
Ini seperti mimpi, bahkan kemarin aku sudah menyerah tanpa ingin memulai perang. Ketika aku tahu wanita yang selama ini menjadi penghuni hatiku telah memiliki tunangan. Namun dihari ini, siapa yang menyangka ternyata dia akan menjadi istriku.
Apa takdir sedang bercanda denganku, jika memang iya, aku berharap kali ini adalah sebuah keseriusan. Aku tak ingin hatiku yang sudah terlanjur berharap jauh dan melambung tinggi ini harus terhempas lagi oleh kekecewaan.
Kaisar.
***
Semua sudah dipersiapkan oleh keluarga Kaisar. Bahkan dengan kebaya yang Syila pakai adalah pilihan dari Nyonya Lulu, Ibu Kaisar sendiri.
Syila duduk berjejer dengan Kaisar, tepat ditengah-tengah ranjang Ayah dan Ibunya. Ibu Rahma dari kemarin tidak juga membuka matanya, namun monitor masih menandakan adanya kehidupan walaupun lemah.
Kaisar berjabat tangan dengan penghulu. Dengan satu tarikan, Kaisar mengucap janji suci itu dengan lantang, tegas dan percaya diri. Disaksikan Ayah Herman, orangtua Kaisar, Bibi Nuha, Fanya juga Lewis. Syila yang mendengarkannya sampai merinding. Seolah-olah dia mengucapkannya dengan sepenuh hati, seperti benar-benar menginginkan pernikahan ini terjadi dengan penuh cinta.
''Sah !!'' Begitu para saksi mengatakannya dengan serempak.
Semburat kebahagiaan dan kelegaan terpancar dari wajah Ayah Herman juga Kaisar dan orang-orang sekitarnya. Apa lagi Lewis, berharap setelah Tuannya menikah akan sedikit melonggarkan kegiatan pergi ke berbagai negaranya itu. Dia juga ingin bermain dengan anaknya dan bermanja dengan istrinya.
Berbeda dengan Kaisar, Syila nampak tidak suka dengan pernikahan yang terbilang paksaan ini. Bahkan dia harus menikah dengan pria ceroboh menurutnya, yang secara tidak langsung membuat keadaan orangtuanya menjadi seperti ini, terbaring di rumah sakit, walau memang bukan sepenuhnya kesalah Kaisar.
Kaisar menghadap Syila, Syila menundukkan wajahnya. Mereka saling memasangkan cincin pernikahan, Syila meraih tangan Kaisar lalu ia cium penuh takzim, ada yang menetes dari pelupuk matanya.
Bukankah seharusnya pernikahan itu harus saling mencintai, harus dengan debaran bahagia, dengan hiasan bunga-bunga, juga dengan cake yang cantik. Semua itu terlebur sudah, hanya akan menjadi mimpi, walau Syila tidak mempunyai niatan menikah dalam waktu dekat ini, tapi bukankah seperti itu garis besar untuk sebuah pernikahan.
Karena pernikahannya saat ini sangat berbanding balik dengan semua itu. Menikah karena terpaksa, dengan orang asing, dilaksanakan dirumah sakit, ditengah-tengah orangtuanya yang sakit. Syila tak menyangka semua akan menjadi seperti ini. Hatinya semakin tersayat kala mengingat Ibunya tak juga sadarkan diri.
__ADS_1
Kaisar mencium kening Syila, ia merasakan getaran bahagia yang luar biasa. Hatinya berbunga dan menghangat, gadis pujaannya kini benar-benar menjadi istrinya, sudah ia ikat dan ia miliki dalam pernikahan yang sah secara agama juga negara.
Mereka meminta restu kepada orang tua Kaisar. Doa dan harapan yang baik-baik mereka berikan untuk sepasang pengantin ini.
Lalu Syila dan Kaisar meminta restu pada Ayah Herman yang sejak tadi tak henti-hentinya tersenyum walau sangat terpaksa.
''Ayah, Syila sudah menikah, seperti yang Ayah inginkan. Sekarang gantian Ayah yang menepati janji Ayah. Cepatlah sembuh demi Syila.'' Tak dapat dicegah airmatanya mengalir kembali.
''Sayang, biarkan Ayah memberi doa harapan untukmu dulu. Jadilah istri yang berbakti kepada suamimu, seperti kau berbakti pada Ayah dan Ibu. Jadilah istri yang mampu menutupi aib suamimu, jangan biarkan orang lain tahu masalah rumah tanggamu. Dan yang terakhir jangan bersedih lagi, terimakasih sudah mengabulkan keinginan Ayah dan Ibu. Berbahagialah putri kecil Ayah, putri manja kesayangan Ayah. Hiduplah dengan baik.'' Syila hanya mengangguk.
''Dan kau, Kaisar. Tepati janjimu padaku. Aku menyerahkan putri kesayanganku padamu. Semoga keridhoan dan keberkahanNya selalu menyertai rumah tanggamu kelak.'' Kaisarpun mengangguk penuh keyakinan
''Jangan khawatir Ayah, aku akan melaksanakan tugasku dengan baik.'' Ayah Herman tersenyum kembali, ia kini mempunyai dua anak.
'Setidaknya Ayah akan tenang ketika nanti harus meninggalkanmu, putriku.'
''Bu, kenapa tidak bangun juga ? Syila sudah mengikuti kemauan Ibu, seharusnya Ibu segera sadar dan sembuh seperti kesepakatan kita kemarin.'' Padahal yang membuat perhitungan hanya Syila.
Syila menangis dengan menciumi punggung tangan Ibunya. Setelah itu Kaisar juga melakukan hal yang sama, mencium punggung tangan wanita yang sudah menjadi Ibu mertuanya itu, 'Doakan selalu rumah tangga kami, Bu. Aku berjanji demi nyawaku sendiri akan sebisa mungkin membahagiakan putri kesayangan Ibu.'
Tak lama kemudian monitor Ibu Rahma berbunyi nyaring dan menggambarkan garis lurus. Syila yang melihatnya sangat panik dan takut. Bibi Nuha memanggil dokter.
Semua keluar ruangan. Syila tak henti-hentinya memanjatkan doa, meminta pertolongan untuk kesembuhan orangtuanya kepada Tuhan.
Dokter sedang memberikan pertolongannya. Ayah Herman yang menyaksikan istrinya seperti itu juga langsung semakin drop. Suster keluar dengan wajah paniknya, mencari dokter spesialis yang sama dengan dokter yang menangani Ibu Rahma untuk memberikan pertolongan kepada Ayah Herman.
__ADS_1
''Sus, bagaimana ?'' Tanya Syila tidak sabar.
''Sabar Nona, dokter sedang melakukan tindakan, berdoalah.'' Jawab suster itu.
Tuhan berkata lain, Ibu Rahma telah berpulang. Dan sekarang pertolongan diberikan kepada Ayah Herman. Namun rasa kehilangan kepada istrinya membuat keadaan Ayah Herman semakin memburuk, dia syok dan sangat terpukul. Dia langsung kembali kritis. Dokter berusaha dengan kemampuannya untuk memberikan yang terbaik. Namun lagi-lagi Tuhan lebih menyayangi mereka. Mereka berpulang bersama-sama.
Kedua dokter keluar dengan raut sedihnya.
''Bagaimana Ibu saya dok ?'' Sambar Syila kemudian.
''Kami sudah berusaha yang terbaik, tapi Tuhan berkehendak lain. Kami turut berduka cita untuk orangtua Anda, Nona ?''
''Apa maksud dokter ? Orangtua ? Apa Ayah..?'' Syila tak mampu meneruskan kalimatnya.
''Ayah Anda drop, keadaannya menurun drastis, hingga ia kembali kritis, ketika melihat istrinya tiada. Kami sudah berusaha. Tapi lagi-lagi Tuhan berkata lain. Mohon bersabarlah.'' Syila langsung tak sadarkan diri. Kaisar dengan cepat menangkap tubuh yang sudah halal untuknya itu.
Semua orang berduka, Tuan Mahendra apa lagi. Ia sudah seperti kehilangan saudaranya sendiri.
Ayah Herman dan Tuan Mahendra sebenarnya sudah mempunyai janji untuk bertemu. Membicarakan masa depan anak-anak mereka.
Sebelumnya, Ayah Herman sering bercerita kepada teman lamanya, tentang putrinya yang membekukan hati untuk pria lain karena sakit hati. Dan Tuan Mahendra yang membalas cerita dengan menceritakan putra bungsunya yang tengah gila karena seorang wanita. Wanita yang ia cintai sebelum tahu namanya. Dan harus mengubur perasaannya ketika mengetahui wanita itu telah bertunangan. Dan itu membuat putranys setengah gila, menurut Tuan Mahendra.
Mereka saling bertukar cerita dan mengirimkan foto putra putrinya. Lalu muncullah ide untuk menjodohkan mereka.
Siapa sangka pertemuan dua sahabat lama itu dalam keadaan seperti ini. Ayah Herman ketika di ambulans sempat sadarkan diri sebentar. Meminta kepada Tuan Mahendra untuk melanjutkan ide menjodohkan putra putri mereka.
__ADS_1
Setelah sampai di rumah sakit, begitupun dengan Kaisar, dan dia sudah diobati lukanya, Tuan Mahendra langsung mengutarakan keinginan Ayah Herman. Tadinya sempat menolak, namun mengingat ini juga kelalaiannya, dan itu permintaan dari seseorang yang tengah kritis, Kaisar mengiyakannya. Pikirnya sekalian untuk melupakan Syila. Dan sebagai bentuk pertanggungjawabannya.