Karma Cinta

Karma Cinta
Cemburu


__ADS_3

Keesokan harinya para pria menuju kantor utama PT keluarga Mahendra. Tak terkecuali Kaisar. Ia ingin melihat kondisi terkini perusahaan pusatnya itu.


Sedangkan Sesha mengantar Jeje sekolah. Di rumah itu hanya ada Syila dan Ibu Lulu.


Syila masih asyik di taman belakang rumah. Ada beberapa pelayan di sana yang sedang menata tanaman. Syila ikut menimbrung.


Banyak sekali bunga daisy dan bunga peony yang sedang bermekaran, sangat cantik. Memanjakan mata Syila.


“Kau menyukainya?” pertanyaan tiba-tiba dari Ibu mertuanya yang membuat Syila terkejut. Dia sedang menunduk mencium dalam-dalam aroma bunga di pagi hari itu.


“Iya, ini mengingatkanku kepada Ayah, dia selain berkebun sayur mayur juga sangat suka dengan bunga-bunga, apa lagi yang mempunyai manfaat, seperti mawar, lavender, dan bunga sepatu,” Syila tersenyum sendiri mengingat Ayahnya.


“Ibu juga menyukai semua bunga, mereka seperti obat bius, menenangkan,” jawab Ibu Lulu.


Dua hari kemudian.


Rumah tampak sibuk, ruang tamu sudah di hias dengan berbagai macam balon dan teman-temannya. Hari ini ulang tahun Jeje yang ternyata sudah ke 8 tahun. Jeje sendiri sudah siap dengan kostum spiderman-nya.


Syila mencari Kaisar, karena dari tadi dia tidak ada di sana.


“Kai? kau di dalam?” tidak ada sahutan Syila membuka kamarnya.


Di sana Rana keluar dengan wajah memerah sembari menyeka air matanya, bibirnya masih mengulum senyum. Mempersilakan Syila yang memang ingin mencari Kaisar.


“Kai?”


Pintu kamar mandi terbuka, Kaisar menyembulkan wajah murungnya.


“Ada apa?” tanya Syila penasaran.


“Aku tidak mau memakai kostum super hero!”


Syila menyatukan kedua alisnya, “Memangnya kenapa?”


Kaisar keluar dengan kostum supermen, Syila bingung, karena pasalnya kostum itu begitu cocok dengannya. Dia terlihat gagah dengan dada bidangnya.


“Kau tampan, Kai. Di bagian mana salahnya?” tanya Syila.


“Kau pun tidak tahu? harus kuberi tahu? lihatlah di bagian bawah sana, ‘dia’ terlihat begitu menonjol, mana pakaian dalamnya harus di pakai di luar. Aku malu!” kesal Kaisar.


Syila mengikuti arah yang di bicarakan suaminya. Lalu ia menutup bibirnya yang sedang mengulum senyum. Memang semua terlalu menempel di tubuhnya. Sampai di bagian ‘itu’ juga, hingga terlihat begitu menonjol.


“Aku tak ingin memakainya, tapi Jeje pasti akan memusuhiku selama 4 kali musim gugur,” ucap Kaisar membuat Syila semakin tak kuasa menahan tawanya.

__ADS_1


“Pakailah bajunya saja, sedangkan celananya kau bisa memakai celana yang lain, bilang saja celananya terlalu kecil, karena memang ini kecil kan, Jeje pasti akan mengerti dia anak yang pintar,” sembari mengusap dada bidang suaminya yang tercetak dengan jelas dalam balutan kostum supermennya.


“Kai, kenapa kau begitu lembut dan menyayangi anak-anak?” ada rasa haru melihat sikap Kaisar begitu penyayang terhadap anak kecil yang biasanya lebih cenderung menyebalkan.


“Jangan tanyakan itu, aku sendiri tidak terlalu mengerti,” jawab Kaisar.


Dia berlalu menuju lemari pakaiannya, mencari celananya di sana dan menggantinya di depan Syila tanpa ada yang di tutupi.


“Kai, malulah sedikit juga di depanku!” Syila memalingkan wajahnya.


Kaisar terkekeh, “Khusus untukmu, urat maluku sudah terputus.”


Setelahnya mereka keluar menuju acara akan berlangsung. Jeje protes.


“Paman! ini bukan celananya, mengapa kau mengganti kostummu!” mode marah.


Kaisar sudah mencoba memberi pengertiannya namun gagal. Lalu Syila menghampiri, memberikan pengertian yang sama seperti yang Kaisar katakan, anehnya dia langsung menurut.


Kaisar di buat curiga, “Kau memberinya apa?”


“Tidak ada, hanya ketika aku berkata ada bagian darimu yang tidak muat oleh kostum itu dan itu sangat memalukan jika di lihat banyak orang terutama wanita, dengan kutunjuk areanya, dia langsung patuh, dan pergi,” Syila cengengesan sendiri.


“Apa?! bagaimana kau merangkai kata untuk membicarakan hal itu kepada anak setinggi cabai itu?” tanya Kaisar.


“Sayang, kau lupa? kau sendiri yang mengatakan dia pria dewasa.”


Syila malah pergi begitu saja, setelah menyadari dia menggunakan panggilan berbeda untuk suaminya, dia malu karena terus di goda.


“Aku lupa,” jawaban Syila membuat Kaisar gemas sendiri.


Hari berlalu.


Kaisar membawa Syila pergi ke sebuah taman wisata. Lebih tepatnya taman bunga. Di sana terdapat macam jenis bunga. Angin berembus, sedikit membuat Syila mengusap lengannya sendiri. Memang kurang tepat membawanya berkunjung di saat memasuki musim dingin.


Melihat Syila yang seperti kedinginan, Kaisar mencari minuman hangat. Syila menunggu di salah satu kursi yang tersedia.


“Syila?” suara bariton, tapi bukan suara Kaisar.


Syila mendongak, mendapati sosok pria yang seperti tidak asing. Lalu ia perhatikan lagi, ada syal yang ia kenal menghiasi lehernya.


“Doni?” Syila memastikan.


Pria yang di sapa Doni itu pun tertawa senang. Ternyata dugaannya tidak meleset. Setelah tidak sengaja melihat senyum Syila yang sudah lama ia rindukan dan mendapati gelang di tangannya seperti pemberiannya, ternyata orang itu benar-benar wanita yang dulu begitu ia puja di hatinya.

__ADS_1


Doni mengulurkan tangannya hendak berjabat tangan, namun secara halus Syila menangkupkan kedua tangannya di depan dada, “Maaf, Doni. Tidak apa kan jika begini saja?”


Doni menarik kembali tangannya. Dia tersenyum lebar. Wanita yang sempat menjadi pemilik hatinya itu sudah berubah begitu baik.


“Tidak masalah, aku senang dengan perubahanmu.”


“Selama ini kau di sini?” tanya Syila. Doni menganggukkan kepalanya.


“Aku hampir tidak mengenalimu, jika bukan karena syal yang kau gunakan,” lanjut Syila.


Secara refleks Doni menyentuh syal itu. Ia lepaskan dari lehernya, “Ini syal terbaik yang pernah kumiliki, pakailah! di sini mulai dingin.”


Doni secara berjarak mengalungkan benda panjang itu ke leher Syila. Mulanya Syila terkejut, tapi kemudian ia senang. Doni yang sekarang masih tetap baik seperti Doni yang dulu.


Semua itu tak lepas dari penglihatan Kaisar. Cemburu. Begitulah gambaran untuknya saat ini.


Tanpa aba-aba, Kaisar datang langsung merangkul posesif pinggang Syila. Membuat yang di perlakukan seperti itu tersentak. Syila tersenyum canggung di hadapan Doni.


“Oh iya, perkenalkan dia Kaisar, dan Kai dia Doni,” kata Syila.


Doni lebih dulu mengulurkan tangannya, Kaisar tampak berpikir sebelum akhirnya menerima jabatan tangan dari pria yang mendadak tidak ia sukai.


“Doni, teman sekolah Syila,” ucap Doni, namun matanya melihat Syila. Dan itu membuat Kaisar semakin naik darah.


“Kaisar, suami Syila!” kata yang penuh penekanan.


Doni semakin melebarkan senyumnya. Pantas saja Syila tidak menolak sentuhan dari pria ini, karena memang dia suaminya sendiri.


Tak lama ada yang memanggil Doni, dia pamit kepada Syila dan juga Kaisar. Kaisar menatapnya penuh waspada.


“Kai, dia orang baik. Kau melihatnya sudah seperti seorang t*roris saja.”


“Ayo pulang!” jawaban Kaisar terkesan dingin.


“Siapa dia? apa juga mantanmu?” tanya tiba-tiba Kaisar. Mereka sudah berada di dalam kamar. Syila sedang merebahkan tubuhnya. Menaruh syal yang di pakaikan Doni di sisi ranjangnya. Ternyata suaminya masih begitu penasaran dengan sosok Doni. Pantas wajahnya muram.


“Emm bukan, dia hanya teman pria sewaktu masih sekolah,” jawab jujur Syila.


“Kau yakin?” wajah Kaisar sudah berada di atas wajah Syila. Dengan menatap lekat matanya mencari sebuah jawaban. Membuat Syila terkejut.


“Iya!”


“Tapi dari yang kulihat dia bukan hanya menganggapmu teman,” pancing Kaisar yang masih terbawa suasana cemburu.

__ADS_1


Syila mengalungkan tangannya, “Dia memang mempunyai rasa untukku, tapi aku tidak. Dan dia tetap baik walau sudah kutolak. Kau masih ingin cemburu pada masa lalu yang bahkan tidak pantas untuk kau cemburui? kau pemenangnya, Kai, kau sudah memiliki semua di hidupku, pikiranku, tubuhku, dan hatiku,” lekat mereka saling menyelami rasa melalui netra.


“Baiklah, aku percaya. Berikan penawar rasa cemburuku dengan tubuh dan cintamu!” ucap Kaisar. Syila bahkan masih mencerna, namun sekejap Kaisar membuatnya tak mampu berpikir lagi dengan perlakuannya yang menguasai tubuhnya.


__ADS_2