
Syila mencoba turun dari ranjang ketika Kaisar sudah beralih dari tubuhnya. Tapi ia sangat kesulitan, badannya lemas, bahkan kakinya masih belum bisa di ajak berdiri dengan tegap dan jangan di tanya area sana seperti apa rasanya. Duhhhh... sekalii...
"Sayang kau mau kemana?" tanya Kaisar dengan lembut.
"Toilet," jawab Syila sekenanya.
Tanpa permisi Kaisar mengangkat tubuh Syila, membawanya ke toilet. Syila pasrah, karena dia memang tidak mempunyai tenaga lagi. Mereka membersihkan tubuh berdua. Rasa malu masih ada pada Syila, namun tubuhnya tidak mampu mengekspresikan rasa tersebut.
Kaisar merebahkan tubuh istrinya di ranjang yang sebelumnya sudah ia rapikan.
"Sayang minumlah susu ini dulu," Kaisar menyodorkan segelas susu, setelah tadi kembali dari luar kamar.
Syila tak berkomentar apapun, tenaganya habis. Ia melihat jam dinding, "Apa sudah jam lima pagi?!" Syila terkejut, Kaisar menoleh pada jam tersebut dan benar kata Syila, ini sudah menjelang pagi. Kaisar pun sama terkejutnya.
"Sudah beristirahatlah, tidak usah pergi kemana-mana," kata Kaisar.
"Iya ini gara-gara kau duda gila!" Kaisar tertawa, mengecup seluruh wajah Syila, "Maaf, aku khilaf," balas Kaisar yang hanya mendapat cebikan dari Syila.
Syila mulai tertidur dalam dekapan Kaisar. Kaisar tiada hentinya menebarkan senyumannya. Ia mengirim pesan kepada Lewis semua meeting di undur menjadi jam usai makan siang. Tanpa menunggu balasan, Kaisar ikut memejamkan matanya.
Sebenarnya siapa sih yang baru saja melangsungkan pernikahan? kenapa jadi mereka yang bermalam panas?
(Authornya ga jelas emang)
***
Di tempat lain kedua insan sebagai pasangan halal baru saja terbangun dari tidur mereka. Laura masih betah bergelayut manja di dada bidang milik Dika.
Dika mengecupnya sekilas, lalu bangun menuju kamar mandi.
Hambar. Begitu yang Dika rasakan saat ini. Seharusnya ia bahagia, tapi nyatanya tidak begitu. Kata-kata Syila masih terus terngiang di pikirannya. Yang menyatakan jika Kaisar adalah suaminya. Dia tidak terima, Syila sudah di miliki orang lain dan hidup dengan baik, sementara dia? dia malah terasa tersiksa dengan status barunya ini.
__ADS_1
''Aku sudah mulai gila! ini pilihanku, kenapa terasa sangat menyiksa seperti ini?'' Dika mengadu kepalanya pada tembok di bawah guyuran shower. Saat merasakan otaknya yang di penuhi bayang-bayang Syila yang berdansa begitu mesra dengan Kaisar. Membayangkan ada pria lain yang menjamah tubuhnya, sedangkan dirinya hanya sekedar berjabat tangan saja tidak terjangkau.
Rasa iri menyergap hatinya.
Laura begitu kesal, walau Dika berusaha bersikap manis, namun terlihat sangat jelas di matanya yang kosong itu, tidak berbinar apa lagi bahagia. Ia tahu, itu pasti di sebabkan oleh Syila. Geram sekali, sepertinya ia harus membuat perhitungan dengannya.
****
Berbeda lagi dengan seorang pria yang berada di suatu rumah. Rumah yang gelap, berantakan dan sunyi. Pria itu duduk dengan depresinya, semua seperti senjata yang ia umpankan untuk lawannya namun berbalik arah menyerangnya.
Berkali-kali ia teguk minuman panas itu, berharap mengurangi kadar emosi juga luka yang ia rasakan.
Pikirannya menuju pada seorang wanita di masa lalunya.
''Syila, apa kau dulu mengutukku karena rasa sakit yang ku berikan? aku sudah memohon padamu, apa ini, apa seperti ini yang dulu kau rasakan juga?'' tertawa sumbang.
Pria itu memukul-mukuli dadanya sendiri yang terasa sesak. Keluarganya hancur, putra yang ia bela selama ini sudah berpulang, dan wanita yang menyandang sebagai istrinya dengan tega juga mengkhianatinya setelah semua yang dia miliki ia berikan. Dan disaat dia sedang terpuruk dengan tega dia pergi bersama pria tua yang lebih beruang, yang bisa memenuhi semua kemauannya.
****
Cahaya sang surya masuk melalui jendela yang tirainya terbuka, membiaskan dan mengusik lelapnya seorang Syila di bawah selimut tebalnya. Merasa terganggu, Syila menarik selimutnya sampai hanya rambutnya yang terlihat.
Sakit di seluruh tubuhnya juga rasa lelahnya membuatnya enggan bangun. Namun gangguan yang lainnya terpaksa harus membuatnya bangun juga.
''Sayang, bangunlah sebentar saja,'' pinta Kaisar dengan menepuk pipi Syila di balik selimut.
''Emmhhh.''
Hanya suara itu yang terdengar, dengan selimut yang kembali di naikkan lagi.
''Jika kau tidak bangun juga, aku pastikan kau akan tertidur sampai besok siang lagi, dan akan lebih sulit untuk bangun dari sekarang,'' ancam Kaisar sukses membuat mata Syila terbuka. Dia tidak takut dengan Kaisar, hanya jika dia mulai menyentuhnya lagi, Syila yakin tubuhnya akan mengkhianatinya lagi.
__ADS_1
Perlahan Syila membuka selimutnya, hanya menampakkan kedua matanya saja, ia melirik suaminya yang sudah nampak segar, karena selesai mandi.
''Ada apa?'' tanya ketus Syila. Masih teringat jelas adegan malam menjelang pagi tadi, di mana seluruh tubuhnya tunduk oleh perlakuan Kaisar. Ia malu, walau hal itu mungkin akan membuatnya ketagihan.
Ada rasa bersalah pada benak Kaisar, ia telah melanggar janjinya sendiri.
''Syila, aku minta maaf,'' Syila memicingkan matanya.
''Aku sudah melanggar janjiku sendiri, aku benar-benar tidak mampu menguasainya, aku khilaf," tutut Kaisar penuh rasa bersalahnya.
"Walaupun itu juga terasa sangat membahagiakan,'' dia nyengir penuh arti.
'Apa sih baru juga mau mengeluarkan kata-kata mutiara, tapi dia sudah kembali dengan wajah yang menyebalkannya lagi.'
Syila hanya diam bingung ingin menjawab apa. Jika dia bilang tidak apa-apa, pasti Kaisar akan terlalu senang dan besar kepala dan entah seperti apa lagi reaksinya nanti. Jika Syila berkata tidak terima dan marah, nyatanya tidak ada kemarahan atau penyesalan sama sekali.
''Sayang, Arsyila istriku, katakan sesuatu, jangan hanya diam, kau marah padaku? kau boleh menghukumku, tapi jangan membenciku,'' melas Kaisar.
'Aku malu duda gila, kau tak henti-hentinya menatapku begitu dan iya rasanya aku benar-benar ingin memasukkanmu dalam kardus lalu aku export,' tak berani mengatakannya secara langsung, takut memancing sesuatu yang tidak diinginkan.
''Ini aku bawakan makanan, kau bisa makan sendiri atau tidak, sebentar lagi aku akan pergi bekerja, kau tidak perlu kemana-mana, nanti aku akan segera pulang jika pekerjaanku sudah selesai,'' dengan mengusap pipi Syila. Di atas nakas sudah ada nampan berisi makanan lengkap dengan jus, air putih, buah, dan semacam obat.
Syila masih diam, dia memperhatikan suaminya itu yang sedang berganti baju, ia melihat punggung Kaisar yang terluka.
''Kai, punggungmu?'' tanya Syila ragu karena setelah mendengarkan pertanyaan Syila, ekspresi Kaisar lebih menyebalkan dua kali lipat lagi.
''Kau tidak mengingatnya? ini tanda sebuah kebahagiaan,'' senyum sarkastik.
''Sudah jangan jelaskan lagi, aku ingat,'' wajah Syila sudah memerah, dia malu.
''Benarkah? emm... sensasi seperti apa yang kau ingat dari gaya ayam panggang?'' goda Kaisar, ia semakin senang, sepertinya Syila tidak terlalu marah padanya.
__ADS_1