.'' Kata Ayah.
Syilapun mendekati Ayahnya juga Ibunya yang kebetulan saat itu sedang bersantai di ruang keluarga.
''Malam ini tidur bareng lagi ya..'' Melas Syila.
''Ada apa lagi sayang ? Apa masih bermimpi buruk ?'' Ibu.
''Bukan. Tapi tidak tahu mengapa rasanya ingin berlama-lama dengan kalian. Rasanya akan ada perpisahan yang sangat lama. Aku sedih memikirkannya. Atau aku urungkan saja ya kuliahku di kota. Aku melanjutkan study di dekat-dekat sini saja.'' Beber Syila.
''Kau ini bagaimana ? Bagaimana mungkin anak Ayah semudah itu menyerahnya. Kita tinggal berangkat besok loh. Pendaftaranmupun sudah diterima. Itu impianmukan sayang. Ayah dan Ibu pasti akan bangga. Putri kami menjadi putri yang dewasa dan mandiri. Masuk universitas impiannya dengan nilai dan usahanya sendiri. Jangan risaukan kami. Kami hanya dirumah. Paling jauh pergi ke pasar. Hihihi.'' Ayah mencoba menghibur Syila yang mulai bimbang.
''Sebuah cita-cita itu ada dua jalan. Yang pertama jalan instan. Kau bisa membayar seseorang untuk mewujudkan cita-citamu. Tapi itu tidak baik. Kau tidak akan tahu bagaimana rasanya berjuang. Dan kau tidak akan bisa merasakan rasanya manis dan puas saat mencapai sebuah tujuan. Dan lagi, belum tentu cita-citamu itu bisa diterima atau berguna bagi orang lain. Membuat pengalaman hidupmu berkurang juga.''
''Yang kedua jalan yang penuh perjuangan dan pengorbanan. Memang ini lebih sulit. Karena bukan hanya pikiran yang terkuras. Jiwa, raga, hati juga waktumu juga akan berperan mati-matian sesuai semangatmu. Namun, itu akan membentuk pribadimu menjadi lebih kuat. Kau akan lebih memiliki banyak cerita juga pelajaran dalam hidup. Kau akan punya banyak pengalaman yang akan terus setia menemani dikehidupanmu kelak. Akan ada banyak cerita untuk anak cucumu nanti. Karyamupun akan lebih dihargai sesuai pengorbananmu. Dan yang pasti akan ada sebuah rasa bangga serta kepuasaan tersendiri.'' Petuah dari Ibu.
''Ibu ini sudah bawa-bawa anak cucu saja.'' Protes Syila.
Dasar Syila.. petuah panjang lebar begitu yang didengar bagian anak cucu saja.
Akhirnya dengan segala rengekannya, Syila berhasil membujuk Ayah dan Ibu agar mengizinkan tidur bersama lagi.
***
''Bangun sayang.'' Ayah dan Ibu mencoba membangunkan Syila.
Syila terkejut sontak langsung memeluk Ibunya dengan erat dengan terisak.
''Bu, aku bermimpi berada disebuah makam. Menangis dengan pilu dan penuh luka. Aku takut Bu.'' Ayah langsung memberikan segelas air putih.
''Tenang sayang, hanya mimpi.'' Ibu membelai kepala hingga punggung Syila.
''Aku takut Bu.'' Dengan tubuh yang mulai bergetar.
Akhirnya Syila kembali tidur dalam pelukkan kedua orangtuanya.
***
Hari ini adalah hari keberangkatan Syila. Dia semakin merajuk. Dia takut karena mimpi buruknya. Ayah dan Ibu mencoba menenangkannya lagi. Ketika sudah tenang, mobil yang akan mengantar mereka sudah datang, tiba-tiba Doni muncul.
__ADS_1
''Doni.. Ada apa ?''
''Aku mendengar keberangkatanmu dari Talita. Makanya aku kemari. Aku hari ini juga akan berangkat ikut sepupuku yang ada di negara X. Aku tertarik ingin kesana. Kau jaga diri baik-baik ya. Selamat atas pertunanganmu juga.''
'Sebenarnya lebih tepatnya karena ingin mencoba menghapusmu dari hatiku. Aku akan mencari kesibukkan disana. Dan ketika melihat tangannya, seperti ada yang tercubit hingga rasanya sakit sekali saat melihat jari manisnya tersemat cincin dari pria lain.'
''Ohh ya.. wahh hebat.. disana pasti akan ada musim dingin.''
Syila melepaskan syal yang sudah bertengker manis dilehernya.
''Ini.. Pakailah ini.. Aku berharap ada gunanya. Ini syal kesayanganku. Aku belajar merajutnya sendiri bersama Ibu.''
'Aku kaitkan benda itu dilehernya. Kutatap kembali wajah pria dihadapaku ini. Wajah yang pernah aku kecewakan mungkin sampai saat ini dia masih merasa kecewa. Aku selalu berdoa agar dia mendapat wanita yang lebih baik dariku. Terutama yang mampu membalas mencintainya. Karena aku tidak dapat melakukan itu.'
''Aku juga membawakanmu ini. Sudah lama ingin kuberikan. Tapi aku tak punya nyali.''
Sebuah kotak beludru warna merah. Aku buka isinya. Ini gelang ?
Aku menatap Doni.
''Semoga kau suka. Aku membelinya dengan uangku sendiri. Itu khusus kupesan untukmu.'' Dia nyengir.
''Apa ini tidak berlebihan ?''
''Itu tidak seberapa. Aku sangat beruntung bisa mengenalmu. Anggap saja itu bayaran karena kau selalu memberikan jawaban matematika.'' Doni cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
''Apa kau tidak menyukainya ?'' Saat melihat Syila hanya memandangi gelang tersebut, tanpa berbuat sesuatu.
''Bodoh..!! Bagaimana mungkin aku tidak suka. Terimakasih banyak. Ini sangat indah.''
'Tidak Syila. Ada yang lebih indah lagi. Yaitu senyummu. Aku pasti akan sangat tersiksa karena tidak dapat melihat senyummu kembali'. Batin Doni.
''Aku pakaikan.''
Doni memakaikan gelang itu ditangan kanan Syila. Gelang berwarna silver dengan ejaan huruf mengukir nama 'Arsyila' dan dengan berbagai hiasan bulan sabit dan bintang.
''Syila ayo sayang. Nanti kita tertinggal pesawat.'' Ibu memanggil.
''Iya Bu.''
__ADS_1
''Aku harus pergi sekarang. Semoga perjalananmu ke negara X lancar ya. Semoga disana nanti kau bisa bertemu dengan cintamu. Aku sangat beruntung bisa bertemu dengan pria baik sepertimu. Dan terimakasih banyak untuk waktu yang sudah-sudah. Jaga dirimu baik-baik. Aku pasti akan merindukanmu.'' Kata Syila.
Doni mengantar kepergiannya dengan doa harapan. Ia memegangi syal pemberian Syila. 'Semoga kebahagiaan selalu bersamamu.'