Karma Cinta

Karma Cinta
Bersamaku Dia Akan Bahagia


__ADS_3

Kaisar mendekati istrinya lagi, ia sudah memakai celana, hanya bertelanjang dada. Syila semakin waspada.


''Besok kita pakai gaya yang lainnya,'' bisik Kaisar langsung mendapatkan cubitan di area perutnya. Syila memberi satu potongan buah apel yang sudah di potong, ia suapkan ke dalam mulut Kaisar agar tak terus membahas masalah ranjang.


Kaisar mengecup singkat ujung kepala Syila, ''Aku suka gaya rambutmu yang sekarang, lebih cocok untuk wajahmu,'' Kaisar berlalu hendak memakai kemejanya, namun Syila tahan.


''Aku obati punggungmu dulu, Kai, jika di biarkan nanti infeksi, itu bekas kuku,'' Syila mengalihkan pandangannya saat Kaisar kembali menatapnya.


Kaisar mengambil kotak obat, ia berikan kepada Syila, Syilapun mengobati punggung Kaisar dengan telaten.


''Auu...,'' aduh Kaisar.


''Sakit sekali ya? maaf,'' Syila merasa bersalah.


''Aku bohong, haha...,'' setelah mengatakan itu, Syila menekan dengan sengaja luka Kaisar.


''Sayang yang ini benar-benar sakit,'' jujur Kaisar.


"Aku tidak percaya!!" jawab Syila kesal.


Selesai, Kaisar juga sudah rapi dengan setelan jasnya, sekejap ia memperhatikan lagi kondisi Syila, ia berjalan masih tertatih, terkadang meringis, seganas apa dia semalam, Kaisar sendiri tidak menyadarinya, Syila masih menggunakan kemeja semalam, huft... dia menyerah jika harus menilai penampilan Syila yang seperti ini, yang ada nanti dia benar-benar kehilangan tender besarnya.


''Kai, aku mau ke toko,'' kata Syila sebelum Kaisar membuka pintu kamar.


''Dengan dirimu yang seperti ini? tidak boleh!'' jawab Kaisar.


''Nanti Fanya kusuruh kemari membawakan ganti, di toko ada beberapa bajuku,'' masih ngeyel ingin pergi.


''Sayang, kau berjalan saja masih seperti ini,'' prihatin Kaisar.


''Ayolah, ada pesanan wedding cake lagi,'' Syila berjalan mendekati Kaisar, ia sentuh lengannya bergelayut di sana sambil memohon. Jurus manja ia keluarkan, jika Ayah atau Ibunya pasti tidak akan bisa menolak jika sudah begini. Dan ternyata berlaku juga dengan suaminya, Kaisar.


''Kau sedang merayuku? baiklah aku luluh, kau menang. Siapkan dirimu malam ini, kita ganti gaya lagi, itu syaratnya,'' mata Syila hampir keluar mendengar ucapan Kaisar yag terakhir.


''Ini saja masih sakit, duda gila!'' Kaisar tertawa, Syila membuat hatinya begitu berwarna.


''Aku selalu mengawasimu, jangan macam-macam dan berhati-hatilah. Aku berangkat,'' Kaisar mengecup seluruh wajah Syila, berakhir dengan bibirnya yang terlihat lebih berisi karena bengkak.


''Iya sana pergilah!" usir Syila.


***


Sampai di kantornya, Kaisar tak henti-hentinya untuk tidak tersenyum. Ia menjawab semua sapaan dari karyawannya. Sampai membuat beberapa karyawannya terheran-heran. Apa bosnya sedang kerasukan jin? atau mulai gila? karena tidak biasanya Kaisar mau menjawab, ia hanya akan menganggukkan kepalanya saja dan dengan wajah yang datar tanpa ekspresi.

__ADS_1


Begitupun dengan Lewis, Lewis sampai bergidik ngeri melihat Kaisar seperti itu. Kemarin dia sangat menekuk wajahnya, gila dengan pekerjaan, ada celah sedikit langsung dia angkut. Sedangkan sekarang, dia mengulur waktu sampai selambat ini, padahal ini tender besar.


Meeting tender besar sudah selesai, kini tinggal membahas projek-projek dengan perusahaan yang sudah melakukan kerja sama dengannya.


Salah satunya dengan perusahaan dimana Dika bekerja, dia juga ikut dalam meeting ini, jabatan yang di percayakan semakin tinggi.


Dika menatap sinis kepada Kaisar. Tatapan permusuhan. Sedangkan Kaisar hanya mengacuhkan.


Meeting selesai, tentu dengan keuntungan yang fantastis untuk perusahaan yang Kaisar pimpin.


''Ada masalah apa? aku merasa kau seperti sangat tidak menyukaiku?'' tanya Kaisar setelah semua selesai, kebetulan Dika masih di dalam ruangan untuk membereskan berkas-berkasnya.


''Entahlah Tuan, tapi aku memang tidak menyukaimu secara pribadi!'' jawab Dika


''Apa berhubungan dengan Syila?'' Kaisar tersenyum mengejek, saat mendapati wajah Dika semakin masam.


''Seharusnya aku yang benci padamu, karena kau, aku harus lebih bersabar untuk mendapatkan hatinya yang membatu.''


Mendengar kalimat itu, ada secercah harapan dibenak Dika, ia beranggapan Syila masih mempunyai rasa untuknya.


''Tidak masalah, karena Syila sepertinya perlahan juga sudah mulai menerimaku. Aku akan membuat hubungan diantara kami jauh lebih terikat lagi.'' Dika sedikit bingung dengan yang di katakan Kaisar. Dia masih awas mengamati Kaisar dengan sorot permusuhan.


''Kau tenang saja, bersamaku dia akan bahagia, dan doakan kami, semoga benihku cepat tumbuh di rahimnya,'' Kaisar berlalu menepuk bahu Dika dengan senyum yang terus mengembang.


''Akkkhhhhh!!!'' kesal Dika.


'Pantas saja hari ini dia sangat aneh, ternyata itu alasannya? cihh bos yang sedang jatuh cinta ternyata merepotkan juga,' monolog Lewis sembari mensejajari langkah Kaisar yang terus tersenyum dengan wajah yang berseri-seri.


****


''Ya Tuhan!!!!'' teriak Fanya ketika ia sudah di dalam apartemen Kaisar. Matanya membola takjub sekaligus penasaran melihat penampilan Syila yang seperti itu ketika membukakan pintu.


Syila langsung membungkam mulut gadis yang sedang ta'arufan itu, menyeretnya masuk.


''Duda itu hot sekali ya?'' introgasinya, jiwa penasarannya sedang naik ke level 10.


''Lihat jalanmu, seperti bocah yang selesai sunatan, bibirmu sudah seperti bibir Agelina Jolie, dan lehermu sudah seperti leher macan Tutul,'' nilai Fanya dengan sangat hebohnya sembari tertawa.


Syila wajahnya terus semakin memerah, malu sekali, tapi ia juga tidak bisa menutupi semuanya.


''Diamlah, kau membuatku semakin malu, jangan kau ingatkan apapun itu yang berhubungan dengan itu.''


''Oke satu pertanyaan saja, jawablah, setelah itu aku diam,'' janji Fanya.

__ADS_1


''Apa?'' tanya Syila.


''Kau memakai gaya apa saja, hm?'' alisnya sudah di naik turunkan.


''Fanya, kau sepertinya hari ini belum makan sambal ya? nanti aku buatkan untukmu!'' kesal-kesal malu.


Fanya malah semakin tertawa. Syila pergi ke kamar mandi membersihkan tubuhnya, ia mengamati tubuhnya dalam pantulan cermin, matanya pun membola melihat seluruh tubuhnya penuh tanda merah seperti itu.


Wajahnya memerah, teringat bagaimana Kaisar memperlakukannya.


'Khilaf apa? dia doyan bukan khilaf!' gerutu Syila di kamar mandi.


***


Mereka sudah berada di tempat kerja, Syila langsung membuat pesanan wedding cake, sementara Fanya langsung membantu di kafe.


Selesai dengan hias menghias, Syila menuju kafenya, membantu pekerjaan di sana yang terlihat sangat keteter.


Syila mengambil apron dan memakainya seperti yang lainnya, ia mencatat pesanan para pelanggan yang datang.


Sudah waktunya orang-orang pulang dari kantor, Syila masih melayani, menuju meja 11 dengan tamu 5 orang disana.


''Selamat datang di 'Arsy cafe', ini menunya,'' Syila menyodorkan menu dari kafenya.


Dan ternyata ada Laura, ''Kau bekerja disini?'' remeh Laura.


Syila yang baru menyadari kedatangan Laura yang tertinggal dari lainnya hanya diam.


''Cocok sekali denganmu, seorang pelayan kafe,'' masih menghina.


''Laura kau mengenalnya?'' tanya salah satu teman Laura.


''Gaes, dia ini wanita yang sudah menggoda suamiku di acara pernikahan kami, dia juga wanita yang tak tahu malu, bermesraan dengan pengusaha kaya itu, Kaisar,'' asal bicara tanpa tahu kebenaran.


''Pakaiannya saja yang sok alim, kelakuannya menjijikan,'' imbuh salah satu teman Laura yang terprovokasi.


Fanya yang melihat keributan, dan Syila disana hanya diam, akhirnya menghampiri.


''Maaf ada apa ya?'' sopan Fanya.


Syila masih santai, mendengarkan apa yang mau Laura katakan.


''Nona, pecat saja pegawaimu ini, dia wanita tidak baik, nanti malah membawa sial untuk kafemu, dia wanita penggoda!'' ucap teman Laura lainnya.

__ADS_1


__ADS_2